Friday, 20 November 2015

 Pandangan para ahli teori sosio-budaya hampir sama dengan pandangan para humanis dan para eksistentialis. Mereka juga berbicara mengenai perasaan-perasaan alienasi. Tetapi, para eksistensialis berbicara mengenai hubungan manusia dengan alam semesta dan kematian, sedangkan para pendukung pandangan sosio-budaya berbicara mengenai hubungan antara individu dan norma-norma serta harapan-harapan masyarakat.
Dukungan Sosial Tidak Ada
Para ahli teori sosio-budaya mengemukakan bahwa penyebab tingkah laku abnormal tidak ditemukan dalam individu, melainkan dalam masyarakat itu sendiri. Orang-orang akan mengembangkan masalah-masalah psikologis bila mereka berada dalam stres yang hebat yang disebabkan oleh kemiskinan, kemelaratan sosial, diskriminasi, dan tidak memilki peluang. Dengan kata lain, pandangan sosio-budaya melihat tingkah laku abnormal (maladaptif) sebagai akibat dari ketidakmampuan individu untuk menangani stres secara efektif. Hal itu tidak dilihat sebagai penyakit atau masalah yang ada hanya dalam individu, tetapi sekurang-kurangnya seba'gian merupakan kegagalan sistem dukungan sosial.
Selanjutnya, para psikolog sosio-budaya mengemukakan bahwa hubung-an-hubungan antarpribadi individu dalam masyarakat akan mempengaruhi ke-sehatan mental individu. Makin matang individu secara intelektual dan emo-sional, maka makin besar kemampuannya untuk berfungsi sebagai anggota masyarakat yang bertanggung jawab. Ini hanya mungkin terjadi kalau masya-rakat di mana individu itu hidup ikut berperan dalam meningkatkan kesehatan mental individu. Tetapi, masyarakat sering menyebabkan pola-pola tingkah laku abnormal dalam anggota masyarakat karena masyarakat tidak menyediakan sarana-sarana atau lembaga-lembaga yang dibutuhkan untuk pembinaan kese-hatan mental. Keluarga berantakan dan anak-anak lari meninggalkan rumah karena orang tua yang emosinya tidak stabil tidak dapat menemukan bantuan yang dibutuhkan. Beberapa masyarakat memiliki sarana-sarana atau lembaga-lembaga yang sangat penting untuk kesehatan mental, tetapi karena kekurangan kepemimpinan maka tidak dapat mengembangkan program kesehatan mental masyarakat.
Para psikolog sosio-budaya tidak menyangkal peran dari sejarah hidup atau faktor genetik dalam menyebabkan tingkah laku abnormal (maladaptif), tetapi tidak dianggap cukup untuk menimbulkan tingkah laku tersebut, selain kalau tidak ada faktor-faktor sosial yang mendukung kesehatan mental individu dan mencegah tingkah laku abnormal. Dengan kata lain, masyarakat men-dukung kesehatan mental individu dari luar. Usaha-usaha masyarakat yang bergerak menuju kebersihan perkampungan kumuh, pembangunan kembali perkotaan, perbaikan sistem — sistem sekolah yang lebih baik dan guru-guru yang bermutu, penyediaan fasilitas rekreasi yang lebih banyak, program kepe-mudaan, penyediaan lapangan kerja yang cukup, pemberian skala gaji yang memadai, pembentukan pemerintahan yang lebih baik dan lebih efisien —merupakan contoh-contoh khusus penerapan dukungan masyarakat terhadap kesehatan mental individu.
Masyarakat dalam masa peralihan hams dapat menyesuaikan diri dengan faktor-faktor tertentu, seperti sumber-sumber daya fisik yang berubah, perkem-bangan-perkembangan yang sangat cepat dalam ilmu pengetahuan dan tekno-logi, industrialisasi dan urbanisasi, "ketertinggalan budaya" — yakni ketidak-mampuan fungsi masyarakat untuk menginformasikan atau mendidik warga-warganya mengenai penemuan-penemuan barn dan penerapannya  , pola-pola kehidupan yang berubah-ubah, dan perubahan-perubahan dalam organisasi masyarakat itu sendiri.
Para psikolog sosio-budaya berpendapat bahwa peningkatan kesehatan mental individu bukan hanya tanggung jawab profesi kedokteran saja, me-lainkan juga tanggung jawab lembaga-lembaga social yang terorganisasi, seperti keluarga, tempat kerja, lembaga agama, sistem pendidikan, saluran-saluran rekreasi, dan pelayanan-pelayanan khusus yang bersifat memperbaiki dan melindungi. Usaha-usaha yayasan swasta merupakan sumber kesehatan mental yang penting dalam masyarakat.
Dalam masyarakat modern, perumahan merupakan faktor yang sangat penting di antara segi-segi lingkungan fisik. Kondisi-kondisi perumahan ada kaitannya dengan kesehatan dan kepribadian. Jika kondisi-kondisi itu menye-babkan perasaan tidak adekuat atau rendah diri, maka jelas pengaruhnya sangat merugikan kesehatan mental. Keadaan yang berjubel tidak menjamin privasi individu, dan kekurangan udara serta sinar matahari menyebabkan penularan penyakit semakin mudah. Tempat-tempat tinggal yang dingin dan lembab serta gersang mengurangi ketahanan fisik dan mental. Sangat penting bahwa masyarakat menyediakan lingkungan yang cukup baik dan berguna agar baik anak-anak maupun orang dewasa berkembang dengan adekuat di dalam ruang lingkupnya.  

Sebutan (Labeling)
Menurut para ahli teori sosio-budaya yang radikal, seperti psikiater Thomas Szasz (1961), penyakit mental tidak lebih daripada hanya mitos — suatu konsep yang digunakan untuk menodai dan menundukkan orang-orang yang tingkah lakunya menyimpang dari masyarakat. Szasz mengemukakan bahwa apa yang dinamakan penyakit mental sebenarnya adalah masalah-masalah dalam hidup bukan penyakit seperti halnya influenza, tekanan darah tinggi, dan kanker. Lebih lanjut dia mengemukakan bahwa orang-orang yang melukai hati orang lain atau menjalankan tingkah laku yang menyimpang dari masyarakat dilihat sebagai ancaman oleh orang-orang yang sudah merasa din mapan.
Para ahli teori sosio-budaya juga berpendapat bahwa begitu sebutan (la-beling) "penyakit mental" digunakan, maka sulit sekali menghilangkannya. Sebutan itu juga mempengaruhi bagaimana (Hang lain memberikan respons kepada orang itu. Dengan sebutan "sakit mental", maka orang lain memberikan stigmatisasi dan degradasi sosial kepada orang itu. Peluang-peluang kerj a ter-tutup untuk mereka, persahabatan mungkin putus, dan orang-orang yang disebut sakit mental itu makin lama makin diasingkan dari masyarakat. Szasz berpen-dapat bahwa memperlakukan orang-orang sebagai "orang-orang yang menderita sakit mental" sama saja menelanjangi martabat mereka karena menolak mereka untuk bertanggung jawab terhadap tingkah laku dan pilihan mereka sendiri. Dalam pandangan Szasz, orang-orang yang bermasalah hams didorong untuk lebih bertanggung jawab dalam menangani hidup dan memecahkan masalah-masalah mereka sendiri.

Masyarakat sebagai Agen yang Tidak Adil
Salah seorang pendukung terkenal dari pandangan sosio-budaya adalah R.D. Laing, seorang psikiater Inggris, memiliki pandangan yang sama dengan para humanis mengenai bermacam-macam penyakit sosial dalam masyarakat kon-temporer. Dia berpandangan lebih kritis karena menuduh masyarakat sebagai agen yang tidak adil karena tetap berjuang supaya kelas bawah tetap berada sebagai kelas bawah. Laing juga mengkritik komunikasi modern, terutama pola-pola komunikasi dalam keluarga. Keluarga dan masyarakat menetapkan tujuan-tujuan yang bertentangan dan tanpa makna serta mendorong individu untuk memberangus tingkah lakunya sendiri yang autentik dan mengutamakan peran sosial yang sesuai dengan harapan dan cita-cita masyarakat. Pada waktu individu menjadi dewasa, ia diputuskan dari dirinya yang sebenarnya dan ia mengem-bangkan diri palsu yang cocok dengan dunia sosial (masyarakat) dengan akibatnya ia merasa terasing dari dirinya sendiri.

Komentar tentang Pendekatan Sosio-budaya
Pandangan sosio-budaya telah menekankan peran lingkungan sosial terhadap emosi-emosi dan tingkah laku abnormal (maladaptif). Mi-salnya, tingkat stres dan depresi anak-anak meningkat bila mereka hidup'dalam suatu lingkungan di mana orang-orang dewasa se-lalu marah dan bertindak agresif. Ada bukti bahwa kepekaan terhadap perselisihan orang tua adalah lebih besar untuk anak laki-laki daripada untuk anak perempuan (Cummings, et al., 1985; Farber, et al., 1985).
Pandangan sosio-budaya telah berpengaruh dalam menghasilkan pen-dekatan-pendekatan balm yang kreatif terhadap tingkah laku abnormal pada golongan-golongan penduduk yang kebutuhan-kebutuhan psikologisnya sampai sekarang diabaikan. Pendekatan ini efektif baik dalam mengubah segi pemikiran akademik maupun dalam mengubah kebijakan sosial. Pendekatan ini juga pen-ting karena mengajukan beberapa pertanyaan penelitian yang akan datang dan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menyumbangkan se-suatu kepada pemahaman kita mengenai penyebab sosial dari tingkah laku abnormal dan cara-cara lingkungan sosial dapat meningkatkan kehidupan anak-anak dan orang-orang dewasa. Pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan adalah:
(1) Bagaimana stres dalam kehidupan pribadi dan dalam masyarakat mempengaruhi tingkah laku abnormal?;
(2) Dapatkah masyarakat memberi-kan dukungan sosial yang mencegah tingkah laku abnormal atau membatasi akibat-akibat yang tidak diinginkan?;

(3) Bagaimanakah masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dari kelompok-kelompok tertentu, seperti orang-orang yang menderita penyakit mental kronis dan orang-orang tunawisma, dengan sangat baik?
Irving Janis (1971) menyatakan bahwa pemikiran kelompok (grupthink) adalah mode dari pemikiran bahwa orang-orang bersatu pada saat pencarian persetujuan menjadi dominan dalam kelompok kohesif yang cenderung berlebihan dalam penilaian realistis dan tingkah alternatif, akkibatnya ketika proses pembuatan keputusan ini kurang baik maka besar kemungkinan akan menghasilkan sesuatu yang merugikan (dalam Sarwono, 2001:119 dan Myers, 2012:389).
 Adapun gejala-gejala pikiran kelompok adalah sebagai berikut:
1. Persepsi yang keliru (ilusi) bahwa kelompok tidak akan terkalahkan.
2. Rasionalisasi (membenarkan hal-hal yang salah sebagai sesuatu yang seakan-akan masuk akal) kolektif.
3. Percaya kepada moralitas terpendam yang ada dalam diri kelompok.
4. Stereotip terhadap kelompok lain (out group).
5. Tekanan langsung terhadap anggota yang berbeda pendapatnya dari pendapat kelompok.
6. Sensor diri sendiri terhadap penyimpangan dari konsensus kelompok.
7. Ilusi bahwa semua anggota kelompok sepakat dan bersuara bulat.
8. Otomatis menjaga mental untuk mencegah atau menyaring informasi-informasi yang tidak mendukung.

Dampak pikiran kelompok terhadap pembuatan keputusan adalah sebagai berikut:
1. Diskusi terbatas hanya pada beberapa alternatif saja.
2. Pemecahan yang sejak semula sudah cenderung dipilih tidak dievaluasi atau dikaji ulang.
3. Alternatif yang sejak semula ditolak tidak pernah dipertimbangkan kembali.
4. Tidak pernah mencari atau meminta pendapat ahli.
5. Kalau ada nasihat atau pertimbangan lain, penerimaannya diseleksi karena ada bias pada pihak anggota.
6. Tidak melihat kemungkinan-kemungkinan bagaimana kelompok lain atau lawan akan bereaksi sehingga tidak menyiapkan rencana pengamanan atau langkah-langkah darurat.
7. Sasaran tidak disurvei dengan lengkap dan sempurna. (Sarwono, 2001:122-123)

Untuk pencegahan pikiran kelompok dapat dilakukan beberapa hal sebagai berikut:
1. Bersikap netral-jangan mendukung posisi manapun.
2. Mendorong evaluasi kritis, bagaimana keberatan dan keraguan para anggota kelompok.
3. Pada saat-saat tertentu kelompok dipecah, diminta untuk berdiskusi secara terpisah sebelum kemudian dipertemukan kembali dalam sate kelompok besar atau dalam keadaan yang berbeda.
4. Menerima kritikan dari para ahli dan rekan sejawat.
5. Sebelum mengimplementasikan hasil-hasil diskusi atau kesepakatan kelompok, ingatlah suatu "perubahan kedua" untuk mengungkapkan setiap keraguan (Myers, 2012:393).


Seluruh proses ini memang akan membutuhkan waktu yang lebih lama, namun akhirnya akan memperlihatkan kurangnya kesalahan-kesalahan dan lebih efektif. Pikiran kelompok (group think) hams diubah menjadi pikiran tim (team think) dan untuk memberi kesempatan kepada pelaksanaan prosedur dengan sebaik-baiknyaharus dikurangi desakan keterbatasan waktu atau time pressure (Neck & Moorhead, 1995 dalam Sarwono, 2001:123-124).
Gejala mengumpulnya pendapat kelompok pada satu pandangan tertentu disebut sebagai polarisasi kelompok. Myers (2012:375) menyatakan bahwa group polarization adalah ketika kelompok menghasilkan keterikatan pada sejumlah kecenderungan anggota, sebuah penguatan pada kecenderungan rata-rata anggota, bukan sebuah pemisahan dalam kelompok.
Terjadinya polarisasi kelompok antara lain dimulai dengan adanya diskusi dalam kelompok yang memunculkan ide-ide yang sama, dimana hal ini semakin kuat jika prasangka sosial anat anggota kelompok rendah. Dalam kehidupan sehari-hari adanya pemisahan din (self segregation) dimana para pria masuk dalam kelompok pria dan perempuan masuk ke dalam kelompok perempuan juga salah satu faktor yang dapat membentuk polarisasi kelompok. Terdapat juga polarisasi kelompok dalam sekolah, dalam komunitas dan sebagainya (Myers, 2012: 378-382).

Beberapa penelitian yang terkait dengan polarisasi kelompok antara lain sebagai berikut (dalam Sarwono, 2001:113-115):
1. Moscovici & Zavalloni (1969) Diskusi antar mahasiswa di Perancis yang semakin mendukung Perdana Menteri Perancis dan semakin negatif terhadap Amerika Serikat.
2. Williams & Taormina (1992) Eksperimen dengan simulasi tiga proyek bisnis untuk penanaman modal. Ternyata pandangan sebagai kelompok lebih berani untuk mengambil resiko dengan bekerja di proyek yang beresiko tinggi dibandingkan pendapat perorangan.
3. Mc Gaily, dkk. (1992) Semakin ekstrem posisi kelompok dalam konteks sosial (tingginya perasaan in-group) maka polarisasi semakin tajam. Misalnya dalam geng motor yang dipandang penuh kekerasan dan kejahatan oleh banyak orang, menyebabkan anggotanya saling melindungi satu sama lain.
4. Abrams, dkk. (1990) Menemukan jika perbedaan antara dua kelompok dipertajam maka polarisasi semakin kuat dan pertemuan pendapat antara dua kelompok semakin sulit.
5. Hogg, Turner & Davidson (1990) Ketika berhadapan dengan kelompok lain, kelompok sendiri selalu mengabil posisi yang berlawanan. Jika kelompok lawan berani mengambil resiko, maka kelompok kita akan berhati-hati, dan sebaliknya. Namun ketika kelompok lawan mengambil jalan tengah maka kelompok kita juga akan mengambil langkah yang sama, dan biasanya akan terjadi kompromi.
6. Isozaki (1984) Dalam diskusi tentang kecelakaan lalu lintas, peserta diskusi semakin lama semakin menyalahkan pihak penabrak (walaupun awalnya menyalahkan pihak korban).
7. Myers & Bishop (1970) Diskusi kelompok memperkuat persamaan pendapat antara yang sepaham, tetapi mempertajam perbedaan antara yang berbeda paham.
8. Cartwright (1975) Geng anak-anak nakal semakin kdmpak karena persaingan dan tekanan dari luar dan persamaan antar anggota (memiliki latar belakang sosial ekonomi yang sama, latar belakang etnis, dan sebagainya).
9. Mc Cautley & Segal (1987) Terorisme tidak timbul tiba-tiba, tetapi melalui proses kebersamaan antar oranng-orang yang sama-sama merasa terpukul dalam suatu situasi, dan karena mereka semakin terisolir maka mereka semakin ekstrim.

Penjelasan lain tentang hadirnya polarisasi kelompok adalah karena adanya pengaruh informasional dan pengaruh normatif. Pengaruh informasional adalah pengaruh yang merupakan hasil dari penerimaan bukti terhadap kenyataan. Misalnya dalam sebuah diskusi kelompok yang memunculkan sejumlah gabungan dari gagasan yang kebanyakannya menyukai sudut pandang yang dominan. Dalam proses diskusi kelompok muncul pendapat-pendapat yang hadir di dalam dan dan mereka sendiri (dalam Myers, 2012:382).

Sedangkan pengaruh normatif adalah pengaruh yang didasarkan pada hasrat seseorang untuk diterima atau dikagumi oleh orang lain. Leon Festinger (1954) menyatakan adanya pengaruh dari social comparison (perbandingan sosial) dimana kita ingin mengevaluasi pendapat dan kemampuan dari diri kita sendiri dengan pandangan dan kemampuan orang lain (dalam Myers, 2012:383). Perbandingan-perbandingan ini dapat menimbulkan kesan yang salah tentang apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh orang lain (pluraristic ignorance) sehingga menimbulkan reaksi yang salah pula. Penolakan pluraristik (pluraristic ignorance) adalah kesan yang salah pada kebanyakan orang lain pikirkan atau rasakan atau bagaimana mereka merespons. Contohnya adalah ketika kita dan beberapa orang yang lain ingin mengadakan demonstrasi terhadap adanya ketidakadilan dari perusahaan, namun ternyata masing-masing tidak berani untuk menjadi pemimpin demostrasi karena ketakutan-ketakutan seperti resiko pemecatan, hukuman dan sebaginya. Sehingga akhirnya tidak ada yang mengawali untuk bergerak, padahal pada awalnya ada kesamaan pendapat tentang "ketidakadilan". 

Fasilitasi sosial (social facilitation) adalah peningkatan intensitas perilaku oieh kehadiran orang lain. Fasilitasi sosial berbeda dengan perilaku menular (contagious behaviour) yang merupakan perilaku meniru (imitasi) dan menyangkut transformasi informasi dengan hasil jangka panjang adalah belajar sosial (social learning). Perilaku menular adalah dorongan dan dalam (imitasi) sedangkan dalam fasilitasi sosial adalah dorongan dan luar.
Beberapa faktor yang mempengaruhi fasilitasi sosial adalah (dalam Sarwono,2001: 99-101):
a. Faktor kedekatan atau keakraban, misalnya teman dekat dan keluarga.
b. Kecenderungan mengunggulkan jenis kelamin sendiri (sexism).
c. Musik, terutama jenis musik yang mendorong agresivitas.
Sedangkan pemalasan sosial (social loafing) yaitu individu, sebagai anggota kelompok yang bekerja kurang keras jika bersama-sama dengan kelompoknya, dibandingkan dengan jika dia bekerja seorang diri. 

Beberapa faktor yang mempengaruhi pemalasan sosial adalah (dalam Sarwono, 2001:104):
a. Faktor-faktor rasional, normatif dan afektif dan menumpang kesuksesan orang lain (free riding). Penumpang bebas (free riding) adalah orang yang mendapatkan keuntungan dari kelompok, namun hanya memberikan kontribusi yang sangat sedikit (Myers, 2012:365).
b. Ketidakjelasan tugas dan faktor intrinsik yang rendah.
c. Orang tidak mau rajin jika yang lain malas (sucker effect).
d. Pengambilalihan peran.
e. Kuatnya kultur individualis daripada kultur kolektivisme.
f. Jika tidak ada insentif, pembagian tanggung jawab yang jelas, tidak adanya pekerjaan.

Selain fasilitasi sosial dan pemalasan sosial, terdapat juga deindivisuasi sebagai bentuk perilaku dalam kelompok yang lain. Deindividuasi adalah hilangnya kewaspadaan diri dan penangkapan evaluasi, terjadi dalam situasi kelompok yang mendukung respons terhadap norma kelompok, baik atau buruk (Myers, 2012:369). Hal ini dapat terjadi ketika tingkat keterbangkitan sosial tinggi dikombinasikan dengan kebingungan tanggung jawab, dimana orang dapat menelantarkan pengendalian dirinya yang biasa dan kehilangan perasaan individualitasnya.

Definisi lainnya adalah keadaan hilangnya kesadaran akan diri sendiri (self awareness) dan pengertian evaluatif terhadap diri sendiri (evaluation apprehension) dalam situasi kelompok yang memungkinkan anonimitas dan mengalihkan atau menjauhkan perhatian dari individu (Festinger, Pepitone & Newcomb, 1952 dalam Sarwono, 2001:108). Deindividuasi semacam ini terjadi ketika orarT berada dalam kelompok besar, adanya anonimitas fisik, terstimulus dan terabaikan. Hasil berkurangnya kesadaran diri dan pengendalian diri cenderung mengarah pada responsivitas individu terhadap situasi yang tiba-tiba, baik itu positif maupun negatif. Deindividuasi berkurang ketika kesadaran diri tinggi.

Keadaan deindividuasi dapat membawa individu kepada perilaku di luar batas-batas norma, dapat juga terjadi di kota-kota besar yang padat penduduk dimana dapat memunculkan adanya perilaku vandalisme. Namun dengan adanya peningkatan kesadaran diri misalnya karena adanya cermin, kamera televisi dan juga kamera CCTV. Selain itu kondisi seperti lampu jalan yang terang, adanya papan nama, suasana yang terkontrol dalam kota kecil yang saling mengenal satu sama lain, di sekitar rumah sendiri, dan sebagainya mampu menurunkan perilaku deindividuasi. 

1. TEORI KETERPADUAN KELOMPOK
a. Teori Praeksperimental
1. Gustave Le Bon (dalam Sarwono, 2001:83-85), yang menyatakan bahwa massa (crowd) mempunyai pikiran-pikiran, gagasan-gagasan dan kehendak sendiri yang tidak sama dengan yang ada pada pribadi. Massa mempunyai jiwa (Perancis:Ame) yang berbeda dengan jiwa pribadi. Ame kelompok adalah irasional, impulsif, agresif, tidak dapat membedakan khayalan dan kenyataan, dan bagai dipengaruhi hipnotis.
2. McDougall, menyetujui bahwa jiwa massa berbeda dengan jiwa individu. Sebagai pengendali perilaku kelompok adalah naluri emosi. Naluri emosi membedakan perilaku kelompok yang teterorganisir dan tidak terorganisir. Perbedaannya adalah pada naluri takut dan marah yang sifatnya primitif. Jika naluri primitif yang disentuh, kumpulan orang yang manapun akan bereaksi primitif (impulsif, agresif, destruktif). Tetapi ada emosi-emosi yang lebih tinggi yang sama-sama tumbuh dalam kelompok tertentu. Misalnya jika terjadi tawuran antar pelajar SMP maka para pejalan kaki, penumpang bus dan pedagang kaki lima tidak ikut-ikutan (terlibat). Jiwa kelompok barn timbul jika terdapat 4 faktor yang menyebabkan yaitu:
a. Kelangsungan keberadaan kelompok.
b. Adanya tradisi, kebiasaan, adat.
c. Ada organisasi dalam kelompok (diferensiasi fungsi).
d. Kesadaran diri kelompok.
Tentang solidaritas kelompok menurut McDougall tergantung pada:
1. Pengetahuan tentang kelompok.
2. Attachment (keterikatan) kepada kelompok.
3. Bion, merupakan penganut psikoanalisis. Berpendapat bahwa kelompok tidak sama dengan kumpulan individu, tetapi merupakan kesatuan dengan ciri dinamika dan emosi sendiri. Kelompok merupakan makrokosmos individu. Analog dengan individu, kelompok dikendalikan oleh 3 sistem psikologi yaitu:
a. Id yang berupa kebutuhan dan motif kelompok .
b. Ego yang berupa tujuan dan mekanisme kerja kelompok.
c. Superego yaitu keterbatasan-keterbatasan kelompok.
b. Teori-teori Eksperimental
1. Festinger, Schachter &• Black, menyatakan bahwa keterpaduan kelompok (group cohesiveness) diawali oleh ketertarikan terhadap kelompok dan anggota kelompok, dilanjutkan dengan interaksi social dan tujuan-tujuan pribadi yang menuntut ketergantungan. Selanjutnya kekuatan-kekuatan di lapangan akan menimbulkan perilaku kelompok berupa kesinambungan keanggotaan dan penyesuaian terhadap standar kelompok. 

2. Lott & Lott, menyimpulkan bahwa keterpaduan kelompok dipengaruhi oleh hal-hal berikut: 
a. Hubungan antar relatif sukarela antara orang-orang yang tidak terlalu jauh berbeda dalam hal-hal yang menjauhkan antarpribadi, seperti suku dan ras.
b. Hubungan kerjasama atau kompetisi yang masih dalam batas-batas yang sesuai dengan norma.
c. Penerimaan oleh orang-orang (saling menerima).
d. Adanya ancaman atau bahaya dari luar yang hams dihadapi bersama.
e. Status yang homogen, status yang tingggi atau adanya ketidakmungkinan untuk naik ke status yang lebih tinggi.
f. Perilaku dan sifat-sifat pribadi yang berguna untuk memenuhi fungsi kelompok yang khusus (misalnya bersuara bagus untuk kelompok paduan suara, ahli bela diri untuk kelompok gangster).
g. Sikap, nilai-nilai dan Tatar belakang yang sama dan kepribadian yang saling mengisi dan relevan dengan eksistensi dan tujuan kelompok .
h. Adanya ritual (upacara, kebiasaan, tradisi, basa-basi) dan inisiasi (masa percobaan) yang tidak menyenangkan.
Dampak dan keterpaduan kelompok adalah sebagai berikut:
a. Agresivitas sebagai reaksi terhadap gangguan dan luar.
b. Evaluasi diri, menilai diri sendiri positif oleh orang-orang yang menyenangi da'n menilai positif orang-orang yang disenangi.
c. Evaluasi yang berlebihan tentang kemampuan atau keunggulan kelompok sendiri.
d. Evaluasi positif terhadap kelompok dan hal-hal yang berhubungan dengan kelompok.
e. Persepsi tentang kesamaan antarpribadi dalam hal sikap, perilaku dan kepribadian.
f. Komunikasi yang lebih bebas hambatan.
g. Konformitas pada standar kelompok yang berkaitan dengan sikap dan perilaku (penampilan).

2. TEORI IDENTITAS SOSIAL
Dipelopori oleh Henri Tajfell, dalam upaya untuk menjelaskan prasangka, diskriminasi, konflik antar kelompok dan perubahan sosial. Perilaku kelompok berbeda dengan perilaku individu. Yang termasuk dalam perilaku kelompok adalah ethnosentrisme, group bias, kompetisi dan diskriminasi antar kelompok, stereotip, prasangka, konformitas dan keterpaduan kelompok. Proses yang mendasari perilaku kelompok adalah kategorisasi dan perbandingan sosial. Hal ini menekankan pada penekanan persamaan terhadap hal-hal yang terasa sama dan penekanan pada perbedaan pada hal-hal yang terasa berbeda. Pada akhirnya kategorisasi dan perbandingan sosial ini meningkatkan persepsi ingroup. Tidak ada kebenaran yang semata-mata obyektif, semua kebenaran disimpulkan dari perbandingan.
Teori identitas soisal juga digunakan untuk menjelaskan perubahan sosial pada tingkat makro sosial yaitu:
a. Mobilitas sosial, adalah perpindahan individu dari kelompok yang lebih rendah ke kelompok yang lebih tinggi yang terjadi jika peluang untuk hal ini terbuka.
b. Perubahan sosial itu sendiri, misalnya dengan menggeser statusnya ke atas dalam kelompok atau meningkatkan citra kelompok.

3. TEORI KATEGORISASI DIRI
Dikemukakan oleh Turner, memberikan tekanan pada faktor kognisi. Dasar dan teori ini adalah bahwa orang-orang menggolongkan diri dalam berbagai tingkat abstraksi; ingroup-outgroup (identitas sosial), bodoh-pandai, cantik-jelek, pemimpin-pengikut, kaya-miskin dan lain-lain. Terjadinya kategorisasi din menurut Rabbie, Schot & Visser, bukan disebabkan oleh karena setiap orang mencari identitas diri sosial yang positif, melainkan karena setiap orang menginginkan untuk memaksimalkan keuntungan bagi dirinya sendiri dalam kelompok (economic self interest).
Teori identitas sosial dan kategorisasi diri menjelaskan hubungan antar kelompok:
a. Kategorisasi din dan pemberian prioritas kognitif (cognitive priming) meningkatkan persepsi tentang homogenitas dalam kelompok.
b. Kecenderungan polarisasi (kategorisasi dua kutub misalnya hitam-putih) dapat meramalkan ektremitas.
c. Kelompok yang mempunyai harga din rendah, tidak dapat melepaskan diri dari pengalaman masa lalu.
d. Identitas sosial dapat menggunakan berbagai kategorisasi, yang paling sering adalah ras, etnik dan warna kulit.

e. Kelompok minoritas lebih menunjukkan diferensiasi daripada kelompok mayoritas. 
1. Teori Perkembangan Kelompok menurut Bennis & Sheppard (1956) dalam Sarwono (2001:11-21). Terdapat beberapa tahap dalam perkembangan kelompok yaitu:
A. Tahap Otoritas
a. Ketergantungan pada otoritas, dimana anggota kelompok mengharapkan arahan dari orang tertentu yang dianggap sebagai otoritasmisalnya pemandu, guru atau pelatih.
b. Pemberontakan, terjadi karena otoritas dianggap tidak lagi mampu mengatasi masalah. Dalam prosesnya terjadi saling tunjuk atau saling menyalahkan.
c. Pencairan, adalah diterimanya otoritas yang ada atau kelompok bubar, tidak berlanjut atau terpecah jika tidak ada otoritas baru.

 B. Tahap Pribadi
a. Tahap harmoni, semua anggota kelompok senang, saling per-caya, saling memenuhi harapan serta produktivitas kelompok tinggi.
b. Tahap identitas pribadi, dimana terdapat tekanan pada masing-masing individu sehingga kelompok terbagi dua, antara yang pro status quo dengan yang kontra.
c. Tahap pencairan masalah pribadi, dimana kelompok sudah bisa saling menerima dan dapat berkomunikasi dengan baik.

2. Teori Hubungan Pribadi (Schutz)
Teori ini disebut juga FIRO-B (Fundamental Interpersonal Relation Orientation Behaviour). Teori ini dipengaruhi oleh psikoanalisis dan intinya adalah kebutuhan dasar dalam hubungan antar individu. Menurut Schutz terdapat 3 macam kebutuhan manusia yaitu:
a. Kebutuhan Inklusi, adalah kebutuhan untuk terlibat dan termasuk dalam kelompok. Orang yang tidak cukup kebutuhan ini akan menjadi orang yang merasa dirinya tidak bermakna (insignificant).
b. Kebutuhan Kontrol, adalah kebutuhan akan arahan,petunjuk dan pedoman dalam berperilakudalam kelompok. Orang yang tidak tercukupi kebutuhan ini akan merasa sebagai orang yang tidak mampu (incompetent).
c. Kebutuhan Afeksi, adalah kebutuhan akan kasih sayang dan perhatian dalam kelompok. Orang yang tidak cukup kebutuhan ini akan merasa dirinya tidak dicintai (unlovable).
Berbagai bentuk perilaku hubungan antarpribadi sehubungan dengan terpenuhi atau tidak tiga kebutuhan dasar adalah sebagai berikut:
A. Perilaku Inklusi
a. Perilaku Kurang Sosial (Undersocial Behaviour) misalnya malu, menarik diri, sulit menyesuaikan diri. 
b. Perilaku Terlalu Sosial (Oversocial Behaviour), misalnya terlalu mementingkan teman, mau berkorban sekalipun merugikan dirinya sendiri dan sebagainya, agar orang mau melibatkan dia. 
c. Perilaku Sosial, adalah cukup percaya diri, mampu menyesuaikan din dengan tepat sesuai dengan situasi dan kondisi.

B. Perilaku Kontrol
a. Perilaku Menurut (Abdicratic Behaviour), yaitu selalu mengikuti saja kata-kata orang lain, merasa dirinya tidak mampu berbuat jika tidak diberi petunjuk.
b. Perilaku Otokrat (Autocratic Behaviour), yaitu perilaku yang mengatur, cenderung memerintah dan mau menang sendiri.
c. Perilaku Demokrat (Democratic Behaviour), yaitu perilaku demo-kratis, mendengarkan pendapat orang lain, dan mempertimbang-kan pendapat tersebut sebelum mengambil keputusan.
d. Perilaku Patologik (Pathological Behaviour), misalnya gangguan perilaku (psikopat: tidak peduli meskipun perilakunya melanggar norma-norma dalam masyarakat) serta gangguan jiwa (obsesif-kompulsif : perilaku-perilaku ritual yang irasional misalnya selalu mencuci tangan atau selalu mengunci jendela, tanpa pelaku sendiri menyadari apa sebabnya).
C. Perilaku Afeksi
a. Perilaku Kurang Personal (Underpersonal Behaviour) yaitu menyamaratakan semua orang, menganggap orang sebagai benda.
b. Perilaku Terlalu Personal (Overpersonal Behaviour) yaitu perilaku yang terlalu memperhatikan orang lain, memberi kasih sayang yang berlebihan sehingga mengganggu orang yang diberi perhatian.
c. Perilaku Personal (Personal Behaviour) yaitu orang yang dapat menakar kasih sayang dan perhatian yang diberikan pada orang lain.
d. Perilaku Patologik (Pathological Behaviour) misalnya psiko-neurosis (cemas, gelisah tanpa alasan tertentu).

3. Teori Sintalitas Kelompok (Cattel)
Sintalitas (syntality) adalah kepribadian (personality) yang khusus digunakan untuk kelompok. Dasar pendapat Cattel adalah pandangan McDougall tentang kelompok yaitu:
a. Perilaku dan struktur kelompok yang khas tidak berubah walaupun anggotanya berganti-ganti.
b. Pengalaman-pengalaman kelompok direkam dalam ingatan.
c. Kelompok mampu berespons secara keseluruhan terhadap rangsang yang tertuju pada salah satu bagiannya.
d. Kelompok menunjukkan adanya dorongan-dorongan.
e. Kelompok menunjukkan informasi yang bervariasi.
f. Kelompok menunjukkan adanya pertimbangan-pertimbangan kolektif (bersama).
Ada tiga dimensi dalam kelompok yaitu:
a. Dimensi Sifat-sifat Sintalitas, yaitu pengaruh dari keberadaan kelompok dan perilaku kelompok, baik terhadap kelompok maupun lingkungan. Misalnya agresivitas kelompok terhadap kelompok lain, kerjasama dengan kelompok lain serta perilaku kelompok terhadap lingkungan.
b. Dirnensi Struktur Kelompok, yaitu bagaimana hubungan antar anggota kelompok, perilaku-perilaku dalam kelompok dan organisasi kelompok. Misalnya kepemimpinan dalam kelompok, pembagian peran, status dan pola komunikasi dalam kelompok.

c. Dimensi Sifat Populasi, yaitu sifat rata-rata anggota kelompok, misalnya taraf intelegensi rata-rata anggota, keadaan sosial ekonomi, tingkat pendidikan dan sikap rata-rata terhadap berbagai masalah sosial.  

Thursday, 5 November 2015

Kelompok adalah dua orang atau lebih yang untuk beberapa waktu yang cukup lama saling berinteraksi dan memengaruhi satu sama lain dan memandang satu sama lain sebagai "kita" (Myers, 2012:354). Terdapat beberapa contoh jenis agregat sosial:
a. Agregat statistik, yaitu pengelompokan untuk menganalisis seluruh anggota suatu kategori sosial tertentu, misalnya kelompok usia, kelompok jenis kelamin, kelompok berpendapatan tinggi, dan sebagainya.
b. Audiens, yaitu bagian dan kelompok hadirin yang sama, meskipun mereka tidak saling mengetahui dan berinteraksi. Misalnya pendengar radio, penonton televisi, dan sebagainya.
c. Kerumunan (crowd), adalah sekelompok orang yang berada dalam kedekatan fisik dan bereaksi terhadap stimulus atau situasi umum. Misalnya antrian di pasar swalayan, orang yang berkumpul karena ada kecelakaan dan sebagainya.
d. Tim, yaitu sekelompok orang yang secara teratur berinteraksi dalam kaitannya dengan aktivitas atau tujuan tertentu misalnya tim bulutangkis, kelompok kerja dan lain-lain.
e. Keluarga, yaitu sekelompok orang yang diikat oleh hubungan kelahiran atau aturan hukum dan biasanya tinggal bersama dalam suatu tempat.
f. Organisasi formal, merupakanagregat yang lebih besardari orang-orang yang sering bekerja bersama-sama dengan cara yang terstruktur jelas dalam usaha mencapai tujuan bersama. Misalnya sekolah, kantor atau instansi, partai politik dan lain-lain.
Kelompok adalah agregat sosial dimana anggota-anggotanya saling tergantung, dan setidaknya mempunyai potensi untuk melakukan interaksi satu sama lain. Kelompok terkecil adalah diad atau pasangan. Dalam kelompok terdapat kekompakan yaitu kekuatan, baik positif maupun negatif, yang menyebabkan para anggota menetap dalam suatu kelompok. Daya tank antarpribadi yang terdapat diantara anggota kelompok merupakan kekuatan yang positif. Motivasi orang untuk tetap tinggal dalam kelompok juga dipengaruhi oleh tujuan instrumental kelompok itu. Kekompakan juga dipengaruhi oleh sejauhmana kelompok berinteraksi secara efektif dan selaras. Terdapatnya suatu kekuatan negatif juga mempengaruhi kekompakan. Kadangkala orang memilih tetap tinggal dalam kelompok karena kerugian yang akan ditanggung bila is keluar dari kelompok tersebut serta tidak adanya pilihan.

Pengaruh kolektif ini meliputi fasilitasi sosial, kemalasan sosial dan deindividuasi. Fasilitasi sosial adalah
(1) kecenderungan bagai seseorang untuk menampilkan tugas-tugas yang sederhana atau telah dipelajari dengan baik, secara lebih baik ketika orang lain ada diantara mereka dan
(2) penguatan respons-respon dominan melalui keberadaan orang lain. Contohnya anak-anak yang memacu sepedanya lebih cepat ketika pulang sekolah ketika mengetahui ada teman-teman lain yang juga bersepeda menuju rumahnya masing-masing. Begitu juga dalam perlombaan lari, dimana kehadiran orang lain mengancam posisi orang tersebut untuk menjadi juaranya.
Kemalasan sosial adalah kecenderungan bagi orang-orang untuk mengeluarkan usaha yang lebih sedikit ketika mereka mengumpulkan usaha mereka untuk mencapai suatu tujuan yang sama dibandingkan jika mereka secara individual diperhitungkan. Misalnya dalam lomba tank tambang, ketika orang pertama menarik lebih pelan ketika mereka berpikir orang di belakang mereka akan menarik juga. Usaha ini semakin berkurangg manakala dia berpikir orang-orang yang ada di belakangnya menarik tali tambang dengan lebih keras.

Deindividuasi adalah hilangnya kewaspadaan din dan penangkapan evaluasi, terjadi dalam situasi kelompok yang mendukung respons terhadap norma kelompok, baik atau buruk. Misalnya dalam pertandingan sepakbola yang disaksikan ribuan penonton maka teriakan mengumpat pemain atau terhadap wasit dengan berani dilakukan oleh orang-orang tertentu karena dalam situasi massa seperti itu cenderung tidak terlalu mengenal satu sama lain (anonim). 
Definisi Penyesuaian Diri
Dari segi pandangan psikologi, penyesuaian diri memiliki banyak arti, seperti pemuasan kebutuhan, keterampilan dalam menangani frustrasi dan konflik, ketenangan pikiran/jiwa, atau bahkan pembentukan simtom-simtom. Itu berarti belajar bagaimana bergaul dengan baik dengan orang lain dan bagaimana meng-hadapi tuntutan-tuntutan pekerjaan. Tyson menyebut hal-hal seperti kemam-puan untuk beradaptasi, kemampuan berafeksi, kehidupan yang seimbang, kemampuan untuk mengambil keuntungan dari pengalaman, toleransi terhadap frustrasi, humor, sikap yang tidak ekstrem, objektivitas, dan lain-lain (Tyson, 1951). Kita akan menemukan kualitas-kualitas lain ketika kita membicarakan kriteria mengenai penyesuaian diri dan kesehatan mental. Jelas, banyaknya sifat dari proses penyesuaian diri ini menimbulkan kesulitan untuk merumuskan suatu definisi yang singkat. Kita juga menghadapi kesulitan karena penyesuaian din itu sendiri tidak bisa dikatakan baik atau buruk. Hanya dapat dikatakan bah-wa penyesuaian diri adalah cara individual atau khusus organisme dalam be-reaksi terhadap tuntutan-tuntutan dari dalam atau situasi-situasi dari luar. Untuk beberapa orang mungkin reaksi ini bisa efisien, sehat, atau memuaskan, semen-tara untuk orang lain reaksi ini melumpuhkan, tidak efektif, atau bahkan patologik.
Karena penyesuaian din itu sendiri tidak bisa dikatakan baik atau buruk, maka kita dapat mendefinisikannya dengan sangat sederhana, yaitu suatu proses yang melibatkan respons-respons mental dan tingkah laku yang menyebabkan individu berusaha menanggulangi kebutuhan-kebutuhan, tegangan-tegangan, frustrasi-frustrasi, dan konflik-konflik batin serta menyelaraskan tuntutan-tun-tutan batin ini dengan tuntutan-tuntutan yang dikenakan kepadanya oleh dunia di mana ia hidup. Dalam arti ini, kebanyakan respons cocok dengan konsep penyesuaian diri.


Konsep Penyesuaian Diri yang Baik
Terhadap definisi umum yang dikemukakan di atas, kita akan bertanya, "Seperti apakah orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik itu?" Dengan kata lain, "Apakah itu penyesuaian diri yang baik?" Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik adalah orang yang memiliki respons-respons yang matang, efisien, memuaskan, dan sehat. Sebaliknya, orang yang neurotik adalah orang yang sangal tidak efisien dan tidak pernah menangani tugas-tugas secara leng-kap. Istilah "sehat" berarti respons yang baik untuk kesehatan, yakni cocok dengan kodrat manusia, dalam hubungannya dengan orang lain dan dengan tanggung j awabnya. Kesehatan merupakan ciri yang sangat khas dalam penyesuaian din yang baik.
Singkatnya, meskipun memiliki kekurangan-kekurangan kepribadian, orang yang dapat menyesuaik, diri dengan baik dapat bereaksi secara efektif terhadap situasi-situasi yang berbeda, dapat memecahkan konflik-konflik, frustrasi-frustrasi, dan masalah-masalah tanpa menggunakan tingkah laku simtomatik. Karena itu, ia relatif bebas dari simtom-simtom, seperti kecemasan kronis, obsesi, atau gangguan-gangguan psikofisiologis (psikosomatik). Ia men-ciptakan dunia hubungan antarpribadi dan kepuasan-kepuasan yang ikut menyumbangkan kesinambungan pertumbuhan kepribadian.

Penyesuaian Diri adalah Relatif
Penyesuaian diri seperti yang telah dirumuskan di atas adalah relatif karena tidak ada orang yang dapat menyesuaikan diri secara sempurna. Penyesuaian diri itu harus dinilai berdasarkan kapasitas individu untuk mengubah dan me-nanggulangi tuntutan-tuntutan yang dihadapi, dan kapasitas ini berbeda-beda menurut kepribadian dan tingkat perkembangan. Seperti dikatakan oleh seorang penulis:
"Penyesuaian diri yang baik tidak dapat didefinisikan hanya sekali saja secara sederhana atau secara sempurna. Penyesuaian diri yang baik hams dide-finisikan menurut penanganan masalah yang sesuai dengan tingkat perkem-bangan — Seorang individu mungkin dikatakan mampu menyesuaikan diri dengan baik pada usia tertentu, tetapi mungkin pada usia lain ia tidak mampu menyesuaikan diri. Kalau dilihat dari segi ini, pertumbuhan adalah suatu proses dalam menghadapi stres dan tekanan berturut-turtit dan dengan demikian mem-bangun kapasitas untuk menghadapi masalah-masalah pada tingkat berikutnya yang lebih tinggi" (Anderson, 1949).
Penyesuaian diri juga bersifat relatif karena berbeda-beda menurut norma-norma sosial dan budaya serta individu itu sendiri berbeda-beda dalam ber-tingkah laku. Bahkan, orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik kadang-kadang merasa bahwa ia menghadapi situasi atau masalah yang melampaui kemampuannya untuk menyesuaikan diri. Dan juga penyesuaian diri yang baik tidak hams menyebar ke bidang-bidang lain. Seorang mahasiswa yang duduk dekat Anda mungkin secara emosional dan sosial dapat menyesuaikan diri dengan baik, tetapi ia mungkin mengalami kesulitan dalam bidang akademis. Banyak suami dapat menangani pekerjaannya dengan baik, tetapi ia merasa tidak mungkin hidup bersama dengan keluarganya. Sebaliknya, ketidakmam-puan menyesuaikan diri adalah kelumpuhan yang akan menyebar dari salah satu bagian kepribadian ke bagian kepribadian lainnya.

Penyesuaian Did versus Moralitas
Pemakaian istilah "baik" dan "buruk" menempatkan seorang psikolog dalam ilmu kesehatan mental dalam posisi untuk membuat penilaian terhadap tingkah laku yang sebenarnya diharapkan tidak dilakukan oleh seorang ilmuwan. Tetapi dapat dikemukakan di sini bahwa keputusan untuk menilai bukan sesuatu yang khas bagi bidang ilmu moral atau etika. Setiap orang dapat berbicara tentang kesehatan yang baik dan buruk, atau cuaca yang baik dan buruk dengan tidak memperhatikan pandangan moral atau etika. Kita tidak melihat tingkah laku yang tidak dapat menyesuaikan diri sebagai sesuatu yang secara moral buruk atau juga orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik sebagai teladan kebajikan yang sempurna. Kemampuan menyesuaikan diri tidak dapat disamakan dengan kebajikan atau ketidakmampuan menyesuaikan diri disamakan dengan dosa (Mowrer, 1960). Tetapi sering kali terjadi bahwa imoralitas merupakan akar dari ketidakmampuan menyesuaikan diri dan sudah pasti penyesuaian diri yang sehat dalam pengertian yang sangat luas harus juga mencakup kesehatan moral.

Tetapi jika ciri dari penyesuaian diri itu adalah baik, maka hal ini dipan-dang dari segi psikologi bukan dari segi moral atau etika. Sama seperti kese-hatan fisik adalah sesuatu yang diinginkan oleh semua orang demikian juga kesehatan mental adalah kik bagi semua orang dan jelas juga bahwa ketidak-stabilan mental, simtom-simtom neurotik atau psikotik secara psikologis adalah buruk. Di sini jelas perbedaan antara moralitas dan penyesuaian diri. Dosa pertama-tama adalah kejahatan moral dan hanya secara sekunder merupakan ketidakmampuan menyesuaikan diri, sebaliknya ketidakmampuan menyesuai-kan diri pertama-tama adalah kejahatan psikologis dan secara moral bisa di-katakan jahat hanya jika responsnya yang bersifat moral dan bersifat psikologis j ahat/buruk.
Penyesuaian diri (adjustment) merupakan suatu istilah yang sangat sulit didefinisikan karena 
(1) penyesuaian diri mengandung banyak arti, 
(2) kriteria untuk menilai penyesuaian diri tidak dapat dirumuskan secara jelas, dan 
(3) penyesuaian diri (adjustment) dan lawannya ketidakmampuan menyesuaikan diri (maladjustment) memiliki batas yang sama sehingga akan mengaburkan perbedaan di antara keduanya. Dengan demikian, apabila kita mau menghi-langkan kekacauan atau salah pengertian mengenai apa itu penyesuaian diri, maka kita harus menjelaskan konsep-konsep dasarnya. Karena kalau tidak, maka kita tidak dapat melangkah lebih jauh untuk menentukan kriteria, syarat, dan prinsip-prinsipnya. Demikian jugs halnya kalau kita mau memahami secara jelas tentang istilah-istilah yang berhubungan, seperti normalitas, abnormalitas, dan ketidakmampuan menyesuaikan diri.



Untuk menjelaskan hal ini, kita dapat mengemukakan contoh berikut. Ada dua orang pemuda yang bernama Ahmad dan Udin, yang usianya sama dan berasal dari latar belakang sosio-ekonomis yang sama. Ahmad seorang pemuda yang bahagia, periang, memiliki prestasi sekolah yang bagus, disukai oleh kawan-kawannya, sangat tertarik dengan olah raga dan kegemaran-kegemaran lain, sangat dibanggakan oleh keluarganya, dan ia telah memu-tuskan apa yang diinginkannya setelah tamat dari Sekolah Menengah dan masuk ke Perguruan Tinggi. Udin justru sebaliknya. Ia seorang yang murung, benci terhadap orang tuanya, iri terhadap saudara-saudaranya yang lain dalam keluarga, tidak tertarik kepada olah raga atau kegiatan-kegiatan sosial, dan hampir selalu tidak memiliki kawan. Ia sudah dua kali lari dari rumahnya dan prestasinya di sekolah sangat jelek. Udin mengalami gangguan emosional, orang yang sama sekali tidak mampu menyesuaikan diri dengan hampir setiap segi kehidupan. Ahmad dapat digambarkan sebagai orang yang dapat menye-suaikan diri dengan baik, dan ia dapat menginjak masa dewasa tanpa mengalami konflik, frustrasi, atau ketidakbahagiaan.
Apakah perbedaan di antara kedua anak muda ini? Dan apa sebabnya kita berkata bahwa Ahmad adalah orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik sedangkan Udin orang yang tidak mampu menyesuaikan diri? Apakah perbedaan itu terletak pada hubungan mereka dengan lingkungannya? Apakah itu hanya merupakan perasaan-perasaan pribadi mereka? Apakah itu hanya merupakan perbedaan jarak atau dalamnya antara minat dan tujuan mereka? Kita dapat berkata secara sangat sederhana bahwa penyesuaian diri didefinisi-kan dengan sejauh mana orang bergaul dengan baik dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain. Tetapi, ada kesulitan dengan konsep penyesuaian diri yang sangat sederhana ini. Cukup aneh, cara Udin yang kurang baik dalam mengadakan respons terhadap keadaan-keadaan dan orang-orang harus dianggap sebagai penyesuaian diri. Kebencian, perasaan iri, kemurungan, dan sebagainya adalah cara Udin menangani situasi-situasi yang berbeda. Meski-pun cara-cara ini tidak diinginkan sebagai cara-cara bereaksi terhadap situasi-situasi, namun kualitasnya tetap dianggap sebagai kualitas penyesuaian diri. Ini adalah hal yang sangat penting dalam mempelajari penyesuaian diri manusia. Bukan macamnya tingkah laku yang menentukan apakah orang dapat menangani proses penyesuaian diri, tetapi cara bagaimana tingkah laku itu digunakan. Apakah tuntutan-tuntutan dari dalam atau stres-stres dari lingkungan dihadapi dengan berdoa, kenakalan/kajahatan, simtom-simtom neurotik dan psikotik, tertawa, gembira, atau permusuhan, namun konsep penyesuaian diri dapat digunakan sejauh respons tersebut berfungsi untuk mereduksikan atau meringankan tuntutan-tuntutan yang dikenakan pada individu. Apabila respons-respons tersebut tidak efisien, merugikan kesejahteraan pribadi, atau patologik, maka respons-respons itu disebut sebagai respons-respons yang tidak mampu menyesuaikan diri (maladjustive).

Penyesuaian Diri sebagai Adaptasi
Secara historis arti istilah "penyesuaian diri" sudah mengalami banyak per-ubahan. Karena kuatnya pengaruh pemikiran evolusi pada psikologi, maka penyesuaian diri disamakan dengan adaptasi, yaitu suatu proses di mana organisme yang agak sederhana mematuhi tuntuttn-tuntutan lingkungan. Mes-kipun ada persamaan antara kedua istilah tersebut, namun proses penyesuaian diri yang kompleks tidak cocok dengan konsep adaptasi biologis yang agak sederhana. Erich Fromm dalam bukunya, Escape from Freedom, (Fromm, 1941) mengemukakan konsep adaptasi yang menarik dan berguna yang mendekati ide penyesuaian diri. Fromm membedakan apa yang dinamakannya adaptasi statis dan adaptasi dinamik. la menggunakan adaptasi statis untuk menyebut perubahan kebiasaan yang relatif sederhana, misalnya orang berpindah dari satu kota ke kota yang lain. Sedangkan adaptasi dinamik adalah situasi di mana seseorang menerima hal-hal meskipun menyakitkan, misalnya seorang anak laki-laki tunduk kepada perintah-perintah ayah yang keras dan meng-ancam. Fromm menafsirkan neurosis sebagai respons dinamik, yaitu adaptasi yang sama dengan penyesuaian diri.
Demikian juga halnya pengertian penyesuaian diri sebagai sikap mem-pertahankan diri atau kelangsungan hidup dipakai untuk kesejahteraan fisik, tetapi tidak dapat dipakai untuk penyesuaian diri dalam pengertian psikologis. Kita juga tidak dapat menerima definisi yang sangat sederhana, seperti "hu-bungan organisme yang memuaskan dengan lingkungannya" atau "adaptasi dengan tuntutan-tuntutan kenyataan." Meskipun hubungan yang memuaskan dengan lingkungan merupakan bagian dari penyesuaian diri, namun siapakah yang dapat menjelaskan secara tepat apa artinya memuaskan dalam hubungan ini? Demikian juga ide adaptasi dengan tuntutan-tuntutan kenyataan terlalu kabur sehingga tidak dapat dirumuskan secara tepat.
Ide adaptasi mengacu pada konformitas dan sering kali ditekankan bahwa penyesuaian diri menghendaki konformitas terhadap norma tertentu sehingga konsep tersebut jatuh pada masalah normalitas. Nanti akan dijelaskan apa itu normalitas, tetapi sekarang hanya dikemukakan bahwa interpretasi penyesuaian diri sebagai konformitas terhadap norma-norma sosial, politis, atau moral me-ngandung terlalu banyak kesulitan. Kita mengetahui bahwa ada tekanan-. tekanan yang kuat terhadap orang-orang yang menyimpang dari larangan-larangan sosial, moral, atau hukum, dan kita mengetahui bahwa antara norma-norma atau ukuran-ukuran yang ditetapkan masyarakat dan proses penyesuaian diri terdapat hubungan-hubungan tertentu yang telah ditetapkan. Tetapi kita tidak dapat menerima penyesuaian diri sama dengan konformitas.

Penyesuaian Diri dan Individualitas
Dalam mendefinisikan penyesuaian diri kita tidak boleh melupakan per-bedaan-perbedaan individual. Anak yang sangat cerdas atau genius tidak sesuai dengan pola "normal" baik dalam kapasitas maupun dalam tingkah lakunya, tetapi kita tidak dapat menyebutnya sebagai orang yang tidak dapat menye-suaikan diri. Sering kali norma-norma sosial dan budaya begitu kaku untuk dituruti dengan baik. Misalnya, sering terjadi di beberapa negara, warga negara menolak undang-undang abortus atau sterilisasi yang dikeluarkan oleh negara. Orang yang tidak dapat menerima undang-undang ini tidak dapat dianggap sebagai orang yang tidak dapat menyesuaikan diri.
Norma-norma kelompok juga sangat berbeda-beda antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan lainnya, seperti yang diperlihatkan dengan sangat jelas oleh data dan antropologi budaya. Dalam bidang penyesuaian diri seksual, misalnya, tabu-tabu dan kebiasaan-kebiasaan sosial sangat berbeda-beda pada setiap masyarakat sehingga konsep penyesuaian diri yang baik di bidang seksual mungkin dapat diterima di kebudayaan Barat namun sama sekali tidak dapat diterima dalam kebudayaan Indonesia.

Penyesuaian Diri sebagai Penguasaan
Penyesuaian diri yang baik kelihatannya mengandung suatu tingkat penguasaan, yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengatur respons-respons pribadi sedemikian rupa sehingga konflik-konflik, kesulitan-kesulitan, dan frustrasi-frustrasi akan hilang dengan munculnya tingkah laku yang efisien atau yang menguasai. Istilah tersebut meliputi menguasai diri sendiri sehingga dorongan-dorongan, emosi-emosi, dan kebiasaan-kebiasaan dapat dikendalikan; juga berarti menguasai lingkungan, yaitu kemampuan untuk menangani kenyataan secara sehat dan adekuat dan menggunakan lingkungan orang-orang dan penis-tiwa-peristiwa dalam cara yang menyebabkan individu dapat menyesuaikan difi. Seperti dikatakan oleh seorang penulis, "Apabila kebutuhan untuk mengu-asai adalah sama sekali atau untuk sebagian terbesar gagal dalam jangka waktu yang lama, maka individu pasti tidak dapat menyesuaikan difi" (Carroll, 1951).

Gagasan ini jelas berguna tetapi tidak memperhitungkan kelemahan-kele-mahan individual. Kebanyakan orang tidak memiliki kemampuan yang di-tuntut oleh penguasaan itu. Pemimpin-pemimpin, orang-orang genius, dan orang-orang yang IQ-nya di atas rata-rata mungkin diharapkan memperlihatkan penguasaan yang luar biasa itu, tetapi meskipun demikian orang-orang ini pun sering mengalami kegagalan. Ini justru mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki tingkat penyesuaian dirinya sendiri, yang ditentukan oleh kapasitas-kapasitas bawaan, kecenderungan-kecenderungan yang diperoleh, dan peng-alaman. Memburuknya kesehatan yang dialami oleh banyak tentara terjadi karena stres yang ditimbulkan oleh peperangan. Mereka menjadi korban kele-lahan pertempuran atau cacat neuropsikiatrik. Orang-orang ini bila berhadap-an dengan percobaan-percobaan dan tuntutan-tuntutan kehidupan warga negara biasa yang tidak begitu keras mungkin tidak akan mengalami simtom-simtom yang melumpuhkan. Kegagalan dalam menyesuaikan diri sering kali ditentukan oleh hubungan antara kapasitas individu dalam menyesuaikan diri dan kualitas dari tuntutan-tuntutan yang dikenakan kepadanya. 

Wednesday, 4 November 2015

Ilmu kesehatan mental yang pertama-tama bertujuan untuk mencapai dan memelihara kesehatan mental merupakan gabungan dari banyak bidang disiplin. Lingkupnya melampaui rumah kita, meliputi sekolah, lembaga agama, rumah sakit, dan lembaga-lembaga lain yang membantu mengembangkan reaksi-reaksi emosi yang stabil dan pola-pola tingkah laku yang diinginkan pada individu-individu dari segala usia. Di antara banyak bidang studi atau disiplin yang berkaitan erat dengan ilmu kesehatan mental adalah genetika, sosiologi, antro-pologi, psikiatri dan neurologi, psikologi, psikoanalisis, ilmu kedokteran psiko-somatik (suatu cabang barn dari dari ilmu kedokteran), dan klinik psikiatri. Di bawah ini akan diuraikan sedikit disiplin-disiplin tersebut dalam hubungan-nya dengan kesehatan mental. 
Genetika
Genetika adalah suatu cabang biologi yang menangani studi tentang hereditas — perpindahan sifat-sifat dari orang tua kepada keturunannya (anak-anak). Ada beberapa fakta penting yang cenderung menunjukkan hubungan yang erat antara pengaruh-pengaruh herediter dan beberapa tipe gangguan mental. Con-tohnya adalah beberapa bentuk epilepsi dan gangguan-gangguan lain pada otak. Apabila hubungan kausal genetik ini diketahui, maka para ahli ilmu kesehatan mental dapat menghimbau agar tidak mengadakan perkawinan antara pasien penyakit epilepsi supaya mengurangi penyakit mental dan kelainan-kelainan mental lain yang mungkin terjadi pada generasi-generasi yang akan datang.

Sosiologi
Sosiologi adalah suatu ilmu yang menangani konstitusi, evolusi, dan gejala-gej ala pada masyarakat manusia. Sosiolog dan pekerja sosial pertama-tama memperhatikan pengaruh-pengaruh kehidupan masyarakat dan organisasi keluarga terhadap kesejahteraan fisik dan mental dari orang-orangnya. Mereka juga memperhatikan penyebab dan akibat dari pengaruh-pengaruh sosial yang mengganggu fungsi efisien dari masyarakat yang terorganisasi. Dalam meng-ungkapkan hubungan yang nyata antara sosiologi dan ilmu kesehatan mental, D.B. Klein mengatakan: "Sekarang jelas bahwa kesehatan mental dari setiap warga negara tidak dapat dipisahkan dari pengaruh-pengaruh sosial yang mem-bantu membentuk kepribadiannya, dan ia hams beroperasi dengan atau me-nentang pengaruh-pengaruh tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Keter-gantungannya pada pengaruh-pengaruh ini begitu erat dan kokoh sehingga dalam pemikiran ilmu kesehatan mental ia tidak lagi dibenarkan kalau berkata bahwa jiwa yang sehat berada dalam tubuh yang sehat merupakan urusan individual semata-mata." (Klein, 1955). Semboyan ini mempakan terjemahan dari pepatah bahasa Latin zaman dahulu, mens sana in corpore sano yang berfungsi sebagai peringatan kepada kita tentang usaha dalam mencari kesehatan mental dan orang zaman dahulu. Semboyan tersebut telah diperbarui oleh Juvenal menjadi jiwa yang sehat berada dalam tubuh yang sehat dan dalam masyarakat yang sehat. Bahkan dalam studi mengenai penyebab-penyebab kenakalan atau kejahatan — yang merupakan masalah yang berat dalam ilmu kesehatan mental — faktor-faktor lingkungan yang ditambahkan pada penyebab-penyebab psikologis memperlihatkan hubungan timbal balik antara kesehatan mental seseorang dan masyarakat tempat orang itu hidup. Di samping para sarjana biasa dari sosiologi, ada juga kelompok khusus sosiolog yang dikenal sebagai pekerja sosial psikiatri yang telah mendapat pendidikan dasar dalam kerja sosial dan ahli dalam kerja kasus keluarga. 
Kelompok para pekerja sosial ini mencari informasi mengenai sejarah masa lampau individu, latar belakang keluarga, status sosial, dan kondisi-kondisi umum masyarakat. Mereka menganalisis data sosial ini dan memberikan infor-masi yang penting bagi terapis di klinik psikiatri. Di lembaga-lembaga mental, pekerja sosial psikiatri mengawasi para pasien yang dilepas untuk seterusnya atau untuk sementara, dengan demikian mereka membantu para pasien yang sudah dilepas itu dalam usaha melakukan penyesuaian diri kembali dalam masyarakat tempat mereka hidup.

Antropologi
Antropologi yang menyelidiki manusia primitif dan produk dari kebudayaannya dapat membantu ilmu kesehatan mental dalam usaha-usahanya untuk mengu-rangi terjadinya ketidakmampuan menyesuaikan diri individu. Karena penge-tahuan teknisnya tentang pengaruh dari praktek-praktek budaya khusus dalam pertumbuhan kepribadian, antropolog dapat membantu ahli ilmu kesehatan mental dalam mencari jalan dan cara untuk mencapai perkembangan kepribadi-an yang sehat. Suatu contoh dari bantuan yang diberikan oleh antropolog ini ialah pembedaan antropologis antara keluarga-kaluarga patriarkal dan matri-arkal. Karena para antropolog telah menyelidiki keluarga-keluarga itu, mereka mungkin memiliki data yang berguna dan dapat dipakai oleh ahli ilmu kesehatan mental untuk mengurangi konflik-konflik dalam keluarga-keluarga yang berbeda. 
Contoh lain adalah apabila seseorang berhadapan dengan masalah penyesuaian diri dengan suatu kebudayaan asing, para antropolog memiliki data tertentu mengenai pengaruh-pengaruh pada perkembangan kepribadian jika seseorang dari latar belakang kebudayaan tertentu berhadapan dengan masalah seperti itu. Suatu bentuk biasa dari konflik-konflik kebudayaan yang demikian terdapat dalam kesulitan-kesulitan penyesuaian diri pasangan suami-istri yang memiliki latar belakang agama dan budaya yang sangat berbeda. Oleh karena itu, apabila ahli ilmu kesehatan mental menyelidiki konflik mental dan kecemasan orang-orang yang disebabkan oleh perbedaan kebudayaan, maka is memperoleh data yang cukup dari karya penelitian para antropolog.

Psikiatri dan Neurologi
Psikiatri adalah suatu cabang ilmu kedokteran yang menangani diagnosis dan perawatan gangguan-gangguan mental. Seorang psikiater menyelidiki secara mendalam penyebab-penyebab langsung dan tidak langsung suatu panyakit tertentu. Penyelidikan yang terinci mengenai individu-individu yang memper-lihatkan abnormalitas-abnormalitas yang jelas dalam tingkah laku sangat ber-manfaat bagi ilmu kesehatan mental karena perhatian utamanya ialah mencegah penyakit-penyakit mental semacam itu. Karena kalau mengetahui penyebab-penyebab yang nyata dari gangguan mental, maka akan dilakukan suatu tin-dakan untuk mencegahnya. Seorang psikiater di samping menjadi seorang dokter, ia juga memiliki latar belakang yang baik dalam psikologi, dan pertama-tama ia menangani tipe-tipe gangguan kepribadian yang lebih berat. Ia juga diminta pendapatnya dalam perkara-perkara pengadilan untuk menetapkan keadaan mental yang sebenarnya dari orahg-orang yang berlagak mengalami mental tidak sehat (tidak waras) untuk menghindari hukuman berat dari tindakan pidana yang mereka lakukan.
Neurologi mencakup diagnosis dan perawatan kerusakan pada struktur otak dan bagian-bagian lain dari sistem saraf. Neurolog lebih menekankan struktur dan lokasi kerusakan yang terjadi pada jaringan-jaringan otak. Penyelidikan-penyelidikan semacam itu biasanya mengungkapkan penyebab yang sebenarnya dari gangguan mental pasien. 

Perencanaan langkah-langkah preventif untuk menghindari kerusakan pada otak itu dapat dilakukan oleh para ahli ilmu kesehatan mental dan dengan demikian neurologi memberikan sumbangan yang sangat penting bagi ilmu kesehatan mental. Sering kali seorang dokter adalah seorang neurolog dan psikiater. Dengan demikian, neuropsikiater ini adalah seorang yang berpraktek medis dan berspesialisasi dalam gangguan-gangguan neurologis dan psikiatrik.
Orang yang bekerja sama secara erat dengan psikiater dan neurolog adalah perawat psikiatri. Sebagai seorang perawat yang lulus dari Perguruan Tinggi, ia memiliki spesialisasi dalam studi mengenai segi-segi mental dan emosional dari gangguan-gangguan kepribadian dan dilatih dalam merawat orang yang sakit mental. Seorang perawat psikiatri hams dapat melaksanakan program latihan psikiatri yang mengikuti tujuan pengobatan yang ditetapkan oleh neuro-psikiater untuk pasien.

Psikologi
 Hampir semua bidang psikologi turut memberi sumbangan bagi usaha ilmu kesehatan mental. Psikologi anak yang menyelidiki anak dari masa pranatal sampai masa remaja memperkenalkan kondisi-kondisi yang berbeda dalam perkembangan emosi dan mental anak kepada para ahli ilmu kesehatan mental. Psikologi abnormal yang menangani penyimpangan-penyimpangan dalam tingkah laku manusia membantu memberikan wawasan kepada ahli ilmu kesehatan mental mengenai fakta tentang penyebab-penyebab dari gangguan kepribadian. Dem ikian juga psikologi pendidikan dapat memberikan pema-haman kepada para mahasiswa ilmu kesehatan mental mengenai pengaruh pengalaman-pengalaman sekolah terhadap kesehatan mental. Karena menerap-kan prinsip-prinsip ilmu kesehatan mental merupakan suatu segi dalam cara belajar, maka pengetahuan efektif tentang proses belajar merupakan sumbangan yang sangat penting dari psikologi pendidikan bagi ilmu kesehatan mental dalam mencari usaha-usaha yang efektif untuk mencegah penyakit mental dan membina kesehatan mental.
Psikologi klinis, yang merupakan salah satu bentuk psikologi terapan berusaha menentukan kemampuan-kemampuan dan ciri-ciri khas seorang indi-vidu dengan menggunakan bermacam-macam metode pengukuran, analisis, dan observasi. Kemudian, dari hasil-hasil yang dikumpulkan dengan data yang diperoleh dari pemeriksaan fisik dan sejarah sosial dari kasus, saran-saran dapat diberikan bagi penyesuaian diri yang tepat dari individu yang bersangkutan.
Psikolog klinis adalah seorang spesialis yang mendapat pendidikan di Perguruan Tinggi dan memenuhi syarat untuk menguji dan menggunakan cara-cara psikoterapeutik bagi orang-orang yang memperlihatkan penyimpangan kepribadian. Ia juga terlatih dengan baik dalam menggunakan dan menginter-pretasikan instrumen-instrumen tes psikologi: tes intelijensi dan tes bakat, tes kepribadian, teknik proyeksi (projective techniques), dan tes-tes psikologi lain. Psikolog klinis yang juga dikenal sebagai konselor psikologi melakukan sebagian besar tugasnya dalam klinik psikiatri dan is memberikan sumbangan yang besar bagi keberhasilan dan setiap program ilmu kesehatan mental.

Psikoanalisis
Ini adalah konsep dari Freud yang memperlihatkan peran dari dorongan-dorongan tak sadar dan konflik-konflik batin manusia dalam menyebabkan bermacam-macam gangguan kepribadian. Penjelasan-penjelasan tentang kepribadian yang diutarakan oleh psikoanalisis mengemukakan bahwa ke-hidupan mental seorang individu khususnya cara-cara kerja dari alam tak sadar menjelaskan banyak segi tingkah lakunya. Dan apa yang dibuat seseorang terhadap dirinya dari masa bayi sampai masa dewasa sebagian besar tergantung pada kemampuannya untuk mengendalikan energi-energi psikis yang dimili-kinya. Karya dari kelompok psikoanalis ini mengubah secara besar-besaran perawatan terhadap orang-orang yang menderita konflik-konflik batin yang berlangsung lama dan kecemasan-kecemasan kronis yang berlebih-lebihan.
Seorang psikoanalis yang juga adalah seorang dokter menafsirkan kepri-badian menurut konsep-konsep psikoanalitik. Ia menggunakan teknik-teknik asosiasi bebas dan analisis mimpi dalam merawat bermacam-macam kekalutan mental. Setiap psikoanalis, sebelum menyelesaikan pendidikan dan spesialisa-sinya, harus menjalani pemeriksaan psikoanalitik terhadap dirinya sendiri. Psikoanalis yang terkemuka adalah Dr. Sigmund Freud dari Wina (1856-1939) yang dikenang sebagai Bapak Psikoanalisis.

Ilmu Kedokteran Psikosomatik
Ilmu kedokteran ini adalah salah satu cabang dari ilmu kedokteran yang mem-pelajari pengetahuan dan perawatan gangguan fisik dengan latar belakang psikogenik. Tegangan-tegangan emosional yang muncul dari konflik-konflik yang tidak terpecahkan dan frustrasifrustrasi yang berlebih-lebihan menyebab-kan reaksi-reaksi tubuh (penyakit-penyakit fisik), misalnya hipertensi (tekanan darah tinggi), peptic ulcer, migrain, asma, dan gangguan pada kulit tertentu. Gangguan-gangguan psikosomatik ini disebut juga neurosis karena gangguan-gangguan dan kerusakan pada beberapa bagian tubuh disebabkan oleh kesulitan mental atau emosional.

Klinik Psikiatri
Klinik tersebut terdiri dari staf yang meliputi dokter spesialis, psikolog klinis, pekerja social psikiatri, dan perawat-perawat psikiatri yang bekerja sama dalam menemukan sifat dan penyebab dari kekalutan-kekalutan kepribadian pasien dan membantunya supaya bisa sembuh kembali atau dapat menyesuaikan diri lagi.
Tujuan dan fungsinya ialah:
(1) Memastikan penyebab dari kekalutan pasien dan berusaha melokalisasikan faktor-faktor yang tampaknya menye-babkan ketidakmampuan menyesuaikan diri dari orang yang bersangkutan. Cara ini merupakan cara untuk menentukan etiologi atau penyebab penyakit;
(2) Memastikan sifat dari penyakit pasien; anal mula dan perkembangan serta simtom-simtom dari kekalutan tersebut diselidiki dengan berbagai metode dan teknik. Cara ini dikenal sebagai diagnosis;
(3) Menentukan arah dan hasil yang mungkin muncul dari kekalutan pasien. Berdasarkan sifat dan penyebab kekalutan tersebut, maka diadakan usaha untuk memastikan berapa lama penyakit itu akan bertahan, dan apakah pasien akan sembuh sama sekali, se-bagian sembuh, atau tidak sembuh sama sekali. Cara ini disebut prognosis;
(4) Memilih cara-cara untuk memperbaiki kekalutan pasien dan membantunya supaya dapat mengadakan penyesuaian diri kembali secara adekuat. Perawat-an dilakukan dengan memberi obat, kejutan (shock) listrik, pembedahan, psiko-analisis, analisis dengan wawancara, hipnoanalisis, dan re-edukasi.

Klinik psikologi memiliki persamaan dengan klinik psikiatri dalam banyak hal. Hal yang membedakan adalah bahwa klinik psikologi menggunakan cara-cara psikoterapi karena perhatiannya lebih dipusatkan pada diagnosis dan perbaikan terhadap kekalutan-kekalutan kepribadian yang tidak disertai de-ngan gangguan-gangguan organik. 
Powered by Blogger.

Apakah ilmu yang ada di blog ini bermanfaat ?

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget