Friday, 18 December 2015

Strukturalisme merupakan aliran pertama dalam psikologi, yang dikemukakan oleh Wilhelm Wundt setelah is metakukan eksperimennya di taboratotium. Wundt dan pengikut-pengikutnya berpendapat bahwa pengalaman mental yang kompleks sebenarnya adalah halnya persenyawaan kimiawi yang tersusun dari unsur-unsur kimiawi. Mereka bekerja atas premisnya-premis menyelidiki struktur kesadaran dan mengembangkan hukum-hukum pembentukannya.
Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada awal berdirinya psikologi sebagai satu disiplin ilmu yang mandiri, psikologi didominasi oleh gagasan serta usaha mempelajari elemen-elemen dasar dari kehidupan mental orang dewasa normal, melalui penelitian taboratorium dengan menggunakan metode intropeksi. Pada masa itu, tercatat aliran psikologi yang disebut psikologi strukturalisme. Tokoh psokologi strukturalisme ini adalah Wilhelm Wundt. Wundt dan pengikut-pengikutnya disebut strukturalis karena mereka berpendapat bahwa pengalaman mental yang kompleks itu sebenarnya adalah "struktur" yang terdiri atas keadaan-keadaan mental yang sederhana, seperti halnya persenyawan-persenyawan kimiawi yang tersusun dari unsur-unsur kimiawi. Ciri-ciri dari strukturalisme Wundt adalah penekanannya pada analisis atau proses kesadaran yang dipandang terdiri atas elemen-etemen dasar, serta usahanya menemukan hukum-hukum yang membawahi hubungan antar elemen kesadaran tersebut. Karena pandangan elementalistiknya ini, psikologi strukturalisme disebut juga psikologi elementalisme. Selain dipandang terdiri atas elemen-elemen dasar, yakni kesadaran, oleh Wundt dan para ahli psikologi lainnya pada masa itu, dipandang sebagai aspek yang utama dari kehidupan mental. Segala sesuatu atau proses yang terjadi dalam diri manusia, selalu bersumber pada kesadaran.
 Metode yang dipakai dalam strukturalisme adalah metode instropektif. Metode introspeksi adalah orang yang menjalani percobaan diminta untuk menceritakan kembali pengalamannya atau perasaannya setelah is melakukan suatu eksperimen. Sensasi seperti manic, pahit, dingin dapat diidentifikasi memakai introspeksi.
Menurut Jean Piaget, strukturalisme itu sulit dikenali karena mencakup bentuk-bentuk yang beragam sehingga sulit menampilkan sifat umum dan karena "struktur-struktur" yang dirujuk memperoleh arti yang cenderung berbeda-beda. Struktur adalah sistem transformasi yang mengandung kaidah sebagai sistem dan yang melindungi diri atau memperkaya diri metalui peran transformasi-transformasinya, tanpa keluar dari batas-batasnya atau menyebabkan masuknya unsur-unsur luar. Piaget menyebutkan tiga sifat yang dimaksud dalam sebuah struktur, yakni: totalitas, transformasi, dan pengaturan diri. Sebuah struktur, menurut Piaget, harus dilihat sebagai sesuatu totalitas, meskipun terdiri atas sejumlah unsur, struktur unsur-unsur itu berkaitan satu sama lain dalam sebuah kesatuan. Dilihat secara hierarkis, sebuah struktur terdiri atas sejumlah sub struktur yang terikat oleh struktur yang lebih besar. Dengan demikian, pengertian struktur tidak terbatas pada konsep terstruktur, tetapi sekaligus juga mencakup pengertian proses menstruktur. Pengertian transformasi, pada dasarnya, sejalan dengan konsep tata bahasa generatif-transformasional Chomsky. Sifat yang dinamis ini berkaitan dengan kaidah otoregulasi yang ada pada sebuah struktur.

Tokoh strukturalisme lain adalah Edward Bradford Titcherner (1867-1927). Titcherener merupakan orang Inggris yang pertama yang mewakili pandangan-pandangan psikologi Jerman (Wundt) sebagai murid Wundt, ia menerjemahkan beberapa buku Wundt dalam bahasa Inggris. Setelah belajar di Leipzig, Titchener ingin kembali ke Oxford, namun ditolak, karena psikologi di Inggris tidak sejalan dengan Wundt. Oleh karena itu, ia pergi ke Cornell University di Amerika Serikat, dan sebagai guru besar, ia mengembangkan strukturalisme di Amerika Serikat dari universitas tersebut. 

Thursday, 17 December 2015

Seperti tetah dikemukakan di atas metode tertua atau metode yang pertama-tama digunakan datam lapangan psikologi adalah spekulasi. Akan tetapi, akibat perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan psi-kologi pada khususnya akhirnya metode ini ditinggatkan, dan dirintislah metode baru yang mendasarkan atas pengataman-pengataman atau empiris.
Penentuan sesuatu metode merupakan hat yang penting setelah penentuan objek yang akan dipelajari. Dari segi metode akan terlihat ilmiah tidaknya sesuatu penyetidikan itu. Dalam kesempatan ini akan dikemukakan metode-metode yang digunakan datam lapangan psikologi empiris.
Ternyata, psikologi juga menerapkan metode-metode yang digunakan oleh ilmu-ilmu lain, tetapi sudah barang tentu disesuaikan dengan keadaan objeknya itu sendiri. Pada dasarnya, metode penyelidikan dapat dibedakan atas dua bagian yang besar, yaitu metode longitudinal dan cross-sectional.
a. Metode Longitudinal.
Metode ini merupakan metode penyelidikan yang membutuhkan waktu relatif lama untuk mencapai sesuatu hasil penyelidikan. Dengan metode ini penyelidikan dilakukan hari demi hari, bulan demi butan, malahan mungkin tahun demi tahun. Karena itu, bila dilihat segi perjalanannya, penyelidikan ini bersifat vertikal. Sebagai contoh, metode yang ditempuh di dalam penyelidikan tentang perkembangan anak. Hasil pengamatan dicatat hari demi hari, butan demi bulan dan tahun demi tahun. Hasil tersebut dikumpulkan dan diolah kemudian ditarik kesimpulan. Sudah barang tentu dengan mengutamakan metode penyelidikan ini penyelidik membutuhkan waktu yang lama, kesabaran serta ketekunan.

b. Metode Cross-Sectional.
Metode ini merupakan suatu metode penyelidikan yang tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama di dalam mengadakan penyelidikan. Dengan metode ini, dalam waktu yang relatif singkat dapat dikumpulkan bahan yang banyak. Jadi, kalau dilihat jalannya, penyelidikan ini berlangsung secara horizontal. Sebagai contoh penyelidikan dengan menggunakan kuesioner merupakan penyelidikan yang bersifat cross-sectional.
Sudah barang tentu penyelidikan ini dapat berlangsung secara cepat, tetapi pada umumnya kurang mendalam. Karena itu, untuk mengatasi kekurangan di satu pihak dan mengambil keunggulannya di lain pihak, kedua metode ini sering digabungkan.
Di samping metode yang tersebut di atas, dalam penyelidikan psikologi digunakan pula metode eksperimental dan noneksperimental. Dengan metode eksperimental, penyelidik dengan sengaja menimbulkan keadaan yang ingin diselidiki, dan hal ini berbeda dengan yang noneksperimental. Dalam penyelidikan yang noneksperimental, penyelidik mencari atau menunggu sampai dijumpai keadaan atau situasi yang ingin diselidiki, yakni mencari situasi yang ada dalam keadaan wajar natural). Untuk lebih terperinci akan dikemukakan metode-metode yang digunakan dalam lapangan psikologi sebagai oerikut:
 1. Metode introspeksi. Arti kata introspeksi adalah melihat ke dalam (intra = ke dalam dan speksi dari spektare = melihat). Metode ini merupakan suatu metode penyelidikan dengan melihat peristiwa-peristiwa kejiwaan ke dalam dirinya sendiri. Metode introspeksi ini dapat eksperimental dan dapat pula noneksperimental. Sudah barang tentu penyelidikan ini dijalankan dengan penuh kesadaran dan secara sistematik menurut norma-norma penyelidikan ilmiah. Tetapi, dalam penyelidikan ini, yang menjadi objek adalah dirinya sendiri, maka metode ini mengandung kelemahan-kelemahan. Kelemahan pokok yang sering dikemukakan terhadap metode ini yakni metode ini bersifat subjektif, karena orang sering tidak jujur dalam mengadakan penilaian terhadap dirinya sendiri, apalagi mengenai hal-hal yang tidak baik. Karena itu dengan metode ini sukar untuk mencapai segi objektivitas, padahal segi objektivitas dituntut oleh ilmu pengetahuan. Sekalipun metode introspeksi merupakan metode yang mengandung kelemahan, tetapi metode ini sangat besar artinya dalam lapangan psikologi. Banyak peristiwa kejiwaan dapat dimengerti yang didasarkan atas keadaan dirinya sendiri, dan juga banyak yang dapat dicapai dengan metode introspeksi. Karenanya, sekalipun metode introspeksi mempunyai kelemahan, tetapi pada umumnya masih dipertahankan di samping mencari jalan untuk mengatasi segi subjektivitas dari metode ini. Karena itu, kemudian timbul metode lain yang menggabungkan metode introspeksi dengan metode eksperimen yaitu yang dikenal dengan metode introspeksi eksperimental.
2. Metode introspeksi eksperimental. Seperti telah dikemukakan di atas metode ini merupakan penggabungan metode iritrospeksi dan eksperimen. Dengan jalan eksperimen, maka sifat subjektivitas dari metode introspeksi akan dapat diatasi. Pada metode introspeksi murni banyak dari penyelidik yang menjadi objek. Tetapi pada introspeksi eksperimental jumlah subjek banyak, yaitu orang-orang yang dieksperimentasi itu. Dengan luasnya atau banyaknya subjek penyelidikan hasilnya akan lebih bersifat objektif.
3. Metode ekstrospeksi. Arti kata ekstrospeksi adalah melihat keluar (extro = keluar, speksi dari spektare = melihat). Metode ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat pada metode introspeksi. Pada metode ekstrospeksi subjek penyelidikan bukan dirinya sendiri tetapi orang lain. Dengan demikian, diharapkan adanya sifat yang objektif dalam penyelidikan itu. Namun metode ekstrospeksi sebenarnya juga -berdasarkan atas metode introspeksi. Orang akan dapat mengatakan atau menyimpulkan yang terjadi pada orang lain, juga berdasarkan atas keadaan dirinya sendiri. Orang dapat mengatakan seseorang dalam keadaan susah, dalam keadaan gembira, tergesa-gesa dan sebagainya karena bila is sendiri berada dalam keadaan demikian tentu mengalami hal-hal yang demikian itu. Dengan demikian, kelemahan-kelemahan yang terdapat pada metode introspeksi sedikit banyak juga akan terdapat pada metode ekstrospeksi.
4. Metode kuesioner. Kuesioner atau sering pula disebut angket merupakan metode penyelidikan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang harus dijawab atau dikerjakan oleh orang yang menjadi subjek dari penyelidikan tersebut. Dengan angket orang akan dapat memperoleh fakta atau pun opini (opinions). Pertanyaan dalam angket bergantung kepada maksud serta tujuan yang ingin dicapai. Hai ini akan mempunyai pengaruh terhadap materi serta bentuk pertanyaan angket itu. Pada garis besarnya angket terdiri dari dua bagian yang besar, yaitu:
1. Bagian yang mengandung data identitas.
2. Bagian yang mengandung pertanyaan-pertanyaan yang ingin memperoleh jawabannya.
Pertanyaan itu ada beberapa macam bentuk atau jenis yang sekaligus memberikan bentuk atau jenis angket, yaitu:
a) Pertanyaan tertutup (closed questions), yaitu bentuk pertanyaan di mana orang yang dikenai angket (responden) tinggal memilih jawaban-jawaban yang telah disediakan dalam angket tersebut. Jadi, jawabannya telah terikat, responden tidak dapat memberikan jawaban seluas-luasnya, yang mungkin dikehendaki oleh responden yang bersangkutan. Bentuk angket yang mengandung pertanyaan-pertanyaan yang demikian coraknya disebut angket yang tertutup (closed questionnaire). Biasanya, kalau persoalannya telah jelas dipakai angket bentuk ini.

b) Pertanyaan terbuka (open questions), yaitu bentuk pertanyaan di mana responden masih diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk memberikan jawaban. Angket yang mengandung pertanyaan semacam ini disebut angket terbuka (open questionnaire). Pada umumnya, bila akan mendapatkan opini dipakai angket bentuk ini.
c) Pertanyaan terbuka dan tertutup, yaitu campuran dari kedua macam pertanyaan tersebut di atas. Angket yang mengandung pertanyaan-pertanyaan tersebut disebut angket terbuka tertutup (open and closed questionnaire).
Jika angket ditihat dari cara orang memberikan informasi, angket dapat dibedakan dua jenis, yaitu angket tangsung dan angket tidak tangsung.
a) Angket langsung. Angket tangsung yaitu angket yang diberikan kepada subjek yang dikenai, tanpa menggunakan perantara. Jadi penyelidik tangsung mendapatkan bahan dari sumber pertama (first resource).
b) Angket tidak langsung. Angket tidak langsung yaitu angket yang men.ggunakan perantara dalam menjawab. Jawaban-jawaban tidak langsung didapatkan dari sumber pertama, tetapi melalui perantara. Pada angket tidak langsung angket tidak diberikan langsung kepada subjek penyelidikan, tetapi diberikan kepada orang yang digunakan sebagai perantara.
Keuntungan metode angket antara lain:
a) Metode angket merupakan metode yang praktis, dari jarak jauh metode ini dapat digunakan. Penyelidik tidak perlu langsung datang di tempat penyelidikan.
b) Dalam waktu yang singkat dapat dikumpulkan data yang relatif banyak. Di samping itu, tenaga yang digunakan sedikit, sehingga dari segi ini merupakan metode yang hemat.
c) Orang dapat menjawab leluasa, sehingga tidak dipengaruhi oleh orang-orang lain. Orang akan lebih terbuka dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan.
Tetapi, di samping keuntungan-keuntungan tersebut di atas, angket juga mempunyai segi-segi kelemahan, antara lain:
a) Karena penggunaan angket penyelidik mungkin tidak dapat langsung berhadapan muka dengan yang diselidiki, maka bila ada hal-hal yang kurang jelas, keterangan lebih lanjut sulit dapat diperoleh.
b) Dalam angket pertanyaan-pertanyaan telah disusun demikian sehingga pertanyaan-pertanyaan tidak dapat diubah disesuaikan dengan situasinya.
c) Biasanya angket yang telah diketuarkan tidak semua dapat kembali. Hal ini harus diperhitungkan bila mengadakan penyelidikan menggunakan angket.
d) Kesalahan dalam pelaksanaan (misalnya, sugestif), kurang terangnya pertanyaan-pertanyaan, menyebabkan kurang validnya bahan yang diperoleh.
5. Metode interview.
Interview merupakan metode penyelidikan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan. Kalau pada angket pertanyaan-pertahyaan diberikan secara tertulis, maka pada interview pertanyaan-pertanyaan diberikan secara lisan. Karena itu antara interview dan angket terdapat hat-hal yang sama di samping adanya perbedaan-perbedaan. Baik angket maupun interview kedua-duanya menggunakan pertanyaan-pertanyaan, tetapi berbeda dalam penyajiannya. Kalau kedua metode itu dibandingkan maka pada interview terdapat keuntungan-keuntungan di samping ketemahan-ketemahan.

Keuntungan-keuntungannya antara lain adalah:
a) Pada interview, hal-hal yang kurang jelas dapat diperjelas, sehingga orang dapat mengerti apa yang dimaksudkan. Keadaan ini tidak terdapat pada angket.
b) Pada interview, penginterview dapat menyesuaikan dengan keadaan yang diinterview. Pada angket keadaan ini tidak mungkin.
c) Dalam interview, ada hubungan yang langsung (face to face), yang diharapkan dapat menimbulkan suasana hubungan yang balk, dan ini akan memberikan bantuan dalam mendapatkan bahan-bahan.
Sedangkan kelemahan-kelemahannya antara lain:
a) Penyelidikan dengan interview kurang hemat, baik dalam soal waktu maupun tenaga, sebab dengan interview membutuhkan waktu yang lama.
b) Pada interview dibutuhkan keahtian, dan untuk memenuhi ini dibutuhkan waktu untuk mendapatkan didikan atau latihan yang khusus.
c) Pada interview bila telah ada prasangka (prejudice), maka ini akan mempengaruhi interview, sehingga hasilnya tidak objektif.
6. Metode biografi. Metode ini merupakan tulisan tentang kehidupan seseorang yang merupakan riwayat hidup. Dalam biografi, orang menguraikan tentang keadaan, sikap-sikap ataupun sifat-sifat lain mengenai orang yang bersangkutan. Oleh karena itu, biografi juga dapat merupakan sumber penyelidikan dalam lapangan psikologi. Misalnya, biografi ibu Kartini, Mahatma Gandhi, Ki Hadjar Dewantara dan sebagainya. Metode ini, di samping mempunyai keuntungan, juga mempunyai kelemahan, yaitu bahwa metode ini kadang-kadang bersifat subjektif, dalam arti menurut pandangan yang membuat biografi itu. Misalnya, bila orang yang membuat itu sepaham, maka sudah barang tentu orang dalam membuat biografi akan dipengaruhi oleh sudut pandangannya, lebih-lebih dalam pembuatan otobiografi (biografi diri sendiri).
7. Metode analisis karya. lni merupakan suatu metode penyelidikan dengan mengadakan analisis dari hasil karya. Misalnya, antara lain tentang gambar-gambar, karangan-karangan yang telah dibuat, karya-karya ini merupakan pencetusan dari keadaan jiwa seseorang. Dalam hal ini, termasuk juga buku harian seseorang.
8. Metode klinis. Metode ini mula-mula timbul dalam lapangan klinik untuk mempelajari keadaan orang-orang yang jiwanya menyimpang (abnormal). Pada umumnya, metode ini digunakan oleh para ahli psikologi. Kelemahannya metode ini seakan-akan memberikan kesan bahwa subjeknya orang-orang yang jiwanya tidak normal, sehingga hasil yang dicapai kurang menggambarkan keadaan jiwa pada umumnya.
9. Metode testing. Metode ini merupakan metode penyelidikan yang menggunakan soal-soal, pertanyaan-pertanyaan, atau tugas-tugas lain yang telah distandardisasikan. Dilihat dari caranya, orang mengerjakan tes seakan-akan seperti eksperimen, namun kedua metode ini berbeda. Pada eks-perimen, orang dengan sengaja menerapkan treatment atau perlakuan dan ingin mengetahui efek dari treatment tersebut. Pada tes ini, orang ingin mengetahui kemampuan-kemampuan ataupun sifat-sifat lain dari testee (orang yang dites). Yang terpenting dalam tes adalah adanya standardisasi di mana ini tidak terdapat dalam eksperimen. Metode tes mulai terkenal setelah hasil kerja dari Binet. Pada tahun 1904, Binet mendapatkan tugas dari pemerintah Prancis (yang mengurusi bidang pendidikan dan pengajaran) untuk mengadakan penyelidikan terhadap anak-anak yang mengalami kelambatan dalam pelajaran bila dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Berdasarkan atas hasil penyelidikan Binet, anak-anak yang tidak dapat mengikuti pelajaran seperti anak-anak yang lain, ternyata mereka itu kurang normal. Penyelidikan kemudian dilanjutkan bersama-sama dengan Simon, hingga akhirnya hasil penyelidikan itu terkenal dengan tes-inteligensi Binet-Simon. Sumbangan utama dari Binet adalah dalam hal merintis dan menentukan standar-standar pertanyaan, yaitu pertanyaan yang diperuntukkan bagi anak-anak dengan tingkat umur masing-masing. Standar ini berdasarkan atas keadaan anak yang normal, sehingga dengan demikian, bila pertanyaan itu diajukan kepada anak dengan umur tertentu maka pertanyaan itu akan dapat dijawab oleh anak-anak yang normal. Tes Binet kemudian disempurnakan lebih lanjut oleh ahli-ahli antara lain oleh Stem, Terman Merril dan sebagainya. Salah satu revisi yang terkenal adalah dari Terman yang dipakai di Amerika. Karena Terman adalah mahaguru di Stanford University, maka revisinya terkenal dengan Stanford Revision, dan sering disebut tes inteligensi Stanford-Binet. Di camping tes Binet-Simon, masih banyak lagi tes-tes yang lain, misalnya tes Rorschach, tes Kraeplin, tes T.A.T. dan sebagainya. Dengan demikian, ada macam-macam tes yang kesemuanya dapat digunakan untuk mengadakan penyelidikan dalam lapangan psikologi.
Tes dapat dibedakan atas bermacam-macam jenis, yaitu:
a) Menurut banyaknya orang yang dites, tes dapat dibedakan atas:
1) Tes perorangan atau juga disebut tes individual, yaitu tes yang diberikan secara perorangan. Misalnya, tes Binet, tes Rorschach, dan tes Wechsler.
2) Tes kelompok, yaitu merupakan tes yang. diberikan secara kelompok, misalnya Army Alpha dan Army Betha Test, Army General Classification Test (AGeT), dan tes SPM. b) Berdasarkan atas peristiwa-peristiwa kejiwaan yang diselidiki, maka tes dapat dibedakan atas:
- Tes pengamatan.
- Tes perhatian.
- Tes ingatan.
- Tes inteligensi, dan sebagainya.
c) Berdasarkan atas caranya orang menjawab atau mengerjakan, maka tes dapat dibedakan:
1) Tes bahasa (verbal test), yaitu tes di. mana testee (orang yang dites) dalam mengerjakan tes menggunakan bahasa. Misalnya tes Binet, tes Rorschach, dan tes T.A.T.
2) Tes peraga (performance test), yaitu tes di mana testee dalam mengerjakan tes tidak perlu menggunakan bahasa, cukup dengan perbuatan-perbuatan, misalnya menyusun, menggambar dan sebagainya. Misalnya, tes dari William Healy, tes SPM, dan tes Goodenough.
Di samping itu, bila tes digunakan .untuk menyelidiki tentang bakat seseorang, tes itu disebut aptitude test atau tes bakat. Kalau tes digunakan untuk mengetahui tentang kecepatan orang mengerjakan sesuatu, tes itu disebut speed test atau tes kecepatan. Sedangkan kalau tes digunakan untuk mengetahui power atau kemampuan seseorang, maka tes itu disebut sebagai power-test Kalau tes digunakan untuk mengetahui sampai di mana kemampuan individu di dalam mengadakan performance terhadap sesuatu training atau sesuatu yang telah pernah diterimanya, maka tes ini disebut achievement test Tes sebagai metode penyelidikan, di samping mempunyai keuntungan, juga terdapat kelemahan. Keuntungan yang dapat diperoleh adalah dengan menggunakan tes orang dapat mengetahui gambaran atau keadaan dari orang yang dites, sudah memberikan ancer-ancer yang sedikit banyak telah berguna dalam menentukan langkah-langkah lebih lanjut. Sedangkan keberatan yang sering dikemukakan, yakni tes terikat kepada kebudayaan dari mana asal tes itu. Berhubung dengan kelemahan ini maka orang kemudian mencari atau menciptakan tes yang sedikit banyak ingin mengurangi atau bahkan menghilangkan kelemahan ini yaitu dengan menciptakan tes yang bebas dari ke-budayaan. Tes performa merupakan usaha untuk mengatasi terikatnya tes terhadap unsur kebudayaan. Karena itu, performance test diharapkan merupakan tes yang lebih bebas dari kebudayaan bila dibandingkan dengan tes-verbal. 10. Metode statistik. Pada umumnya metode statistik digunakan untuk mengadakan penganalisaan terhadap materi atau data yang telah dikumpulkan dalam suatu penyelidikan. Untuk memberikan gambaran yang dimaksud dengan statistik baiklah disajikan apa yang dikemukakan oleh Sutrisno Hadi (1979: 1) sebagai berikut: "Kata statistik telah digunakan untuk membatasi cara-cara iimiah untuk mengumpulkan, menyusun, meringkas, dan menyajikan data penyelidikan. Lebih lanjut statistik merupakan cara untuk mengolah data tersebut dan menarik kesimpulan-kesimpulan yang teliti dan keputusan-keputusan yang logis dari pengolahan data tersebut (batasan umum). Khusus untuk keperluan-keperluan riset, seperti yang telah beberapa kali disinggung di atas, fungsi dan peranan statistik digambarkan oleh Guilford sebagai berikut:
1. Statistik memungkinkan pencatatan secara paling eksak data penyelidikan.
2. Statistik memaksa penyelidik menganut tata-pikir dan tata kerja yang pasti dan tepat.
3. Statistik menyediakan cara-cara meringkas data ke datam bentuk yang tebih banyak artinya dan tebih gampang mengerjakannya.
4. Statistik memberi dasar-dasar untuk menarik konklusi-konklusi melalui proses-proses yang mengikuti tata yang dapat diterima oteh ilmu pengetahuan.
5. Statistik memberi landasan untuk meramalkan secara ilmiah tentang bagaimana sesuatu gejata akan terjadi datam kondisi-kondisi yang telah diketahui.

6. Statistik memungkinkan penyelidik menganalisa, menguraikan sebab-akibat yang kompteks dan rumit, yang tanpa statistik akan merupakan peristiwa yang membingungkan, kejadian yang tak teruraikan.
Kebanyakan orang awam salah kaprah tentang profesi psikolog dan psikiater. Ada beberapa hat mengapa banyak orang nonpsikologi yang menganggap profesi psikolog dan psikiater itu sama. Pertama, mungkin karena faktor namanya yang mirip. Kedua, keduanya menyangkut masalah kejiwaan. Ketiga, kedua profesi ini pun memitiki konsentrasi praktik yang sama, yakni berupa upaya penanganan, pencegahan, pendiagnosaan dan pemberian terapi.
Ya, keduanya sama tapi berbeda. Sama datam hal mendalami itmu kejiwaan. Seperti yang terdapat datam Kode Etik Psikologi yang diterbitkan Himpsi (Himpunan Psikolog Indonesia), psikolog dan psikiater sama-sama mendatami ilmu kejiwaan dan segala hal yang berhubungan dengan perkembangan manusia. Berbeda dari beberapa segi. Jadi, meskipun keduanya sama-sama menyangkut masalah kejiwaan, namun terdapat perbedaan yang mendasar antara keduanya.
Sebenarnya apa yang membedakan kedua profesi tersebut?
1. Psikolog
Psikolog adatah sarjana psikologi yang telah mengikuti program akademik strata satu (sarjana psikologi) dan program profesi sebagai psikolog. Seseorang yang mendapatkan getar "M.Psi." di belakang namanya diperoleh apabila telah mengikuti program akademik strata satu (sarjana psikologi) dan program profesi sebagai psikolog. Oteh karena itu, orang yang kuliah Sl-nya di fakuttas psikotogi, jika ingin menjadi psikolog, harus meneruskan S2 di bidang profesi psikotogi. Karena, jika ia meneruskan di bidang sains psikotogi, maka getarnya nanti adatah "M.Si," atau Magister Sains. Namun, saat ini, titel Magister Sains Psikologi bukan tagi "M.Si" tetapi "M.Psi".
Jika seseorang yang kuliah Slnya nonpsikologi, namun ingin meneruskan kuliah S2 di bidang psikologi. Orang tersebut mau tak mau harus mengambil bidang sains psikologi, sebab bidang profesi psikologi hanya diperuntukkan kepada lulusan S1 psikologi. Oleh karena itu, magister sains psikologi hanya boteh berkecimpung dan mengembangkan keilmuan bidang psikologi saja tanpa bisa melakukan praktek psikologi.
Jadi, inilah perbedaan antara Psikolog dan Magister Sains Psikologi.

Praktek Psikolog. Seorang psikolog, atau lulusan S2 profesi psikologi, nantinya mendapatkan izin praktek psikologi yang bisa digunakan untuk membuka biro konsultasi sendiri, ataupun bergabung menjadi tenaga konsultan psikologi di biro orang lain. Seorang psikolog juga punya hak untuk terhadap alat tes psikologi. Artinya, seorang psikolog dapat menyimpan, menggunakan dan mengoperasikan alat tes psikologi, serta menginterpretasikan hasil tes kliennya. Jadi, psikolog juga bisa disebut praktisi psikologi. Hak terhadap alat tes psikologi ini hanya dipegang oleh psikolog, dan bukan Magister Sains Psikologi. Namun, Magister Sains Psikologi dapat mengembangkan teori psikologi yang sudah ada, dan dapat bekerja sebagai dosen di fakultas psikologi. Oleh karena itu, Magister Sains Psikologi juga dapat disebut itmuwan psikologi. Orang yang memperoleh penanganan Psikolog disebut klien. Karena psikotog dapat menggunakan alat tes (misalnya mengungkap bakat minat seseorang) serta lebih fokus pada aspek sosialnya, seperti memberikan penanganan berupa terapi psikologi (psikoterapi).
Jadi, pembaca yang akan konsuttasi ke psikolog, tidak usah takut apakah dirinya sakit jiwa atau dianggap demikian oleh orang lain!
2. Psikiater
Psikiater adalah dokter spesialis yang tetah menyelesaikan pendidikan sarjana strata satu (sarjana kedokteran), pendidikan profesi sebagai dokter dan pendidikan spesialisasi kedokteran jiwa. Jadi psikiater adalah dokter yang mempelajari itmu jiwa. Maksudnya, gelar sarjana strata satu (Sinya adatah sarjana kedokteran, kemudian dia mengkhususkan diri untuk memfokuskan pada kejiwaan manusia. Jadi psikiater adalah dokter (S1) yang meneruskan pendidikannya di bidang psikiatri (S2). Oleh karena itu, seorang psikiater di depan namanya memperoleh gelar "dr. ...", dan dan dibelakang namanya memperoleh gelar Sp.,Kj". Orang yang memperoleh penanganan Psikiater disebut pasien.
Praktek Psikiater. Dalam hal pemberian terapi obat-obatan (farmakoterapi) hanya boleh dilakukan oleh psikiater, yang notabene berlatar belakang kedokteran yang lebih banyak berkecimpung pada penanganan secara klinis. Oleh karena itu, psikiater mengobati pasiennya, yang punya masalah kejiwaan, dengan memberikan obat karena beberapa penyakit jiwa bisa jadi disebabkan oleh keadaan tubuh yang sedang tidak sehat, atau ada yang bisa disembuhkan atau dikurangi dengan mengobati organ tubuh yang berhubungan dengan gejala kejiwaan yang sedang diderita. Dari uraian di atas, perbedaan psikolog dan psikiater adalah sebagai berikut:
1. Jika kita lihat dari latar belakang pendidikan, psikolog adalah sarjana psikologi yang telah mengikuti program akademik strata satu (sarjana psikologi) dan program profesi sebagai psikolog. Sedangkan psikiater adalah dokter spesialis yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana strata satu (sarjana kedokteran), pendidikan profesi sebagai dokter dan pendidikan spesiatisasi kedokteran jiwa.
2. Psikiater boteh memberikan obat sedangkan psikolog tidak boteh memberikan obat. Artinya, terapi obat-obatan ini hanya boteh dilakukan oleh psikiater yang notabene berlatar belakang kedokteran yang tebih banyak berkecimpung pada penanganan secara klinis. Sedangkan psikotog dapat menggunakan atat tes (misalnya mengungkap bakat minat seseorang) serta tebih fokus pada aspek sosialnya, seperti memberikan penanganan berupa terapi psikologi (psikoterapi).
Meskipun terdapat perbedaan antara keduanya, namun datam pelaksanaannya, baik psikotog maupun psikiater dapat sating bekerja sama. Psikolog dapat mereferensikan kliennya untuk berkonsultasi pada psikiater atau ahli lainnya bila dirasa ada hat yang pertu ditangani tebih lanjut, maupun sebaliknya. Hal ini tergantung pada kasus atau permasatahan yang dihadapi klien dan tergantung pada aspek mana yang pertu ditangani tertebih dahulu.

Permasatahan yang umumnya ditangani oleh psikolog maupun psikiater adalah masalah-masalah seputar penyimpangan perilaku misalnya kenakalan remaja, fobia sekolah, masalah kecemasan, konflik keluarga, krisis percaya dirt, hingga masalah gangguan halusinasi, skizofrenia, dan lainnya.
Seperti telah dikemukakan di atas psikologi merupakan ilmu yang tetah mandiri, tidak tergabung dalam ilmu-ilmu lain. Namun demikian, tidak boleh dipandang bahwa psikologi itu sama sekali terlepas dari ilmu-ilmu yang lain. Dalam hat ini psikologi masih mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu tersebut.
Psikologi sebagai itmu yang meneropong atau mempetajari keadaan manusia, sudah barang tentu psikologi mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu lain yang sama-sama mempelajari tentang keadaan manusia. Hal ini akan memberi gambaran bahwa manusia sebagai makhluk hidup tidak hanya dipelajari oleh psikologi saja, tetapi juga dipelajari oleh ilmu-ilmu lain. Manusia sebagai makhluk budaya maka psikologi akan mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu kebudayaan, dengan filsafat, dengan antropologi. Dalam kesempatan ini, akan ditinjau hubungan psikologi dengan beberapa ilmu sebagai berikut:
a. Hubungan Psikologi dengan Biologi 
Biologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kehidupan. Semua benda yang hidup menjadi objek dari biologi. Karena biologi berobjekkan benda-benda yang hidup, maka cukup banyak ilmu yang tergabung di dalamnya. Oleh karena itu, baik biotogi maupun psikologi sama-sama membicarakan manusia. Sekalipun masing-masing ilmu itu meninjau dari sudut yang berlainan, namun pada segi-segi yang tertentu kadang-kadang kedua ilmu itu ada titik-titik pertemuan. Biologi, khususnya antropobiologi tidak mempelajari tentang proses-proses kejiwaan, dan inilah yang dipelajari oleh psikotogi.

Seperti telah dikemukakan di atas, di samping adanya hal-hal yang berlainan, tampak pula adanya hal-hal yang sama-sama dipelajari atau diperbincangkan oleh kedua ilmu itu, misalnya soal keturunan. Mengenai soal keturunan baik psikotogi maupun antropobiologi juga membicarakan mengenai hal ini. Soal keturunan ditinjau dari segi biotogi adalah hal-hal yang berhubungan dengan aspek-aspek kehidupan yang turun-temurundari suatu generasi ke generasi lain; mengenai soal ini misalnya yang terkenal dengan hukum Mendel. Soat keturunan juga dipelajari oleh biologi, antara lain sifat, inteligensi, bakat. Karena itu, kuranglah sempurna kalau kita mempelajari psikotogi tanpa mempelajari biotogi khususnya antropobiologi maupun fisiologi, justru karena ilmu-ilmu ini membantu seseorang untuk mempelajari psikotogi.
b. Hubungan Psikologi dengan Sosiologi 
Manusia sebagai makhluk sosial juga menjadi objek dari sosiologi. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan manusia, mempelajari manusia di dalam hidup bermasyarakatnya. Karena itu baik psikologi maupun sosiologi yang membicarakan manusia, tidaklah mengherankan kalau pada suatu waktu adanya titik-titik pertemuan dalam meninjau manusia, misalnya soal tingkah laku. Tinjauan sosiologi yang penting adalah hidup bermasyarakatnya, sedangkan tinjauan psikologinya yakni tingkah laku sebagai manifestasi hidup kejiwaan, yang didorong oleh motif tertentu hingga manusia itu bertingkah laku atau berbuat.

c. Hubungan Psikologi dengan Fillsafat 
Manusia sebagai makhluk hidup juga merupakan objek dari filsafat yang antara lain membicarakan soal hakikat kodrat manusia, tujuan hidup manusia dan sebagainya. Sekalipun psikologi pada akhirnya memisahkan diri dari filsafat, karena metode yang ditempuh sebagai satah satu sebabnya, tetapi psikologi masih tetap mempunyai hubungan dengan filsafat. Bahkan sebetulnya dapat dikemukakan bahwa ilmu-ilmu yang telah memisahkan diri dari filsafat itu pun tetap masih ada hubungan dengan filsafat terutama mengenai hal-hal yang menyangkut sifat hakikat serta tujuan dari ilmu pengetahuan itu.
d. Hubungan Psikologi dengan Ilmu Pengetahuan Alam 
Itmu pengetahuan alam mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan psikologi. Dengan memisahkan dirt dari filsafat, ilmu pengetahuan alam mengalami kemajuan yang cukup cepat, sehingga ilmu pengetahuan alam menjadi contoh bagi perkembangan ilmu-itmu lain, termasuk psikologi, khususnya metode ilmu pengetahuan alam, yang mempengaruhi perkembangan metode dalam psikologi. Karenanya, beberapa ahli beranggapan bahwa kalau psikologi ingin mendapatkan kemajuan, maka is harus mengikuti cara kerja yang ditempuh oleh itmu pengetahuan alam. Apa yang ditempuh oleh Weber, Fechner, Wundt sangat dipengaruhi oleh metode yang digunakan dalam lapangan ilmu pengetahuan alam. Metode yang ditempuh oleh Fechner yang dikenat dengan metode psikofisik, suatu metode yang tertua dalam lapangan psikotogi eksperimental, yang banyak dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan (Woodworth, 1951). Pada kenyataannya, karena pengaruh ilmu pengetahuan alam, psikologi mendapatkan kemajuan yang cukup cepat, sehingga psikologi akhirnya dapat diakui sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri tertepas dari filsafat; walaupun akhirnya ternyata bahwa metode ilmu pengetahuan alam kurang mungkin digunakan seluruhnya terhadap psikologi karena adanya perbedaan dalam objeknya. Ilmu pengetahuan alam berobjekkan benda-benda mati, sedangkan psikologi berobjekkan manusia yang hidup, sebagai makhluk yang dinamis, makhluk yang berbudaya, makhluk yang berkembang dan dapat berubah setiap saat.

Seperti telah dikemukakan di atas, psikologi mempunyai hubungan antara lain dengan biologi sosiologi, filsafat, ilmu pengetahuan atam, tetapi ini tidak berarti bahwa psikologi tidak mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu lain di luar ilmu-ilmu tersebut. Justru karena psikologi menyelidiki dan mempelajari manusia sebagai makhluk yang bersegi banyak dan bersifat kompleks, maka psikologi harus bekerja sama dengan ilmu-ilmu lain. Tetapi sebaliknya setiap cabang ilmu yang berhubungan dengan manusia akan kurang sempurna bila tidak mengambit petajaran dari psikologi. Dengan demikian, akan terdapat hubungan timbal balik. 

Wednesday, 16 December 2015

Bagaimana letak psikologi dalam sistematika ilmu? Untuk meninjau ini secara mendalam dapat dipelajari dalam sejarah psikologi. Tetapi datam kesempatan ini bukan bermaksud untuk mengemukakan tentang sejarah psikologi, namun hanya untuk sekedar memberikan gambaran sekilas tentang perkembangan psikologi.
Ditinjau secara historis, dapat dikemukakan bahwa ilmu yang tertua adalah ilmu filsafat. Ilmu-ilmu yang lain tergabung dalam filsafat, dan filsafat merupakan satu-satunya ilmu pada waktu itu. Karena itu, ilmu-ilmu yang tergabung dalam filsafat akan dipengaruhi oleh sifat-sifat dari filsafat. Demikian pula halnya dengan psikologi.
Tetapi lama kelamaan disadari bahwa filsafat sebagai satu-satunya ilmu kurang dapat memenuhi kebutuhan  manusia. Disadari bahwa hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan tidak cukup lagi hanya diterangkan dengan filsafat. Dengan demikian, maka kemudian ilmu pengetahuan alam misalnya memisahkan diri dari filsafat, dan berdiri sendiri sebagai ilmu yang mandiri (Marx, 1976). Hal ini disebabkan karena ilmu pengetahuan alam membutuhkan hal-hal yang bersifat objektif, yang bersifat positif, dan ini tidak dapat dicapai dengan menggunakan filsafat. Demikianlah maka kemudian ilmu-ilmu yang lain juga memisahkan diri dari filsafat termasuk puta psikologi. Psikologi yang mula-mula tergabung dalam filsafat, akhirnya memisahkan diri dan berdiri sendiri sebagai ilmu yang mandiri. Hat ini adalah jasa dari Wilhelm Wundt yang mendirikan laboratorium psikologi yang pertama-tama pada tahun 1879 untuk menyelidiki peristiwa.-peristiwa kejiwaan secara eksperimental.


Wundt sebenarnya bukan seorang ahli dalam bidang psikologi melainkan seorang fisiolog, akan tetapi beliau mempunyai pandangan bahwa fisiologi dapat dipandang sebagai ilmu pembantu dari psikologi, dan psikologi haruslah berdiri sendiri sebagai suatu ilmu pengetahuan yang tidak tergabung atau tergantung kepada yang lain. Di datam laboratoriumnya, Wundt mengadakan eksperimen-eksperimen dalam rangka penyelidikan-penyelidikannya, sehingga beliau dipandang sebagai bapak dari psikologi eksperimental. Tetapi ini tidak berarti bahwa baru pada Wundtlah dimulai eksperimen-eksperimen, sebab telah ada ahli-ahli lain yang merintisnya antara lain Fechner dan Helmholtz. Namun demikian, baru pada Wundtlah penyelidikan dilakukan secara laboratorium eksperimental yang lebih intensif dan sistematis. Laboratorium Wundt kemudian menjadi pusat penyelidikan dari banyak ahli untuk mengadakan eksperimen-eksperimen antara lain Kraeplin, Kulpe, Meumann, Marbe. Dengan perkembangan .ini, maka berubahlah psikologi yang tadinya bersifat filosofis menjadi psikologi yang bersifat empiris. Kalau mula-mula psikologi mendasarkan diri atas renungan-renungan, atas spekulasi, maka psikologi kemudian mendasarkan atas hat-hat yang objektif, hal-hal yang positif, dan kemudian makin berkembanglah psikologi empiris itu. Perkembangan itmu fisika (physical science) dan ilmu kimia (chemistry) mempengaruhi tirnbulnya ilmu biologi (biological science). Salah satu dari ilmu biologi adalah ilmu tingkah laku (behavioral science). Dalam kaitan ini, maka psikologi merupakan salah satu yang termasuk dalam ilmu tingkah laku, di samping antropologi dan sosiologi (Marx, 1976). Dengan demikian, maka akan jelas bahwa psikologi sebagai suatu ilmu, dan merupakan ilmu tentang tingkah laku dan juga ilmu yang berdiri sendiri, yang tidak tergabung datam ilmu-ilmu yang lain. 
Psikologi adalah sebuah bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan yang mempelajari perilaku dan fungsi mental manusia secara ilmiah. Para praktisi dalam bidang psikologi disebut para psikolog. Para psikolog berusaha mempelajari peran fungsi mental dalam perilaku individu maupun kelompok. Selain itu, mereka juga mempelajari tentang proses fisiologis dan neurobiologis yang mendasari perilaku.
Ditinjau dari segi ilmu bahasa, perkataan psikologiini berasal dari perkataan psyche yang diartikan jiwa dan perkataan logos yang berarti ilmu atau ilmu pengetahuan. Karena itu, perkataan psikologi sering diartikan atau diterjemahkan sebagai ilmu pengetahuan'tentang jiwa atau disingkat dengan ilmu jiwa.
Namun demikian, ada beberapa ahli yang kurang sependapat bahwa pengertian psikologi itu benar-benar sama dengan ilmu jiwa, walaupun ditinjau dari arti katanya, kedua istilah itu adalah sama. Hal itu seperti yang dikemukakan oleh Gerungan sebagai berikut:
Arti kata kedua istilah tersebut menurut isinya sebenarnya sama, sebab kata psikologi itu mengandung kata psyche, yang dalam bahasa Yunani berarti jiwa dan kata logos yang dapat diterjemahkan dengan kata 'ilmu', sehingga istilah jiwa' itu semata-mata merupakan terjemahan dart istilah 'psikologi'. Walaupun demikian, kami mempergunakan kedua istilah dengan berganti-ganti dan dengan kesadaran adanya perbedaan yang jelas dalam artinya, yakni:
1. Ilmu jiwa merupakan istilah bahasa Indonesia sehari-hari dan yang dikenal tiap-tiap orang, sehingga kami pun menggunakannya: dalam artinya yang luas dan telah lazim dipahami orang. Sedangkan kata psikologi itu merupakan suatu istilah ilmu pengetahuan suatu istitah yang 'scientific, sehingga kami pergunakan untuk menunjukkan kepada pengetahuan ilmu jiwa yang bercorak ilmiah tertentu.
2. Itmu jiwa kami pergunakan dalam arti yang lebih luas daripada istitah psikologi. Itmu jiwa meliputi segala pemikiran, pengetahuan, tanggapan, tetapi juga segala khayalan dan spekutasi mengenai jiwa  itu. Psikologi meliputi itmu pengetahuan mengenai jiwa yang diperoleh secara sistematis dengan metode-metode ilmiah yang memenuhi syarat-syaratnya yang dimufakati sarjana-sarjana psikologi pada zaman sekarang ini. Istilah ilmu jiwa menunjukkan kepada ilmu jiwa pada umumnya, sedangkan istilah psikologi menunjukkan ilmu jiwa yang ilmiah menurut norma-norma ilmiah modern.
Dengan demikian, jelastah bahwa apa raja yang kami sebut sebagai ilmu jiwa itu betum tentu disebut 'psikologi, tetapi psikologi itu senantiasa merupakan "ilmu jiwa" (Gerungan, 1966: 6).
Dengan contoh sekelumit ini, menurut pandangan Gerungan, ada segi-segi perbedaan antara ilmu jiwa dengan psikologi. Psikologi merupakan ilmu jiwa yang ilmiah atau yang scientific.
Karena itu, mempelajari psikologi harus dilakukan dari sudut ilmu sebagai suatu science atau sebagai suatu ilmu. Hal ini juga dikemukakan oleh Sartain dkk (1967: 3), "Kebanyakan orang saat ini menganggap ilmu psikologi sebagai sebuah sains".
Psikologi sebagai suatu ilmu, psikologi juga mempunyai tugas-tugas atau fungsi-fungsi tertentu seperti ilmu-ilmu pada umumnya. Adapun tugas psikologi adalah:
1. Mengadakan deskripsi; yaitu tugas untuk menggambarkan secara jelas hal-hal yang dipersoalkan atau dibicarakan.
2. Menerangkan; yaitu tugas untuk menerangkan keadaan atau kondisi-kondisi yang mendasari terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut.
3. Menyusun teori; yaitu tugas mencari dan merumuskan hukum-hukum atau ketentuan-ketentuan mengenai hubungan antara peristiwa satu dengan peristiwa lain atau kondisi satu dengan kondisi lain.
4. Prediksi; yaitu tugas untuk membuat ramalan (prediksi) atau estimasi mengenai hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi atau gejala-gejala yang akan muncuL
5. Pengendalian; yaitu tugas untuk mengendalikan atau mengatur peristiwa-peristiwa atau gejala.
Demikianlah tugas-tugas dari ilmu pada umumnya, tidak terkecuali mengenai psikologi. Seperti telah dipaparkan di atas, karena psikologi merupakan suatu ilmu, maka dengan sendirinya psikologi juga mempunyai ciri-ciri atau sifat-sifat seperti ilmu-ilmu yang lain, selain tersebut di atas.
Berkaitan dengan hal tersebut psikologi mempunyai:
1. Objek tertentu.
2. Metode pendekatan atau penelitian tertentu.
3. Sistematika yang teratur sebagai hasil pendekatan terhadap objeknya.
4. Mempunyai riwayat atau sejarah tertentu.
Psikologi sebagai suatu ilmu, tidak lepas dari segi perkembangan dari psikologi itu sendiri serta ilmu-ilmu yang lain. Dari waktu ke waktu psikologi sebagai suatu ilmu akan mengalami perkembangan, sesuai dengan perkembangan keadaan. Oleh karena itu, psikologi sebagai suatu ilmu mempunyai sejarah tersendiri, hingga merupakan psikologi dalam bentuk yang sekarang ini. Dari pemikiran para ahli yang mungkin sating mempunyai pandangan yang berbeda akan memacu perkembangan dari psikologi itu.
Karena yang mengadakan pendekatan dalam penyelidikan itu adalah manusia, yang mempunyai sifat-sifat yang sama dan jugs mempunyai sifat-sifat berbeda, maka para ahli dalam mengadakan peninjauan terhadap objek atau masalah besar kemungkinannya akan terdapat perbedaan pula. Perbedaan dalam segi pandangan itulah yang akan membawa perbedaan dalam segi orientasi terhadap masalah yang dihadapi. lnilah yang menyebabkan adanya perbedaan segi pandangan dari seorang ahli dengan ahli-ahli yang lain.
Perbedaan pandangan bukanlah merupakan hal yang baru dalam lapangan ilmu tebih-lebih dalam lapangan ilmu sosial. Masing-masing ahli mempunyai sudut pandangan sendiri-sendiri mana yang dianggap penting, sehingga akan berbeda dalam meletakkan titik beratnya.

Perbedaan pandangan ini mungkin karena perbedaan bidang studi ataupun metode yang digunakan dalam pendekatan masalah. Ini akan jelas apabila ditihat tentang batasan apakah yang dimaksud dengan psikologi itu.
Karena psikologi itu merupakan ilmu mengenai jiwa, maka persoatan yang pertama-tama timbut adalah apakah yang dimaksud dengan jiwa itu. Untuk memberikan jawaban atas pertanyaan ini bukantah merupakan hal yang mudah seperti diperkirakan banyak orang.
Jiwa sebagai kekuatan hidup atau sebabnya hidup telah dikemukakan oleh Aristotetes, yang memandang itmu jiwa sebagai itmu yang mempetajari gejata-gejala kehidupan. Jiwa merupakan unsur kehidupan, karena itu tiap-tiap makhluk hidup mempunyai jiwa. Jadi, baik manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan, menurut pendapat Aristoteles, adalah berjiwa atau beranima. Karena itu maka terdapatlah 3 macam anima, yaitu:
1) Anima vegetativa, yaitu anima atau jiwa yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan, yang mempunyai kemampuan untuk makan-minum dan berkembang biak.
2) Anima sentitiva, yaitu anima atau jiwa yang terdapat pada katangan hewan yang di samping mempunyai kemampuan-kemampuan seperti pada anima vegetativa juga mempunyai kemampuan-kemampuan untuk berpindah tempat, mempunyai nafsu, dapat mengamati, dan dapat menyimpan pengalaman-pengatamannya.
3) Anima intelektiva, yaitu yang terdapat pada manusia, setain mempunyai kemampuan-kemampuan seperti yang terdapat pada lapangan hewan masih mempunyai kemampuan lain yaitu berpikir dan berkemauan. (Bigot, Kohstamm, Palland, 1950).
Menurut pandangan Aristoteles, anima yang lebih tinggi mencakup sifat-sifat atau kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh anima yang lebih rendah. Anima intelektiva merupakan tingkatan anima yang paling tinggi, sedangkan anima vegetativa merupakan anima yang terendah. Pengertian jiwa atau psyche sebagai unsur kehidupan (the principle of life) juga dikemukan oleh Dreyer (1960). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengertian jiwa itu adalah sebagai unsur kehidupan yang oleh Ki Hadjar Dewantara dibatasi pada unsur kehidupan pada manusia.
Lalu apa yang dimaksud dengan psikologi itu? Untuk memberikan jawaban ini, dikemukakan beberapa pendapat dari para ahli yang menunjukkan adanya pandangan yang berbeda seperti telah dipaparkan di atas. Menurut Wundt, psikologi merupakan ilmu tentang kesadaran manusia (the science of human consciousness). Para ahli psikologi akan mempelajari proses-prOses elementer dari kesadaran manusia itu. Dari batasan ini, dapat dikemukakan bahwa keadaan jiwa direfleksikan dalam kesadaran manusia. Unsur kesadaran merupakan hal yang dipelajari dalam psikologi itu.
Di samping itu, Woodworth dan Marquis (1957) mengajukan pendapat bahwa yang dimaksud dengan psikologi itu merupakan itmu tentang aktivitas-aktivitas individu. Secara lengkap dikemukakan: Psikologi dapat didefinisikan sebagai sains aktivitas individu.. Kata "aktivitas" digunakan di sini dalam pengertian yang luas. lni mencakup tidak hanya aktivitas motor seperti berjalan dan berbicara, namun juga aktivitas kognitif (pemerolehan pengetahuan) seperti melihat, mendengar, mengingat, dan berpikir, dan aktivitas emosional seperti tertawa dan menangis, dan merasakan dan sedih. (Woodworth dan Marquis, 1957: 3).
Dari apa yang dikemukakan oleh Woodworth dan Marquis tersebut jelas memberikan gambaran bahwa psikologi itu mempelajari aktivitas-aktivitas individu, pengertian aktivitas dalam arti yang luas, baik aktivitas motorik, kognitif, maupun emosional. Kalau pada Wundt digunakan pengertian kesadaran, maka pada Woodworth dan Marquis digunakan aktivitas-aktivitas. Namun keduanya baik kesadaran maupun aktivitas-aktivitas, hal tersebut menggambarkan tentang refleksi dari kehidupan kejiwaan.
Menurut Branca [1964) dalam bukunya yang berjudul Psychology: The Science of Behavior, jelaslah bahwa yang dimaksud dengan psikologi itu merupakan ilmu tentang tingkah laku. Dalam paparannya dikemukakan: Ketika kepentingan manusia berubah menjadi tindakan manusia, dan ketika kepentingan berbentuk penyelidikan akurat, deskripsi yang tepat, dan kajian eksperimental tentang manusia, ilmu psikologi muncul. (Branca, 1964:2).
Selanjutnya dalam  bagian lain Branca mengemukakan "Psikologi umum adalah inti dari kajian perilaku manusia". Dari apa yang dikemukakan oleh Branca tersebut dapat ditarik pendapat bahwa psikologi merupakan ilmu tentang tingkah laku, dan dalam hal ini, adalah menyangkut tingkah laku manusia. Namun demikian, ini bukan berarti bahwa tingkah laku hewan tidak dikemukakan. Hal ini tergambar dalam bagian-bagian yang mengemukakan tentang penelitian-penelitian yang ditakukan dalam lapangan hewan.
Senada dengan yang dikemukakan oleh Branca dikemukakan pula oleh Morgan dkk. (1984: 4) yang menyatakan bahwa "Psikologi adalah ilmu tentang perilaku manusia dan hewan", namun penerapan dari ilmu itu lebih pada manusia. Demikian pula yang dikemukakan oleh Sartain dkk. (1967: 19) yang menyatakan bahwa psikologi itu merupakan sains perilaku manusia (the science of human behavior). Tetapi para ahli psikologi juga mempelajari tingkah laku hewan, dan dari hasil penelitian tersebut mungkin dapat berguna untuk mengerti tentang keadaan manusia. Bila ditelaah pendapat dari Woodworth dan Marquis, Branca, Morgan dkk., dan Sartain dkk. kiranya menunjukkan keadaan yang senada. Namun demikian, contoh-contoh tersebut di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa para ahli itu tidak mempunyai kata sepakat yang seratus persen sama satu dengan yang lainnya, seperti telah dikemukakan oleh Dreyer tersebut di atas.

Seperti telah dikemukakan di atas psikologi itu merupakan ilmu yang membicarakan tentang jiwa. Akan tetapi, karena jiwa itu sendiri tidak nampak, maka yang dapat dilihat atau dapat diobservasi adalah tingkah laku atau aktivitas-aktivitas yang merupakan manifestasi atau penjelmaan kehidupan jiwa itu. Hal ini dapat dilihat dalam tingkah laku maupun aktivitas-aktivitas yang lain. Karena itu psikologi merupakan suatu ilmu yang menyelidiki serta mempelajari tentang tingkah laku atau aktivitas-aktivitas, di mana tingkah laku serta aktivitas-aktivitas itu sebagai manifestasi hidup kejiwaan. Tingkah laku atau aktivitas-aktivitas di sini adalah dalam pengertian yang luas, yaitu meliputi tingkah laku yang menampak (overt behavior) dan juga tingkah laku yang tidak menampak (innett behavior), atau kalau yang dikemukakan oleh Wood-worth dan Marquis adalah baik aktivitas motorik, aktivitas kognitif, maupun aktivitas emosional.

Sunday, 13 December 2015

Dengan pertanyaan tersebut penulis ingin mengemukakan bagai-mana korelasi antara intelijensi seseorang dengan kehidupannya. Dalam kenyataan sebenarnya sulit untuk menentukannya. Me-mang kecerdasan/intelijensi seseorang memainkan peranan yang penting dalam kehidupannya. Akan tetapi kehidupan adalah sangat kompleks. Intelijensi bukan satu-satunya faktor yang me-nentukan sukses tidaknya kehidupan seseorang. Banyak lagi faktor yang lain.
Faktor kesehatan dan ada tidaknya kesempatan, tidak dapat kita abaikan. Orang yang sakit-sakitan saja meskipun intelijensinya tinggi dapat gagal dalam usaha mengembangkan dirinya dalam kehidupannya. Demikian pula meskipun cerdas jika tidak ada kesempatan mengembangkan dirinya dapat gagal pula.
Juga watak (pribadi) seseorang sangat berpengaruh dan turut menentukan. Banyak di antara orang-orang yang sebenarnya me-miliki intelijensi yang cukup tinggi, tetapi tidak mendapat kemaju-an dalam kehidupannya. Ini disebabkan/karena misalnya, ke-kurang-mampuan bergaul dengan orang-orang lain dalam masyara-kat, atau kurang memiliki cita-cita yang tinggi, sehingga tidak/ kurang adanya usaha untuk mencapainya.

Sebaliknya, ada pula seorang yang sebenarnya memiliki inteli-jensi yang sedang saja, dapat lebih maju dan mendapat kehidup-an yang lebih layak berkat ketekunan dan keuletannya dan tidak banyak faktor-faktor yang mengganggu atau yang merintanginya. Akan tetapi intelijensi yang rendah menghambat pula usaha se-seorang untuk maju dan berkembang, meskipun orang itu ulet dan bertekun dalam usahanya.
Sebagai kesimpulan dapat kita katakan: 
Kecerdasan atau intelijensi seseorang memberi kemungkinan bergerak dan berkembang dalam bidang tertentu dalam kehidupannya. Sampai di mana kemungkinan tadi dapat direalisasikan, tergantung pula kepada kehendak dan pribadi serta kesempatan yang ada.

Jelaslah sekarang bahwa tidak terdapat korelasi yang tetap. antara tingkatan intelijensi dengan tingkat kehidupan seseorang. Dari hasil-hasil penyelidikan yang dilakukan ahli antropologi dan psikologi, juga masih disangsikan adanya korelasi yang tetap antara bentuk/berat otak dengan intelijensi, antara bentuk tubuh dengan dasar kejahatan dan antara intelijensi dengan kemiskinan.
Tes Intelijensi
Dapatkah intelijensi atau kecerdasan itu diukur? Bagaimana kita dapat menentukan cerdas tidaknya seseorang? Salah satu cara ialah dengan menggunakan tes yang disebut: Tes Intelijensi.
Orang yang berjasa menemukan tes intelijensi pertama kali ialah seorang dokter bangsa Perancis: Alfred Binet dan pembantu-nya Simon. Sehingga tesnya terkenal dengan nama Tes Binet-Simon. Seri tes dari Binet Simon ini, pertama kali diumumkan antara 1908-1911 yang diberi nama: "Chelle matrique de l'inte-ligence" atau Skala Pengukur Kecerdasan. Tes Biner-Simon terdiri dari sekumpulan pertanyaan-pertanyaan yang telah dikelompok-kelompokkan menurut umur (untuk anak-anak umur 3-15 tahun). Pertanyaan-pertanyaan itu sengaja dibuat mengenai segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan pelajaran di sekolah. (Mengapa?) Seperti:
·         Mengulang kalimat-kalimat yang pendek atau panjang,
·         Mengulang deretan angka-angka,
·         Memperbandingkan berat timbangan,
·         Menceriterakan isi gambar-gambar,
·         Menyebutkan nama bermacam-macam warna.
·         Menyebut harga mata uang, - dan sebagainya.
Dengan tes semacam inilah usia kecerdasan seseorang diukur/ ditentukan. Dari basil tes itu ternyata tidak tentu bahwa usia kecerdasan itu sama dengan usia sebenarnya (usia kalender). Se-hingga dengan demikian kita dapat melihat adanya perbedaan-perbedaan I.Q. (Inteligentie Quotient) pada tiap-tiap orang/ anak.
Tes Binet-Simon ini kemudian terkenal ke mana-mana. Di Jerman, di Inggris, dan terutama di Amerika, tes tersebut banyak digunakan dan diperbaharui/dikembangkan sesuai dengan ke-butuhan dan keadaan daerah masing-masing. Orang yang ter-kenal dalam mengembangkan tes intelijensi ini antara lain Bober-tag (Jerman), Weahler (Inggris), dan Terman (Amerika).
Dewasa ini perkembangan tes itu telah demikian majunya sehingga sekarang terdapat beratus-ratus macam tes, baik yang berupa tes verbal maupun non-verbal. Juga di negeri kita sudah mulai banyak dipergunakan tes-tes (pada umumnya masih me-rupakan saduran teS luar negeri) dalam lapangan pendidikan mau-pun dalam memilih jabatan-jabatan tertentu.
Untuk lebih mengetahui dan memperdalam tes itu dibutuh-kan suatu studi yang khusus. Sesuai dengan maksud buku ini, hal itu tidak akan dibicarakan lebih lanjut.
Hasil-hasil Penyelidikan Intelijensi
Dari hasil penyelidikan intelijensi yang dilakukan oleh para ahli psikologi, didapat beberapa kesimpulan yang sangat penting bagi pendidikan dan pengajaran:
a. Mungkin ada benarnya, pendapat yang mengatakan intelijensi itu bergantung kepada dasar dan keturunan (hereditas); tetapi dengan arti bahwa tiap orang karena hereditasnya mem-punyai batas kecerdasan yang tidak dapat dilampaui, bagai-manapun baiknya pendidikan.
b. Tercapai atau tidaknya batas kecerdasan atau batas kemampu-an pikiran seseorang dipengaruhi pula oleh faktor-faktor dari luar. Pertumbuhan jiwa tidak hanya terjadi dengan sendirinya karena kekuatan dari dalam saja, tetapi juga karena kekuatan dari luar, antara lain pendidikan dan pengajaran yang baik.
c. Adanya kekuatan tumbuh dari dalam itu harus kita akui, tiap-tiap anak mengalami perkembangan dalam pertumbuh-an intelijensinya. Artinya: pengertian bertambah dan akhir-nya dapat mtmakai pengertian itu sebagai alat berpikir. Te-tapi pertumbuhan jiwa anak itu berlain-lainan; ada yang cepat, ada yang lambat dan ada yang sedang saja.

d. Mendapatkan sendiri suatu paham yang baru adalah jauh lebih sukar daripada pemahaman pendapat-pendapat orang lain yang sudah ada. Dengan kata lain: Pada umumnya manu-sia lebih banyak dan lebih mudah menggunakan intelijensi eksekutif (kemampuan mengikuti pikiran orang lain) daripada intelijensi kreatif atau intelijensi inventifnya.
Powered by Blogger.

Apakah ilmu yang ada di blog ini bermanfaat ?

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget