Friday 15 May 2015

Dasar-dasar Perilaku Individu dalam Organisasi
PIO sebagai ilmu yang mempelajari mengenai perilaku manusia di tempat kerja. Di mana perilaku ini dipegaruhi oleh proses mental. 
Inteligensi merupakan salah satu karakteristik yg dibawa orang ketika bergabung ke dalam organisasi.
Seperti yang dikemukakan oleh Robbins (2003), penting dalam hal ini untuk dibahas mengenai bagaimana karakteistik biografikal (gender & usia), kemampuan (inteligensi), dan pembelajaran. Di mana perilaku individu tersebut akan mempengaruhi kepuasan dan kinerja karyawan.
Karakteristik Biografis Individu merupakan karakteristik pribadi yang objektif dan mudah diperoleh dari catatan pribadi. Misalnya: usiajenis kelaminstatus perkawinan, dan masa kerja.
1. Usia
Kaitan antara usia dan kinerja menjadi isu yang penting di tempat kerja dalam dasawarsa belakangan ini.
Apa yang terlintas pada benak kita ketika kita mendengar kaitan antara usia dan kinerja seseorang?
Ø  Turnover: Semakin bertambah usia seseorang, maka kecenderungan turn overnya semakin kecil. Misal: semakin sedikit kesempatan, mendapatkan upah tunjangan yg sudah tinggi, dll
Ø  Absensi: terdapat dua kemungkinan, yaitu: semakin bertambahnya usia semakin kecil tingkat absensinya. Namun ada juga, semakin bertambah usia terdapat absen-absen yang tidak dapat dihindarkan. Misal: lebih bijaksana, karena faktor kesehatan.
Ø  Produktivitas: untuk pekerjaan fisik, semakin bertambah usia semakin menurun produktivitasnya. Sedangkan penelitian lain: ada yang tidak berhubungan atau justru semakin meningkat karena bertambahnya pengalaman dan kematangan.
Ø  Kepuasan Kerja: semakin tua semakin merasakan kepuasan kerja, sedang untuk karyawan profesional semakin tua juga semakin puas (usia 60 th). Hal ini berbeda dengan karyawan non-profesional, kepuasan kerja menurun pada masa tengah baya dan naik lagi pada masa-masa berikutnya.

2. Jenis Kelamin
      Menurut hasil beberapa penelitian:
Ø  Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam hal kemampuan pemecahan masalah, ketrampilan analitis, dorongan kompetitif, motivasi, sosialisasi, produktivitas & kemampuan belajar
Ø  Wanita lebih mematuhi otoritas, sedangkan pria lebih agresif dan besar harapannya untuk sukses
Ø  Tingkat absensi wanita lebih tinggi dibandingkan pria

3. Status Perkawinan
karyawan yang telah menikah lebih rendah tingkat absensinya. Rendah kecenderungan turnovernya dan lebih tinggi kepuasan kerjanya.
  1. Masa kerja
            Semakin senior karyawan berkarir di perusahaan, tingkat absensi dan kecenderungan turnovernya semakin rendah dan semakin tinggi kepuasan kerjanya.
Karakteristik Individu-Organisasi
            Setiap individu memiliki keunikan dalam beberapa hal yang menyangkut perilaku, psikologis dan emosional. Hal tersebut merupakan atribut personal yang membedakan individu dengan yang lainnya. Kategori utama yang membedakan adalah:
       Kualitas fisik & Intelektual
       Kepribadian
       Sikap, 
Kualitas Fisik & Intelektual
Ø  Perbedaan fisik antar pribadi lebih mudah diamati, sedangkan perbedaan intelektual relatif lebih susah.
Ø  Kemampuan fisik merupakan kemampuan yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, kecekatan, kekuatan dan karakteristik-karakteristik seperti itu.
Ø  Perbedaan kemampuan, dan ketrampilan individual  dapat dikategorikan sebagai faktor fisik atau intelektual (atau keduanya) tergantung pada individu dan tugas yang dilakukan.
Ø  Kemampuan merupakan kapasitas individu untuk berpenampilan baik dalam kegiatan seperti tugas fisik, mental atau interpersonal.  Kemampuan umum dpt diterapkan pada semua pekerjaan. Sedangkan kemampuan khusus pada bidang-bidang tertentu saja.
Ø  Ketrampilan merupakan keahlian tugas khusus dibandingkan dengan kemampuan. Misalnya: kemampuan numerik berkaitan dengan pengolahan data dengan SPSS
Ø  Kedua kemampuan fisik dan intelektual tersebut berinteraksi dengan kemampuan sosial untuk menjelaskan kemampuan individual dalam bekerja.
Kepribadian
Kepribadian  merupakan seperangkat atribut psikologis yang relatif tetap yang membedakan antar pribadi.
Kepribadian ini berpengaruh pada perilaku individu dalam suatu organisasi.
Bagaimana Kepribadian Dibentuk?
Kepribadian seorang pekerja dibentuk jauh sebelum mereka bekerja di perusahaan.
Formasi kepribadian dibentuk mulai sejak individu lahir dan berlanjut sampai dewasa.
Karakteristik hereditas (seperti bentuk dan tinggi tubuh), sosial (misalnya keluarga dan teman), dan konteks sosial (seperti agama dan nilai-nilai masyarakat) di mana seseorang berkembang saling berinteraksi membentuk kepribadian dasar.
Atribut kepribadian utama yang mempengaruhi perilaku manusia di tempat kerja, adalah:
  1. Locus of Control
Sejauh mana seorang individu percaya perilakunya memiliki pengaruh langsung terhadap nasib mereka sendiri.
Ø  locus of control external
Ø  Locus of control internal
  1. Self Efficacy
keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk melakukan suatu tugas.
  1. Machiavellianism
            Suatu atribut kepribadian yang muncul dalam perilaku yg berhubungan dg penguasaan & pengendalian thd perilaku orang lain. Ciri-cirinya: cenderung rasional, tidak emosional, bersedia berbohong demi kepentingan pribadi, loyalitas rendah, tidak tulus, dan suka memanipulasi orang lain.
  1. Self Esteem
            Sejauh mana seorang percaya akan keberadaannya berguna bagi orang lain dan berhak dapat penghargaan.
  1. Risk Taking
            Tingkat di mana seseorang individu bersedia mengambil kesempatan (walaupun itu beresiko) dan membuat keputusan.
  1. Authirianism
            Sejauh mana seorang individu percaya akan perbedaan kekuasaan status diperlukan dalam sistem hirarki sosial spt di organisasi.
  1. Dogmatism
            Melukiskan kekakuan akan keyakinan seseorang dan keterbukaan thd pandangan orang lain.
Sikap  adalah keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap obyek atau situasi.
Bagaimana Sikap Dibentuk?
Sikap seseorang di tempat kerja terbentuk dari interaksi sosial baik di dalam maupun di luar tempat kerja.
 Dalam interaksi tersebut, individu membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya. 
Faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, media masa, kebudayaan, institusi pendidikan atau agama, orang lain yang dianggap penting, dan faktor emosi dalam diri.


Apakah Sikap Berubah???
Sikap bukanlah atribut kepribadian yang tidak dapat berubah. Beberapa hal yang mempengaruhi adanya perubahan sikap adalah:
  1. Adanya informasi baru
  2. Hasil dari perubahan objek sikap
  3. Objek sikap menjadi kurang penting atau kurang relevan
  4. Sebagai cara mengurangi cognitive dissonance (pengalaman kecemasan)
Pembelajaran
Pembelajaran adalah setiap perubahan yang relatif permanen dari perilaku yang terjadi sebagai hasil pengalaman.
Terdapat 3 komponen penting dalam definisi di atas.
Ø   Belajar melibatkan perubahan (bisa bersifat positif/ negatif)
Ø  Perubahan harus relatif permanen
Ø  Terkait dengan perilaku (berubah proses berfikir/ sikap à perilakunya)
Teori Pembelajaran
Telah dikemukakan tiga teori pembelajaran dalam menjelaskan proses terbentuknya pola-pola perilaku, yaitu:
  1. Pengkondisian Klasik
Dilakukan oleh Pavlov pada seekor anjing yang diberikan stimulus daging (rangsang tidak terkondisi) dan bel (buatan/ terkondisi)à mengeluarkan air liur. Selanjutnya, hanya dg bel saja air liur di sekresikan.
contoh: dalam perusahaan, setiap kali manajemen puncak melakukan sidak maka ruangan selalu dibersihkan dahulu selama bertahun2 à maka pekerja akan maksimal kinerjanya.
2.         Pengkondisian Operan
Orang berlajar untuk berperilaku untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkan atau menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.
Misalnya: apabila mahasiswa ingin nilai yang baik/ sempurna, maka harus mempersiapkannya/ belajar dengan baik.
Di dalam perusahaan, jika pekerja mau melakukan lembur selama tiga mgu berturut2 maka akan diberikan reward/ penghargaan setelahnya.
3. Pembelajaran Sosial
Ø  Orang dapat belajar lewat pengamatan dan pengalaman langsung. Banyak kita pelajari baik dariorang tua, guru, teman sekerja, pelaku di bioskop/ televisi, atasan, dll.
Ø  Pengaruh model merupakan titik pandang sentral bagi pembelajaran-sosial.
Ø  Terdapat empat proses dalam menentukan pengaruh suatu model  pada seorang individu, yaitu:
  1. Proses Perhatian (atentional proccess)
            menaruh perhatian pada perwajahan. Kita cenderung sangat dipengaruhi oleh model2 yg menarik, diulang2, penting bagi kita, atau serupa dengan kita dalam perkiraan. Misal: artis kesukaan, bos yang menginspirasi/ karismatik.
  1. Proses Penahanan (retention proccess)
            pengaruh model terhadap tindakannya yg baik semasa hidupnya. Misal: tokoh kenegaraan (Nelson Mandel, Mahatma Gandhi        
c. `       Proses Reproduksi Motor (motor reproduction proccess)
            setelah individu melihat suatu perilaku kemudian dirubah ke dalam perilakunya sendiri. Misal: Korean wave, tidak terlambat lagi karena atasan tidak pernah telat.
d.         Proses Penguatan (reinforcement proccess)
Diberikan motivasi terhadap perilaku yang diinginkan sudah dilakukan. Misal memberikan pujian, penghargaan, dll
Metode-metode Pembentukan Perilaku
Terdapat empat cara dalam membentuk perilaku, yaitu melalui:
  1. Penguatan Positif
            Apabila suatu rspon diikuti dengan sesuatu yang menyenangkan. Misalkan: pujian atasan atas terselesaikannya pekerjaan.
  1. Penguatan Negatif
            Bila suatu respon diikuti oleh dihentikannya atau ditariknya suatu yang tidak menyenangkan. Misal: saat dosen bertanya dan tidak tahu, mhsw biasa menundukkan kepala sibuk dg bukunya.
  1. Penghukuman (punishment)
            Mengakibatkan suatu kondisi yang tidak enak guna menyingkirkan suatu perilaku yang tidak diinginkan.
            Misal: menskor pekerja selama dua hari tanpa upah karena kedapatan masuk kerja dalam keadaan mabuk.
  1. Pemunahan (extinction)
            menyingkirkan apa saja yang mempertahankan suatu perilaku.  Prilaku akan hilang jika tidak dikuatkan.
            Misal:  dosen tidak menggubris mhsw yg bertanya à akhirnya mhsw segan & tidak akan bertanya lg.
Tipe-tipe Perilaku di Tempat Kerja
Perilaku di tempat kerja merupakan suatu pola tindakan oleh anggota sudatu organisasi yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi efektivitas organisasi.
  1. Performance Behavior à perilaku yg diharapkan oleh organisasi
  2. Withdrawl Behavior
            ex: absentism, turnover
3.         Organizational Citizenship à berkontribusi positif pada organisasi.


1 comment:

Powered by Blogger.

Apakah ilmu yang ada di blog ini bermanfaat ?

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget