Tuesday 14 July 2015

 Ikhwal Mengjar dan Kaitannya Dengan Proses Pendidikan
2.5.1 Landasan Teori
2.5.1.1 Pengertian
Mengajar adalah proses yang mengarah pada timbulnya perilaku belajar siswa (Syah,2010)[1].
2.5.1.2 Urgensi
Mengajar merupakan istilah kunci yang tak luput dari pembahasan mengenai pendidikan kerena keeratan hubungan antara keduanya.Sebagian orang menganggap bahw mengajar hanya sebagian dari upaya pendidikan. Mengajar hanya dianggap sebagai salah satu alat atau cara dalam menyelenggarakan pendidikan, bukan pendidikan itu sendiri. Anggapan ini muncul karena adanya asumsi tradisional yang menyatakan bahwa mengajar itu merupakan kegiatan seorang guru yang hanya menumbuhkembangkan ranah cipta murid-muridnya, sedangkan ranah rasa dan karsa mereka terlupakan. Sebagian orang pula menganggap bahwa mengajar tak beda dengan mendidik. Implikasinya adalah, setiap kegiatan kependidikan yang bersifat formal hendaknya dilakukan oleh pendidikan yang bersifat formal hendaknya dilakukan oleh pendidik professional yang bertugas antara lain melaksanakan pembelajaran.
Dalam menjalankantugasnya sebagai penyaji pelajaran khususnya di kelas, guru tidak hanya dituntut mentransver pengetahuan atau isi pelajaran yang ia sajikan kepada siswanya melainkan lebih daripada itu.Sepanjang memungkinkan, guru juga harus mentransver kecakapan karsa dan kecakapan rasa yang terkandung dalam meteri pelajaran yang disajikan. Dalam arti yang lebih ideal, mengajar bahkan mengandung konotasi membimbing dan membantu untuk memudahkan siswa dalam menjalani proses perubahannya sendiri, yakni proses belajar untuk meraih kecakapan cipta,rasa , dan karsa yang menyeluruh dan utuh[2].

1.5.1.3  Pandangan-pandangan Pokok Mengenai Mengajar
Ada dua macam aliran pandangan yang berbeda dalam melihat profesi mengajar, antara lain :
a.       Mengajar sebagai ilmu
Sebagian ahli memandang mengajar sebagai ilmu (science).Oleh karena itu, guru merupakan sosok pribadi manusia yang memang sengaja dibangun untuk menjadi tenaga professional yang memiliki profisiensi (berpengetahuan dan berkemampuan tinggi) dalam dunia pendidikan yang kompeten untuk melakukan tugas mengajar.dengan baik. Penguasaan seorang guru atas meteri pelajaran bidang tugasnya adalah juga penting tetapi yang lebih penting ialah penguasaannya atas ilmu-ilmu yang berhubungan dengan tugas mengajarnya.
Siapapun, asal memiliki profesi dalam bidang ilmu pendidikan akan mampu melakukan perbuatan mengajar
b.      Mengajar sebagai seni
Sebagian ahli lainnya memandang bahwa mengajar adalah seni (art), bukan ilmu. Oleh karenanya, tidak semua orang berilmu bias menjadi guru yang piawai dalam hal mengajar.
Eksistensi aliran ini memandang bahwa mengajar adalah seni dan kecakapan mengajar yang notabene artistic itu hanya dimiliki oleh seseorang yang memang berbakat[3].

1.5.1.4  Metode-metode Pokok Mengajar
a)      Definisi Metode Mengajar
Kata metode berarti cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Sedangkan mengajar menurut Arifin (1978) adalah suatu rangkaian kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat menerima,menanggapi, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran itu.[4]
Sehingga dapat disimpulkan, yang dimaksud metode mengajar adalah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan kependidikan, khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran kepada siswa.[5]
b)     Ciri Khas Metode Mengajar
Banyaknya metode mengajar yang diterapkan pada pembelajaran tak lain karena satu metode dengan metode yang lainnya mempunyai keunggulan dan keleman tergantung pada materi yang akan dibahas.  Contohnya ketika akan menyampaikan materi tentang “Isu-Isu Kontemporer Masa Kini”. Maka, metode yang tepat adalah dengan meggunakan metode diskusi.Hal ini karena selain membuat siswa aktif, berfikir kreatif, kritis, juga menjadikan siswa berani untuk mengemukakan pendapatnya disebuah forum.
Tapi disi lain, metode ini juga mempunyai beberapa kelemahan. Dalam berdiskusi, biasanya siswa yang aktif hanyalah mereka yang mempunyai kemampuan komunikasi yang baik dan memiliki rasa perccaya diri.Sedangkan mereka yang pasif, cenderung hanya mendengarkan tanpa bisa mengembangkan ide-idenya.
Oleh karena itu,seorang pengajar harus lebih kreatif dalam menguasai kelasnya. Kelemahan-kelemahan dari tiap-tiap metode mengajar tidak kemudian dijadikan argumen mengapa seorang guru gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai guru.
Sebaliknya, guru yang profesional justru akan memilih atau mengkombinasikan beberapa metode mengajar yang kiranya tepat dengan mempertimbangkan kelebihan dan kelemahannya serta memperhatikan topik pembahasan materi dan tujuan pembelajaran serta jenis kegiatan belajar siswa yang dibutuhkan.
Kegiatan ini dibandingkan dengan ciri khas atau karakteristik metode-metode mengajar yang dipilih.Untuk menggambarkan karakteristik masing-masing metode mengajar, berikut ini terdapat tabel perbandingan yang berisi beberapa metode pokok mengajar sebagai contoh.[6]
Metode
Sifat Materi
Tujuan
Keunggulan
Kelemahan
Ceramah
Informatif
Faktual
Pemahaman pengetahuan
Lebih banyak aplikasi yang tersaji
Siswa pasif
Demonstrasi
Prinsipal
Faktual
Keterampilan
Pemahaman aplilkasi
Siswa berpengalaman dan berkesan mendalam
Lebih banyak alat dan biaya
Diskusi
Prinsipal
konseptual
keterampilan
Pemahaman analisi, sistesis, evaluasi, aplikasi
Siswa aktif, berani, dan kritis
Memboroskan waktu, didominasi siswa yang pintar

c)      Ragam Metode Mengajar
Ragam dan jumlah motede mengajar yang digunakan oleh para pengajar sebenarnya sangatlah banyak.Berbagai inovasi dalam penyampaian pelajaran terus bermunculan seiring dengan perkembangan zaman. Contohnya seperti metode ceramah, demonstrasi, diskusi, simulasi, problem solving, tugas dan resitasi, tanya jawab, kerja kelompok, latihan, karyawisata, jingsaw, dsb.
Akan tetapi, diantara sekian banyak metode itu, ada 3 metode yang dipandang representif dan domain dalam arti digunakan secara luas sejak dulu hingga sekarangpada setiap jenjang pendidikan formal.
1)                  Metode Ceramah
Metode ceramah adalah metode pembelajaran secara langsung dimana seorang guru menyampaikan materi pelajaran secara lisan dihadapan para peserta didik sementara itu para murid memperhatikan apa yang disampaikan guru. Metode ini dapat dikatakan metode yang paling simpel dilakukan karena hanya diperlukan pemahaman materi tanpa membutuhkan alat peraga dan alat penunjang pembelajaran lainnya.
2)      Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi merupakan metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukan kepada peserta didik tentang suatu proses , situasi, atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan.[7]
3)      Metode Diskusi
Diskusi adalah suatu proses pertemuan dua atau lebih individe yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau sasaran yang sudah ditentukan melalui tukar menukar informasi, mempertahankan pendapat atau pemecahan masalah. Metodeini merupakan metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan belajar memecahkan masalah (problem solving). Akan tetapi, metode ini tidak sama debat. Dimana dalam debat, seseorang atau suatu kelompok bersikukuh untuk mempertahankan argumennya. Sedangkan dalam diskusi, cenderung hanya bertukar informasi untuk kemudian dirumuskan mencari suatu kesepakatan bersama.Tujuan penggunaan metode diskusi adalah untuk memotivasi dan memberi stimulasi kepada siswa agar berpikir dengan renungan yang dalam (reflektife thinking).[8]

1.5.1.5  Strategi & Tahapan Mengajar
Strategi Mengajar
Seorang pakar psikologi Australia, Michael J.Lawson (1991) mengartikan strategi sebagai prosedur mental yang berbentuk tatanan langkah yang menggunakan upaya ranah cipta untuk mencapai tujuan tertentu.Dengan demikian, strategi mengajar ialah sejumlah langkah yang direkayasa sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu[9].
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran modern terdapat cukup banyak strategi yang khusus dirancang untuk mengajar dengan materi tertentu hingga mencapai kecakapan yang diinginkan sayah satunya yaitu strategi mengajar SPELT (Strategy Program for Effective Learning/Teaching). Secara eksplisit tujuan strategi ini ialah membuat siswa menjadi :
a.       penuntut ilmu yang aktif sebagai pemikir dan pemecah masalah,
b.      penuntut ilmu yang mandiri, memiliki rencana dan trategi sendiri yang efisien dalam mendekati belajar,
c.       penuntut ilmu yang lebih sadar akan kemampuan pengendalian proses berfikirnya sendiri (metacognitive awareness)
Dalam melakukan strategi SPELT, guru perlu mengikuti tiga macam langkah panjang dan terpisah dalam arti mengambil waktu yang berbeda tetapi berurutan, yakni :
a.       direct strategy instruction (pengajaran dengan strategi langsung),
b.      teaching for transfer (mengajar untuk mentransfer strategi),
c.       Generating elaborative strategies (pembangkitan strategi belajar siswa yang luas dan terperinci)[10].

Tahapan Mengajar
Setiap penggunaan strategi mengajar harus selalu merupakan rangkaian yang utuh ralam tahapan-tahapan mengajar. Setiap proses mengajar harus melalui tiga tahapan, yakni:
a.       tahap prainstruksional, yaitu persiapan sebelum mengajar dimulai,
b.      tahap instruksional, yaitu saat-saat mengajar (penyajian materi),
c.       tahap evaluasi dan tindak lanjut, yaitu penilaian atas hasil belajar siswa setelah mengikuti pengajaran dan penindaklanjutannya[11].

1.5.1.6  Dimensi Etis Pendidik
Pembelajaran (instruction) ialah proses atau upaya yang dilakukan seseorang agar orang lain melakulan belajar.Diantara sekian banyak pendekatan pembelajaran, terdapat ragam yang masyhur dengan sebutan pendekatan innovative (innovative approach). Dalam pendekatan innovative, pembelajaran terpusat pada siswa (student-centered) bukan pada guru (teacher learned) sehingga pembelajaran pun lebih berorientasi pada kepentingan learn’s bukan teacher’teaching. Guru hanya bersifat sebagai fasilitator saja.[12]




2.5.2 Analisis  teori
2.5.2.1 Urgensi
Dalam dunia pendidikan, mengajar memiliki peranan yang sangat penting bahkan keduanya tidak dapat dipisahkan.Sebagian orang menganggap bahw mengajar hanya sebagian dari upaya pendidikan. Mengajar hanya dianggap sebagai salah satu alat atau cara dalam menyelenggarakan pendidikan, bukan pendidikan itu sendiri. Anggapan ini muncul karena adanya asumsi tradisional yang menyatakan bahwa mengajar itu merupakan kegiatan seorang guru yang hanya menumbuhkembangkan ranah cipta murid-muridnya, sedangkan ranah rasa dan karsa mereka terlupakan. Sebagian orang pula menganggap bahwa mengajar tak beda dengan mendidik. Implikasinya adalah, setiap kegiatan kependidikan yang bersifat formal hendaknya dilakukan oleh pendidikan yang bersifat formal hendaknya dilakukan oleh pendidik professional yang bertugas antara lain melaksanakan pembelajaran.

1.5.2.2  Pengertian
Arifin (1978) mendifinisikan mengajar sebagai suatu rangkaian kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat menerima, menanggapi, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran itu. Tyson dan Caroll (1970), mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan. Sedangkan Nasution (1986) berpendapat bahwa mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi proses belajar.
1.5.2.3  Pandangan-pandangan Pokok Mengenai Mengajar
Ada dau pandangan yang berbeda dalam melihat profesi mengajar.Aliran pertama menganggap mengajar sebagai “ilmu”, sedangkan aliran kedua menganggap mengajar sebagai “seni”.
a.    Mengajar sebagai ilmu.
Sebagian ahli memandang mengajar sebagai Ilmu.Oleh kerenanya, guru merupakan sosok pribadi manusia yang memang sengaja dibangun untuk menjadi tenaga profesional yang memiliki pengetahuan dan kemampuan yang tinggi dalam dunia pendidikan yang berkompeten untuk melakukan tugas belajar.
Siapa pun, asal memiliki profesiensi dalam bidang Ilmu pendidikan akan mampu melakukan perbuatan mengajar dengan baik. Penguasaan seorang guru atas materi pelajaran bidang tugasnya adalah penting, tetapi yang lebih penting ialah penguasaan atas ilmu-ilmu yang berhubungan dengan tugas mengajarnya.
Aliran pandangan yang menganggap mengajar sebagai ilmu dapat menimbulkan konotasi bahwa seseoranag yang dikehendaki menjadi guru, misalnya oleh orang tuanya sendiri, akan dapat menjadi guru yang baik asal ia dididik di sekolah atau fakultas keguruan.
Dari uraian di atas jelas bahwa aliran yang memandang mengajar sebagai ilmu itu diilhami oleh teori perkembangan klasik yang disebut empirisme yang dipelopori oleh Jhon Locke.Menurut teori ini pembawaan dan bakat yang diturunkan oleh ornag tua tidak berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan sesorang, sebab pada dasarnyaa manusia lahir dalam keadaan kosong (Syah, 2010: 183).

b.    Mengajar sebagai seni.
Mengajar bukanlah sebuah kegiatan yang ada hubungan pasti antara subyek dan obyek.Mengajar adalah sebuah seni dengan guru menjadi senimannya. Melalui mengajar, ia mengekspresikan kepribadiannya. Dan para siswa adalah "hasil karya seni manusiawi" yang sifatnya tidak statis.Sama seperti kesenian, mengajar juga memberi kesempatan kepada guru untuk menjadi jujur kepada dirinya[13].
Ketika di depan kelas, guru menempatkan dirinya sebagai pusat perhatian sekaligus obyek penyidikan. Para murid melihat guru dari atas sampai bawah.Karena itu, mengajar merupakan sesuatu yang pribadi, yang tidak dapat digantikan begitu saja.Mengajar itu melibatkan guru sebagai sosok yang menyeluruh, bukan hanya sebagai seseorang yang mencoba menyampaikan sepotong pengetahuan.
Mengajar merupakan sebuah seni karena untuk menjadi guru dibutuhkan keahlian khusus.Aspek paling penting dan utama menjadi guru ialah kecintaan dan semangat yang terus-menerus (passion) pada bidang pendidikan.Artinya, selalu ada keinginan untuk membuat siswa belajar dengan senang dan mencapai keberhasilan.Kecintaan pada pendidikan juga berarti tekad untuk belajar sepanjang hayat.
Mengajar itu menyita waktu.Di sini seorang guru harus mampu membuat keseimbangan antara kerja dan kehidupan keluarga.Guru juga harus meluangkan waktu untuk membuat rancangan pelajaran.Dibandingkan dengan profesi lain, jam kerja guru mulai lebih awal.
Menjadi guru juga menghabiskan energi. Setelah menangani murid yang tidak mengerjakan PR dengan baik, ia harus menemui orangtua dan kepala sekolah. Ketika ada gagasan yang sulit dimengerti siswa, guru harus segera mencari cara paling menarik dan cocok untuk menjelaskannya. Berbagai tantangan ini tidak akan menjadi beban bila guru memiliki kecintaan dan tekad mendidik generasi muda.[14]
Mengajar sebagai seni , mengacu pada bakat sejak lahir (teacher are born, not built), guru itu dilahirkan bukan dibangun/dibuat (dipengaruhi oleh Nativisme). Mengajar sebagai ilmu, mengacu pada pentingnya stimulasi empiric (teacher are built, not born), guru itu dibangun bukan dilahirkan (dipengaruhi oleh Empirisme). Antara mengajar sebagai ilmu, dengan sebagai seni terdapat benang merah yang membuatnya saling terikat/mempengaruhi satu sama lain (hubungan keduanya ibarat dua sisi mata uang logam yang saling melengkapi)[15].
1.5.2.4  Metode-metode Pokok Mengajar
Selain metode-metode pokok mengajar yang sudah diuraikan diatas, saya akan mengulas ulang beberapa metode mengajar menurut Abin Syamsuddin Makmun, antara lain metode ceramah, metode diskusi, pengajaran kelas, dan pengajaran individual.
a.       metode ceramah
Metode ceramah merupakan suatu cara belajar-mengajar dimana bahan yang disajikan oleh guru secara monologue (sologuy) sehingga pembicaraan lebih bersifat satu arah. Adapun siswa memiliki keterbatasan dalam memperhatikan, mendengarkan, mencamkan, mencatat, dan kalau perlu diberi kesempatan menjawab dan atau mengemukakan pertanyaan[16].
Kelebihan metode ceramah ini antara lain :
Ø  efektif menyajikan bahan yang bersifat informative atau teoritis dan tidak memerlukan ingatan (retensi) yang harus tahan lama,
Ø  disampaikan kepada kelompok siswa (audience) yang lebih besar dari 40 orang,
            Sementara kelemahan untuk metode ceramah sendiri antara lain :
Ø  sumber-sumber pelajaran sulit didapat (amat terbatas)
Ø  terbatasnya kesempatan partisipai siswa
Ø  hanya bersifat mentaly processing saja (itu pun bagi mereka yang mempunyai kemampuan daya tangkap dan kecocokan latar belakang dangan permasalahan yang dibicarakan)
Ø  kalau penceramah kurang mampu mempergunakan berbagai teknik secara bervariasi, dapat mendatangkan kejenuhan, begitupun juga kalau waktunya terlalu lama serta situasi dalam forumnya kurang tertib.
b.      metode diskusi
Metode diskusi merupakan cara lain dalam belajar-mengajar, dimana guru dan siswa, bahkan antarsiswa terlibat dalam suatu proses interaksi secara aktif dan timbal balik dari dua arah baik dalam perumusan masalah, penyampaian informasi, pembahasan maupun dalam pengambilan kesimpulannya[17].
Ditinjau dari sudut pola pemusatan orang yang berperan dalam diskusi di sekolah, metode diskusi terbagi menjadi dua pola :
Ø  pola diskusi teacher centrality (terpusat pada guru)
Dalam pola ini,peranan guru antara lain sebagai :
1.      indicator, yakni peserta yang menampilkan agenda masalah yang akan dijadikan topic diskusi,
2.      direktur, yakni peserta yang mengarahkan pembicara pada agenda masalah yang harus dibicarakan,
3.      moderator, yakni peserta yang diberi wewenang mengatur lalu lintas pembicaraan para partisipan (siswa peserta),
4.      evaluator, yakni penilai kemajuan dan partisipasi para partisipan baik sebagai individu maupun sebagai kelompok.
Sedangkan peran siswa sebagai partisipan adalah sebagai :
1.      contributor, yaitu sebagai penyumbang saran dan pemikiran, pembanding, dan penyanggah,
2.      evaluator, yaitu penilai taraf keberhasilan upaya pemecahan masalah yang dilakukan lewat diskusi yang ia ikuti itu.
Ø  pola diskusi student centrality (terpusat pada siswa)
Dalam pola ini, peranan guru sebagai:
1.      indicator,
2.      konsultan (penasehat),
3.      encourager (pendorong semangat),
4.      observer dan evaluator (peninjau dan penilai aktifitas partisipan).
Adapun peras para siswa partisipan dalam diskusi berpola student centrality tersebut antara lain sebagai :
1.      sebagai moderator, yakni salah seorang partisipan yang dipandam layak memimpin diskusi,
2.      sebagai contributor, yakni pemberi kontribusi berupa pertanyaan, sanggahan, saran, dan sebagainya,
3.      sebagai encourager, yakni pemberi dorongan dan kesempatan kepada sesame partisipan untuk turut andil memberi kontribusi,
4.      sebagai evaluatoryakni penilai jalannya pembahasan dan kepuasan atau kesimpulan atau jawaban yang berhubungan dengan pemecahan masalah yang disodorkan oleh guru sebagai moderator[18].
Kelebihan dari metode diskusi antara lain :
Ø  memungkinkan penguasaan perilaku kognitif (process mental, logical, reasoning, berfikir kritis) yang lebih tinggi,
Ø  menumbuhkan sikap saling memahami, tenggang rasa, mengendalikan diri melalui proses sosialisasi yang demokratis,
Ø  menguatkan daya ingat (retensi), memudahkan transfer, menumbuhkan motif intrinsic untuk belajar,
Ø  memupuk semangat kerja sama dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi melalui proses berpikir secara kelompok.
Kelemahan utama metode ini ialah banyak memakan waktu (time consuming).Disamping itu, jika guru kurang menguasai penggunaannya, sering pembicaraan kurang mencapai sasaran yang diinginkan.
c.       metode pengajaran yang berorientasi pada individu siswa
Metode pendekatan belajar ini mengandung dua konotasi yaitu:
1.      sebagai pengajaran yang diprogramkan dan diberikan kepada siswa secara perorangan (individual study),
2.      sebagai pengajaran yang memperhatikan dan disesuaikan (adapted) kepada karakteristik perbedaan individual siswa (individualized instruction)
Prosedurnya ada dua, antara lain :
1.      belajar mandiri (individual study , independent study)
Biasanya dalam metode belajar ini, diawali dengan pembuatan kontrak kerja antar tutor atau guru dan siswa.Kemudian siswa bekerja sendiri, mencari sumber, menggunakan instrument, membuat tugas dengan laporannya.
2.      belajar dengan penyesuaian pada individu
Dalam metode ini, siswa belajar diarahkan dengan tugas (assignment) atau pertanyaan (question).
Kelebihan metode ini antaralain :
Ø  individu dapat mencapai kemajuan dan prestasi secepat-cepatnya dan setinggi-tingginya tanpa terikat oleh orang lain,
Ø  Individu termotivasi dalam belajar instrinsik.
Sementara, untuk kelemahan dari metode ini antaralain:
Ø  untuk Negara berkembang tampaknya wajar kalau masih dalam taraf panduan,mengingat program pengajarannya untuk menggunakan metode belajar-mengajar ini memerlukan pengembangan yang cermat,
Ø  sifat dan sikap individualistis akan sangat menonjol.

d.      metode interaksi belajar-mengajar dalam konteks kelas
Didalam realitas bagian terbesar dari system belajar mengajar di Indonesia masih berpola kepada belajar dalam konteks interaksi di kelas yang terdiri dari sekitar 30-40 siswa.Oleh karena itu, yang paling mungkin dilakukan oleh para guru adalah menggunakan ketiga metode belajar-mengajar tersebut diatas secara kombinasi menurut keperluannya, sesuai dengan jenis atau bidang studi dan kemampuan guru, serta fasilitas pendukung yang tersedia[19].

2.5.2.5  Strategi & Tahapan Mengajar
Strategi
Strategi secara umum dapat diidenifikasikan sebagai suatu garis besar haluan bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan[20]. Menurut Newman dan Logan, dalam bukunya yang berjudul Strategy Policy and Central Management (1971:8), strategi dasar dari setiap usaha akan mencakup keempat hal sebagai berikut:
a.       mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (output) seperti apa yang harus dicapai dan menjadi sasaran (target) usaha itu, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya,
b.      mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic ways) manakah yang dipandang paling ampuh (effective) guna mencapai sasaran,
c.       mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah(steps) mana yang akan ditempuh sejak titik awal sampai kepada titik akhir dimana tercapainya sasaran tersebut,
d.      mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) yang bagaimana dipergunakan dalam mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha tersebut.
Kalau diterapkan dalam konteks pendidikan, strategi pendidikan maka perwujudannya dengan :
a.       menerapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan profil perilaku dan pribadi siswa seperti apa atau bagaimana yang harus dicapai dan menjadi sasaran dari kegiatan belajar-mengajar itu berdasarkan aspirasi apau pandangan hidup dan selera masyarakat yang bersangkutan untuk digunakan dalam mengidentifikasi entering behavior para siswanya,
b.      memilih system pendekatan belajar-mengajar utama yang dipandang paling efektif guna mencapai sasaran tersebut,
c.       memilih dan menerapkan procedure, metode, dan teknik belajar mengajar yang dipandang paling efektif dan efisien serta produktif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh para guru dalam melaksanakan mengajarnya,
d.      menerapkan norma-norma dan batasan minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
Tahapan Mengajar
Setiap penggunaan strategi mengajar harus selalu merupakan rangkaian yang utuh ralam tahapan-tahapan mengajar. Setiap proses mengajar harus melalui tiga tahapan, yakni:
a.       tahap prainstruksional ( persiapan sebelum mengajar dimulai),
yaitu langkah persiapan yang ditempuh guru pada saat mulai memasuki kelas hendak mengajar. Pada tahap, ini guru dianjurkan memeriksa kehadiran siswa, kondisi kelas, dan kondisi peralatan yang tersedia dengan alokasi waktu yang singkat.
b.      tahap instruksional (saat-saat mengajar (penyajian materi),
ialah tahap inti dalam proses pengajaran. Pada tahap ini, guru menyajikan materi pelajaran (pokok bahasan) yang disusun lengkap dengan persiapan model, metode dan strategi mengajar yang dianggap cocok.
c.       tahap evaluasi dan tindak lanjut (penilaian atas hasil belajar siswa setelah mengikuti pengajaran dan penindaklanjutannya).
merupakan tahap terakhir proses mengajar terdiri atas kegiatan evaluasi dan tindak lanjut (follow up). Pada tahap ini, guru melakukan penilaian keberhasilan belajar siswa  yang berlangsung pada tahap instruksional.

2.5.2.6  Dimensi Etis Pendidik
Selain syarat-syarat itu, ada banyak teori pendidikan yang harus dikuasai para guru agar dapat mengimbangi tuntutan global.Teori-teori itu selalu berkembang dan perlu pelatihan praktis agar dapat diterapkan secara benar.
Ribuan kali berdiri di depan murid merupakan kesempatan bagi guru untuk menemukan kekuatan ataupun kelemahan. Bila ini disadari, ia akan dapat menemukan cara mengajar yang paling efektif. Pribadi yang baik dibangun melalui keberanian untuk melihat apa yang ada di dalam dirinya. Hal ini juga berlaku untuk seorang guru yang baik.
Dalam pendidikan, seluruh pribadi dibentuk.Melalui interaksi dengan rekan sejawat, keterampilan guru di bidang hubungan antarpribadi dipoles.Pekerjaan sekolah yang membutuhkan manajemen diri dan tenggat biasanya membentuk pribadi menjadi pekerja keras dan gigih.
Tujuan mata pelajaran sekolah adalah untuk membimbing dan mengilhami siswa guna menekuni bidang yang akan dipelajari kelak. Tujuan pendidikan adalah membangun generasi warga negara yang mampu memberi sumbangan bagi perkembangan bangsanya.Generasi muda inilah yang bakal memberi dampak pada lingkaran sosialnya. Mungkin mereka akan mengilhami orang lain. Mungkin pula—ini harapannya—suatu saat mereka akan menjadi guru dan perantara ilmu pengetahuan. Melalui pengajaran dan pembelajaran, siswa disiapkan menjadi pribadi yang kritis.
Pada dasarnya, pendidikan dirancang untuk menghasilkan manusia komprehensif, yang memiliki watak baik, pengetahuan yang cukup, dan keterampilan yang memadai guna menghadapi kehidupan dunia.
Mengajar itu seni.Ia membutuhkan beberapa keterampilan dan persiapan dalam bentuk pendidikan bermutu. Dalam pendidikan, para guru dilatih agar dapat menyesuaikan diri dengan berbagai macam lingkungan sekolah dan siswa.Pendidikan bagi guru dirancang untuk memenuhi harapan tertinggi profesinya. Guru harus menguasai ilmu pengetahuan di mana mereka akan menjadi perantaranya sehingga siswa tidak hanya mempelajari pengetahuan mentah, tetapi juga belajar bagaimana menerapkan dan menghubungkan pengetahuan itu dalam kehidupannya.
Yang terpenting—mungkin sering dilupakan—ialah seorang guru juga harus akrab dengan berbagai falsafah mengenai pendidikan. Socrates, John Dewey, dan Howard Gardner memberi teori dan falsafah yang dapat dipelajari dan digunakan untuk membangun falsafah pendidikan.
Dengan pengabdiannya yang all-out, dengan jumlah pekerjaan dan sumbangan abadi mereka untuk masyarakat, para guru juga membutuhkan penghargaan.
Guru membutuhkan lebih dari sekadar Himne Guru atau tepuk tangan pada Hari Guru. Mereka membutuhkan imbalan nyata yang berguna untuk kemajuan sebagai pendidik ataupun untuk kehidupan sehari-hari.
Guru membutuhkan fasilitas. Keamanan finansial merupakan salah satu yang mutlak diharapkan guru.Keamanan politis juga penting. Demikian pula, guru memerlukan akses informasi dalam kancah global agar ia dapat memoles keterampilan mengajarnya. Akses global menghubungkan para guru lokal dengan para pendidik dari berbagai budaya dan pengalaman yang berbeda.
Akhirnya, apa sebenarnya kepuasan yang paling berharga bagi guru? Kemajuan para murid!
Saya baru tiga tahun berada dalam dunia pendidikan.Pengalaman saya mungkin belum luas.Namun, saya merasa puas saat murid-murid saya bertanya saat pelajaran, atau saat mereka mengungkap keraguannya mengenai mata pelajaran yang sedang dibahas. Saya senang melihat mereka menerapkan apa yang saya ajarkan menjadi sebuah masalah dalam buku ajar.
Di sini saya melihat gambaran guru pada murid-murid, sama seperti bagaimana kepribadian seorang seniman muncul dan tampak dalam karya seninya. Siswa meniru keutamaan guru dan bermimpi untuk menjadi seperti gurunya.Siswa menjadi pribadi yang makin baik dan makin dewasa karena gurunya.Bagi seorang guru, ini sudah cukup menjadi kehormatannya.
Guru memang "pahlawan tanpa tanda jasa". Mereka tidak membutuhkan pengakuan.Kemajuan individu, yang mendorong kemajuan masyarakat secara menyeluruh, telah membuktikan nilai sumbangan para guru bagi bangsa[21].



2.5.3 Kritik dan Saran Terhadap Materi
A. Kritik
Tidak ada kritik terkait materi mengajar karena komposisi materi yang diberikan sudah lengkap dan sangat jelas. Selain itu, dosen sudah memberikan materi tambahan (berupa materi fotocopy) yang sangat bagus dan melengkapi kekurangan buku reverensi Psikologi Pendidikan (Muhibbin Syah, 2010)

B. Saran
Pembelajaran kedepannya, kami sangat mengharapkan agar reverensi tambahan diberikan lebih banyak lagi untuk memperluas wawasan dan menambah bobot ilmu bagi peserta didik.

2.5.4 Kritik dan Saran Terhadap Dosen
A. Kritik
Tidak ada kritik untuk dosen karena saya menilai dosen sudah perfect dalam menyampaikan materi mengajar dengan baik.Dosen selalu menjelaskan dan membimbing peserta didik dengan sangat baik. Dosen tidak hanya terfokus pada satu reverensi saja, namun banyak reverensi lain. Disamping itu, dosen selalu memberikan kesempatan bertanya kepada peserta didik yang kurang paham.

B. Saran
Untuk lebih ditingkatkan lagi kedepannya dengan perbaikan-perbaikan yang berkelanjutan.

2.5.5 Kesimpulan
Mengajar pada asasnya adalah kegiatan mengembangkan seluruh potensi ranah psikologis melalui penataan lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya kepada siswa agar terjadi proses belajar. Secara kauantitatif mengajar berarti menyampaikan pengetahuan sebanyak-banyaknya.Secara institusional mengajar berarti mengadaptasikan teknik mengajar sesuai bakat, kemampuan, dan kebutuhan siswa.Secara kualitatif, mengajar berarti membantu memudahkan siswa dalam membentuk makna dan pemahamannya sendiri.






[1]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Pendekatan Baru, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010 hlm.179
[2]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Pendekatan Baru, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010 hlm.177
[3]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Pendekatan Baru, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010 hlm.183
[4] Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2010 hlm.179
[5] Ibid. hlm. 198
[6] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Pendekatan Baru, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010 hlm.199
[7]Mulyono, Strategi Pembelajaran Menuju Efektivitas Pembelajaran di Abad Global. Malang: UIN-MALIKI PRESS (Anggota IKAPI), 2012 hlm. 87
[8] http://fkmmu.blogspot.com/2011/12/metode-dan-strategi-mengajar.html
[9]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Pendekatan Baru, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010 hlm.211
[10]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Pendekatan Baru, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010 hlm.212
[11]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Pendekatan Baru, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010 hlm.213
[12]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Pendekatan Baru, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010 hlm.217
[13]Indra Ratna.K.W., Seni Mengajar, Yogyakarta: UNWAMA, 2007 hlm.3
[14]Indra Ratna.K.W., Seni Mengajar, Yogyakarta: UNWAMA, 2007 hlm.5
[15]Indra Ratna.K.W., Seni Mengajar, Yogyakarta: UNWAMA, 2007 hlm.7
[16]AbinSyamsuddin Makmun, Psikologi Kependidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012 hlm.239
[17]AbinSyamsuddin Makmun, Psikologi Kependidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012 hlm.241
[18]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Pendekatan Baru, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010 hlm.204
[19]AbinSyamsuddin Makmun, Psikologi Kependidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012 hlm.247
[20]AbinSyamsuddin Makmun, Psikologi Kependidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012 hlm.220

2 comments:

Powered by Blogger.

Apakah ilmu yang ada di blog ini bermanfaat ?

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget