Wednesday, 23 December 2015

Manusia merupakan makhluk hidup yang lebih sempurna bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk hidup yang lain. Akibat dari unsur kehidupan yang ada pada manusia, manusia berkembang dan mengalami perubahan-perubahan, baik perubahan-perubahan dalam segi fisiologis maupun perubahan-perubahan dalam segi psikologis. Bagaimana manusia berkembang dibicarakan secara mendalam dalam psikologi perkembangan sebagai salah satu psikologi khusus yang membicarakan tentang masalah perkembangan manusia. Dalam kesempatan ini akan diketengahkan mengenai faktor-faktor yang akan menentukan dalam perkembangan manusia. Mengenai faktor-faktor yang menentukan dalam perkembangan manusia ternyata terdapat bermacam-macam pendapat dari para ahli, sehingga pendapat-pendapat itu menimbulkan bermacam-macam teori mengenai perkembangan manusia. Teori yang satu berbeda dengan teori yang lain, bahkan ada yang bertentangan satu dengan yang lain. 
Teori-teori Derkembangan tersebut adalah:
a. Teori nativisme. 
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan manusia itu akan ditentukan oleh faktor-faktor nativus, yaitu faktor-faktar keturunan yang merupakan faktor-faktor yang dibawa oleh individu pada waktu dilahirkan. Menurut teori ini, sewaktu individu dilahirkan telah membawa sifat-sifat tertentu, dan sifat-sifat inilah yang akan menentukan keadaan individu yang bersangkutan, sedangkan faktor lain yaitu lingkungan, termasuk di dalamnya pendidikan dapat dikatakan tidak berpengaruh terhadap perkembangan individu itu. Teori ini dikemukakan oleh Schopen Hauer (Bigot, Kohstamm, Potland, 1950). Teori ini menimbulkan pandangan bahwa seakan-akan manusia telah ditentukan oleh sifat-sifat sebetumnya, yang tidak dapat diubah, sehingga individu akan sangat tergantung kepada sifat-sifat yang diturunkan oleh orang tuanya. Bila orang tuanya baik seseorang akan menjadi baik, dan sebaliknya, bila orang tuanya jahat seseorang akan menjadi jahat; sifat baik atau jahat itu tidak dapat diubah oleh kekuatan-kekuatan lain. Teori ini me-nimbulkan konsekuensi pandangan bahwa manusia bila dilahirkan baik akan tetap baik, sebaliknya, bila manusia dilahirkan jahat akan tetap menjadi jahat, yang tidak dapat diubah oleh pendidikan dan lingkungan. Karena itu teori ini dalam pendidikan menimbulkan pandangan yang pesimistis, yang memandang pendidikan sebagai suatu usaha yang tidak berdaya menghadapi perkembangan manusia. Teori ini lebih jauh dapat menimbulkan suatu pendapat bahwa untuk menciptakan masyarakat yang baik, langkah yang dapat diambil adalah mengadakan seleksi terhadap anggota masyarakat. Anggota masyarakat yang tidak baik tidak diberi kesempatan untuk berkembang, karena ini akan memberikan keturunan yang tidak baik pula. Tetapi, teori ini ternyata tidak dapat diterima oleh ahli-ahli lain. lni terbukti dengan adanya teori-teori lain, di antaranya seperti yang dikemukakan oleh William Stern.
b. Teori empirisme
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan seseorang individu akan ditentukan oleh empirinya atau pengalaman-pengalamannya yang diperoleh selama perkembangan individu itu. Dalam pengertian itu, pengalaman termasuk juga pendidikan yang diterima oleh individu yang bersangkutan. Menurut teori ini, individu yang dilahirkan itu sebagai kertas atau meja yang putih bersih yang belum ada tulisan-tulisannya. Akan menjadi apakah individu itu kemudian, tergantung kepada apa yang akan dituliskan di atasnya. Karena itu, peranan para pendidik dalam hal ini sangat besar. Pendidiktah yang akan menentukan keadaan individu itu di kemudian hari. Karena itu, aliran atau teori ini dalam lapangan pendidikan menimbulkan pandangan yang optimistis yang memandang bahwa pendidikan merupakan usaha yang cukup mampu untuk membentuk pribadi individu. Teori empirisme ini dikemukakan oleh John Locke, juga sering dikenal dengan teori tabularasa, yang memandang keturunan atau pembawaan tidak mempunyai peranan. Kedua teori di atas merupakan teori-teori yang sating bertentangan satu dengan yang lain. Teori nativisme sangat menitikberatkan pada segi keturunan atau pembawaan, sebaliknya teori empirisme sangat menitikberatkan pada empiri atau pada lingkungan. Keduanya merupakan teori yang berat sebelah. Terkait dengan hal tersebut, adanya usaha untuk menggabungkan kedua teori ini merupakan teori konvergensi.


c. Teori konvergensi. 
Teori ini merupakan teori gabungan (konvergensi) dari kedua teori tersebut di atas, yaitu suatu teori yang dikemukakan oleh William Stern. Menurut W. Stern, pembawaan, pengalaman dan lingkungan mempunyai peranan yang penting di dalam perkembangan individu. Perkembangan individu akan ditentukan baik oleh faktor yang dibawa sejak lahir (faktor endogen) maupun faktor lingkungan (termasuk pengalaman dan pendidikan) yang merupakan faktor eksogen. Penyelidikan dari W. Stern memberikan bukti tentang kebenaran dari teorinya. W. Stern mengadakan penyelidikan dengan anak-anak kembar di Hamburg. Dilihat dari segi faktor endogen atau faktor genetik anak yang kembar mempunyai sifat-sifat keturunan yang dapat dikatakan sama. Anak-nak tersebut dipisahkan dari pasangannya dan ditempatkan pada pengaruh lingkungan yang berbeda satu dengan yang lain. Pemisahan itu segera dilaksanakan setelah kelahiran. Akhirnya, anak-anak itu mempunyai sifat-sifat yang berbeda satu dengan yang lain, sekalipun secara keturunan mereka dapat dikatakan relatif mempunyai kesamaan. Perbedaan sifat yang ada pada anak itu disebabkan karena pengaruh lingkungan di mana anak tersebut berada. Dengan keadaan ini dapat dinyatakan bahwa faktor pembawaan tidak menentukan secara mutlak, pembawaan bukan satu-satunya faktor yang menentukan pribadi atau struktur kejiwaan seseorang. Penyelidikan semacam itu banyak dilakukan di tempat-tempat lain di antaranya di Chicago dan di Texas. Dart uraian di atas dapat dikemukakan bahwa perkembangan individu itu akan ditentukan baik oleh faktor pembawaan (dasar) atau faktor endogen, maupun oleh faktor keadaan atau lingkungan atau eksogen. 

Tuesday, 22 December 2015

Sebagaimana yang telah dgelaskan di atas, psikologi sebagai cabang ilmu pengetahuan sudah ada sejak lama. Psikologi berasal dari bahasa Yunani psyche yang berarti jiwa, dan logos berarti ilmu. Secara harfiah, psikologi dapat diartikan sebagai ilmu kejiwaan. Lebih jauh, Chaplin (1972), dalam Dictionary of Psychology mengungkapkan bahwa psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang menyelidiki tentang perilaku hewan dan manusia, dan juga terhadap organisme dalam segala kerumitannya ketika bereaksi terhadap arus dan perubahan gam sekitar dan peristiwa-peristiwa kemasyarakatan yang mengubah lingkungan.
Orang yang menekuni psikologi, atau yang biasa disebut psikolog, mempelajari kejiwaan manusia melalui pengamatan terhadap tingkah laku mereka. Pengamatan ini didasarkan atas anggapan bahwa tingkah laku manusia (atau hewan) mencerminkan kondisi kejiwaannya, dan juga memiliki hasil yang Lebih baik atas proses observasi, pencatatan, dan aengukurannya. Pengamatan perilaku ini juga meliputi Tatar oelakang, imajinasi, fantasi, contoh, proses, dan sebagainya, yang Kesemuanya menjadi penyebab timbulnya tingkah laku tersebut.

Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, ilmu psikologi dibagi menjadi beberapa cabang. Pembagian ini terjadi dengan tujuan agar dicapainya pemahaman yang lebih baik ketika psikologi dipelajari dan diterapkan dalam cabang ilmu lain.   Pembagian tersebut meliputi:
  1. Psikologi abnormal (abnormal psychology). Cabang ilmu psikologi ini menggali lebih jauh tentang penyakit kejiwaan dan perilaku abnormal, seperti: depresi, OCD, perilaku seks menyimpang dan perilaku menyendiri. ,
  2. Biopsikologi (biopsychology). Cabang ilmu ini mempelajari tentang fungsi otak dan syaraf dalam pengaruhnya terhadap perasaan dan perilaku.. Biopsikologi menggabungkan neuroscience dan ilmu dasar psikologi.
  3. Psikologi klinis (clinical psychology. Fokus dari cabang itmu ini adalah penilaian dan perawatan yang tepat terhadap penyakit mental dan perilaku abnormal.
  4. Psikologi kognitif (cognitive psychology. Cabang ilmu ini terfokus pada persepsi dan proses mental. Contohnya adalah: fokus pada "bagaimana orang berpikir dan memproses pengalaman dan kejadian tertentu-termasuk di dalamnya adalah refleks dan dasar kepercayaannya." Selain itu, di dalamnya juga termasuk "bagaimana mereka belajar, menghafal, dan mengingat kembali sebuah informasi."
  5. Psikologi komparatif (comparative psychology. Cabang itmu ini mempelajari tentang perilaku hewan. Psikologi komparatif sangat berkaitan erat dengan ahli biologi, ekologi, antropologi, dan genetika.
  6. Psikologi konseling (counselling psychology). Dalam cabang ilmu ini, fokusnya adalah penyediaan terapi intervensi kepada klien yang sedang berjuang dengan masalah mental, sosial, dan perilaku. Psikologi konseling juga memperhatikan cara-cara hidup yang baik, dengan tujuan agar orang mampu mencapai potensi maksimat mereka dalam hidupnya.
  7. Psikologi perkembangan (developmental psychology). Cabang ilmu ini terfokus terhadap perkembangan manusia semenjak lahir hingga mati. Perhatian juga difokuskan terhadap hal-hal yang berubah, tetap, ataupun yang memburuk. Selain itu, fokusnya juga termasuk perkembangan dan perubahan yang berkelanjutan, atau yang berkaitan dengan umur dan tingkat hidup manusia. Fokus lain dari psikologi perkembangan juga tertuju pada interaksi dari gen dan lingkungan.
  8. Psikologi pendidikan (educational psychology). Cabang ilmu ini terfokus pada belajar, mengingat, mempertunjukkan, dan mendapatkan ilmu. Psikologi pendidikan juga termasuk efek-efek dari perbedaan individu, pelajar berbakat, dan ketidakmampuan dalam belajar.
  9. Psikologi eksperimental (experimental psychology). Walaupun psikologi menekankan pada pentingnya metode ilmiah, namun pelaksanaan proses pendesainan, dan pengimplementasian dari teknik-teknik ekperimental, dan menganalisa serta menginterpretasi hasil merupakan tugas utama dari psikolog eksperimental. Psikolog ini bekerja dalam ruang lingkup dan Tatar belakang yang luas, termasuk sekolah, kampus, universitas, laboratorium, organisasi pemerintah, dan bisnis pribadi.
  10. Psikologi forensik (forensic psychology). Psikologi dan hukum bersinggungan pada cabang ilmu ini. lni merupakan cabang ilmu yang para psikolog (semisal psikolog klinis, ahli syaraf, psikolog konseling, dan lain-lain) berbagi kepintaran profesionalnya dalam kasus legal maupun
  11. Psikologi kesehatan (health psychology). Cabang ilmu ini menganjurkan kesehatan fisik, mental, dan emosional, termasuk strategi pencegahan dan pengobatan. Cabang ilmu ini terfokus terhadap bagaimana orang berhadapan dengan stres, dan mengatasi dan memulihkan diri dari penyakit.
  12. Psikologi faktor manusia (human factors psychology). Cabang ilmu memayungi berbagai kategori, yang meliputi ergonomi, keselamatan tempat kerja, kesalahan manusia, desain produk, dan interaksi-interaksi antara mesin.
  13. Psikologi organisasi-industri •(industrial-organizational psychology). Cabang ilmu ini melingkupi psikologi teoritis terhadap tempat kerja. Tujuan dari cabang ilmu ini adalah peningkatan kepuasan, performa, produktivitas dan kesesuaian posisi dengan keterampilan pekerja. Keterkaitannya yang lainnya juga termasuk dinamika grup, dan perkembangan dari kemampuan memimpin.
  14. Psikologi sosial (social psychology). Psikologi sosial merupakan asumsi dari apa yang dipikirkan ketika mendengarkan kata psikologi. Cabang ilmu ini juga meliputi penelitian terhadap tingkah laku grup, norma sosial, kecocokan, prasangka, perilaku nonverbal/bahasa tubuh, dan perilaku kasar manusia.
  15. Psikologi olahraga (sports psychology). Cabang ilmu ini menyelidiki tentang bagaimana meningkatkan dan mempertahankan motivasi, faktor yang berperan dalam puncak performa, dan bagaimana menjadi aktif dapat meningkatkan taraf hidup kita.
Namun begitu, terdapat juga gagasan tentang cabang-cabang besar datam ilmu psikologi. Setidaknya ada lima cabang besar dalam itmu psikologi, yaitu:
1. Psikologi sosial.
Psikologi sosial adalah cabang ilmu psikologi yang meneliti pengaruh sosial terhadap peritaku manusia. Cabang ilmu psikologi memiliki 3 lingkup studi yaitu:
  • Studi yang mempetajari tentang pengaruh sosial terhadap proses mental suatu individu seperti studi tentang sifat (atribusi), motivasi dan juga persepsi.
  • Studi yang mempelajari tentang proses-proses individual yang dilakukan bersama atau dalam suatu kelompok seperti bahasa, perilaku meniru dan sikap sosial.
  • Studi yang mempelajari suatu interaksi dalam kelompok seperti kepemimpinan, kerja sama, persaingan dan konflik.
2. Psikologi perkembangan.
Psikotogi perkembangan adalah suatu cabang ilmu psikologi yang mempelajari proses perkembangan manusia dan juga faktor-faktor yang mempengaruhi peritaku seseorang sejak dia lahir hingga berusia lanjut. Cabang psikologi yang satu iii sangat berkaitan dengan psikologi sosial dan psikologi (epribadian.
3. Psikotogi klinis.
Psikologi klinis adalah cabang psikologi yang menerapkan csikologi untuk memahami dan memulihkan kembali (keadaan psikologi seseorang ke dalam psikologi normal serta mencegah terjadinya perilaku abnormal.
4. Psikologi pendidikan.
Psikologi pendidikan yaitu suatu cabang psikologi yang mempelajari bagaimana suatu individu dalam rinelakukan kegiatan belajar dan juga meninjau keefektifan suatu cara pengajaran. Psikologi pendidikan sebenarnya merupakan perkembangan dan pengabungan antara psikologi sosial dan psikologi perkembangan.
5. Psikologi industri dan organisasi.
Psikologi industri adalah ilmu psikologi yang difokuskan tentang bagaimana perkembangan, prediksi kinerja dan evaluasi kerja yang dilakukan seseorang. Sedangkan psikologi organisasi adalah ilmu psikologi yang mempelajari bagaimana sebuah organisasi dalam berinteraksi dan mempengaruhi para anggotanya.

Monday, 21 December 2015

Istilah Gestalt berasal dari bahasa Jerman. dalam bahasa Inggris berarti form, shape, configuration, whole. Apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti, keseluruhan, esensi, totalitas, hal peristiwa dan hakikat. Aliran ini dikembangkan di sekolah Berlin oleh tokoh-tokohnya seperti M. Weitheimerm K. Koffka, dan W. Kohler. Aliran ini memandang yang utama bukanlah elemen tetapi keseluruhan. Metode kerjanya adalah menganalisis unsur-unsur kejiwaan. Kesadaran dan jiwa manusia tidak mungkin dianalisis ke dalam elemen-elemen. Gejala kejiwaan harus dipelajari sebagai suatu keseluruhan atau totalitas. Keseluruhan adalah lebih dari sekedar penjumlahan unsur-unsurnya. Keseluruhan itu lebih dahulu ditanggapi dari bagian-bagiannya dan bagian-bagian itu harus memperoleh makna keseluruhan. Artinya, makna Gestalt bergantung pada unsur-unsurnya dan sebaliknya arti unsur-unsur itu bergantung pula pada gestalt.

Guna menjelaskan secara mudah mengenai konsep Gestalt ini, Weitheimer menjelaskan bahwa apa yang sedang dilihat oleh seseorang merupakan efek dari keseluruhan peristiwa, yang tidak terkandung dalam total bagian-bagian itu. Seseorang yang sedang melihat untaian lampu yang mengalir, sekalipun hanya melihat satu lampu yang bersinar pada satu waktu, sebab keseluruhan peristiwa mengandung hubungan-hubungan di antara masing-masing lampu yang kita alami juga.
Dalam hal persepsi, salah satu prinsip Gestalt adalah hukum pragnanz. Pragnanz dalam bahasa Jerman juga memiliki arti yang sama dalam bahasa Inggris pregnant yang berarti hamil. Hukum ini berkata bahwa kita pada dasarnya digiring untuk mengalami segala hal yang sebagus mungkin dalam pengertian Gestalt. "Bogus" bisa berarti banyak di sini, seperti keteraturan, ketertiban, kesederhanaan, simetri, dan seterusnya, yang kemudian merujuk pada prinsip-prinsip Gestalt yang spesifik.

Psikologi Gestalt memandang keberadaan totalitas batiniah yang mengorganisasi yang memosisikan totalitas sebagai sesuatu yang utama, sedangkan elemen-elemen kejiwaan merupakan sesuatu yang sekunder. Lebih lanjut, gejala-gejala psikis yang khusus menurut Gestalt merupakan totalitas dari seluruh keadaan psikis yang menentukan bangkitnya tenaga batiniah dalam psikis manusia. 
Muncul sebagai kritik terhadap pandangan tentang manusia yang mekanistik ala behaviorisme dan pesimistik ala psikoanalisa. Oleh karenanya, ini sering disebut sebagai tekanan ketiga (the third force) (tekanan pertama adalah behaviorisme, sedangkan tekanan kedua adalah psikoanalisis).
A. Prinsip Utama

  • Memahami manusia sebagai suatu totalitas. Oleh karenanya, apa yang sangat tidak disetujui adalah usaha untuk mereduksi manusia, baik ke dalam formula S-R yang sempit dan kaku (behaviorisme) ataupun ke dalam proses fisiologis yang mekanistis. Manusia harus berkembang lebih jauh daripada sekedar memenuhi kebutuhan fisik, manusia harus mampu mengembangkan hal-hal nonfisik, misalnya nilai ataupun sikap.
  • Metode yang digunakan adalah life history, yang berusaha memahami manusia dari sejarah hidupnya sehingga muncul keunikan individual.
  • Mengakui pentingnya kebebasan pribadi (personal freedom) dan tanggung jawab (responsibility) dalam proses pengambilan keputusan yang berlangsung sepanjang hidup. Tujuan hidup manusia adalah berkembang, berusaha memenuhi potensinya dan mencapai aktualitas diri. Dalam hal ini, intensi dan eksistensi menjadi penting. Intensilah yang menentukan eksistensi manusia.
  • Akal (mind) bersifat aktif, dinamis. Melalui akal, manusia dapat mengekspresikan keunikan kemampuannya sebagai individu, yang terwujud dalam aspek kognisi, kemauan (willing), dan pertimbangan (judgement). Kemampuan khas manusia yang sangat dihargai adalah kreativitas. Melalui kreativitasnya, manusia mengekspresikan diri dan potensinya.
  • Pandangan humanistik banyak diterapkan dalam bidang psikoterapi dan konseling. Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman diri.
B. Tokoh
1. Carl Rogers (1902)

  • Lahir di Illinois dan sejak kecil menerima penanaman yang ketat mengenai kerja keras dan nilai agama Protestan. Kelak kedua hal ini mewarnai teori-teorinya. Setelah mempelajari teologi, ia masuk Teacher Arsquos College di Columbia Uni, di mana banyak tokoh psikologi mengajar. Di Columbia Uni ia meraih gelar Ph.D.
  • Rogers bekerja sebagai psikoterapi dan dari profesinya inilah ia mengembangkan teori humanistiknya. Dalam konteks terapi, ia menemukan dan mengembangkan teknik terapi yang dikenal sebagai Client-Centered Therapy. Dibandingkan teknik terapi yang ada masa itu, teknik ini adalah pembaharuan karena mengasumsikan posisi yang sejajar antara terapis dan pasien (dalam konteks ini pasien disebut klien).
  • Hubungan terapis-klien diwarnai kehangatan, saling percaya, dan klien diperlakukan sebagai orang dewasa yang dapat mengambil keputusan sendiri dan bertanggung jawab atas keputusannya. Tugas terapis adalah membantu klien mengenali masalahnya, dirinya sendiri sehingga akhirnya dapat menemukan solusi bagi dirinya sendiri.
  • Keseluruhan pengalaman eksternal dan internal psikologis individu membentuk organisme. Organisme adalah kenyataan yang dihayati individu, dan disebut sebagai realitas subyektif (subjective reality), yang unik dari satu individu ke individu lainnya. Diri (sell) berkembang dari organisme. Semakin koheren organisme dan diri, maka semakin sehat pribadi tersebut dan sebaliknya.
  • Sebagaimana ahli humanistik umumnya, Rogers mendasarkan teori dinamika kepribadian pada konsep aktualisasi diri. Aktualisasi diri adalah ,days yang mendorong pengembangan diri dan potensi individu, sifatnya bawaan dan sudah menjadi ciri seluruh manusia. Aktualisasi diri yang mendorong manusia sampai kepada pengembangan yang optimal dan menghasilkan ciri unik manusia seperti kreativitas, inovasi, dan lain-lain.

2. Abraham Maslow (1908-1970)
Maslow dikenal dengan teori motivasinya. Teori ini mengasumsikan bahwa perkembangan psikologis manusia didorong oleh hierarki kebutuhannya, yaitu kebutuhan fisiologis (physiological needs), kebutuhan rasa aman (safety needs), kebutuhan akan cinta dan kasih sayang (love & belonging needs), kebutuhan untuk dihargai (esteem needs), dan aktualisasi diri (selfactualization).


Aliran psikoanalisis muncul pada tahun 1900 sebagai upaya memperdalam pandangan-pandangan psikologis dan mengaitkannya melatui berbagai kemajuan dalam bidang kedokteran. Tokoh yang disebut sebagai bapak psikoanalisis adalah Sigmun Freud. Freud tahir tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg Moravia. Freud berusaha mereduksi psikotogi menjadi ke dalam neurologi karena pada dasarnya, is adalah seorang ahli saraf.
Teori dasar dari sigmun adalah ide tentang atam sadar (conscious mind versus alam bawah sadar (unconscious mind). Alam sadar merupakan apa yang seseorang sadari pada saat-saat tertentu, penginderaan langsung, ingatan, pemikiran, fantasi, dan perasaan yang Anda miliki. Hal yang berkaitan erat dengan atam sadar adalah alam prasadar, yaitu apa yang disebut saat ini dengan "kenangan yang sudah tersedia" (available memory), yaitu segala sesuatu yang dengan mudah untuk dipanggil ke alam sadar. Kenangan yang wataupun tidak Anda ingat waktu berpikir, tapi dapat dengan mudah dipanggil lagi. Menurut Freud keduanya adalah bagian terkecil dari pikiran.
Adapun bagian terbesar dari pikiran adalah alam bawah sadar (unconscious mind. Bagian ini mencakup segala sesuatu yang sangat sulit dibawa ke alam sadar, termasuk segala sesuatu yang memang asalnya dari alam bawah sadar seperti nafsu dan insting. Freud berpendapat bahwa alam bawah sadar adalah sumber dari motivasi dan dorongan yang ada dalam diri kita, apakah itu hasrat yang sederhana seperti makanan atau seks, atau motif-motif yang mendorong seniman atau ilmuwan berkarya.
Konsep lain dari freud adalah struktur kepribadian. Struktur kepribadian dibagi menjadi tiga yaitu: Id, Ego, dan Superego, yang masing-masing merupakan tahapan-tahapan kepribadian dan masing-masing juga memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Id merupakan struktur kepribadian yang paling mendasar, yang hanya berdasarkan atas dorongan nafsu atau kenikmatan belaka. Ego adalah pikiran yang beroperasi menurut prinsip kenyataan (reality principle) yang memuaskan dorongan Id menurut cara-cara yang dapat diterima masyarakat atau sebagai kepribadian yang mengontrol kesadaran. Superego merupakan Kesadaran tertinggi manusia, yang terbentuk melalui proses identifikasi dalam nilai-nilai moral dan beroperasi menurut prinsip moral.

Tokoh lain dari psikoanalisis adalah Alfred Adler (1870-1937). la merupakan seorang dokter mata lulusan Universitas Wina (1895), kemudian is menekuni bidang psikiatri dan menjadi psikiater. Teori-teorinya adalah sebagai berikut: 1. Teori tentang inferioritas universa. Setiap manusia akan melakukan upaya menyesuaikan diri dengan kelemahan yang dimilikinya melalui berbagai bentuk perilaku konvensional sebagai cara mengatasi kelemahannya. 2. Teori tentang striving for superiority, yaitu motivasi bawaan yang menggerakkan manusia untuk bertahan hidup dan mengembangkan dirt.


Tokoh lainnya adalah Carl Gustav Jung (1875-1961). la adalah seorang psikiater yang keluar dari sekolah psikoanalisis Freud. la mengklasifikasi karakteristik kepribadian menjadi 2 yaitu introvert dan ekstravert. Kepribadian introvert merujuk pada sebuah kecenderungan untuk mengutamakan dunia dalam pada diri seseorang. Aspek-aspek yang lebih jelas dari introvert adalah malu, tidak suka pada fungsi-fungsi sosial, dan menyukai privasi. Sedangkan kepribadian ekstravert merujuk pada kecenderungan untuk melihat dunia luar, khususnya orang lain demi kesenangan diri. Orang dengan karakteristik ekstravert biasanya mudah bersahabat dan menikmati aktivitas sosial, dan merasa tidak nyaman ketika sendirian. 
Behaviorisme muncul sebagai kritik lebih lanjut dari strukturalisme Wundt. Meskipun didasari pandangan dan studi ilmiah dari Rusia, aliran ini berkembang di AS, merupakan lanjutan dari fungsionalisme. Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai objek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalisme. Ini juga berarti bahwa behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental.
Peletak dasar aliran ini adalah Ivan Pavlov (1849-1936) dan William Mc Dougall (1871-1938). Teorinya yang terkenal adalah mengenai insting. Menurutnya, insting adalah kecenderungan bertingkah laku dalam situasi tertentu sebagai hasil pembawaan sejak lahir dan tidak dipelajari sebelumnya. Setelah eksperimen yang dilakukan oleh Pavlov, maka muncullah pendapat-pendapat yang kemudian muncul sebagai aliran behaviorisme. Intl dari aliran ini adalah asumsi bahwa jiwa bukan materi sehingga tidak dapat diteliti secara langsung. Penelitian difokuskan pada tingkah laku dengan asumsi bahwa tingkah laku merupakan wujud dari kejiwaan manusia maupun hewan lainnya.
Aliran behaviorisme memiliki 6 pandangan utama mengenai fundamentalnya perilaku. Pandangan-pandangan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tingkah laku manusia atau hewan merupakan realitas dari jiwa yang abstrak yang bermakna dan data diukur secara itmiah dengan pendekatan alamiah.
2. Psikologi adalah ilmu yang mengkaji sesuatu yang objektif, empiris, dan realistis. Oleh karena itu, segala hal yang keluar dari karakteristik itmiah, tingkah laku yang metafisik tanpa bentuk dan wujud tidak dapat diteliti, seperti tentang kesadaran yang artinya abstrak. Kesadaran dalam bentuk fisikal saja yang dapat dianalisis dan ditemukan unsur-unsur strukturnya.
3. Penelitian terhadap tingkah laku merupakan pokok persoalan yang dikaji oleh psikologi sebagaimana dianjurkan oleh John B. Watson, yang pada awal tahun 1900 berpendapat bahwa tingkah laku merupakan satu-satunya hal yang dapat diteliti dalam psikologi.
4. Faktor-faktor eksternal dalam konteks behaviorisme merupakan rangsangan yang dapat diikutsertakan, tetapi bukan merupakan tingkah laku yang sejatinya.
5. Jiwa dalam arti yang sesungguhnya adalah insting. Kesadaran substansiat yang menjadi rujukan utama adanya tingkah laku yang sebenarnya. Sebab, semua bentuk tingkah laku yang meskipun sudah dirangsang oleh pengaruh eksternal tetap harus dikembalikan pada sifat bawaannya.
6. Melalui penelitian B.F. Skinner, berbagai stimulasi yang memunculkan adanya respons dalam bentuk tingkah laku dipelajari oleh psikologi, sedangkan bentuk upaya dan modifikasi untuk mempertahankan tingkah laku bukan merupakan kajian psikologi karena semuanya merupakan pengaruh eksternal terhadap tingkah laku yang sesungguhnya.

Beberapa tokoh behaviorisme yang terkenal adalah:
• John B. Watson (1878-1958). Watson merupakan ahli matematika dan filsafat dari Univesrsitas Chicago. la merupakan direktur laboratorium di John Hopkins University. Teorinya yang terkenal adalah teori tentang stimulus-respons. Stimulus adalah semua objek di lingkungan termasuk perubahan jaring-jaring tubuh. Respons adalah apapun yang dilakukan sebagai jawaban terhadap stimulus mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat tinggi.
• B.F. Skinner (1904-1990). Pandangan-pandangan Skinner diterbitkan dalam karyanya The Behaviour of Organism dan kemudian dijabarkan dalam Science and Human Behaviour. Satah satu pandangan pentingnya mengenai aliran behaviorisme adalah asumsinya mengenai perilaku. Perilaku yang muncul diperkuat oleh adanya positive reinforcers (penguatan positif) dan ketiadaan negative reinforcers (penguatan negatif). Penguatan positif adalah meningkatnya respons karena adanya stimulus yang dibutuhkan dan sangat menyenangkan, sedangkan penguatan negatif adalah peningkatan tingkah laku dalam menghindarkan kemudaratan.


Friday, 18 December 2015

Aliran fungsionalisme merupakan aliran psikologi yang pernah sangat dominan pada masanya, dan merupakan hal penting yang patut dibahas dalam mempelajari psikologi. Pendekata n fungsionalisme berlawanan dengan pendahulunya, yaitu strukturalisme.
Aliran fungsionalisme juga keluar dari pragmatisme sebagai sebuah filsafat. Aliran fungsionalisme berbeda dengan psikoanalisa, maupun psikologi analitis, yang berpusat kepada seorang tokoh. Fungsionalisme memiliki rnacam-macam tokoh antara lain Willian James, John Dewey, J.RAnggell dan James Mc.Keen Cattell.
Fungsionalisme adalah orientasi dalam psikologi yang menekankan pada proses mental dan menghargai manfaat psikologi serta mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Maksudnya, Fungsionalisme memandang bahwa masyarakat adalah sebuah sistem dari beberapa bagian yang sating berhubungan satu sama lain dan tak bisa dipahami secara terpisah.
Fungsionalisme adalah sebuah studi tentang operasi mental, mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Fungsionalisme menekankan pada totalitas dalam hubungan pikiran dan perilaku. Dengan demikian, iubungan antar manusia dengan lingkungannya merupakan bentuk manifestasi dari pikiran dan perilaku.
Fungsionalisme memandang bahwa pikiran, proses mental, persepsi indrawi, dan emosi adalah adaptasi organisme biologis. Fungsionalisme lebih menekankan pada fungsi-fungsi dan bukan hanya fakta-fakta dari fenomena mental, atau berusaha menafsirkan fenomena mental dalam Kaitan dengan peranan yang dimainkannya dalam <ehidupan. Fungsionalisme juga memandang bahwa psikologi tak cukup hanya mempersoalkan apa dan mengapa terjadi sesuatu (strukturalisme) tetapi juga mengapa dan untuk apa (fungsi) suatu tingkah laku tersebut terjadi. Fungsionalisme lebih menekankan pada aksi dari gejala psikis dan jiwa seseorang yang diperlukan untuk melangsungkan kehidupan dan berfungsi untuk penyesuaian diri psikis dan sosial.
Fungsionalisme adalah suatu tendensi dalam psikologi yang menyatakan bahwa pikiran, proses mental, peresepsi indrawi, dan emosi adalah adaptasi organisme biologis. Drevere (1988) menyebutkan fungsionalisme sebagai suatu jenis psikologi yang menggaris bawahi fungsi-fungsi dan bukan hanya fakta-fakta dari fenomena mental, atau berusaha menafsirkan fenomena mental dalam kaitan dengan peranan yang dimainkannya dalam kehidupan organisme itu, dan bukan menggambarkan atau menganalisis fakta-fakta pengalaman atau kelakuan atau suatu psikologi yang mendekati masalah pokok dari sudut pandang yang dinamis, dan bukan dari sudut pandang statis. Aliran psikologi ini pada intinya merupakan doktrin bahwa proses atau keadaan sadar seperti kehendak bebas, berpikir, beremosi, memersepsi, dan menginderai adalah aktivitas-aktivitas atau operasi-operasi dari sebuah organisme dalam hubungan fisiknya dengan sebuah lingkungan fisik dan tidak dapat diberi eksistensi yang penting. Yang menjadi minat aliran fungsionalisme adalah tujuan dari suatu aktivitas. Tokoh aliran ini adalah Wiliam James, James R. Angel, dan John Dewey.
1. Willliam James (1842-1910).
Menurut James, psikologi tidak dapat membuktikan bebasnya kemauan. Bila psikologi bekerja sama dengan determinisme, dapatlah is melokalisasi sesuatu "pilihan bebas". Akan tetapi, psikologi tidak dapat menggunakan konsep itu begitu saja, karena konsep itu (determinisme) adalah hipotesis yang bekerja di belakang sains dan merupakan bagian dari pengetahuan agama. Karya psikologi yang dianggap pionir yang terbit pada tahun 1890, Principle of Psychology. Selama tahun 1890an, ia menerbitkan banyak tulisan yang bercorak pragmatic dan karya psikologi yang memusatkan perhatian pada pahamnya itu. Dengan penekanan pada peranan fungsional pada kesadaran, James merasa bahwa metode introspeksi dari strukturalisme terlatu membatasi, untuk mengetahui bagaimana organisme beradaptasi dengan lingkungannya. Pendukung fungsionalis berpendapat bahwa data yang berasal dari introspeksi harus dilengkapi dengan observasi peritaku aktual, termasuk penelitian peritaku. Jadi, fungsionalisme memperluas lingkup psikologi dengan mencakup perilaku sebagai variabel dependen. Namun, dengan munculnya strukturalisme, fungsionalisme masih , menganggap • psikotogi sebagai ilmu pengetahuan pengalaman sadar dan metode penelitian utama sebagai introspeksi.
 
2. James Rowland Angell (1869-1949). Betiau menjelaskan tiga macam pandangannya terhadap fungsionalisme:
a. Fungsionalisme adalah psikologi tentang mental operation sebagai lawan dari psikotogi tentang elemen-elemen mental (elementisme):
b Fungsionalisme adalah psikologi tentang kegunaan dasar dari kesadaran, yang jiwa merupakan perantara antara kebutuhan-kebutuhan organisme dan lingkungannya, khususnya dalam keadaan "emergency (teori "emergency dari kesadaran).
c. Fungsionalisme adalah psikofisik, yaitu psikologi tentang keseluruhan organisme yang terdiri atas jiwa dan badan. Oleh karena itu, ia menyangkut juga hal-hal dibalik kesadaran, seperti kebiasaan, tingkah laku yang setengah disadari, dan sebagainya.
3. John Dewey (1859-1952)


Sebagai seorang ahli filsafat, pandangan-pandangan psikologi Dewey banyak dipengaruhi ahli filsafat. la merupakan orang pertama yang menulis buku karangan ash mengenai psikologi datam bahasa Inggris (bukan terjemahan dari bahasa Jerman) pandangan filsafatnya adatah "manusia yang berpikir tentang perubahan". la menentang pendapat bahwa manusia sebaiknya pasif dan membiarkan segala sesuatu di sekitarnya sebagai mana adanya. Yang penting untuk digaris bawahi di sini yakni, baik atiran strukturatisme maupun fungsionatisme, keduanya memiliki peranan penting datam perkembangan psikologi awat. Karena masing-masing sudut pandangan memberikan pendekatan terhadap psikologi, dua atiran itu dianggap sebagai atiran psikologi yang berkompetisi.
Strukturalisme merupakan aliran pertama dalam psikologi, yang dikemukakan oleh Wilhelm Wundt setelah is metakukan eksperimennya di taboratotium. Wundt dan pengikut-pengikutnya berpendapat bahwa pengalaman mental yang kompleks sebenarnya adalah halnya persenyawaan kimiawi yang tersusun dari unsur-unsur kimiawi. Mereka bekerja atas premisnya-premis menyelidiki struktur kesadaran dan mengembangkan hukum-hukum pembentukannya.
Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada awal berdirinya psikologi sebagai satu disiplin ilmu yang mandiri, psikologi didominasi oleh gagasan serta usaha mempelajari elemen-elemen dasar dari kehidupan mental orang dewasa normal, melalui penelitian taboratorium dengan menggunakan metode intropeksi. Pada masa itu, tercatat aliran psikologi yang disebut psikologi strukturalisme. Tokoh psokologi strukturalisme ini adalah Wilhelm Wundt. Wundt dan pengikut-pengikutnya disebut strukturalis karena mereka berpendapat bahwa pengalaman mental yang kompleks itu sebenarnya adalah "struktur" yang terdiri atas keadaan-keadaan mental yang sederhana, seperti halnya persenyawan-persenyawan kimiawi yang tersusun dari unsur-unsur kimiawi. Ciri-ciri dari strukturalisme Wundt adalah penekanannya pada analisis atau proses kesadaran yang dipandang terdiri atas elemen-etemen dasar, serta usahanya menemukan hukum-hukum yang membawahi hubungan antar elemen kesadaran tersebut. Karena pandangan elementalistiknya ini, psikologi strukturalisme disebut juga psikologi elementalisme. Selain dipandang terdiri atas elemen-elemen dasar, yakni kesadaran, oleh Wundt dan para ahli psikologi lainnya pada masa itu, dipandang sebagai aspek yang utama dari kehidupan mental. Segala sesuatu atau proses yang terjadi dalam diri manusia, selalu bersumber pada kesadaran.
 Metode yang dipakai dalam strukturalisme adalah metode instropektif. Metode introspeksi adalah orang yang menjalani percobaan diminta untuk menceritakan kembali pengalamannya atau perasaannya setelah is melakukan suatu eksperimen. Sensasi seperti manic, pahit, dingin dapat diidentifikasi memakai introspeksi.
Menurut Jean Piaget, strukturalisme itu sulit dikenali karena mencakup bentuk-bentuk yang beragam sehingga sulit menampilkan sifat umum dan karena "struktur-struktur" yang dirujuk memperoleh arti yang cenderung berbeda-beda. Struktur adalah sistem transformasi yang mengandung kaidah sebagai sistem dan yang melindungi diri atau memperkaya diri metalui peran transformasi-transformasinya, tanpa keluar dari batas-batasnya atau menyebabkan masuknya unsur-unsur luar. Piaget menyebutkan tiga sifat yang dimaksud dalam sebuah struktur, yakni: totalitas, transformasi, dan pengaturan diri. Sebuah struktur, menurut Piaget, harus dilihat sebagai sesuatu totalitas, meskipun terdiri atas sejumlah unsur, struktur unsur-unsur itu berkaitan satu sama lain dalam sebuah kesatuan. Dilihat secara hierarkis, sebuah struktur terdiri atas sejumlah sub struktur yang terikat oleh struktur yang lebih besar. Dengan demikian, pengertian struktur tidak terbatas pada konsep terstruktur, tetapi sekaligus juga mencakup pengertian proses menstruktur. Pengertian transformasi, pada dasarnya, sejalan dengan konsep tata bahasa generatif-transformasional Chomsky. Sifat yang dinamis ini berkaitan dengan kaidah otoregulasi yang ada pada sebuah struktur.

Tokoh strukturalisme lain adalah Edward Bradford Titcherner (1867-1927). Titcherener merupakan orang Inggris yang pertama yang mewakili pandangan-pandangan psikologi Jerman (Wundt) sebagai murid Wundt, ia menerjemahkan beberapa buku Wundt dalam bahasa Inggris. Setelah belajar di Leipzig, Titchener ingin kembali ke Oxford, namun ditolak, karena psikologi di Inggris tidak sejalan dengan Wundt. Oleh karena itu, ia pergi ke Cornell University di Amerika Serikat, dan sebagai guru besar, ia mengembangkan strukturalisme di Amerika Serikat dari universitas tersebut. 

Thursday, 17 December 2015

Seperti tetah dikemukakan di atas metode tertua atau metode yang pertama-tama digunakan datam lapangan psikologi adalah spekulasi. Akan tetapi, akibat perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan psi-kologi pada khususnya akhirnya metode ini ditinggatkan, dan dirintislah metode baru yang mendasarkan atas pengataman-pengataman atau empiris.
Penentuan sesuatu metode merupakan hat yang penting setelah penentuan objek yang akan dipelajari. Dari segi metode akan terlihat ilmiah tidaknya sesuatu penyetidikan itu. Dalam kesempatan ini akan dikemukakan metode-metode yang digunakan datam lapangan psikologi empiris.
Ternyata, psikologi juga menerapkan metode-metode yang digunakan oleh ilmu-ilmu lain, tetapi sudah barang tentu disesuaikan dengan keadaan objeknya itu sendiri. Pada dasarnya, metode penyelidikan dapat dibedakan atas dua bagian yang besar, yaitu metode longitudinal dan cross-sectional.
a. Metode Longitudinal.
Metode ini merupakan metode penyelidikan yang membutuhkan waktu relatif lama untuk mencapai sesuatu hasil penyelidikan. Dengan metode ini penyelidikan dilakukan hari demi hari, bulan demi butan, malahan mungkin tahun demi tahun. Karena itu, bila dilihat segi perjalanannya, penyelidikan ini bersifat vertikal. Sebagai contoh, metode yang ditempuh di dalam penyelidikan tentang perkembangan anak. Hasil pengamatan dicatat hari demi hari, butan demi bulan dan tahun demi tahun. Hasil tersebut dikumpulkan dan diolah kemudian ditarik kesimpulan. Sudah barang tentu dengan mengutamakan metode penyelidikan ini penyelidik membutuhkan waktu yang lama, kesabaran serta ketekunan.

b. Metode Cross-Sectional.
Metode ini merupakan suatu metode penyelidikan yang tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama di dalam mengadakan penyelidikan. Dengan metode ini, dalam waktu yang relatif singkat dapat dikumpulkan bahan yang banyak. Jadi, kalau dilihat jalannya, penyelidikan ini berlangsung secara horizontal. Sebagai contoh penyelidikan dengan menggunakan kuesioner merupakan penyelidikan yang bersifat cross-sectional.
Sudah barang tentu penyelidikan ini dapat berlangsung secara cepat, tetapi pada umumnya kurang mendalam. Karena itu, untuk mengatasi kekurangan di satu pihak dan mengambil keunggulannya di lain pihak, kedua metode ini sering digabungkan.
Di samping metode yang tersebut di atas, dalam penyelidikan psikologi digunakan pula metode eksperimental dan noneksperimental. Dengan metode eksperimental, penyelidik dengan sengaja menimbulkan keadaan yang ingin diselidiki, dan hal ini berbeda dengan yang noneksperimental. Dalam penyelidikan yang noneksperimental, penyelidik mencari atau menunggu sampai dijumpai keadaan atau situasi yang ingin diselidiki, yakni mencari situasi yang ada dalam keadaan wajar natural). Untuk lebih terperinci akan dikemukakan metode-metode yang digunakan dalam lapangan psikologi sebagai oerikut:
 1. Metode introspeksi. Arti kata introspeksi adalah melihat ke dalam (intra = ke dalam dan speksi dari spektare = melihat). Metode ini merupakan suatu metode penyelidikan dengan melihat peristiwa-peristiwa kejiwaan ke dalam dirinya sendiri. Metode introspeksi ini dapat eksperimental dan dapat pula noneksperimental. Sudah barang tentu penyelidikan ini dijalankan dengan penuh kesadaran dan secara sistematik menurut norma-norma penyelidikan ilmiah. Tetapi, dalam penyelidikan ini, yang menjadi objek adalah dirinya sendiri, maka metode ini mengandung kelemahan-kelemahan. Kelemahan pokok yang sering dikemukakan terhadap metode ini yakni metode ini bersifat subjektif, karena orang sering tidak jujur dalam mengadakan penilaian terhadap dirinya sendiri, apalagi mengenai hal-hal yang tidak baik. Karena itu dengan metode ini sukar untuk mencapai segi objektivitas, padahal segi objektivitas dituntut oleh ilmu pengetahuan. Sekalipun metode introspeksi merupakan metode yang mengandung kelemahan, tetapi metode ini sangat besar artinya dalam lapangan psikologi. Banyak peristiwa kejiwaan dapat dimengerti yang didasarkan atas keadaan dirinya sendiri, dan juga banyak yang dapat dicapai dengan metode introspeksi. Karenanya, sekalipun metode introspeksi mempunyai kelemahan, tetapi pada umumnya masih dipertahankan di samping mencari jalan untuk mengatasi segi subjektivitas dari metode ini. Karena itu, kemudian timbul metode lain yang menggabungkan metode introspeksi dengan metode eksperimen yaitu yang dikenal dengan metode introspeksi eksperimental.
2. Metode introspeksi eksperimental. Seperti telah dikemukakan di atas metode ini merupakan penggabungan metode iritrospeksi dan eksperimen. Dengan jalan eksperimen, maka sifat subjektivitas dari metode introspeksi akan dapat diatasi. Pada metode introspeksi murni banyak dari penyelidik yang menjadi objek. Tetapi pada introspeksi eksperimental jumlah subjek banyak, yaitu orang-orang yang dieksperimentasi itu. Dengan luasnya atau banyaknya subjek penyelidikan hasilnya akan lebih bersifat objektif.
3. Metode ekstrospeksi. Arti kata ekstrospeksi adalah melihat keluar (extro = keluar, speksi dari spektare = melihat). Metode ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat pada metode introspeksi. Pada metode ekstrospeksi subjek penyelidikan bukan dirinya sendiri tetapi orang lain. Dengan demikian, diharapkan adanya sifat yang objektif dalam penyelidikan itu. Namun metode ekstrospeksi sebenarnya juga -berdasarkan atas metode introspeksi. Orang akan dapat mengatakan atau menyimpulkan yang terjadi pada orang lain, juga berdasarkan atas keadaan dirinya sendiri. Orang dapat mengatakan seseorang dalam keadaan susah, dalam keadaan gembira, tergesa-gesa dan sebagainya karena bila is sendiri berada dalam keadaan demikian tentu mengalami hal-hal yang demikian itu. Dengan demikian, kelemahan-kelemahan yang terdapat pada metode introspeksi sedikit banyak juga akan terdapat pada metode ekstrospeksi.
4. Metode kuesioner. Kuesioner atau sering pula disebut angket merupakan metode penyelidikan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang harus dijawab atau dikerjakan oleh orang yang menjadi subjek dari penyelidikan tersebut. Dengan angket orang akan dapat memperoleh fakta atau pun opini (opinions). Pertanyaan dalam angket bergantung kepada maksud serta tujuan yang ingin dicapai. Hai ini akan mempunyai pengaruh terhadap materi serta bentuk pertanyaan angket itu. Pada garis besarnya angket terdiri dari dua bagian yang besar, yaitu:
1. Bagian yang mengandung data identitas.
2. Bagian yang mengandung pertanyaan-pertanyaan yang ingin memperoleh jawabannya.
Pertanyaan itu ada beberapa macam bentuk atau jenis yang sekaligus memberikan bentuk atau jenis angket, yaitu:
a) Pertanyaan tertutup (closed questions), yaitu bentuk pertanyaan di mana orang yang dikenai angket (responden) tinggal memilih jawaban-jawaban yang telah disediakan dalam angket tersebut. Jadi, jawabannya telah terikat, responden tidak dapat memberikan jawaban seluas-luasnya, yang mungkin dikehendaki oleh responden yang bersangkutan. Bentuk angket yang mengandung pertanyaan-pertanyaan yang demikian coraknya disebut angket yang tertutup (closed questionnaire). Biasanya, kalau persoalannya telah jelas dipakai angket bentuk ini.

b) Pertanyaan terbuka (open questions), yaitu bentuk pertanyaan di mana responden masih diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk memberikan jawaban. Angket yang mengandung pertanyaan semacam ini disebut angket terbuka (open questionnaire). Pada umumnya, bila akan mendapatkan opini dipakai angket bentuk ini.
c) Pertanyaan terbuka dan tertutup, yaitu campuran dari kedua macam pertanyaan tersebut di atas. Angket yang mengandung pertanyaan-pertanyaan tersebut disebut angket terbuka tertutup (open and closed questionnaire).
Jika angket ditihat dari cara orang memberikan informasi, angket dapat dibedakan dua jenis, yaitu angket tangsung dan angket tidak tangsung.
a) Angket langsung. Angket tangsung yaitu angket yang diberikan kepada subjek yang dikenai, tanpa menggunakan perantara. Jadi penyelidik tangsung mendapatkan bahan dari sumber pertama (first resource).
b) Angket tidak langsung. Angket tidak langsung yaitu angket yang men.ggunakan perantara dalam menjawab. Jawaban-jawaban tidak langsung didapatkan dari sumber pertama, tetapi melalui perantara. Pada angket tidak langsung angket tidak diberikan langsung kepada subjek penyelidikan, tetapi diberikan kepada orang yang digunakan sebagai perantara.
Keuntungan metode angket antara lain:
a) Metode angket merupakan metode yang praktis, dari jarak jauh metode ini dapat digunakan. Penyelidik tidak perlu langsung datang di tempat penyelidikan.
b) Dalam waktu yang singkat dapat dikumpulkan data yang relatif banyak. Di samping itu, tenaga yang digunakan sedikit, sehingga dari segi ini merupakan metode yang hemat.
c) Orang dapat menjawab leluasa, sehingga tidak dipengaruhi oleh orang-orang lain. Orang akan lebih terbuka dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan.
Tetapi, di samping keuntungan-keuntungan tersebut di atas, angket juga mempunyai segi-segi kelemahan, antara lain:
a) Karena penggunaan angket penyelidik mungkin tidak dapat langsung berhadapan muka dengan yang diselidiki, maka bila ada hal-hal yang kurang jelas, keterangan lebih lanjut sulit dapat diperoleh.
b) Dalam angket pertanyaan-pertanyaan telah disusun demikian sehingga pertanyaan-pertanyaan tidak dapat diubah disesuaikan dengan situasinya.
c) Biasanya angket yang telah diketuarkan tidak semua dapat kembali. Hal ini harus diperhitungkan bila mengadakan penyelidikan menggunakan angket.
d) Kesalahan dalam pelaksanaan (misalnya, sugestif), kurang terangnya pertanyaan-pertanyaan, menyebabkan kurang validnya bahan yang diperoleh.
5. Metode interview.
Interview merupakan metode penyelidikan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan. Kalau pada angket pertanyaan-pertahyaan diberikan secara tertulis, maka pada interview pertanyaan-pertanyaan diberikan secara lisan. Karena itu antara interview dan angket terdapat hat-hal yang sama di samping adanya perbedaan-perbedaan. Baik angket maupun interview kedua-duanya menggunakan pertanyaan-pertanyaan, tetapi berbeda dalam penyajiannya. Kalau kedua metode itu dibandingkan maka pada interview terdapat keuntungan-keuntungan di samping ketemahan-ketemahan.

Keuntungan-keuntungannya antara lain adalah:
a) Pada interview, hal-hal yang kurang jelas dapat diperjelas, sehingga orang dapat mengerti apa yang dimaksudkan. Keadaan ini tidak terdapat pada angket.
b) Pada interview, penginterview dapat menyesuaikan dengan keadaan yang diinterview. Pada angket keadaan ini tidak mungkin.
c) Dalam interview, ada hubungan yang langsung (face to face), yang diharapkan dapat menimbulkan suasana hubungan yang balk, dan ini akan memberikan bantuan dalam mendapatkan bahan-bahan.
Sedangkan kelemahan-kelemahannya antara lain:
a) Penyelidikan dengan interview kurang hemat, baik dalam soal waktu maupun tenaga, sebab dengan interview membutuhkan waktu yang lama.
b) Pada interview dibutuhkan keahtian, dan untuk memenuhi ini dibutuhkan waktu untuk mendapatkan didikan atau latihan yang khusus.
c) Pada interview bila telah ada prasangka (prejudice), maka ini akan mempengaruhi interview, sehingga hasilnya tidak objektif.
6. Metode biografi. Metode ini merupakan tulisan tentang kehidupan seseorang yang merupakan riwayat hidup. Dalam biografi, orang menguraikan tentang keadaan, sikap-sikap ataupun sifat-sifat lain mengenai orang yang bersangkutan. Oleh karena itu, biografi juga dapat merupakan sumber penyelidikan dalam lapangan psikologi. Misalnya, biografi ibu Kartini, Mahatma Gandhi, Ki Hadjar Dewantara dan sebagainya. Metode ini, di samping mempunyai keuntungan, juga mempunyai kelemahan, yaitu bahwa metode ini kadang-kadang bersifat subjektif, dalam arti menurut pandangan yang membuat biografi itu. Misalnya, bila orang yang membuat itu sepaham, maka sudah barang tentu orang dalam membuat biografi akan dipengaruhi oleh sudut pandangannya, lebih-lebih dalam pembuatan otobiografi (biografi diri sendiri).
7. Metode analisis karya. lni merupakan suatu metode penyelidikan dengan mengadakan analisis dari hasil karya. Misalnya, antara lain tentang gambar-gambar, karangan-karangan yang telah dibuat, karya-karya ini merupakan pencetusan dari keadaan jiwa seseorang. Dalam hal ini, termasuk juga buku harian seseorang.
8. Metode klinis. Metode ini mula-mula timbul dalam lapangan klinik untuk mempelajari keadaan orang-orang yang jiwanya menyimpang (abnormal). Pada umumnya, metode ini digunakan oleh para ahli psikologi. Kelemahannya metode ini seakan-akan memberikan kesan bahwa subjeknya orang-orang yang jiwanya tidak normal, sehingga hasil yang dicapai kurang menggambarkan keadaan jiwa pada umumnya.
9. Metode testing. Metode ini merupakan metode penyelidikan yang menggunakan soal-soal, pertanyaan-pertanyaan, atau tugas-tugas lain yang telah distandardisasikan. Dilihat dari caranya, orang mengerjakan tes seakan-akan seperti eksperimen, namun kedua metode ini berbeda. Pada eks-perimen, orang dengan sengaja menerapkan treatment atau perlakuan dan ingin mengetahui efek dari treatment tersebut. Pada tes ini, orang ingin mengetahui kemampuan-kemampuan ataupun sifat-sifat lain dari testee (orang yang dites). Yang terpenting dalam tes adalah adanya standardisasi di mana ini tidak terdapat dalam eksperimen. Metode tes mulai terkenal setelah hasil kerja dari Binet. Pada tahun 1904, Binet mendapatkan tugas dari pemerintah Prancis (yang mengurusi bidang pendidikan dan pengajaran) untuk mengadakan penyelidikan terhadap anak-anak yang mengalami kelambatan dalam pelajaran bila dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Berdasarkan atas hasil penyelidikan Binet, anak-anak yang tidak dapat mengikuti pelajaran seperti anak-anak yang lain, ternyata mereka itu kurang normal. Penyelidikan kemudian dilanjutkan bersama-sama dengan Simon, hingga akhirnya hasil penyelidikan itu terkenal dengan tes-inteligensi Binet-Simon. Sumbangan utama dari Binet adalah dalam hal merintis dan menentukan standar-standar pertanyaan, yaitu pertanyaan yang diperuntukkan bagi anak-anak dengan tingkat umur masing-masing. Standar ini berdasarkan atas keadaan anak yang normal, sehingga dengan demikian, bila pertanyaan itu diajukan kepada anak dengan umur tertentu maka pertanyaan itu akan dapat dijawab oleh anak-anak yang normal. Tes Binet kemudian disempurnakan lebih lanjut oleh ahli-ahli antara lain oleh Stem, Terman Merril dan sebagainya. Salah satu revisi yang terkenal adalah dari Terman yang dipakai di Amerika. Karena Terman adalah mahaguru di Stanford University, maka revisinya terkenal dengan Stanford Revision, dan sering disebut tes inteligensi Stanford-Binet. Di camping tes Binet-Simon, masih banyak lagi tes-tes yang lain, misalnya tes Rorschach, tes Kraeplin, tes T.A.T. dan sebagainya. Dengan demikian, ada macam-macam tes yang kesemuanya dapat digunakan untuk mengadakan penyelidikan dalam lapangan psikologi.
Tes dapat dibedakan atas bermacam-macam jenis, yaitu:
a) Menurut banyaknya orang yang dites, tes dapat dibedakan atas:
1) Tes perorangan atau juga disebut tes individual, yaitu tes yang diberikan secara perorangan. Misalnya, tes Binet, tes Rorschach, dan tes Wechsler.
2) Tes kelompok, yaitu merupakan tes yang. diberikan secara kelompok, misalnya Army Alpha dan Army Betha Test, Army General Classification Test (AGeT), dan tes SPM. b) Berdasarkan atas peristiwa-peristiwa kejiwaan yang diselidiki, maka tes dapat dibedakan atas:
- Tes pengamatan.
- Tes perhatian.
- Tes ingatan.
- Tes inteligensi, dan sebagainya.
c) Berdasarkan atas caranya orang menjawab atau mengerjakan, maka tes dapat dibedakan:
1) Tes bahasa (verbal test), yaitu tes di. mana testee (orang yang dites) dalam mengerjakan tes menggunakan bahasa. Misalnya tes Binet, tes Rorschach, dan tes T.A.T.
2) Tes peraga (performance test), yaitu tes di mana testee dalam mengerjakan tes tidak perlu menggunakan bahasa, cukup dengan perbuatan-perbuatan, misalnya menyusun, menggambar dan sebagainya. Misalnya, tes dari William Healy, tes SPM, dan tes Goodenough.
Di samping itu, bila tes digunakan .untuk menyelidiki tentang bakat seseorang, tes itu disebut aptitude test atau tes bakat. Kalau tes digunakan untuk mengetahui tentang kecepatan orang mengerjakan sesuatu, tes itu disebut speed test atau tes kecepatan. Sedangkan kalau tes digunakan untuk mengetahui power atau kemampuan seseorang, maka tes itu disebut sebagai power-test Kalau tes digunakan untuk mengetahui sampai di mana kemampuan individu di dalam mengadakan performance terhadap sesuatu training atau sesuatu yang telah pernah diterimanya, maka tes ini disebut achievement test Tes sebagai metode penyelidikan, di samping mempunyai keuntungan, juga terdapat kelemahan. Keuntungan yang dapat diperoleh adalah dengan menggunakan tes orang dapat mengetahui gambaran atau keadaan dari orang yang dites, sudah memberikan ancer-ancer yang sedikit banyak telah berguna dalam menentukan langkah-langkah lebih lanjut. Sedangkan keberatan yang sering dikemukakan, yakni tes terikat kepada kebudayaan dari mana asal tes itu. Berhubung dengan kelemahan ini maka orang kemudian mencari atau menciptakan tes yang sedikit banyak ingin mengurangi atau bahkan menghilangkan kelemahan ini yaitu dengan menciptakan tes yang bebas dari ke-budayaan. Tes performa merupakan usaha untuk mengatasi terikatnya tes terhadap unsur kebudayaan. Karena itu, performance test diharapkan merupakan tes yang lebih bebas dari kebudayaan bila dibandingkan dengan tes-verbal. 10. Metode statistik. Pada umumnya metode statistik digunakan untuk mengadakan penganalisaan terhadap materi atau data yang telah dikumpulkan dalam suatu penyelidikan. Untuk memberikan gambaran yang dimaksud dengan statistik baiklah disajikan apa yang dikemukakan oleh Sutrisno Hadi (1979: 1) sebagai berikut: "Kata statistik telah digunakan untuk membatasi cara-cara iimiah untuk mengumpulkan, menyusun, meringkas, dan menyajikan data penyelidikan. Lebih lanjut statistik merupakan cara untuk mengolah data tersebut dan menarik kesimpulan-kesimpulan yang teliti dan keputusan-keputusan yang logis dari pengolahan data tersebut (batasan umum). Khusus untuk keperluan-keperluan riset, seperti yang telah beberapa kali disinggung di atas, fungsi dan peranan statistik digambarkan oleh Guilford sebagai berikut:
1. Statistik memungkinkan pencatatan secara paling eksak data penyelidikan.
2. Statistik memaksa penyelidik menganut tata-pikir dan tata kerja yang pasti dan tepat.
3. Statistik menyediakan cara-cara meringkas data ke datam bentuk yang tebih banyak artinya dan tebih gampang mengerjakannya.
4. Statistik memberi dasar-dasar untuk menarik konklusi-konklusi melalui proses-proses yang mengikuti tata yang dapat diterima oteh ilmu pengetahuan.
5. Statistik memberi landasan untuk meramalkan secara ilmiah tentang bagaimana sesuatu gejata akan terjadi datam kondisi-kondisi yang telah diketahui.

6. Statistik memungkinkan penyelidik menganalisa, menguraikan sebab-akibat yang kompteks dan rumit, yang tanpa statistik akan merupakan peristiwa yang membingungkan, kejadian yang tak teruraikan.
Powered by Blogger.

Apakah ilmu yang ada di blog ini bermanfaat ?

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget