Sunday, 17 January 2016

Dewasa dini adalah masa peralihan dari masa remaja. Masa remaja yang ditandai dengan pencarian identitas diri. Pada masa dewasa dini, identitas diri ini didapat sedikit demi sedikit sesuai dengan umur kronologis. 
Berbagai masalah juga muncul dengan bertambahnya umur pada masa ini. Dewasa dini adalah masa peralihan dari ketergantungan ke masa mandiri, baik dari segi ekonomi, kebebasan menentukan diri sendiri, dan pandangan tentang masa depan sudah lebih realistis. 
Teori-teori mengenai perkembangan dewasa dini adalah sebagai berikut: 
  1. Erickson (dalam Monks, Knoers & Haditono, 2001) mengatakan bahwa seseorang yang digolongkan dalam usia dewasa awal berada dalam tahap hubungan hangat, dekat dan komunikatif dengan atau tidak melibatkan kontak seksual. Bila gagal dalam .bentuk keintiman, maka ia akan mengalami apa yang disebut isolasi (merasa tersisihkan dari orang lain, kesepian, menyalahkan diri karena berbeda dengan orang lain). 
  2. Hurlock (1990) mengatakan bahwa dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai kira-kira umur 40 tahun, saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif. 
Secara umum, mereka yang tergotong dewasa muda (young) adalah mereka yang berusia 20-40 tahun. Menurut seorang ahli psikologi perkembangan, Santrock (1999), orang dewasa muda termasuk masa transisi, baik transisi secara fisik (physically transition), transisi secara intelektual (cognitive transition), serta transisi peran sosial (social role transition). 

Perkembangan sosial masa dewasa dini/awal adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa. Masa dewasa dini adalah masa beratihnya pandangan egosentris menjadi sikap yang empati. Pada masa ini, penentuan relasi sangat memegang peranan penting. 
Menurut Havighurst (dalam Monks, Knoers & Haditono, 2001), tugas perkembangan dewasa awal adalah menikah atau membangun suatu ketuarga, mengetota rumah tangga, mendidik atau mengasuh anak, memikul tanggung jawab sebagai warga negara, membuat hubungan dengan suatu kelompok sosial tertentu, dan melakukan suatu pekerjaan. Dewasa awal merupakan masa permulaan di mana seseorang mulai menjalin hubungan secara intim dengan lawan jenisnya. 
Hurlock (1993) mengemukakan beberapa karakteristik dewasa awal dan pada salah satu intinya dikatakan bahwa dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru dan memanfaatkan kebebasan yang diperolehnya. 
Dari segi fisik, masa dewasa dini/awal adalah masa dari puncak perkembangan fisik. Perkembangan fisik sesudah masa ini akan mengalami degradasi sedikit demi sedikit, mengikuti umur seseorang menjadi lebih tua. 
Segi emosionat pada masa dewasa awat adalah masa di mana motivasi untuk meraih sesuatu sangat besar yang didukung oteh kekuatan fisik yang prima. Sehingga, ada stereotipe yang mengatakan bahwa masa remaja dan masa dewasa awat adalah masa di mana tebih mengutamakan kekuatan fisik daripada kekuatan rasio dalam menyelesaikan suatu masatah. Adapun ciri-ciri perkembangan masa dewasa dini adalah sebagai berikut: 
1. Masa dewasa dini sebagai "masa pengaturan". 
Masa di mana seseorang mulai menentukan jadi diri pada karakternya terhadap sebuah tanggung jawab. Pada generasi terdahulu, terdapat pandangan bahwa jika anak laki-laki dan perempuan mencapai kedew4saan secara sah, hari-hari kebebasan mereka telah berakhir dan saatnya telah tiba untuk menerima tanggung jawabnya sebagai orang dewasa. Di masa ini, seseorang harus dapat menentukan kemantapan pitihan untuk memutuskan sesuatu yang telah ia pilih. Oleh sebab itu, seseorang yang mengalami masa dewasa dini akan terus mencoba berbagai pota kehidupan. Sekati seseorang menemukan pota hidup yang diyakininya dapat memenuhi kebutuhannya, ia akan mengembangkan pota-pota perilaku sikap dan nilai-nitai yang cenderung berubah. 
2. Masa dewasa dini sebagai "usia reproduksi". 
Masa dewasa adalah masa usia reproduktif. Masa ini ditandai dengan membentuk rumah tangga. Tetapi masa ini bisa ditunda dengan beberapa alasan. Ada beberapa orang dewasa yang betum membentuk keluarga sampai mereka menyelesaikan dan memutai karier mereka dalam suatu tapangan pekerjaan tertentu. 
3. Masa dewasa dini sebagai "masa bermasalah". 
Masa ini adalah masa yang penuh dengan masalah. Jika seseorang tidak slap memasuki tahap ini, dia akan kesulitan dalam menyelesaikan tahap perkembangannya. Persoalan yang dihadapi seperti persoalan pekerjaan/ jabatan, persoalan teman hidup maupun persoalan keuangan, semuanya memerlukan penyesuaian di dalamnya. 
4. Masa dewasa dini sebagai "ketegangan emosional". 
Banyak orang dewasa muda mengalami kegagalan emosi yang berhubungan dengan persoalan-persoalan yang dialaminya seperti persoalan jabatan, perkawinan, keuangan dan sebagainya. Ketegangan emosional sering kali ditampakkan dalam ketakutan-ketakutan atau kekhawatiran-kekhawatiran. Ketaku,tan atau kekhawatiran yang timbul ini pada umumnya bergantung pada ketercapaian penyesuaiannya terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi pada suatu saat tertentu, atau sejauh mana sukses atau kegagalan yang dialami dalam persoalan-persoalan yang muncul. 
5. Masa dewasa dini sebagai "keterasingan sosial". 
Dengan berakhirnya pendidikan formal dan terjunnya seseorang ke dalam pola kehidupan orang dewasa, yaitu karier, perkawinan dan rumah tangga, hubungan dengan teman-teman kelompok sebaya semakin menjadi renggang, dan bersamaan dengan itu keterlibatan dalam kegiatan kelompok di luar rumah akan terus berkurang. Akibatnya, untuk pertama kali sejak bayi, semua orang muda, bahkan yang populer pun akan mengalami keterpencilan sosial atau apa yang disebut krisis keterasingan. 
6. Masa dewasa dini sebagai "masa komitmen". 
Mengenai komitmen, Bardwick (dalam Hurlock: 250) mengatakan: "Nampak tidak mungkin orang mengadakan komitmen untuk selama-lamanya. Hal ini akan menjadi suatu tanggung jawab yang terlalu berat untuk dipikul. Namun banyak komitmen yang mempunyai sifat demikian: Jika Anda menjadi orang tua, jadilah orang tua untuk selamanya; jika Anda menjadi dokter gigi, dapat dipastikan bahwa pekerjaan Anda akan terkait dengan mulut orang untuk selamanya; jika Anda mencapai gelar doktor, karena ada prestasi baik di sekolah sewaktu Anda masih muda, besar kemungkinan Anda sampai akhir, hidup Anda akan berkarier sebagai guru besar". 
7. Masa dewasa dini sebagai "masa ketergantungan". 
Masa dewasa awal ini adalah masa di mana ketergantungan pada masa dewasa biasanya berlanjut. Ketergantungan ini mungkin pada orang tua, lembaga pendidikan yang memberikan beasiswa sebagian atau penuh atau dari pemerintah karena mereka memperoleh pinjaman untuk membiayai pendidikan mereka. 
8. Masa dewasa dini sebagai "masa perubahan nilai". Beberapa alasan terjadinya perubahan nilai pada orang dewasa adalah karena ingin diterima oleh kelompok orang dewasa, kelompok-kelompok sosial dan ekonomi orang dewasa. 
9. Masa dewasa dini sebagai" masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru". 
Dalam masa dewasa ini, gaya-gaya hidup baru paling menonjol di bidang perkawinan dan peran orang tua. Perkawinan sesudah kehamilan tidak dianggap hal yang perlu dirahasiakan seperti dulu, di antara berbagai penyesuaian diri yang paling umum adalah penyesuaian diri pada pola seks atas dasar persamaan derajat yang menggantikan pembedaan pola peran seks pola seks tradisional. 
10. Masa dewasa dini sebagai "masa kreatif". Bentuk kreativitas yang akan terlihat sesudah orang dewasa akan tergantung pada minat dan kemampuan individual, kesempatan untuk mewujudkan keinginan dan kegiatan-kegiatan yang memberikan kepuasan sebesar-besarnya. Ada yang menyalurkan kreativitasnya ini melalui hobi, ada yang menyalurkannya nnelalui pekerjaan yang memungkinkan ekspresi kreativitas. 
11. Masa dewasa dini sebagai "masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru". Di antara berbagai penyesuaian diri yang harus dilakukan orang muda terhadap gaya hidup baru, yang paling umum adalah penyesuaian diri pada pola peran seks atas dasar persamaan derajat (egalitarian) yang menggantikan pembedaan pola peran seks tradisional, serta pola-pola baru bagi kehidupan keluarga, termasuk perceraian, serta berbagai pola baru. 
Dewasa awal adalah masa kematangan fisik dan psikologis. Menurut Anderson (dalam Mappiare), terdapat tujuh ciri kematangan psikologi, yakni: 
  1. Berorientasi pada tugas, bukan pada diri atau ego; minat orang matang berorientasi pada tugas-tugas yang dikerjakannya, dan tidak condong pada perasaan-perasaan diri sendiri atau untuk kepentingan pribadi. 
  2. Tujuan-tujuan yang jelas dan kebiasaan-kebiasaan kerja yang efisien; seseorang yang matang melihat tujuan-tujuan yang ingin dicapainya secara jelas dan tujuan-tujuan itu dapat didefinisikannya secara cermat dan tahu mana yang pantas dan tidak serta bekerja secara terbimbing menuju arahnya. 
  3. Mengendalikan perasaan pribadi; seseorang yang matang dapat menyetir perasaan-perasaan sendiri dan tidak dikuasai oleh perasaan-perasaannya dalam mengerjakan sesuatu atau berhadapan dengan orang lain. Dia tidak mementingkan dirinya sendiri, tetapi mempertimbangkan pula perasaan-perasaan orang lain. 
  4. Keobjektifan; orang matang memiliki sikap objektif yaitu berusaha mencapai keputusan dalam keadaan yang bersesuaian dengan kenyataan. 
  5. Menerima kritik dan saran; orang matang memiliki kemauan yang realistis, paham bahwa dirinya tidak selalu benar, sehingga terbuka terhadap kritik-kritik dan saran-saran orang lain demi peningkatan dirinya. 
  6. Pertanggungjawaban terhadap usaha-usaha pribadi; orang yang matang mau memberi kesempatan kepada orang lain untuk membantu usaha-usahanya dalam mencapai tujuan. Secara realistis, diakui bahwa beberapa hal tentang usahanya tidak selalu dapat dinilainya secara sungguh-sungguh, sehingga dia membutuhkan bantuan orang lain, tetapi tetap bertanggung jawab secara pribadi terhadap usaha-usahanya. 
  7. Penyesuaian yang realistis terhadap situasi-situasi baru; orang matang memiliki ciri fleksibel dan dapat menempatkan diri dengan kenyataan-kenyataan yang dihadapinya dengan situasi-situasi baru. 

Optimalisasi perkembangan masa dewasa dini, dewasa dini/awal adalah masa di mana seluruh potensi sebagai manusia berada pada puncak perkembangan baik fisik maupun psikis. Masa yang memiliki rentang waktu antara 20-40 tahun adalah masa-masa pengoptimalan potensi yang ada pada diri individu. Jika masa ini bermasalah, itu akan mempengaruhi bahkan kemungkinan individu mengalami masalah yang paling serius pada masa selanjutnya. 
Menurut Vailant (1998), membagi masa dewasa awal menjadi tiga masa, yaitu masa pembentukan (20-30 tahun) dengan tugas perkembangan mulai memisahkan diri dari orang tua, membentuk keluarga baru dengan pernikahan dan mengembangkan persahabatan. Masa konsolidasi (30-40 tahun), yaitu masa konsolidasi karier dan memperkuat ikatan perkawinan. Masa transisi (sekitar usia 40 tahun), merupakan masa meninggalkan kesibukan pekerjaan dan melakukan evaluasi terhadap hal yang telah diperoleh. 






Thursday, 14 January 2016

Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 :shun. Setiap tahap usia manusia pasti ada tugas-tugas oerkembangan yang harus dilalui. Bila seseorang gagal melalui tugas perkembangan pada usia yang sebenarnya maka pada tahap perkembangan berikutnya akan terjadi -,asatah pada diri seseorang tersebut. Untuk mengenal kepribadian remaja perlu diketahui tugas-tugas Derkembangannya. Tugas-tugas perkembangan tersebut antara lain: 
  • Remaja dapat menerima keadaan fisiknya dan dapat memanfaatkannya secara efektif. Sebagian besar remaja tidak dapat menerima keadaan fisiknya. Hal tersebut terlihat dari penampilan remaja yang cenderung meniru penampilan orang lain atau tokoh tertentu. Misalnya si Ani merasa kulitnya tidak putih seperti bintang film, maka Ani akan berusaha sekuat tenaga untuk memutihkan kulitnya. Perilaku Ani yang demikian tentu menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri dan orang lain. Mungkin Ani akan selalu menolak bila diajak ke pesta oleh temannya sehingga lama-kelamaan Ani tidak memiliki teman, dan sebagainya. 
  • Remaja dapat memperoleh kebebasan emosional dari orang tua. Usaha remaja untuk memperoleh kebebasan emosional sering disertai perilaku "pemberontakan" dan melawan keinginan orang tua. Bila tugas perkembangan ini sering menimbulkan pertentangan dalam keluarga dan tidak dapat diselesaikan di rumah, maka remaja akan mencari jalan keluar dan ketenangan di luar rumah. Tentu saja hal tersebut akan membuat remaja memiliki kebebasan emosional dari luar orang tua sehingga remaja justru lebih percaya kepada teman-temannya yang senasib dengannya. Jika orang tua tidak menyadari akan pentingnya tugas perkembangan ini, maka remaja Anda dapat berada dalam kesulitan besar. 
  • Remaja mampu bergaul lebih matang dengan kedua jenis kelamin. Pada masa remaja, remaja sudah seharusnya menyadari akan pentingnya pergaulan. Remaja yang menyadari akan tugas perkembangan yang harus dilaluinya adalah mampu bergaul dengan kedua jenis kelamin maka termasuk remaja yang sukses memasuki tahap perkembangan ini. Ada sebagian besar remaja yang tetap tidak berani bergaul dengan taxman jenisnya sampai akhir usia remaja. Hal tersebut menunjukkan adanya ketidakmatangan dalam tugas perkembangan remaja tersebut. 
  • Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri. Banyak remaja yang belum mengetahui kemampuannya. Bila remaja ditanya mengenai kelebihan dan kekurangannya, pasti mereka akan lebih cepat menjawab tentang kekurangan yang dimilikinya dibandingkan dengan kelebihan yang dimilikinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja tersebut belum mengenal kemampuan dirinya sendiri. Bila hal tersebut tidak diselesaikan pada masa remaja ini tentu saja akan menjadi masalah untuk tugas perkembangan selanjutnya (masa devvasa atau bahkan sampai tua sekalipun). 
  • Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma. Skala nilai dan norma biasanya diperoleh remaja melalui proses identifikasi dengan orang yang dikaguminya terutama dari tokoh masyarakat maupun dari bintang-bintang yang dikaguminya. Dari skala nilai dan norma yang diperolehnya akan membentuk suatu konsep mengenai harus menjadi seperti siapakah "aku"?, sehingga hal tersebut dijadikan pegangan dalam mengendalikan gejolak dorongan dalam dirinya.


Selain tugas-tugas perkembangan, kita juga harus mengenal ciri-ciri khusus pada remaja, antara lain: 
  • Pertumbuhan fisik yang sangat cepat. 
  • Emosinya tidak stabil. 
  • Perkembangan seksual sangat menonjol. 
  • Cara berpikirnya bersifat kausatitas (hukum sebab-akibat). 
  • Terikat erat dengan kelompoknya. 

Secara teoritis, beberapa tokoh psikologi mengemukakan tentang batas-batas umur remaja, tetapi dari sekian banyak tokoh yang mengemukakah tidak dapat menjelaskan secara pasti tentang batasan usia remaja karena masa remaja ini adatah masa peralihan. Dari kesimpulan yang diperoleh, maka masa remaja dapat dibagi dalam 2 periode yaitu: 
1. Periode masa puber usia 12-18 tahun. 
a. Masa prapubertas: peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas. Cirinya: 
  • Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagL 
  • Anak mulai bersikap kritis. 

b. Masa pubertas usia 14-16 tahun: masa remaja awaL 
Cirinya: 
  • Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya. 
  • Memperhatikan penampilan. 
  • Sikapnya tidak menentu plin-plan 
  • Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib. 

c. Masa akhir pubertas usia 17-18 tahun: peralihan dart masa pubertas ke masa adolesen. 
Cirinya: 
  • Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya. 
  • Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria. 


2. Periode remaja adolesen usia 19-21 tahun merupakan masa akhir remaja. Beberapa sifat panting pada masa ini adatah:
  • Perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis. 
  • Mulai menyadari akan realitas. 
  • Sikapnya mulai jelas tentang hidup. 
  • Mulai nampak bakat dan minatnya. 
Dengan mengetahui tugas perkembangan dan ciri-ciri usia remaja diharapkan para orang tua, pendidik dan remaja itu sendiri memahami hal-hal yang harus ditalui pada masa remaja ini sehingga bila remaja diarahkan dan dapat melalui masa remaja ini dengan baik maka pada masa selanjutnya remaja akan tumbuh sehat, baik kepribadian maupun jiwanya.

Wednesday, 13 January 2016

Masa remaja juga rentan dengan berbagai permasalahan yang cukup kompleks dan pelik. Karena di masa inilah seseorang bertumbuh dan menjalani saat mencari jati diri untuk membentuk karakter kepribadian. Masa ini juga sering kali disebut sebagai masa transisi seseorang dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Sehingga, sifat kekanak-kanakan sering kali masih melekat dan pertimbangan kedewasaan pun belum sepenuhnya terbentuk. Masa remaja diawali oleh datangnya pubertas, yaitu proses bertahap yang mengubah kondisi fisik dan psikologis seorang anak menjadi seorang dewasa. Pada saat ini, terjadi peningkatan dorongan seks sebagai akibat perubahan hormonal. Selain itu, karakteristik seks primer dan sekunder menjadi matang sehingga membuat seseorang mampu untuk bereproduksi (Steinberg, 2002). Dorongan seksual yang meningkat ini menjadikan seseorang remaja mulai belajar untuk mengetahui dan mencari informasi terkait seksualitas itu sendiri. Kemudian penyaluran hasrat yang dimilikinya juga menyertai proses belajar ini. 
Di sinilah poin penting yang harus diperhatikan, bahwa proses ingin tahu seputar seksualitas harus benar-benar tepat dan benar. Karena sering kali keingintahuan tersalurkan kepada hal-hal yang merugikan diri sendiri. Contoh dari hal itu adalah akses pornografi melalui media. Dan penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Peduli Remaja Kriya Mandiri, media online menjadi tempat terbanyak yang dijadikan sarana untuk mengetahui informasi mengenai seksualitas. Dan jumlah responden yang berjumlah 352 remaja yang masih berstatus pelajar di 10 sekolah tingkat atas di Surakarta, sebesar 56 Persen menyatakan bahwa media online menjadi sarana untuk mengetahui informasi tentang seks, kemudian terbanyak kedua adalah teman sebaya sebesar 15% diikuti orang tua (12 persen), guru (9 persen), serta organisasi remaja dan lainnya masing-masing sebesar 4 persen. 

Dari jumlah responden yang mengakses materi pornografi sebanyak 63 persen pernah mengakses materi pornografi baik berupa film, gambar maupun cerita porno. Meskipun penelitian ini tidak dimaksudkan untuk mewakili seluruh populasi remaja berusia sekolah yang ada di kota Surakarta, akan tetapi cukup memberikan gambaran bahwa akses pornografi di kalangan remaja khususnya pelajar tingkat atas di kota Surakarta dapat dikatakan cukup mengkhawatirkan terhadap perkembangan seksualitas dan psikologisnya. 
Apabila dianalisis lebih jauh, akses pornografi yang kian marak merupakan dampak pendidikan seks yang salah dan kurang tepat dilakukan oleh pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab akan hal itu, seperti orang tua, guru serta pihak-pihak terkait lainnya. Kegagalan pendidikan seks ini umumnya adalah karena adanya anggapan seks merupakan sesuatu yang tabu untuk diperbincangkan. Oleh karenanya, seorang remaja terkadang malu atau enggan untuk berkonsultasi dengan orang-orang dewasa yang lebih paham dengan masalah seksualitas. Sehingga mereka lebih nyaman menggunakan media online untuk mengakses informasi terkait dengan seksualitas. Masalah muncul karena keingintahuan seputar seksual ini tidak hanya berhenti pada informasi penting saja, akan tetapi lebih menjurus kepada hal-hal yang seharusnya tidak boleh dikonsumsi (yakni, materi pornografi) yang mempunyai efek destruktif yang mempengaruhi perilaku seksualnya. Dalam penelitian Komunitas Jogja (2007), ditemukan bahwa 900 film porno buatan lokal dengan pemeran usia remaja Indonesia beredar di internet. Inilah bentuk shock culture yang terjadi dalam masyarakat kita. Dikatakan demikian karena budaya timur Indonesia yang sopan dan anggun mulai tergerus, dengan mengalami pergeseran nilai menjadi budaya yang tidak lagi mengindahkan moralitas dan nilai-nilai agama. Jadi, budaya permisivisme telah meracuni kehidupan remaja mulai cara berpakaian yang kurang sopan, yang cenderung menampakkan aurat tubuh lantaran dianggap seksi, berkata jorok, seks bebas hingga perilaku seks menyimpang semakin marak terjadi. 
Faktor kemajuan teknologi media informasi yang tidak diimbangi dengan penanaman nilai moral agama dan budi pekerti menyebabkan tumburl suburnya akses materi pornografi oleh berbagai kalangan termasuk remaja masa kini. Oleh karenanya, perlu upaya preventif untuk mencegah terjadinya dampak negatif yang lebih besar maupun upaya kuratif (mengobati), dengan melihat fakta bahwa jumlah remaja yang menjadi korban pornografi terbilang tidak sedikit. Institusi keluarga sebagai bagian inti sarana sosialisasi nilai terhadap anak serta sekolah sebagai institusi kedua setelah keluarga, seharusnya mampu menjalankan perannya untuk menanamkan budi pekerti maupun agama di dalam pembentukan moral remaja. Namun, fakta menunjukkan bahwa "seakan" kedua institusi itu mengalami kegagalan dalam proses sosialisasi nilai terhadap remaja. Di mana dalam poin pertanyaan kepada institusi apakah yang diharapkan remaja mampu berperan dalam pendidikan kesehatan reproduksi remaja, sebesar 52 persen menjawab lembaga sosiaVagama, 30% menjawab keluarga, 13 persen sekolah, dan 5 persen sisanya institusi lain. 
Harapannya, peran lembaga sosial/agama menjadi alternatif solusi yang dapat dilihat sebagai pihak ketiga yang mampu mendukung dua institusi utama (keluarga dan sekolah) dalam penanaman nilai moral kepada remaja. Salah satu model pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) yang patut dicoba untuk dilakukan, misalnya, melalui oembinaan kelompok sebaya (peer group). Karena tidak dapat dipungkiri bahwa usia remaja mempunyai <ecenderungan kuat untuk berkumpul dan bergaul dengan :eman sebaya. Sebagaimana temuan di atas, teman sebaya merupakan tempat kedua untuk bertanya dan bercerita derihal masalah seksual setelah media online. Model pendidikan terkait reproduksi melalui peer group bisa dilakukan dengan fasilitator dari lembaga sosial/agama maupun dari kalangan remaja sendiri yang dididik dan diproyeksikan sebagai fasilitator bagi teman sebayanya. 
Masalah remaja adalah masa datangnya pubertas (sebelas sampai empat betas tahun) sampai usia sekitar detapan betas -masa transisi dari kanak-kanak ke dewasa..Masa ini hampir selalu merupakan masa-masa sutit bagi remaja maupun orang tuanya. Ada sejumlah alasan untuk ini:
  1. Remaja mulai menyampaikan kebebasannya dan haknya untuk mengemukakan pendapatnya sendiri. Yang tak dapat dihindari, ini bisa menciptakan ketegangan dan perselislhan, dan bisa menjauhkan is dari keluarganya.
  2. la lebih mudah dipengaruhi teman-temannya daripada ketika masih lebih muda. Ini berarti pengaruh orang tua pun melemah. Anak remaja berperilaku dan mempunyai kesenangan yang berbeda bahkan bertentangan dengan perilaku dan kesenangan keluarga. Contoh-contoh yang umum adalah model pakaian, potongan rambut atau musik, yang kesemuanya harus mutakhir.
  3. Remaja mengalami perubahan fisik yang tuar biasa, baik pertumbuhannya maupun seksualitasnya. Perasaan seksuat yang mulai muncul bisa menakutkan, membingungkan dan menjadi sumber perasaan salah dan frustrasi.
  4. Remaja sering menjadi terlalu percaya diri dan ini bersama-sama dengan emosinya yang biasanya meningkat, yang mengakibatkan ia sukar menerima nasihat orang tua.


Ada sejumlah kesulitan yang sering dialami kaum remaja yang menjemukan mereka dan orang tuanya, dan ini merupakan bagian yang normal dari perkembangan ini. Beberapa kesulitan atau bahaya yang mungkin dialami kaum remaja, antara lain:
  1. Variasi kondisi kejiwaan, di mana suatu saat, ia mungkin terlihat pendiam, cemberut, dan mengasingkan diri tetapi pada saat yang lain, ia terlihat sebaliknya - periang berseri-seri dan yakin. Perilaku yang sukar ditebak dan berubah-ubah ini bukanlah abnormal. ltu hanya perlu diprihatinkan bila ia terjerumus dalam kesulitan, kesulitan di sekolah atau kesulitan dengan teman-temannya. 
  2. Rasa ingin tahu seksual dan coba-coba, di mana hal ini adalah normal dan sehat. Rasa ingin tahu seksual dan bangkitnya birahi adalah normal dan sehat. Ingat, bahwa perilaku tertarik pada seks sendiri juga merupakan ciri yang normal pada perkembangan masa remaja. Rasa ingin tahu seksual dan birahi jelas menimbutkan bentuk-bentuk perilaku seksual. 
  3. Membolos. 
  4. Peritaku anti sosial, seperti suka mengganggu, berbohong, kejam dan agresif. Penyebabnya mungkin bermacam-macam dan banyak tergantung pada budayanya. Akan tetapi, penyebab yang mendasar adalah pengaruh buruk teman, dan kedisiplinan yang satah dari orang tua terutama bila terlalu keras atau terlalu lunak - dan sering tidak ada sama sekali. 
  5. Penyalahgunaan obat bius. 
  6. Psikosis, bentuk psikosis yang paling dikenal orang adalah skizofrenia.

Apa yang harus Anda lakukan bila Anda merasa cemas terhadap anak remaja Anda? Langkah pertama adalah bertanya kepada diri sendiri apakah perilaku yang mencemaskan itu adalah perilaku yang normal pada anak remaja. Contohnya adalah pemurung, suka melawan, lebih senang sendiri atau bersama teman-temannya daripada bersama anda. Anak remaja Anda ingin menunjukkan bahwa is berbeda dengan Anda. Hal ini dilakukan dengan berpakaian menurut mode mutakhir, begitu pula dengan kesenangannya pada potongan rambut dan musik. Semua itu sangat normal, dan asalkan perilaku tersebut tidak membahayakan, maka Anda tidak perlu prihatin. 
Tindakan selanjutnya adalah menetapkan batas dan mempertahankannya. Menetapkan batas itu sangatlah penting, tetapi batas-batas itu haruslah cukup lebar untuk memungkinkan eksplorasi yang sehat. 
  • Bila perilaku anak Anda membahayakan atau melampaui batas-batas yang Anda harapkan, langkah berikutnya adalah memahami apa yang tidak beres. 
  • Depresi dan perilaku yang membahayakan diri selalu merupakan respons terhadap stres yang tidak dapat diatasinya. 
  • Anak remaja yang berperilaku atau suka membolos sering kali akibat dari meniru dan mengikuti teman-temannya, dan merupakan respons dari sikap orang tua yang terlalu ketat atau terlalu longgar. 
  • Minum-minuman beralkohol dan menghisap ganja biasanya merupakan respons terhadap stres dan akibat meniru teman. Masalah seksual paling sering mencerminkan adanya kesulitan diri di dalam proses pendewasaan.

Secara umum, masalah yang terjadi pada remaja dapat diatasi dengan baik jika orang tuanya termasuk orang tua yang "cukup balk". Donald VVinnicott, seorang psikoanalisis dari Inggris memperkenalkan istilah "good enough mothering'. Beliau menggunakan istilah ini untuk mengacu pada kemampuan seorang ibu untuk mengenali dan memberi respons terhadap kebutuhan anaknya, tanpa harus menjadi ibu yang sempurna. Sekarang laki-laki pun telah "diikutsertakan", sehingga cukup beralasan untuk membicarakan tentang "menjadi orang tua yang cukup baik". 
Tugas-tugas yang dilakukan oleh orang tua yang cukup baik adalah: 
  1. Memenuhi kebutuhan fisik yang paling pokok, yakni sandang, pangan dan kesehatan: 
  2. Memberikan ikatan dan hubungan emosional. Hubungan yang erat ini merupakan bagian penting dari perkembangan fisik dan emosional yang sehat dari seorang anak. 
  3. Memberikan suatu landasan yang kokoh. ini berarti memberikan suasana rumah dan kehidupan keluarga yang stabil. 
  4. Membimbing dan mengendalikan perilaku. 
  5. Memberikan berbagai pengalaman hidup yang normal. Hal ini diperlukan untuk membantu anak Anda agar matang dan akhirnya mampu menjadi seorang dewasa yang mandiri. Sebagian besar orang tua tanpa sadar telah memberikan pengalaman-pengalaman itu secara alami. 
  6. Mengajarkan cara berkomunikasi. Orang tua yang baik mengajarkan anak untuk mampu menuangkan pikiran ke dalam kata-kata dan memberi nama pada setiap gagasan, mengutarakan gagasan-gagasan yang rumit dan berbicara tentang hal-hal yang terkadang sulit untuk dibicarakan seperti ketakutan dan amarah. 
  7. Membantu anak Anda menjadi bagian dari keluarga. 
  8. Memberi teladan.

Identitas remaja dapat diartikan sebagai berikut: 
  1. Identitas dapat diartikan sebagai suatu inti pribadi yang tetap ada walaupun mengalami perubahan bertahap seiring pertumbuhan umur dan perubahan lingkungannya. 
  2. Identitas juga dapat diartikan sebagai tata hidup tertentu yang sudah dibentuk pada masa-rnasa sebetumnya dan menentukan peran sosial yang harus dijalankan. 
  3. Identitas merupakan hasil yang diperolehnya pada masa remaja, tetapi masih akan terus mengalami perubahan dan pembaharuan. 
  4. Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa identitas merupakan suatu kesatuan.

Persatuan yang terbentuk dari asas, cara hidup, pandangan-pandangan yang menentukan cara hidup selanjutnya. Persatuan ini merupakan inti seseorang yang menentukan cara meninjau diri sendiri dalam pergaulan diri sendiri dalam pergaulan dan tinjauan di keluar dirinya. Ciri-ciri remaja menurut Hurlock (1992), antara lain: 
  1. Masa remaja sebagai periode yang penting yaitu perubahan-perubahan yang dialami masa remaja akan memberikan dampak langsung pada individu yang bersangkutan dan akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya. 
  2. Masa remaja sebagai periode pelatihan. Di sini berarti perkembangan masa kanak-kanak lagi dan belum dapat dianggap sebagai orang dewasa. Status remaja tidaklah jetas. Keadaan ini memberi waktu kepadanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai dengan dirinya. 
  3. Masa remaja sebagai periode perubahan, yaitu perubahan pada emosi perubahan tubuh, minat dan peran (menjadi dewasa yang mandiri), perubahan pada nilai-nilai yang dianut, serta keinginan akan kebebasan. 
  4. Masa remaja sebagai masa mencari identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa peranannya dalam masyarakat. 
  5. Masa remaja sebagai masa yang menimbulkan ketakutan. Dikatakan demikian karena sulit diatur, cenderung berperilaku yang kurang baik. Hal ini yang membuat banyak orang tua menjadi takut. 
  6. Masa remaja adalah masa yang tidak realistik. Remaja cenderung memandang kehidupan dari kacamata berwarna merah jambu, melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang diinginkan dan bukan sebagaimana adanya terlebih dalam cita-cita. 
  7. Masa remaja sebagai masa dewasa. Remaja mengalami kebingungan atau kesulitan dalam usaha meninggalkan kebiasaan pada usia sebelumnya dan dalam memberikan kesan bahwa mereka hampir atau sudah dewasa, yaitu dengan merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan dan terlibat dalam perilaku seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan. Dengan adanya perubahan fisik maupun psikis pada diri remaja, remaja cenderung mengalami masalah dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya. Diharapkan, remaja dapat menjalani tugas perkembangan dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja, yakni: 
  1. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. 
  2. Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai dengan kematangan seksual. Perubahan ini terkadang membuat remaja merasa tidak . yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. 
  3. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. 
  4. Perubahan nilai, di mana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa. 
  5. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi, mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain, mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut. 

Ada beberapa faktor penting dalam perkembangan identitas diri remaja, yakni: 
  1. Rasa percaya diri yang telah diperoleh dan senantiasa dipupuk dan dikembangkan. 
  2. Sikap berdiri sendiri. 
  3. Keadaan keluarga dengan faktor-faktor yang menunjang terwujudnya identifikasi diri. 
  4. Kemampuan remaja itu sendiri, dan taraf kemampuan intelektualnya.


Selain faktor tersebut di atas, ada faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam perkembangan identitas diri remaja yaitu faktor eksperimentasi (coba-coba, berpetualang). 
Peranan orang tua dan sekolah sangat penting sebab remaja ini belum siap untuk bermasyarakat. Bimbingan orang tua dan guru sangat diperlukan agar remaja tidak salah arah, karena di masyarakat, amat banyak pengaruh negatif yang dapat menyengsarakan masa depan remaja. Setelah itu ajaklah mereka berdiskusi di mana pendidik dapat mendengarkan dengan sabar segala isi hati dan keluhan mereka. Biarkan mereka bebas berkarya dan berekspresi tapi dengan catatan mereka harus tetap dibimbing dan diawasi. Remaja juga cenderung bersikap agresif. Jika dipandang dari definisi emosional, perilaku agresif adalah hasil dari proses kemarahan. Banyak hal yang menyebabkan perbuatan agresif ini, yaitu: 
  1. Tindakan agresif disebabkan oleh naluri agresif. 
  2. Agresif disebabkan oleh situasi yang amat menjenuhkan atau tertekan. 
  3. Perbuatan agresif karena frustrasi. . 
  4. Perbuatan agresif karena adanya unsur atau rasa balas dendam.

Tuesday, 12 January 2016

Remaja
Remaja adalah waktu manusia berumur betasan tahun. Pada masa remaja, manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa. Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.
Definisi
Menurut psikologi, remaja adatah suatu periode transisi dari masa awal anak-anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira-kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan datamnya suara. Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis) dan semakin banyak menghabiskan waktu di tuar keluarga. Dilihat dari bahasa Inggris "teenage'', remaja artinya adalah manusia berusia betasan tahun. Di mana usia tersebut merupakan perkembangan untuk menjadi dewasa. ()Leh sebab itu, orang tua dan pendidik sebagai bagian masyarakat yang lebih berpengalaman memiliki peranan penting datam membantu perkembangan remaja menuju kedewasaan. 

Remaja juga berasal dari kata Latin "adolescence" yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi  dewasa. Istilah adolescence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional, sosiat, dan fisik (Hurlock, 1992). Remaja memiliki tempat di antara anak-anak dan orang tua karena sudah tidak termasuk golongan anak tetapi belum juga berada dalam golongan dewasa atau tua. Seperti yang dikemukakan oleh Caton (dalam Monks, dkk. 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan ticlak lagi memiliki status anak. Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Sedangkan menurut Zakiah Darajat (1990: 23), remaja adalah masa peralihan di antara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini, anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berpikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. Hal senada diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa remaja 'adolescence) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional. Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu:
• 12-15 tahun.
• Masa remaja awal, 15-18 tahun.
• Masa remaja pertengahan, dan 18-21 tahun.
• Masa remaja akhir.

Tetapi, Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu masa praremaja 10-12 tahun, masa remaja awal 12-15 tahun, masa remaja pertengahan 15-18 tahun, dan masa remaja akhir 18-21 tahun (Deswita, 2006:192) Definisi yang dipaparkan oleh Sri Rumini & Siti Sundari, Zakiah Darajat, dan Santrock tersebut menggambarkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia antara 12-22 tahun, di mana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, maupun psikologis.

Manusia tidak dapat hidup dengan baik tanpa bantuan dari orang lain. Sejak dilahirkan, manusia mempunyai dua hasrat atau keinginan pokok yaitu: keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya (masyarakat) dan keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.  Dalam menjalankan aktifitasnya, manusia behubungan dengan manusia lainnya dalam suatu kelompok. Kelompok tersebut dimnamakan kelompok social dimana kelompok social merupakan himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama. Dalam kelompok social, hubungan yang terjadi saling pengaruh mempengaruhi dan juga ada suatu kesadaran untuk saling tolong menolong. 
Kelompok social mempunyai persyaratan tertentu yaitu: Adanya kesadaran dari setiap  anggota kelompok, bahwa dia merupakan bagian dari kelompok, adanya hubungan timbal balik antara anggota satu dengan lainnya, adanya suatu factor bersama yang menjadikan hubungan mereka bertambah erat misalnya:(nasib, tujuan, idiologi yang sama), berstruktur berkaidah dan mempunyai pola perilaku, bersistem dan berproses.

Manusia hidup dalam kelompok social terkecil yang dinamakan keluarga. Selain itu manusia juga beraktifitas keluar dan berhubungan dengan kelompok-kelompok social lainnya. Pengalaman manusia yang berhubungan dengan kelompok-kelompok social lain dan kemudian dibagikan kepada keluarganya dinamakan Social Experiences. Hal ini selain berguna bagi keluarga juga secara tidak langsung menambah pengetahuan dan mempunyai pengaruh yang besar dalam pengembangan kepribadian. Beberapa pembedaan kelompok social antara lain:
1.      In-group dan out-group. In-group adalah kelompok social di mana individu mengidentifikasikan dirinya. Hal itu menyebabkan seseorang yang merasa dalam kelompok in-group mempunyai perasaan dekat dan umumnya didasarkan factor simpati dan menganggap sebagai “kita” dan kelompok lain sebagai “mereka”. Perasaan in-group dan out-group didasarkan pada suatu sikap yang dinamakan etnosentris, yaitu adanya anggapan bahwa kebiasaan dalam kelompoknya merupakan yang terbaik dibandingkan kelompok yang lain. Out-group adalah kelompok social yang oleh individu diartikan sebagai lawan in-groupnya.
2.      Kelompok primer (primary group) dan kelompok sekunder (secondary group). Charles Horton Cooley menyebutkan bahwa kelompok primer adalah kelompok yang ditandai ciri-ciri kenal-mengenal (face to face group) antara anggota-anggotanya serta kerjasama erat yag bersifat pribadi. Agar masing-masing anggota kelompok primer saling mengenal secara dekat maka kelompok tersebut harus memenuhi syarat: anggota secara fisik saling berdekatan, kelompok tersebut kecil dan adanya suatu kelanggengan hubungan antar anggota kelompok. Salah satu sifat dari kelompok primer adalah adanya kesamaan tujuan, dan dalam banyak kasus, tujuan kelompok tersebut adalah hubungan yang erat diantara anggota kelompok itu sendiri. Kelompok sekunder adalah kelompok yang terdiri dari banyak orang, yang sifat hubungannya tidak didasarkan pada pengenalan secara pribadi dan juga tidak langgeng.
3.      Paguyuban (gemeinschaft) dan Patembayan (gesellschaft). Ferdinand Tonnies menjelaskan bahwa paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan. Contoh: keluarga, kelompok kerabat dan rukun tetangga. Patembayan merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, merupakan bentuk pikiran belaka. Contoh: perjanjian bisnis.
4.      Formal group dan informal group. Formal group adalah kelompok yang mempunyai peraturan yang tegas dan sengaja diciptakan oleh anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antar sesama. Contoh: organisasi, yang biasanya ditegakkan pada landasan mekanisme administrative yang disebut birokrasi. Informal group tidak mempunyai struktur dan organisasi tertentu atau yang pasti. Kelompok ini terbentuk karena pertemuan yang berulang kali yang didasari oleh kepentingan dan pengalaman yang sama. Contoh: klik (clique).
5.      Membership group dan reference group. Robert K. Merton menyebutkan bahwa membership group merupakan kelompok dimana setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut. Walaupun batas-batas keanggotaan tersebut secara fisik tidak dapat dilakukan secara mutlak karena perubahan-perubahan keadaan. Reference group yaitu kelompok social yang menjadi acuan bagi seseorang (yang bukan anggota kelompok tersebut) untuk membentuk pribadi dan perilakunya.
6.      Kelompok okupasional dan volunter. Kelompok okupasional adalah kelompok yang muncul karena semakin memudarnya fungsi kekerabatan di mana kelompok ini timbul karena anggotanya memiliki pekerjaan yang sejenis. Mereka dari pendidikan yang sama, spesialisasi bidang pekerjaan yang sama akhirnya berusaha mengembangkan pengetahuan yang mereka miliki sehingga mampu bermanfaat bagi masyarakat banyak dan membuat aturan aturan bagi mereka yang dikenal sebagai kode etik profesi. Contoh: kelompok profesi. Kelompok volunter yaitu kelompok yang mempunyai kepentingan yang sama namun tidak mendapat perhatian masyarakat, sehinga melalui kelompok ini diharapkan dapat memenuhi kepentingan anggotanya secara individu tanpa mengganggu kepentingan masyarakat, contoh: kelompok rekreasi.

7.      Komunitas (masyarakat setempat). Komunitas adalah masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah(geografis) dengan batas-batas tertentu, dimana factor utama yang menjadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar diantara anggotanya, dibandingkan dengan interaksi dengan penduduk diluar batas wilayahnya. Hubungan yang erat dan  ikatan solidaritas yang kuat antar anggota masyarakat serta  ikatan dengan tanah dimana mereka tinggal, karena menganggap tanah tersebut memberikan kehidupan bagi mereka merupakan ciri komunitas yang dinamakan Community Sentiment (perasaan komunitas). Perasaan komunitas meliputi unsure: seperasaan (identifikasi, solider, kepentingan sama, selaras dengan kepentingan kelompok), sepenanggungan (sadar akan peran dalam kelompok dan kedududukan yang pasti dalan kelompok) dan saling memerlukan (perasaan tergantung dari anggota kepada komunitas untuk memenuhi kebutuhan fisik maupun psikologis).
Community development menggambarkan makna yang penting dari dua konsep:  yaitu, community, bermakna kualitas hubungan sosial; dan development, perubahan ke arah kemajuan yang terencana dan bersifat gradual.
Community development is a movement designed to promote better living for the whole community with the active participation and on the initiative of the community”.
CD = mengembangkan atau menaikkan  kualitas hidup suatu masyarakat
CD = “proses swadaya masyarakat digabungkan dengan usaha-usaha  pemerintah setempat guna meningkatkan kondisi masyarakat di bidang sosial, ekonomi, dan kultural, serta untuk mengintegrasikan masyarakat”

Pengembangan masyarakat:
Suatu metode atau pendekatan pembangunan yang menekankan adanya partisipasi dan keterlibatan langsung penduduk dalam proses pembangunan, dimana semua usaha swadaya masyarakat disinergikan dengan usaha-usaha pemerintah setempat dan stakeholders lainnya untuk meningkatkan taraf hidup, dengan sebesar mungkin ketergantungan pada inisiatif penduduk sendiri, serta pelayanan teknis sehingga proses pembangunan berjalan efektif  
Langkah-langkah:
Advokasi: upaya untuk mengubah atau mempengaruhi perilaku penentu kebijaksanaan agar berpihak pada kepentingan publik melalui penyampaian pesan-pesan yang didasarkan pada argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, legal, dan moral. Melalui kegiatan advokasi dilakukan identifikasi dan pelibatkan semua sektor di berbagai level untuk mendukung program.
Pengorganisasian komunitas: Agar masyarakat mempunyai arena untuk mendiskusikan dan mengambil keputusan atas masalah di sekitarnya.  Bila terorganisir, masyarakat juga akan mampu menemukan sumberdaya yang dapat mereka manfaatkan.  Biasanya, dalam pengembangan masyarakat, dibentuk kelompok kelompok sebagai wadah refleksi dan aksi bersama anggota komunitas.  Pengorganisasian ini bisa dibentuk berjenjang: di tingkat komunitas, antar komunitas di Tingkat desa, antar desa di tingkat kecamatan dan seterusnya sampai ke tingkat nasional bahkan regional.
Pengembangan jaringan: Menjalin kerjasama dengan pihak lain (individu, kelompok, dan atau organisasi) agar bersama-sama saling mendukung untuk mencapai tujuan. Jaringan dan saling percaya (trust) merupakan salah satu unsur penting dari kapital sosial, sehingga menjadi komponen penting dalam pengembangan masyarakat. Pada komunitas yang mempunyai jaringan yang baik, sumber daya yang ada pada seluruh kompenen komunitas dan komponen lain yang terbangun dalam jaringan akan dapat dimanfaatkan bersama-sama.
Pengembangan kapasitas : Meningkatkan kemampuan masyarakat di segala bidang (termasuk untuk advokasi, mengorganisir diri sendiri, dan mengembangkan jaringan).  Sumpeno,  mengartikan pengembangan kapasitas sebagai peningkatan atau perubahan perilaku individu, organisasi, dan sistem masyarakat dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.  Peningkatan kemampuan individu mencakup perubahan dalam hal pengetahuan, sikap, dan keterampilan; peningkatan kemampuan kelembagaan meliputi perbaikan organisasi dan manajemen, keuangan, dan budaya organisasi; peningkatan kemampuan masyarakat mencakup kemandirian, keswadayaan, dan kemampuan mengantisipasi perubahan.
Komunikasi, Informasi, Edukasi: Proses pengelolaan informasi, pendidikan masyarakat, dan penyebaran informasi untuk mendukung keempat komponen di atas. Pengelolaan informasi juga menyangkut mencari dan mendokumentasikan informasi agar informasi  selalu tersedia bagi masyarakat yang memerlukannya. Kegiatan edukasi perlu dilakukan agar kemampuan masyarakat dalam segala hal meningkat, sehingga masyarakat  mampu mengatasi masalahnya sendiri setiap saat. Untuk mendukung proses komunikasi, berbagai media komunikasi (modern – tradisional; massa –individu – kelompok) perlu dimanfaatkan dengan kreatif.
Perubahan paradigm dalam pembangunan:
  • Sentralisasi VS Desentralisasi 
  • Unsustainable VS Sustainable 
  • Mobilisasi VS Partisipasi 
  • Penaklukan VS Pemberdayaan  
  • Eksploitasi VS Pelestarian 
  • Hubungan Fungsional VS Jejaring Sosial  
  • Nasional  VS Teritorial  Ekonomi 
  • Konvensional VS Keswadayaan Lokal  
1.      “PEMBANGUNAN BERBASIS MASYARAKAT” (COMMUNITY BASED DEVELOPMENT)
Asumsi tentang Masyarakat (Community): Berangkat dari pandangan bahwa masyarakat terbelakang, pengetahuannya rendah, tradisional dan bodoh.Untuk memajukan mereka diperlukan pengetahuan dari luar. Pandangan Baru: Masyarakat dibangun bukan karena mereka bodoh dan tidak mampu, akan tetapi kemampuan yang tersedia dioptimalkan agar mereka berkembang sesuai dengan pengetahuan mereka.Pengetahuan lokal dan teknologi tepat guna sebagai basisi pengembangan mereka.
Konsekuensi Perencanaan: Perencanaan bersifat top down dan sentralitas Direncanakan oleh tenaga ahli atau akademisi tanpa mempertimbangkan apa yang dimiliki masyarakat Lebih mengutamakan perencanaan untuk pertumbuhan ekonomi. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa kemajuan masyarakat diukur menurut kemajuan ekonomi semata. Pandangan Baru: Lebih menekankan pada aspek lokalitas Perencanaan dilakukan secara otonomi, berdasarkan potensi lokalitas dengan menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi dalam perencanaan. Pemikiran otonomi lebih ditekankan dalam perencanaan kegiatan berdasarkan kebutuhan masing-masing.
Konsekuensi Perlakuan terhadap Masyarakat: Menempatkan birokrat ataupun tenaga ahli dari luar sebagai pihak yang dilayani masyarakat karena mereka dianggap telah berbuat banyak untuk kepentingan masyarakat.Pandangan Baru: Menempatkan birokrat ataupun tenaga ahli dari luar sebagai pengatur kepentingan masyarakat dan sebagai aktor yang melakukan fungsi pelayanan sesuai kebutuhan masyarakat.
Implikasi bagi Kehidupan Sosial: Menjadikan masyarakat sangat bergantung kepada pemerintah
Memendam konflik semu yang setiap saat bisa menjadi ledakan konflik kepentingan. Pandangan Baru: Sejak awal mengakomodasi daya kritis masyarakat Masyarakat mampu menolak jika terjadi tekanan atau eksploitasi dari luar yang tidak menguntungkan mereka.


DIRI
A.    Konsep Diri
Konsep diri (self-concept) merupakan kesadaran seseorang mengenai siapa dirinya. Menurut Deaux, Dane, & Wringhtsman (1993), konsep diri adalah sekumpulan keyakinan dan perasaan seseorang mengenai dirinya. Keyakinan seseorang mengenai dirinya bisa berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan, penampilan fisik, dan lain sebagainya.
B.     Pengetahuan Tentang Diri
Konsep diri pada dasarnya merupakan suatu skema, yaitu pengetahuan yang terorganisir mengenai sesuatu yang kita gunakan untuk mengintepretasikan pengalaman. Dengan demikian, konsep diri adalah skema diri (self-schema), yaitu pengetahuan tentang diri, yang mempengaruhi cara seseorang mengolah informasi dan mengambil tindakan (Vaughan & Hogg,2002). Menurut Higgins (1987), ada tiga jenis skema diri antara lain :
·         actual self , yaitu bagaimana diri kita saat ini,
·         ideal self, yaitu bagaimana diri yang kita inginkan,
·         ought self, yaitu bagaimana diri kita seharusnya.

C.     Identitas Personal dan sosial
Pengetahuan kita tentang diri bervariasi pada kontinum identitas personal dan sosial. Pada identitas personal, seseorang akan mendefinisikan dirinya berdasarkan atribut atau trait yang membedakan diri dengan orang lain dan hubungan interpersonal yang dimiliki. Sedangkan pada identitas sosial, seseorang akan mendefinisikan dirinya berdasarkan keanggotaan dalam suatu kelompok sosial atau atribut yang dimiliki bersama oleh anggota kelompok (Vaughan & Hogg, 2002).
Menurut BRewe & Gardiner (1996), tiga bentuk diri yang menjadi dasar bagi seseorang dalam mendifinisikan dirinya adalah sebagai berikut :
·         individual self, yaitu diri yang didefinisikan berdasarkan trait pribadi yang membedakan dengan orang lain,
·         relation self, yaitu diri didefinisikan berdasakan hubungan interpersonal yang dimiliki dengan orang lain,
·         collective self, yaitu diri didefinisikan berdasarkan keanggotaan dari kelompok tertentu
D.    Harga Diri
Harga diri adalah penilaian atau evaluasi secara positive atau negative terhadap diri seseorang. Setiap orang menginginkan harga diri yang positif karena :
·         harga diri yang positive membuat orang merasa nyaman dengan dirinya di tengah kepastian akan kematian yang suatu waktu akan dihadapinya,
·         harga diri yang positive membuat orang dapat mengatasi kecemasan, kesepian, dan penolakan sosial.

E.     Perbandingan Sosial
Menurut Festinger (1954), untuk mengetahui seperti apa dirinya, orang akan melakukan perbandingan dengan orang lain karena tidak adanya patokan yang objective untuk menilai. Dengan demikian, orang lain menjadi sumber informasi mengenai diri kita. Kita dapat melakukan perbandingan dengan orang lain yang lebih baik (upward social comparison) maupun yang lebih tidak baik (downward social comparison). Namun, motif dasar melakukan perbandingan dengan orang lain adalah lebih karena kita ingin memperoleh gambaran yang positive tentang diri kita, bukan karena kita ingin memperoleh gambaran yang akurat tentang diri kita (Baumeister, 1998).
F.      Presentasi Diri
Saat berinteraksi dengan orang lain, sering kali perhatian kita tertuju pada bagaiman orang akan menilai kita. Kita berusaha mengontrol bagaimana orang lain berpikir mengenai kita, sehingga kita perlu melakukan impression management, yaitu usaha untuk mengatur kesan yang orang lain tangkap mengenai kita baik secara disadari maupun tidak (Schlenker, 1980). Sebagai bagian dari impression management kita melakukan presentasi diri (self presentation) seperti yang kita inginkan dengan berbagai macam tujuan. Menurut Jones & Pittman (1982), lima strategi presentasi diri yang memiliki tujuan yang berbeda adalah sebagai berikut :
1.      Integration
Dengan tujuan agar disukai, kita menampilkan diri sebagai orang yang ingin membuat orang lain senang,
2.      self-promotion
Dengan tujuan agar dianggap kompeten, kita menampilkan diri sebagai orang yang memiliki kelebihan atau kekuatan baik dalam hal kemampuan atau trait pribadi,
3.      intimidation
Dengan tujuan agar ditakuti, kita menampilkan diri sebagai orang yang berbahaya dan manakutkan,
4.      supplication
Dengan tujuan dikasihani, kita menampilkan diri sebagai orang yang lemah dan tergantung.
5.      exemplification
Dengan tujuan dianggap memiliki integritas moral tinggi, kita menampilkan diri sebagai orang yang rela berkorban untuk orang lain.

Selain lima strategi diatas, ada strategi presentasi diri yang lain, yaitu self handicapping yang merujuk pada segala tindakan yang dilakukan agar dapat mengeksternalisasi apabila mendapat hasil negative dan menginternalisasi apabila mendapat hasil yang positive (Berglas & Jones, 1978).
Powered by Blogger.

Apakah ilmu yang ada di blog ini bermanfaat ?

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget