Tuesday, 12 January 2016

Community development menggambarkan makna yang penting dari dua konsep:  yaitu, community, bermakna kualitas hubungan sosial; dan development, perubahan ke arah kemajuan yang terencana dan bersifat gradual.
Community development is a movement designed to promote better living for the whole community with the active participation and on the initiative of the community”.
CD = mengembangkan atau menaikkan  kualitas hidup suatu masyarakat
CD = “proses swadaya masyarakat digabungkan dengan usaha-usaha  pemerintah setempat guna meningkatkan kondisi masyarakat di bidang sosial, ekonomi, dan kultural, serta untuk mengintegrasikan masyarakat”

Pengembangan masyarakat:
Suatu metode atau pendekatan pembangunan yang menekankan adanya partisipasi dan keterlibatan langsung penduduk dalam proses pembangunan, dimana semua usaha swadaya masyarakat disinergikan dengan usaha-usaha pemerintah setempat dan stakeholders lainnya untuk meningkatkan taraf hidup, dengan sebesar mungkin ketergantungan pada inisiatif penduduk sendiri, serta pelayanan teknis sehingga proses pembangunan berjalan efektif  
Langkah-langkah:
Advokasi: upaya untuk mengubah atau mempengaruhi perilaku penentu kebijaksanaan agar berpihak pada kepentingan publik melalui penyampaian pesan-pesan yang didasarkan pada argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, legal, dan moral. Melalui kegiatan advokasi dilakukan identifikasi dan pelibatkan semua sektor di berbagai level untuk mendukung program.
Pengorganisasian komunitas: Agar masyarakat mempunyai arena untuk mendiskusikan dan mengambil keputusan atas masalah di sekitarnya.  Bila terorganisir, masyarakat juga akan mampu menemukan sumberdaya yang dapat mereka manfaatkan.  Biasanya, dalam pengembangan masyarakat, dibentuk kelompok kelompok sebagai wadah refleksi dan aksi bersama anggota komunitas.  Pengorganisasian ini bisa dibentuk berjenjang: di tingkat komunitas, antar komunitas di Tingkat desa, antar desa di tingkat kecamatan dan seterusnya sampai ke tingkat nasional bahkan regional.
Pengembangan jaringan: Menjalin kerjasama dengan pihak lain (individu, kelompok, dan atau organisasi) agar bersama-sama saling mendukung untuk mencapai tujuan. Jaringan dan saling percaya (trust) merupakan salah satu unsur penting dari kapital sosial, sehingga menjadi komponen penting dalam pengembangan masyarakat. Pada komunitas yang mempunyai jaringan yang baik, sumber daya yang ada pada seluruh kompenen komunitas dan komponen lain yang terbangun dalam jaringan akan dapat dimanfaatkan bersama-sama.
Pengembangan kapasitas : Meningkatkan kemampuan masyarakat di segala bidang (termasuk untuk advokasi, mengorganisir diri sendiri, dan mengembangkan jaringan).  Sumpeno,  mengartikan pengembangan kapasitas sebagai peningkatan atau perubahan perilaku individu, organisasi, dan sistem masyarakat dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.  Peningkatan kemampuan individu mencakup perubahan dalam hal pengetahuan, sikap, dan keterampilan; peningkatan kemampuan kelembagaan meliputi perbaikan organisasi dan manajemen, keuangan, dan budaya organisasi; peningkatan kemampuan masyarakat mencakup kemandirian, keswadayaan, dan kemampuan mengantisipasi perubahan.
Komunikasi, Informasi, Edukasi: Proses pengelolaan informasi, pendidikan masyarakat, dan penyebaran informasi untuk mendukung keempat komponen di atas. Pengelolaan informasi juga menyangkut mencari dan mendokumentasikan informasi agar informasi  selalu tersedia bagi masyarakat yang memerlukannya. Kegiatan edukasi perlu dilakukan agar kemampuan masyarakat dalam segala hal meningkat, sehingga masyarakat  mampu mengatasi masalahnya sendiri setiap saat. Untuk mendukung proses komunikasi, berbagai media komunikasi (modern – tradisional; massa –individu – kelompok) perlu dimanfaatkan dengan kreatif.
Perubahan paradigm dalam pembangunan:
  • Sentralisasi VS Desentralisasi 
  • Unsustainable VS Sustainable 
  • Mobilisasi VS Partisipasi 
  • Penaklukan VS Pemberdayaan  
  • Eksploitasi VS Pelestarian 
  • Hubungan Fungsional VS Jejaring Sosial  
  • Nasional  VS Teritorial  Ekonomi 
  • Konvensional VS Keswadayaan Lokal  
1.      “PEMBANGUNAN BERBASIS MASYARAKAT” (COMMUNITY BASED DEVELOPMENT)
Asumsi tentang Masyarakat (Community): Berangkat dari pandangan bahwa masyarakat terbelakang, pengetahuannya rendah, tradisional dan bodoh.Untuk memajukan mereka diperlukan pengetahuan dari luar. Pandangan Baru: Masyarakat dibangun bukan karena mereka bodoh dan tidak mampu, akan tetapi kemampuan yang tersedia dioptimalkan agar mereka berkembang sesuai dengan pengetahuan mereka.Pengetahuan lokal dan teknologi tepat guna sebagai basisi pengembangan mereka.
Konsekuensi Perencanaan: Perencanaan bersifat top down dan sentralitas Direncanakan oleh tenaga ahli atau akademisi tanpa mempertimbangkan apa yang dimiliki masyarakat Lebih mengutamakan perencanaan untuk pertumbuhan ekonomi. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa kemajuan masyarakat diukur menurut kemajuan ekonomi semata. Pandangan Baru: Lebih menekankan pada aspek lokalitas Perencanaan dilakukan secara otonomi, berdasarkan potensi lokalitas dengan menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi dalam perencanaan. Pemikiran otonomi lebih ditekankan dalam perencanaan kegiatan berdasarkan kebutuhan masing-masing.
Konsekuensi Perlakuan terhadap Masyarakat: Menempatkan birokrat ataupun tenaga ahli dari luar sebagai pihak yang dilayani masyarakat karena mereka dianggap telah berbuat banyak untuk kepentingan masyarakat.Pandangan Baru: Menempatkan birokrat ataupun tenaga ahli dari luar sebagai pengatur kepentingan masyarakat dan sebagai aktor yang melakukan fungsi pelayanan sesuai kebutuhan masyarakat.
Implikasi bagi Kehidupan Sosial: Menjadikan masyarakat sangat bergantung kepada pemerintah
Memendam konflik semu yang setiap saat bisa menjadi ledakan konflik kepentingan. Pandangan Baru: Sejak awal mengakomodasi daya kritis masyarakat Masyarakat mampu menolak jika terjadi tekanan atau eksploitasi dari luar yang tidak menguntungkan mereka.


DIRI
A.    Konsep Diri
Konsep diri (self-concept) merupakan kesadaran seseorang mengenai siapa dirinya. Menurut Deaux, Dane, & Wringhtsman (1993), konsep diri adalah sekumpulan keyakinan dan perasaan seseorang mengenai dirinya. Keyakinan seseorang mengenai dirinya bisa berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan, penampilan fisik, dan lain sebagainya.
B.     Pengetahuan Tentang Diri
Konsep diri pada dasarnya merupakan suatu skema, yaitu pengetahuan yang terorganisir mengenai sesuatu yang kita gunakan untuk mengintepretasikan pengalaman. Dengan demikian, konsep diri adalah skema diri (self-schema), yaitu pengetahuan tentang diri, yang mempengaruhi cara seseorang mengolah informasi dan mengambil tindakan (Vaughan & Hogg,2002). Menurut Higgins (1987), ada tiga jenis skema diri antara lain :
·         actual self , yaitu bagaimana diri kita saat ini,
·         ideal self, yaitu bagaimana diri yang kita inginkan,
·         ought self, yaitu bagaimana diri kita seharusnya.

C.     Identitas Personal dan sosial
Pengetahuan kita tentang diri bervariasi pada kontinum identitas personal dan sosial. Pada identitas personal, seseorang akan mendefinisikan dirinya berdasarkan atribut atau trait yang membedakan diri dengan orang lain dan hubungan interpersonal yang dimiliki. Sedangkan pada identitas sosial, seseorang akan mendefinisikan dirinya berdasarkan keanggotaan dalam suatu kelompok sosial atau atribut yang dimiliki bersama oleh anggota kelompok (Vaughan & Hogg, 2002).
Menurut BRewe & Gardiner (1996), tiga bentuk diri yang menjadi dasar bagi seseorang dalam mendifinisikan dirinya adalah sebagai berikut :
·         individual self, yaitu diri yang didefinisikan berdasarkan trait pribadi yang membedakan dengan orang lain,
·         relation self, yaitu diri didefinisikan berdasakan hubungan interpersonal yang dimiliki dengan orang lain,
·         collective self, yaitu diri didefinisikan berdasarkan keanggotaan dari kelompok tertentu
D.    Harga Diri
Harga diri adalah penilaian atau evaluasi secara positive atau negative terhadap diri seseorang. Setiap orang menginginkan harga diri yang positif karena :
·         harga diri yang positive membuat orang merasa nyaman dengan dirinya di tengah kepastian akan kematian yang suatu waktu akan dihadapinya,
·         harga diri yang positive membuat orang dapat mengatasi kecemasan, kesepian, dan penolakan sosial.

E.     Perbandingan Sosial
Menurut Festinger (1954), untuk mengetahui seperti apa dirinya, orang akan melakukan perbandingan dengan orang lain karena tidak adanya patokan yang objective untuk menilai. Dengan demikian, orang lain menjadi sumber informasi mengenai diri kita. Kita dapat melakukan perbandingan dengan orang lain yang lebih baik (upward social comparison) maupun yang lebih tidak baik (downward social comparison). Namun, motif dasar melakukan perbandingan dengan orang lain adalah lebih karena kita ingin memperoleh gambaran yang positive tentang diri kita, bukan karena kita ingin memperoleh gambaran yang akurat tentang diri kita (Baumeister, 1998).
F.      Presentasi Diri
Saat berinteraksi dengan orang lain, sering kali perhatian kita tertuju pada bagaiman orang akan menilai kita. Kita berusaha mengontrol bagaimana orang lain berpikir mengenai kita, sehingga kita perlu melakukan impression management, yaitu usaha untuk mengatur kesan yang orang lain tangkap mengenai kita baik secara disadari maupun tidak (Schlenker, 1980). Sebagai bagian dari impression management kita melakukan presentasi diri (self presentation) seperti yang kita inginkan dengan berbagai macam tujuan. Menurut Jones & Pittman (1982), lima strategi presentasi diri yang memiliki tujuan yang berbeda adalah sebagai berikut :
1.      Integration
Dengan tujuan agar disukai, kita menampilkan diri sebagai orang yang ingin membuat orang lain senang,
2.      self-promotion
Dengan tujuan agar dianggap kompeten, kita menampilkan diri sebagai orang yang memiliki kelebihan atau kekuatan baik dalam hal kemampuan atau trait pribadi,
3.      intimidation
Dengan tujuan agar ditakuti, kita menampilkan diri sebagai orang yang berbahaya dan manakutkan,
4.      supplication
Dengan tujuan dikasihani, kita menampilkan diri sebagai orang yang lemah dan tergantung.
5.      exemplification
Dengan tujuan dianggap memiliki integritas moral tinggi, kita menampilkan diri sebagai orang yang rela berkorban untuk orang lain.

Selain lima strategi diatas, ada strategi presentasi diri yang lain, yaitu self handicapping yang merujuk pada segala tindakan yang dilakukan agar dapat mengeksternalisasi apabila mendapat hasil negative dan menginternalisasi apabila mendapat hasil yang positive (Berglas & Jones, 1978).

Thursday, 7 January 2016

Psikologi perkembangan adalah suatu ilmu yang merupakan bagian dari psikologi. Dalam ruang lingkup psikologi, ilmu ini termasuk psikologi khusus, yaitu psikologi yang mempelajari kekhususan daripada tingkah Laku individu. Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi yang mempelajari secara sistematis perkembangan perilaku manusia secara ontogenik, yaitu mempelajari struktur jasmani, peritaku, maupun fungsi mental manusia sepanjang rentang hidupnya (life span) dari masa konsepsi hingga menjelang mati.
Kegunaan psikologi perkembangan adalah sebagai berikut:
• Dengan mempelajari psikologi, orang akan mengetahui fakta-fakta dan prinsip-prinsip mengenai tingkah laku manusia.
• Untuk memahami diri kita sendiri dengan mempelajari psikologi, sedikit banyak orang akan mengetahui kehidupan jiwanya sendiri, baik segi pengenalan, perasaan, kehendak, maupun tingkah laku lainnya.
• Dengan mengetahui jiwanya dan memahami dirinya itu, maka orang dapat menilai dirinya sendiri.
• Pengenalan dan pemahaman terhadap kehidupan jiwa sendiri merupakan bahan yang sangat penting untuk dapat memahami kehidupan jiwa orang lain.
• Dengan bekal pengetahuan psikologi jugs dapat dipakai sebagai bahan untuk menilai tingkah laku normal, sehingga kita dapat mengetahui apakah tingkah Laku seseorang itu sesuai ataukah tidak dengan tingkat kewajarannya, termasuk tingkat kenormalan tingkah laku kita sendiri.
Sedangkan pengertian psikologi perkembangan menurut para ahli, yakni:
• Menurut David G Myers (1996). Psikologi perkembangan adalah "sebuah cabang psikologi yang mengkaji perubahan fisik, kognitif, dan sosial di semua rentang kehidupan".
• Menurut Kevil L.Seifert & Robert J Hoffnung (1994). Psikologi perkembangan adalah "kajian ilmiah tentang bagaimana pemikiran, perasaan, kepribadian hubungan sosial dan keterampilan motor muncut selama seseorang tumbuh semakin dewasa".
• Menurut Linda L Daidoff (1991). Psikologi perkembangan adalah cabang psikotogi yang mempelajari perubahan dan perkembangan struktur jasmani, perilaku, dan fungsi mental nianusia yang dimulai sejak terbentuknya makhluk itu melatui pembuahan hingga menjelang mati.
• Menurut M Lenner (1976). Psikologi perkembangan sebagai pengetahuan yang mempelajari persamaan dan perbedaan fungsi-fungsi psikologis sepanjang hidup (mempelajari bagaimana proses berpikir pada anak-anak, memiliki persamaan dan perbedaan, dan bagaimana kepribadian seseorang berubah dan berkembang dari anak-anak, remaja, sampai dewasa).
• Menurut International Encyclopedia, "psikotogi perkembangan adalah suatu cabang dari psikologi yang mengetengahkan pembahasan tentang perilaku anak secara historis yang titik berat pembahasannya adalah pada penganalisaan elemen-elemen perilaku anak yang dimungkinkan akan menjadi syarat terbentuknya perilaku dewasa yang kompteks.
• Menurut Good dalam Dictionary Of Education, "psikologi perkembangan adalah cabang psikotogi yang berhubungan dengan rangkaian tahapan perilaku progresif yang bersifat filogenetis dan ontogenetis, dan mencakup fase pertumbuhan dan penurunan, yang lebih tuas maknanya daripada psikotogi genetis, meskipun istitah itu sering digunakan secara bergantian".
• Menurut Prof. Dr. F.J. Monks, Prof.Dr. A.M.P. Kenoers, dan Prof. Dr Siti Rahayu Haditoro, psikologi perkembangan adatah suatu itmu yang lebih mempersoalkan faktor-faktor umum yang mempengaruhi proses perkembangan yang terjadi dalam diri pribadi seseorang, dengan menitikberatkan pada relasi antara kepribadian dan perkembangan.
• Menurut Dra. Kartini Kartono, psikotogi perkembangan adatah suatu ilmu yang mempelajari tingkah taku manusia yang dimutai pada periode masa bayi, anak pemain, anak sekotah, masa remaja, sampai periode adolesens menjelang dewasa.

Jadi, psikotogi perkembangan merupakan cabang dari psikotogi yang mempelajari proses perkembangan individu baik sebetum maupun setetah kelahiran berikut kematangan peritaku. Setain itu, psikotogi perkembangan merupakan cabang psikotogi yang mempelajari perubahan tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa konsepsi sampai mati.
Dalam mempelajari perkembangan manusia, kita harus membedakan dua hal, yaitu proses pematangan dan proses belajar. Selain itu masih ada hal ketiga dan keempat yang ikut menentukan perkembangan, yaitu kekhasan atau bakat dan lingkungan.

Pematangan.
Pematangan berarti proses pertumbuhan yang menyangkut penyempurnaan fungsi-fungsi tubuh secara alamiah sehingga mengakibatkan perubahan-perubahan dalam perilaku, terlepas dari ada atau tidak adanya proses belajar.

Belajar
Belajar berarti mengubah atau memperbaiki perilaku melalui latihan, pengalaman atau kontak dengan lingkungan yang disebabkan melalui latihan dan pengalaman secara relatif tidak berubah. Pada manusia, penting sekali belajar melalui kontak sosial agar manusia dapat hidup dalam masyarakat dengan struktur kebudayaan yang rumit itu.
Menurut Feldman (2003), dalam proses belajar, ada tiga hal utama yang harus dipahami, yakni:
1. Belajar adalah perubahan tingkah laku (yang buruk atau baik).
2. Melalui seperangkat latihan dan pengalaman.
3. Relatif permanen, tidak hanya muncul sesaat.


Pengondisian Klasik
Prinsip belajar yang menggunakan pemasangan stimulus netral dan stimulus yang dikondisikan.

Penerapan Pengondisian Klasik pada Tingkah Laku Manusia
Pada kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai gejala belajar dan terapannya. Salah satunya iklan. Iklan merupakan upaya mengenalkan produk kepada masyarakat sekaligus untuk membuat masyarakat mau menuruti apa yang disampaikan oleh pembuat iklan.

Pengondisian Operan
Teknik dalam pembentukan tingkah laku yang menggunakan penguatan (reinforcing) untuk menimbulkan satu respons yang diinginkan.
Menurut B.F. Skinner, setiap stimulus pada prinsipnya akan menghasilkan beberapa kemungkinan respons. Untuk mendapatkan apa yang diinginkan, maka hanya respons-respons tertentu saja yang akan diperkuat atau ketika ada respons yang tidak diinginkan, dilemahkan, yang pada akhirnya menjadikan respons tadi menjadi respons yang "dipelajari". Jadi, pengondisian operan adalah respons alami yang diperkuat atau dilemahkan, tergantung pada kondisi diterima atau ditolak.

Ganjaran Positif, Ganjaran Negatif dan Hukumannya.
Ganjaran positif adalah stimulus yang ditambahkan pada lingkungan yang kemudian meningkatkan respons awal (Feldman, 2003).
Ganjaran negatif adalah jika stimulus tertentu diangkat atau dihilangkan dan menimbulkan ketidaknyamanan sehingga memunculkan kembali respons yang diinginkan di masa yang akan datang (Feldman, 2003).
Jika seorang siswa tidak membuat tugas seperti apa yang digariskan oleh gurunya, besar kemungkinan is akan mendapat masalah. Maksud dari masalah adalah, siswa tadi akan mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari gurunya sebagai konsekuensi tingkah lakunya. Konsekuensi ini umumnya bertujuan untuk membuat pelaku sadar bahwa apa yang dilakukan bukanlah diinginkan sehingga diperlukan perlakuan khusus, perlakuan khusus inilah yang disebut hukuman, yaitu stimulus yang memungkinkan untuk mengurangi timbulnya tingkah laku yang tidak diinginkan di masa mendatang.

Penerapannya dalam Tingkah Laku
Tampaknya, dalam keseharian pelaksanaan teori betajar, pengondisian operan lebih sering dilaksanakan. lni pada dasarnya hanya menguatkan tingkah laku yang diinginkan dan mengurangi apa yang tidak diinginkan.

Sinergi Pematangan Belajar

Ada perilaku-perilaku yang ditentukan semata-mata oleh proses pematangan seperti halnya dengan berjalan, namun ada puta perilaku yang lebih dipengaruhi oleh proses betajar, misalnya, berdoa. Kemampuan bicara, misalnya, ditentukan baik oleh proses pematangan maupun oleh proses betajar.
Pendapat psikologis modern menyebutkan bahwa manusia selain merupakan makhluk biologis yang sama dengan makhluk hidup lainnya. Manusia juga yang mempunyai sifat-sifat tersendiri yang berbeda dari segala makhluk dunia lainnya. Oleh karena itu, dalam mempelajari manusia, kita harus mempunyai sudut pandang yang khusus pula. Kita tidak dapat menjadikan manusia hanya sebagai objek seperti pandangan kaum materialistis, tetapi kita juga tidak dapat mempelajari manusia hanya dari kesadarannya solo seperti pandangan kaum idealis. Manusia adalah objek yang terkadang juga merupakan subjek.
Banyak sudah sarjana yang mencoba untuk memberi definisi yang tepat tentang manusia. E. Cassierer menyatakan bahwa "manusia adalah makhluk simbolis", dan Plato merumuskan bahwa "manusia harus dipelajari bukan dalam kehidupan pribadinya", sedangkan menurut paham filsafat eksistensiatisme menyebutkan "manusia adalah makhluk eksistensi". Manusia tidak hanya ada atau berada di dunia ini, tetapi is secara aktif "mengada".
Manusia tidak semata-mata tunduk pada kodratnya dan secara pasif menerima keadaannya, tetapi is selalu secara sadar dan aktif menjadikan dirinya sesuatu. Proses perkembangan manusia sebagian ditentukan oleh Kehendaknya sendiri, berbeda dengan makhluk lainnya yang sepenuhnya tergantung pada alam. Kebutuhan untuk terus-menerus initah yang bersifat manusiawi, dan karenanya pulatah manusia bisa berkarya, bisa mengatur dunia untuk kepentingannya, sehingga timbullah kebudayaan dalam segala bentuknya itu, yang tidak terdapat pada makhluk lainnya. Bentuk-bentuk kebudayaan ini antara lain adalah sistem perekonomian, kehidupan sosial dengan norma-normanya dan kehidupan politik.
Manusia sebagai Makhluk Hidup (Ikatan Biologis)
Berbeda dengan eksistensi manusia, manusia adalah makhluk biologis yang sampai pada batas-batas tertentu terikat pada kodrat alam. Manusia membutuhkan udara untuk bernafas, dan juga membutuhkan makan dan minum untuk bertahan hidup. Untuk mengembangkan keturunannya, manusia memerlukan pula hubungan seksual, susunan syaraf, susunan tulang dan otot, peredaran darah, denyutan jantung, bekerjanya kelenjar-kelenjar, dan sebagainya, yang kesemuanya sudah diatur secara tertentu dan tidak dapat lagi diubah. Meskipun khayalan kita bisa menembus dimensi ruang dan waktu, tetapi "tubuh" kita selalu terikat pada ruang dan waktu.
Dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain, manusia adalah satu-satunya makhluk yang tidak dibekali alat-alat untuk bertahan dalam lingkungannya secara alamiah. Manusia tidak mempunyai bulu tebal untuk melawan dingin, manusia tidak dapat berlari cepat, manusia tidak dapat terbang, manusia tidak mempunyai kuku dan taring yang tajam. Semua ini menunjukkan betapa manusia sebagai makhluk biologis sangat lemah. Hanya tingkat kecerdasan yang tinggilah, yang merupakan satu-satunya modal manusia untuk tetap bertahan dalam dunia ini.

Makhluk adalah Satuan Hidup
Meskipun tiap-tiap makhluk mempunyai bagian-bagian tubuh ada yang sederhana terdiri dari satu atau dua bagian. Ada pula yang lebih sempurna terdiri dari ratusan bagian, namun bagian-bagian itu merupakan sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Tiap-tiap bagian mempunyai fungsinya sendiri-sendiri dan fungsi-fungsi itu dikoordinasikan agar makhluk yang bersangkutan mampu beradaptasi dan bertahan dalam lingkungannya. Bagian-bagian tubuh itu kalau dilepaskan dari organisasi tubuh secara keseluruhan tidak dapat tagi berfungsi. Misatnya, kaki yang terlepas dari tubuh tidak lagi berfungsi sebagai alat untuk berjalan. Pada manusia, yakni "jiwa"nya, kesadaran dan ketidaksadaran jugs termasuk dalam satuan hidup tersebut.

Sistem Energi yang Dinamis
Sebagai makhluk hidup, manusia selalu membutuhkan energi untuk mempertahankan hidupnya, untuk mengembangkan keturunan, untuk tumbuh dan untuk menyetesaikan tugas-tugasnya. Karena kebutuhan akan energi itu, manusia selalu berusaha untuk mengadakan sejumlah energi dalam tubuhnya. Jurnlah energi yang tersedia harus sesuai dengan yang diperlukan. Kalau manusia pada suatu saat demikian aktif sehingga membutuhkan energi melebihi persediaan yang ada, maka akan terjadi berbagai hambatan dalam pelaksanaan aktivitas-aktivitas tersebut.

Pertumbuhan yang Mengikut Pola Tertentu
Pertumbuhan manusia sejak dalam kandungan sudah ditentukan polanya, dan tiap-tiap set tubuh berkembang sesuai dengan jatur perkembangannya masing-masing. Semuanya mengarah pada satu tujuan untuk menjadi makhluk manusia dengan organ-organ yang tersusun secara harmonis.

Perkembangan Menjadi Makhluk Manusia
Ketika set telur dari perempuan dibuahi oteh sperma dari laki-taki, maka satu set barn yang dinamakan zigot akan dihasilkan. Setama sembilan bulan berikutnya, zigot initah yang kemudian berkembang. Tentunya tidak serta-merta zigot ini menjadi bayi. la melewati beberapa tahapan yang masing-masing membutuhkan waktu.
Memasuki minggu kedua pembuahan, akan didapati zigot yang telah memiliki 150 set padahal sebelumnya 32 set. Memasuki minggu ke tiga hingga minggu ke delapan, perkembangan ini disebut masa embrio. Adapun pada masa ini dimulai proses pembentukan organ-organ dasar tubuh. Ketika embrio berusia delapan minggu atau awal minggu ke sembilan, maka to disebut sebagai fetus. Pada masa ini, to mulai bisa merespons sentuhan. Perkembangan tainnya adatah organ-organ tubuh mutai bekerja dan saraf-saraf mutai bekerja. Usia kesiapan tahir secara prematur adatah ketika fetus berusia 24 minggu. Secara fisik, fetus memiliki berat 1,5 kg dan panjang sekitar 40 cm. Yang menarik adatah ditemukannya hasit penetitian tentang bayi-bayi yang ketika tahir lebih merespons bunyi-bunyian yang ada ketika dtbacakan dongeng saat masih di dalam rahim.
Akhirnya, setelah hidup di rahim setama 38-40 minggu, sampai bayi tahir. Rata-rata berat bayi adatah 3.500 gram dengan panjang berkisar 48-51 cm.


Pengaruh Proses Pematangan terhadap Peritaku
Perilaku manusia tidak dapat dilepaskan dari proses pematangan organ-organ tubuh. Seorang bayi, misatnya, belum dapat duduk atau berjalan kalau organ-organ tubuhnya belum cukup kuat.

Perbedaan Manusia dan Hewan
Adapun ciri-ciri perilaku manusia yang membedakannya dari hewan, yakni:
1. Kepekaan sosial. Manusia bukan saja merupakan makhluk sosial, yaitu makhtuk yang harus hidup dengan sesamanya dan selatu membutuhkan kerja sama dengan sesamanya, tetapi lebih daripada itu, manusia mempunyai kepekaan sosial. Kepekaan, sosial berarti kemampuan untuk menyesuaikan perilaku dengan harapan dan pandangan orang lain.
2. Kelangsungan hidup. Perilaku atau perbuatan manusia tidak terjadi secara sporadis, tetapi selalu ada kelangsungan antara satu perbuatan dengan perbuatan berikutnya.
3. Orientasi pada tugas. Setiap perilaku manusia setalu mengarah pada suatu tugas tertentu. Hal ini tampak jelas pada perbuatan-perbuatan seperti belajar atau bekerja, tetapi hal ini juga terdapat pada perilaku lain yang tampaknya tidak ada tujuannya.
4. Usaha perjuangan. Usaha dan perjuangan memang terjuga dapat pada makhluk lain selain manusia. Hat ini karena yang diperjuangkan adatah sesuatu yang ditentukannya sendiri dan dipilihnya sendiri. Dia tidak akan memperjuangkan sesuatu yang sejak semula memang tidak ingin diperjuangkannya.
5. Setiap Individu manusia adalah unik. Unik berarti berbeda dari yang lainnya. Jad( setiap manusia selalu mempunyai ciri-ciri dan sifat-sifat tersendiri yang membedakannya dari manusia-manusia lainnya. Tidak ada dua manusia yang sama di dunia ini. Bahkan anak kembar pun punya keunikannya masing-masing. 

Monday, 4 January 2016

Kita sering menilai orang berdasarkan penampilan pertamanya. Orang yang menampilkan kesan baik pada saat pertama kali bertemu, cenderung kita anggap baik untuk seterusnya. Bias seperti ini biasanya disebut efek halo. Kita juga cenderung menilai orang yang menampilkan kesan buruk pada saat kita pertama kali bertemu dengannya, sebagai orang yang buruk seterusnya. Bias seperti ini disebut negativitas. Kecenderungan mengandalkan penilaian terhadap orang lain pada kesan pertama merupakan bias karena penyimpulan yang kita buat tidak didasari informasi yang lengkap. lnformasi tentang seseorang yang kita peroleh pada saat pertama kali kita bertemu dengannya tidak mewakili keseluruhan pikiran dan perasaan orang tersebut.
Dalam keseharian, tidak jarang kita menilai orang dari serangkaian tindakannya yang dapat kita asosiasikan dengan sifat-sifat tertentu. Contohnya, ketika kita sedang menghadiri sebuah rapat yang sudah berlangsung lebih dari setengah jam, seorang peserta rapat yang tidak kita kenal baru datang. Ia masuk ke ruangan rapat dengan gerakan yang tampak tergesa-gesa menuju tempat duduk yang disediakan untuknya. Setelah duduk, ia membuka tasnya dan mencari sesuatu di tas tersebut. Kemudian, ia mengeluarkan beberapa barang dari tasnya untuk memasukkan kembali semua barang itu ke tasnya. Lalu, ia me rogoh sakunya dan sepertinya nienemukan apa yang ia cari. Pakaian yang dikenakannya tampak kusut dan rambutnya tidak tersisir rapi. Kita bisa saja dengan sangat mudah menilainya sebagai orang yang tidak bisa mengatur dirinya dan berantakan. Apakah penilaian kita akurat? Bisa jadi, tidak. Orang itu menampilkan tingkah laku tersebut, bisa jadi karena faktor-faktor eksternal yang tidak terhindarkan, misalnya pesawat yang ditumpangi ditunda keberangkatannya, sehingga ia tidak sempat lagi mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadiri rapat ini.
Kecenderungan untuk menempatkan faktor internal atau penyebab disposisional, cukup besar ditampilkan oleh banyak orang. Fenomena yang ditandai oleh kecenderungan kurang mempertimbangkan faktor penyebab eksernal disebut oleh Jones (1979) sebagai bias korespondensi. Penelitian Gilbert dan Malone (1995) menunj ulckan bukti-bukti dari adanya kecenderungan menunjuk faktor disposisional sebagai penyebab tamp ilnya tingkah laku, bahkan dalam situasi yang jelas penyebabnya. Kecenderungan ini muncul dari konteks yang luas dan cukup umum terjadi di berbagai situasi. Dalam psikologi sosial, bias seperti ini merujuk pada kesalahan atribusi fundamental, yaitu kecenderungan untuk memersepsikan orang lain sebagaimana yang ditampilkannya karena sifat-sifat yang dimiliki orang lain tersebut. Contohnya, orang yang menampilkan tingkah laku yang umumnya dianggap baik pada waktu tertentu, cenderung langsung dinilai sebagai orang baik, tanpa mempertimbangkan faktor-faktor eksternal yang mungkin menjadi penyebabnya.
Bias persepsi lain yang cenderung kita lakukan adalah apa yang disebut sebagai in-group bias (bias terhadap kelompok sendiri) atau in-group favoritism (favoritisme terhadap kelompok sendiri). Dengan kata lain, kita cenderung menyukai anggota-anggota kelompok kita sendiri dibandingkan anggota-anggota kelompok lain (Allen & Wilder, 1975; Billig & Tajfel, 1973; Brewer, 1979; Tajfel, 1970; Wilder, 1981). Contohnya, ketika seseorang menilai calon anggota DPR dua partai tertentu, X dan Y, yang setara dalam berbagai hal, orang tersebut cenderung memilih calon dari partai Y jika ia sendiri adalah anggota partai Y. Penilaian tersebut semata-mata karena calon dari partai 'Y sekelompok dengan orang yang menilai.

Selain itu, hal yang perlu diperhatikan adalah dalam keadaan tertentu, kita mungkin juga menampilkan bias yang bertentangan dengan anggota in-group. Hal tersebut mungkin saja terjadi ketika anggota dari kelompok sendiri bertingkah laku secara negatif; khususnya, jika is bergeser atau menyimpang dari norma kelompok. Para teoretikus percaya bahwa hal ini terkait dengan identitas sosial kita. Ketika seseorang dalam kelompok saya melakukan sesuatu yang baik, maka saya juga merasa baik tentang diri saya. Akan tetapi, jika seseorang dari kelompok saya melakukan hal yang buruk, maka saya merasa buruk. Bisa saja hal ini terjadi karena saya mengetahui bahwa orang lain akan menilai saya berdasarkan tingkah laku anggota-anggota kelompok tempat saya bergabung. Dalam keadaan tersebut, saya mungkin memperlakukan atau mengevaluasi hal-hal buruk yang dilakukan oleh anggota kelompok saya secara lebih negatif daripada hal-hal buruk serupa yang ditampilkan orang dari kelompok lain. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal dengan sebutan efek kambing hitam (black sheep effect) (Marques, Yzerbyt, & Leyens, 1988; Marques, Abrams, & Serodio, 2001; Marques, Robalo, & Rocha, 1992; Marques & Yzerbyt, 1988; Matthews & Dietz-Uhler, 1998; Coull et al., 2001).

Bias dalam persepsi sosial dapat juga terjadi karena adanya asimetri antara kelompok sendiri dan kelompok lain (in-group-out-group asymetry), yaitu orang cenderung memersepsikan kelompok sendiri dengan cara dan standar yang berbeda dengan cara dan standar memersepsikan orang lain. Lokasi serta pergerakan dari individu dan kelompok dalam lingkungan menghasilkan asimetri dan hubungan-hubungan topografis. Bentuk topografi yang menonjol adalah asimetri diri sendiri-orang lain yang diperoleh melalui pembelajaran sejak bayi. Dalam psikologi sosial, asimetri antara kelompok sendiri dan kelompok lain, penting untuk menjelaskan tentang stereotip, diskriminasi, dan hubungan antarkelompok (Pettigrew, 1986; Tajfel & Turner, 1986). Jumlah dan struktur informasi yang tersedia tentang kelompok sendiri (juga diri sendiri), berbeda dari jumlah dan struktur informasi tentang kelompok lain (juga orang lain). Asimetri ini memberi kontribusi kepada beragam jenis bias (Brewer, 1979; Zuckerman, 1979; Jones & Nisbett, 1972; Park & Rothbart, 1982; Watson, 1982; Judd & Park, 1988; Pronin, Gilovich, & Ross, 2004).
Dari pendekatan kognisi sosial, penjelasan tentang bagaimana kita mengenali dan mengerti orang lain dapat diperoleh dalam konsep tentang teori kepribadian tersirat (implicit personality theory), yaitu sebuah jenis skema yang digunakan orang untuk mengelompokkan beragam jenis sifat-sifat kepribadian. Orang menggunakan teori itu untuk membentuk kesan tentang orang lain dalam waktu cepat.
Menurut Rosenberg dan Sedlack, (1972), banyak orang berbagi teori kepribadian tersirat dalam sebuah budaya. Hoffman (1986) menemukan bahwa partisipan yang berbahasa bilingual Cina-Inggris membentuk penafsiran berbeda terhadap orang yang sama, bergantung pada apakah mereka membaca deskripsi dalam Bahasa Inggris atau Bahasa Cina. Dengan deskripsi berbahasa Inggris, kesan artistik dibangkitkan, sedang dengan deskripsi berbahasa Cina, sebuah kesan tentang Shi Gu (nama kota) dibangkitkan. Isi deskripsinya sama, hanya bahasa yang digunakan berbeda. Bahasa sebagai perwujudan dari budaya memberikan kerangka penafsiran terhadap objek-objek di dunia, juga penafsiran terhadap orang lain.

Dalam membentuk kesan, kita dapat menggunakan jalan-pintas mental. Ketika tingkah laku seseorang tampak ambigu, tidak jelas teori atau sifat apa yang akan kita gunakan untuk memersepsikan orang tersebut. Dalam keadaan tersebut, kesan bisa jadi ditentukan oleh seberapa mudah kita bisa mengakses sebuah kategori sifat kepribadian, misalnya jika kita tahu orang itu dikenal sebagai orang yang ramah, maka jika suatu kali ia tidak menegur temannya, kita memersepsikan ia tidak melihat temannya atau sedang terburu-buru. Cara ini merupakan jalan-pintas mental untuk memahami apa yang dirasakan dan dipikirkan orang.
Beberapa sifat yang pernah dipersepsikan di masa lalu, digunakan untuk memersepsikan tingkah laku saat ini. Sifat-sifat lain dapat dimunculkan melalui priming, yaitu sebuah proses mengakses sifat-sifat khusus melalui pengalaman saat ini. Higgins, dick (1977) memberi ilustrasi operasi priming dalam studi mereka. Ketika partisipan penelitian mengingat kata positif atau negatif dan kemudian membaca paragraf yang ambigu tentang karakter bernama Donald, serta membentuk kesan, maka mereka yang mengingat kata-kata positif akan membentuk kesan positif lebih banyak tentang Donald daripada partisipan yang mengingat kata-kata negatif.


Teori Atribusi dari Heider
Kajian tentang atribusi pada awalnya dilakukan oleh Heider (1925). Dalam tradisi fenomenologi, pertanyaan yang diajukan adalah bagaimana kita melakukan kontak dengan dunia nyata jika pikiran kita hanya memiliki data indrawi (kesan dan pengalaman). Psikologi gestalt mencoba untuk mengenali prinsip-prinsip yang mengatur bagaimana pikiran membuat penyimpulan tentang dunia dari data indrawi (membuat data indrawi jadi bermakna). Heider bertanya, bagaimana kita "mengatribusi data indrawi kepada objek-objek tertentu di dunia." Atribusi merupakan tindakan penafsiran; apa yang "terberi" (kesan dari data indrawi) dihubungkan kembali kepada sumber asalnya. Contoh, ketika saya mendapat kesan warna merah dari sebuah benda, maka saya menyimpulkan bahwa benda itu berwarna merah. Artinya, saya mengatribusi kesan warna merah itu pada benda yang memberi saya kesan warna merah. Contoh lain dari atribusi, ketika saya bertemu dengan seseorang yang menampilkan ekspresi wajah tidak ramah dan posisi tubuh yang terkesan berjarak dari orang lain, maka saya menyimpulkan bahwa orang itu tidak ramah. Dari sini, kita dapat mengatakan bahwa atribusi merupakan analisis kausal, yaitu penafsiran terhadap sebab-sebab dari mengapa sebuah fenomen menampilkan gejala-gejala tertentu.
Heider, yang dikenal sebagai bapak dari teori atribusi, percaya bahwa orang seperti ilmuwan amatir, berusaha untuk mengerti tingkah laku orang lain dengan mengumpulkan dan memadukan potongan-potongan informasi sampai mereka tiba pada sebuah penjelasan masuk akal tentang sebab-sebab orang lain bertingkah laku tertentu.

Dalam buku The Psychology of Interpersonal Relations, Heider (1958) menggambarkan apa yang disebutnya "naive theory of action", yaitu kerangka-kerja konseptual yang digunakan orang untuk menafsirkan, menjelaskan, dan meramalkan tingkah laku orang lain. Dalam kerangka kerja ini, konsep intensional (seperti keyakinan, hasrat, niat, keinginan untuk mencoba, dan tujuan) memainkan peranan penting. Akan tetapi, Heider juga mengadopsi teori Lewin yang membuat perbedaan antara penyebab pribadi dan situasi, serta menyatakan bahwa orang menggunakan perbedaan ini dalam menjelaskan tingkah laku. Di satu sisi, pertentangan mengenai konsep intensional dan perbedaan pribadi situasi di sisi lain, belum terselesaikan hingga saat ini. Heider tidak memperjelas hubungan keduanya dan is lebih fokus kepada perbedaan pribadi situasi pada studi selanjutnya.
Menurut Heider, ada dua sumber atribusi terhadap tingkah laku:
(1) atribusi internal atau disposisional;
(2) atribusi eksternal atau lingkungan. Pada atribusi internal kita menyimpulkan bahwa tingkah laku seseorang disebabkan oleh sifat-sifat atau disposisi (unsur psikologis yang mendahului tingkah laku). Pada atribusi eksternal kita menyimpulkan bahwa tingkah laku seseorang disebabkan oleh situasi tempat orang itu berada.
Analisis tentang bagaimana orang menyimpulkan disposisi dari tingkah laku dilakukan oleh Jones dan Davis (1965). Mereka melihat putusan-putusan dari intensi sebagai syarat dari putusan-putusan tentang disposisi. Akan tetapi, studi lebih diarahkan kepada faktor disposisional pada kajian selanjutnya.

Teori Atribusi dari Kelley
Kelley (1967, 1972) mengajukan model proses atribusi yang tidak lagi merujuk pada intensi. Menurut Kelley, untuk menjadikan tingkah laku konsisten, orang membuat atribusi personal ketika konsensus dan kekhususan (distinctiveness) rendah. Sedangkan pada saat konsensus dan kekhususan, orang membuat atribusi stimulus. Jadi, atribusi dipengaruhi oleh faktor-faktor dari interaksi orang dengan situasi yang dihadapinya, bukan pada faktor intensional. Konsensus didefinisikan sebagai sejauh mana orang lain bereaksi terhadap beberapa stimulus atau kejadian dengan cara yang sama dengan orang yang sedang kita nilai. Sedangkan, kekhususan adalah sejauh mana seseorang merespons dengan cara yang sama terhadap stimulus atau kejadian yang berbeda. Istilah yang juga penting adalah konsistensi yang didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang merespons stimulus atau situasi dengan cara yang sama dalam berbagai peristiwa (misalnya, dalam waktu dan tempat yang berbeda cara meresponsnya tetap sama). Konsistensi juga merupakan faktor penting dalam menentukan apakah atribusi yang dihasilkan melibatkan faktor personal atau stimulus. Sebagai contoh, ketika kita diminta menilai mengapa seseorang yang tidak kita kenal mencela sebuah film yang diperlihatkan kepadanya. Jika kita tahu ada orang lain yang tidak menilai jelek film itu (konsensus rendah) dan kita tahu bahwa di masa lalunya orang tersebut sering mencela film (keberbedaan rendah), maka kita akan membuat atribusi personal. Misalnya, dengan mengatakan bahwa orang tersebut punya standar yang tinggi untuk film atau memang memiliki kencederungan negativistik. Penilaian kita selalu dikaitkan dengan karakteristik personal orang tersebut, juga karena kita memersepsikan adanya konsistensi yang tinggi pada respons orang yang kita nilai terhadap film yang sedang dipertunjukan. Di nisi lain, jika kita tahu bahwa orang-orang lain juga mencela film itu (konsensus tinggi) dan orang yang sedang kita nilai jarang mencela film-film lain (keberbedaan tinggi), sedangkan untuk film yang sedang dipertunjukan itu orang itu selalu mencela, maka kita akan membuat atribusi stimulus. Misalnya, dengan mengatakan bahwa film yang diperlihatkan itu memang jelek. Di sini, konsistensi yang tinggi juga berperan dalam dihasilkannya atribusi stimulus.


Dimensi Lain dari Atribusi Kausal
Selain ingin mengetahui apakah tingkah laku orang lain disebabkan oleh faktor internal atau eksternal, kita juga biasanya ingin mengetahui apakah faktor penyebab yang memengaruhi tingkah laku itu menetap atau hanya sementara dan apakah faktor-faktor itu dapat dikendalikan atau tidak (Weiner, 1993, 1995). Dimensi atribusi kausal ini terlepas dari dimensi inter-eksternal. Ada faktor penyebab internal yang stabil serta tidak berubah seiring ruang dan waktu, seperti sifat kepribadian dan temperamen (Miles, & Carey, 1997). Di sisi lain, ada faktor penyebab internal yang berubah-ubah seperti motif, kesehatan, kelelahan, dan suasana hati. Hal serupa juga berlaku pada faktor-faktor penyebab eksternal. Norma sosial serta kondisi geografis merupakan contoh faktorpenyebab eksternal yang menetap, sedangkan nasib baik dan tuntutan orang lain merupakan contoh penyebab eksternal yang berubah-ubah. Kita dapat melakukan atribusi dengan menggunakan beragam penyebab potensial yang berbeda. Contoh berikut ini dapat menunjukkan kepada kita tentang hal tersebut. Ketika kita bertemu dengan seorang teman yang memuji penampilan kita, kita merasa senang dan menilai usaha kita memilih baju tadi pagi tidak sia-sia. Kita juga bisa menilai bahwa teman tersebut memiliki selera yang relatif sama dengan kita. Akan tetapi, setelah bercakap-cakap beberapa saat, teman kita mengajukan permohonan bantuan untuk mengerjakan sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Permintaannya itu membuat kita mempertanyakan lagi mengapa ia memuji penampilan kita. Kita bisa saja berpikir, "Jangan-jangan, ia memuji karena mau mengambil hati supaya saya mau membantunya?"Namun, mungkin juga dia memang sungguh-sungguh ingin memuji penampilan kita, terlepas dari keinginannya meminta bantuan kita. Ada dua hal yang mungkin menjadi penyebab dari tingkah laku teman kita tersebut. Kita bisa saja terlibat dengan apa yang oleh psikolog sosial disebut discounting, yaitu kita menilai penyebab pertama bahwa ia punya selera yang relatif sama dan berbaik hati memuji kita menjadi kurang penting atau merupakan efek dari penyebab lain, yaitu meminta bantuan kita. Banyak penelitian tentang gejala ini menunjukkan bahwa discounting merupakan hal yang cukup umum terjadi dan memberikan pengaruh yang besar terhadap atribusi kita dalam berbagai situasi (di antaranya Gilbert & Malone, 1995; Morris & Larick, 1995; Trope & Liberman, 1996).
Kita bayangkan kemungkinan kejadian lain. Jika teman kita yang memberikan pujian itu adalah orang yang setahu kita tidak pernah atau jarang sekali memuji penampilan orang lain, maka kita bisa jadi menilai tingkah laku memujinya itu sebagai tindakan yang tulus. Permintaan bantuannya mungkin memang sudah sejak awal diniatkan untuk disampaikan kepada kita, tetapi itu hal tersebut disampaikan belakangan karena ia sungguh-sungguh tergugah oleh penampilan kita. Psikolog sosial menyebut gejala seperti ini sebagai augmenting, yaitu kecenderungan untuk menambahkan bobot atau sifat penting terhadap sebuah faktor yang mungkin memfasilitasi tingkah laku yang ditampilkan ketika faktor ini dan faktor lainnya yang mungkin menghambat tingkah laku itu muncul bersamaan. Dengan pertimbangan bahwa tingkah laku itu tetap ditampilkan, kita menilai bahwa faktor yang memfasilitasi tingkah laku itu jauh lebih besar pengaruhnya daripada faktor yang menghambatnya.
Dalam keseharian, gejala discounting dan augmenting banyak kita temukan. Dua gejala ini menggugah para peneliti di bidang psikologi sosial untuk menguji secara ilmiah keberadaannya. Hasilnya memperkuat pendapat bahwa gejala discounting dan augmenting berperan dalam atribusi kausal. Bukti yang menguatkan fenomena atribusi yang melibatkan discounting dan augmenting ditunjukkan dalam banyak studi (di antaranya McCluer, 1998).


Powered by Blogger.

Apakah ilmu yang ada di blog ini bermanfaat ?

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget