Thursday, 17 December 2015

Kebanyakan orang awam salah kaprah tentang profesi psikolog dan psikiater. Ada beberapa hat mengapa banyak orang nonpsikologi yang menganggap profesi psikolog dan psikiater itu sama. Pertama, mungkin karena faktor namanya yang mirip. Kedua, keduanya menyangkut masalah kejiwaan. Ketiga, kedua profesi ini pun memitiki konsentrasi praktik yang sama, yakni berupa upaya penanganan, pencegahan, pendiagnosaan dan pemberian terapi.
Ya, keduanya sama tapi berbeda. Sama datam hal mendalami itmu kejiwaan. Seperti yang terdapat datam Kode Etik Psikologi yang diterbitkan Himpsi (Himpunan Psikolog Indonesia), psikolog dan psikiater sama-sama mendatami ilmu kejiwaan dan segala hal yang berhubungan dengan perkembangan manusia. Berbeda dari beberapa segi. Jadi, meskipun keduanya sama-sama menyangkut masalah kejiwaan, namun terdapat perbedaan yang mendasar antara keduanya.
Sebenarnya apa yang membedakan kedua profesi tersebut?
1. Psikolog
Psikolog adatah sarjana psikologi yang telah mengikuti program akademik strata satu (sarjana psikologi) dan program profesi sebagai psikolog. Seseorang yang mendapatkan getar "M.Psi." di belakang namanya diperoleh apabila telah mengikuti program akademik strata satu (sarjana psikologi) dan program profesi sebagai psikolog. Oteh karena itu, orang yang kuliah Sl-nya di fakuttas psikotogi, jika ingin menjadi psikolog, harus meneruskan S2 di bidang profesi psikotogi. Karena, jika ia meneruskan di bidang sains psikotogi, maka getarnya nanti adatah "M.Si," atau Magister Sains. Namun, saat ini, titel Magister Sains Psikologi bukan tagi "M.Si" tetapi "M.Psi".
Jika seseorang yang kuliah Slnya nonpsikologi, namun ingin meneruskan kuliah S2 di bidang psikologi. Orang tersebut mau tak mau harus mengambil bidang sains psikologi, sebab bidang profesi psikologi hanya diperuntukkan kepada lulusan S1 psikologi. Oleh karena itu, magister sains psikologi hanya boteh berkecimpung dan mengembangkan keilmuan bidang psikologi saja tanpa bisa melakukan praktek psikologi.
Jadi, inilah perbedaan antara Psikolog dan Magister Sains Psikologi.

Praktek Psikolog. Seorang psikolog, atau lulusan S2 profesi psikologi, nantinya mendapatkan izin praktek psikologi yang bisa digunakan untuk membuka biro konsultasi sendiri, ataupun bergabung menjadi tenaga konsultan psikologi di biro orang lain. Seorang psikolog juga punya hak untuk terhadap alat tes psikologi. Artinya, seorang psikolog dapat menyimpan, menggunakan dan mengoperasikan alat tes psikologi, serta menginterpretasikan hasil tes kliennya. Jadi, psikolog juga bisa disebut praktisi psikologi. Hak terhadap alat tes psikologi ini hanya dipegang oleh psikolog, dan bukan Magister Sains Psikologi. Namun, Magister Sains Psikologi dapat mengembangkan teori psikologi yang sudah ada, dan dapat bekerja sebagai dosen di fakultas psikologi. Oleh karena itu, Magister Sains Psikologi juga dapat disebut itmuwan psikologi. Orang yang memperoleh penanganan Psikolog disebut klien. Karena psikotog dapat menggunakan alat tes (misalnya mengungkap bakat minat seseorang) serta lebih fokus pada aspek sosialnya, seperti memberikan penanganan berupa terapi psikologi (psikoterapi).
Jadi, pembaca yang akan konsuttasi ke psikolog, tidak usah takut apakah dirinya sakit jiwa atau dianggap demikian oleh orang lain!
2. Psikiater
Psikiater adalah dokter spesialis yang tetah menyelesaikan pendidikan sarjana strata satu (sarjana kedokteran), pendidikan profesi sebagai dokter dan pendidikan spesialisasi kedokteran jiwa. Jadi psikiater adalah dokter yang mempelajari itmu jiwa. Maksudnya, gelar sarjana strata satu (Sinya adatah sarjana kedokteran, kemudian dia mengkhususkan diri untuk memfokuskan pada kejiwaan manusia. Jadi psikiater adalah dokter (S1) yang meneruskan pendidikannya di bidang psikiatri (S2). Oleh karena itu, seorang psikiater di depan namanya memperoleh gelar "dr. ...", dan dan dibelakang namanya memperoleh gelar Sp.,Kj". Orang yang memperoleh penanganan Psikiater disebut pasien.
Praktek Psikiater. Dalam hal pemberian terapi obat-obatan (farmakoterapi) hanya boleh dilakukan oleh psikiater, yang notabene berlatar belakang kedokteran yang lebih banyak berkecimpung pada penanganan secara klinis. Oleh karena itu, psikiater mengobati pasiennya, yang punya masalah kejiwaan, dengan memberikan obat karena beberapa penyakit jiwa bisa jadi disebabkan oleh keadaan tubuh yang sedang tidak sehat, atau ada yang bisa disembuhkan atau dikurangi dengan mengobati organ tubuh yang berhubungan dengan gejala kejiwaan yang sedang diderita. Dari uraian di atas, perbedaan psikolog dan psikiater adalah sebagai berikut:
1. Jika kita lihat dari latar belakang pendidikan, psikolog adalah sarjana psikologi yang telah mengikuti program akademik strata satu (sarjana psikologi) dan program profesi sebagai psikolog. Sedangkan psikiater adalah dokter spesialis yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana strata satu (sarjana kedokteran), pendidikan profesi sebagai dokter dan pendidikan spesiatisasi kedokteran jiwa.
2. Psikiater boteh memberikan obat sedangkan psikolog tidak boteh memberikan obat. Artinya, terapi obat-obatan ini hanya boteh dilakukan oleh psikiater yang notabene berlatar belakang kedokteran yang tebih banyak berkecimpung pada penanganan secara klinis. Sedangkan psikotog dapat menggunakan atat tes (misalnya mengungkap bakat minat seseorang) serta tebih fokus pada aspek sosialnya, seperti memberikan penanganan berupa terapi psikologi (psikoterapi).
Meskipun terdapat perbedaan antara keduanya, namun datam pelaksanaannya, baik psikotog maupun psikiater dapat sating bekerja sama. Psikolog dapat mereferensikan kliennya untuk berkonsultasi pada psikiater atau ahli lainnya bila dirasa ada hat yang pertu ditangani tebih lanjut, maupun sebaliknya. Hal ini tergantung pada kasus atau permasatahan yang dihadapi klien dan tergantung pada aspek mana yang pertu ditangani tertebih dahulu.

Permasatahan yang umumnya ditangani oleh psikolog maupun psikiater adalah masalah-masalah seputar penyimpangan perilaku misalnya kenakalan remaja, fobia sekolah, masalah kecemasan, konflik keluarga, krisis percaya dirt, hingga masalah gangguan halusinasi, skizofrenia, dan lainnya.
Seperti telah dikemukakan di atas psikologi merupakan ilmu yang tetah mandiri, tidak tergabung dalam ilmu-ilmu lain. Namun demikian, tidak boleh dipandang bahwa psikologi itu sama sekali terlepas dari ilmu-ilmu yang lain. Dalam hat ini psikologi masih mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu tersebut.
Psikologi sebagai itmu yang meneropong atau mempetajari keadaan manusia, sudah barang tentu psikologi mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu lain yang sama-sama mempelajari tentang keadaan manusia. Hal ini akan memberi gambaran bahwa manusia sebagai makhluk hidup tidak hanya dipelajari oleh psikologi saja, tetapi juga dipelajari oleh ilmu-ilmu lain. Manusia sebagai makhluk budaya maka psikologi akan mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu kebudayaan, dengan filsafat, dengan antropologi. Dalam kesempatan ini, akan ditinjau hubungan psikologi dengan beberapa ilmu sebagai berikut:
a. Hubungan Psikologi dengan Biologi 
Biologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kehidupan. Semua benda yang hidup menjadi objek dari biologi. Karena biologi berobjekkan benda-benda yang hidup, maka cukup banyak ilmu yang tergabung di dalamnya. Oleh karena itu, baik biotogi maupun psikologi sama-sama membicarakan manusia. Sekalipun masing-masing ilmu itu meninjau dari sudut yang berlainan, namun pada segi-segi yang tertentu kadang-kadang kedua ilmu itu ada titik-titik pertemuan. Biologi, khususnya antropobiologi tidak mempelajari tentang proses-proses kejiwaan, dan inilah yang dipelajari oleh psikotogi.

Seperti telah dikemukakan di atas, di samping adanya hal-hal yang berlainan, tampak pula adanya hal-hal yang sama-sama dipelajari atau diperbincangkan oleh kedua ilmu itu, misalnya soal keturunan. Mengenai soal keturunan baik psikotogi maupun antropobiologi juga membicarakan mengenai hal ini. Soal keturunan ditinjau dari segi biotogi adalah hal-hal yang berhubungan dengan aspek-aspek kehidupan yang turun-temurundari suatu generasi ke generasi lain; mengenai soal ini misalnya yang terkenal dengan hukum Mendel. Soat keturunan juga dipelajari oleh biologi, antara lain sifat, inteligensi, bakat. Karena itu, kuranglah sempurna kalau kita mempelajari psikotogi tanpa mempelajari biotogi khususnya antropobiologi maupun fisiologi, justru karena ilmu-ilmu ini membantu seseorang untuk mempelajari psikotogi.
b. Hubungan Psikologi dengan Sosiologi 
Manusia sebagai makhluk sosial juga menjadi objek dari sosiologi. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan manusia, mempelajari manusia di dalam hidup bermasyarakatnya. Karena itu baik psikologi maupun sosiologi yang membicarakan manusia, tidaklah mengherankan kalau pada suatu waktu adanya titik-titik pertemuan dalam meninjau manusia, misalnya soal tingkah laku. Tinjauan sosiologi yang penting adalah hidup bermasyarakatnya, sedangkan tinjauan psikologinya yakni tingkah laku sebagai manifestasi hidup kejiwaan, yang didorong oleh motif tertentu hingga manusia itu bertingkah laku atau berbuat.

c. Hubungan Psikologi dengan Fillsafat 
Manusia sebagai makhluk hidup juga merupakan objek dari filsafat yang antara lain membicarakan soal hakikat kodrat manusia, tujuan hidup manusia dan sebagainya. Sekalipun psikologi pada akhirnya memisahkan diri dari filsafat, karena metode yang ditempuh sebagai satah satu sebabnya, tetapi psikologi masih tetap mempunyai hubungan dengan filsafat. Bahkan sebetulnya dapat dikemukakan bahwa ilmu-ilmu yang telah memisahkan diri dari filsafat itu pun tetap masih ada hubungan dengan filsafat terutama mengenai hal-hal yang menyangkut sifat hakikat serta tujuan dari ilmu pengetahuan itu.
d. Hubungan Psikologi dengan Ilmu Pengetahuan Alam 
Itmu pengetahuan alam mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan psikologi. Dengan memisahkan dirt dari filsafat, ilmu pengetahuan alam mengalami kemajuan yang cukup cepat, sehingga ilmu pengetahuan alam menjadi contoh bagi perkembangan ilmu-itmu lain, termasuk psikologi, khususnya metode ilmu pengetahuan alam, yang mempengaruhi perkembangan metode dalam psikologi. Karenanya, beberapa ahli beranggapan bahwa kalau psikologi ingin mendapatkan kemajuan, maka is harus mengikuti cara kerja yang ditempuh oleh itmu pengetahuan alam. Apa yang ditempuh oleh Weber, Fechner, Wundt sangat dipengaruhi oleh metode yang digunakan dalam lapangan ilmu pengetahuan alam. Metode yang ditempuh oleh Fechner yang dikenat dengan metode psikofisik, suatu metode yang tertua dalam lapangan psikotogi eksperimental, yang banyak dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan (Woodworth, 1951). Pada kenyataannya, karena pengaruh ilmu pengetahuan alam, psikologi mendapatkan kemajuan yang cukup cepat, sehingga psikologi akhirnya dapat diakui sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri tertepas dari filsafat; walaupun akhirnya ternyata bahwa metode ilmu pengetahuan alam kurang mungkin digunakan seluruhnya terhadap psikologi karena adanya perbedaan dalam objeknya. Ilmu pengetahuan alam berobjekkan benda-benda mati, sedangkan psikologi berobjekkan manusia yang hidup, sebagai makhluk yang dinamis, makhluk yang berbudaya, makhluk yang berkembang dan dapat berubah setiap saat.

Seperti telah dikemukakan di atas, psikologi mempunyai hubungan antara lain dengan biologi sosiologi, filsafat, ilmu pengetahuan atam, tetapi ini tidak berarti bahwa psikologi tidak mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu lain di luar ilmu-ilmu tersebut. Justru karena psikologi menyelidiki dan mempelajari manusia sebagai makhluk yang bersegi banyak dan bersifat kompleks, maka psikologi harus bekerja sama dengan ilmu-ilmu lain. Tetapi sebaliknya setiap cabang ilmu yang berhubungan dengan manusia akan kurang sempurna bila tidak mengambit petajaran dari psikologi. Dengan demikian, akan terdapat hubungan timbal balik. 

Wednesday, 16 December 2015

Bagaimana letak psikologi dalam sistematika ilmu? Untuk meninjau ini secara mendalam dapat dipelajari dalam sejarah psikologi. Tetapi datam kesempatan ini bukan bermaksud untuk mengemukakan tentang sejarah psikologi, namun hanya untuk sekedar memberikan gambaran sekilas tentang perkembangan psikologi.
Ditinjau secara historis, dapat dikemukakan bahwa ilmu yang tertua adalah ilmu filsafat. Ilmu-ilmu yang lain tergabung dalam filsafat, dan filsafat merupakan satu-satunya ilmu pada waktu itu. Karena itu, ilmu-ilmu yang tergabung dalam filsafat akan dipengaruhi oleh sifat-sifat dari filsafat. Demikian pula halnya dengan psikologi.
Tetapi lama kelamaan disadari bahwa filsafat sebagai satu-satunya ilmu kurang dapat memenuhi kebutuhan  manusia. Disadari bahwa hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan tidak cukup lagi hanya diterangkan dengan filsafat. Dengan demikian, maka kemudian ilmu pengetahuan alam misalnya memisahkan diri dari filsafat, dan berdiri sendiri sebagai ilmu yang mandiri (Marx, 1976). Hal ini disebabkan karena ilmu pengetahuan alam membutuhkan hal-hal yang bersifat objektif, yang bersifat positif, dan ini tidak dapat dicapai dengan menggunakan filsafat. Demikianlah maka kemudian ilmu-ilmu yang lain juga memisahkan diri dari filsafat termasuk puta psikologi. Psikologi yang mula-mula tergabung dalam filsafat, akhirnya memisahkan diri dan berdiri sendiri sebagai ilmu yang mandiri. Hat ini adalah jasa dari Wilhelm Wundt yang mendirikan laboratorium psikologi yang pertama-tama pada tahun 1879 untuk menyelidiki peristiwa.-peristiwa kejiwaan secara eksperimental.


Wundt sebenarnya bukan seorang ahli dalam bidang psikologi melainkan seorang fisiolog, akan tetapi beliau mempunyai pandangan bahwa fisiologi dapat dipandang sebagai ilmu pembantu dari psikologi, dan psikologi haruslah berdiri sendiri sebagai suatu ilmu pengetahuan yang tidak tergabung atau tergantung kepada yang lain. Di datam laboratoriumnya, Wundt mengadakan eksperimen-eksperimen dalam rangka penyelidikan-penyelidikannya, sehingga beliau dipandang sebagai bapak dari psikologi eksperimental. Tetapi ini tidak berarti bahwa baru pada Wundtlah dimulai eksperimen-eksperimen, sebab telah ada ahli-ahli lain yang merintisnya antara lain Fechner dan Helmholtz. Namun demikian, baru pada Wundtlah penyelidikan dilakukan secara laboratorium eksperimental yang lebih intensif dan sistematis. Laboratorium Wundt kemudian menjadi pusat penyelidikan dari banyak ahli untuk mengadakan eksperimen-eksperimen antara lain Kraeplin, Kulpe, Meumann, Marbe. Dengan perkembangan .ini, maka berubahlah psikologi yang tadinya bersifat filosofis menjadi psikologi yang bersifat empiris. Kalau mula-mula psikologi mendasarkan diri atas renungan-renungan, atas spekulasi, maka psikologi kemudian mendasarkan atas hat-hat yang objektif, hal-hal yang positif, dan kemudian makin berkembanglah psikologi empiris itu. Perkembangan itmu fisika (physical science) dan ilmu kimia (chemistry) mempengaruhi tirnbulnya ilmu biologi (biological science). Salah satu dari ilmu biologi adalah ilmu tingkah laku (behavioral science). Dalam kaitan ini, maka psikologi merupakan salah satu yang termasuk dalam ilmu tingkah laku, di samping antropologi dan sosiologi (Marx, 1976). Dengan demikian, maka akan jelas bahwa psikologi sebagai suatu ilmu, dan merupakan ilmu tentang tingkah laku dan juga ilmu yang berdiri sendiri, yang tidak tergabung datam ilmu-ilmu yang lain. 
Psikologi adalah sebuah bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan yang mempelajari perilaku dan fungsi mental manusia secara ilmiah. Para praktisi dalam bidang psikologi disebut para psikolog. Para psikolog berusaha mempelajari peran fungsi mental dalam perilaku individu maupun kelompok. Selain itu, mereka juga mempelajari tentang proses fisiologis dan neurobiologis yang mendasari perilaku.
Ditinjau dari segi ilmu bahasa, perkataan psikologiini berasal dari perkataan psyche yang diartikan jiwa dan perkataan logos yang berarti ilmu atau ilmu pengetahuan. Karena itu, perkataan psikologi sering diartikan atau diterjemahkan sebagai ilmu pengetahuan'tentang jiwa atau disingkat dengan ilmu jiwa.
Namun demikian, ada beberapa ahli yang kurang sependapat bahwa pengertian psikologi itu benar-benar sama dengan ilmu jiwa, walaupun ditinjau dari arti katanya, kedua istilah itu adalah sama. Hal itu seperti yang dikemukakan oleh Gerungan sebagai berikut:
Arti kata kedua istilah tersebut menurut isinya sebenarnya sama, sebab kata psikologi itu mengandung kata psyche, yang dalam bahasa Yunani berarti jiwa dan kata logos yang dapat diterjemahkan dengan kata 'ilmu', sehingga istilah jiwa' itu semata-mata merupakan terjemahan dart istilah 'psikologi'. Walaupun demikian, kami mempergunakan kedua istilah dengan berganti-ganti dan dengan kesadaran adanya perbedaan yang jelas dalam artinya, yakni:
1. Ilmu jiwa merupakan istilah bahasa Indonesia sehari-hari dan yang dikenal tiap-tiap orang, sehingga kami pun menggunakannya: dalam artinya yang luas dan telah lazim dipahami orang. Sedangkan kata psikologi itu merupakan suatu istilah ilmu pengetahuan suatu istitah yang 'scientific, sehingga kami pergunakan untuk menunjukkan kepada pengetahuan ilmu jiwa yang bercorak ilmiah tertentu.
2. Itmu jiwa kami pergunakan dalam arti yang lebih luas daripada istitah psikologi. Itmu jiwa meliputi segala pemikiran, pengetahuan, tanggapan, tetapi juga segala khayalan dan spekutasi mengenai jiwa  itu. Psikologi meliputi itmu pengetahuan mengenai jiwa yang diperoleh secara sistematis dengan metode-metode ilmiah yang memenuhi syarat-syaratnya yang dimufakati sarjana-sarjana psikologi pada zaman sekarang ini. Istilah ilmu jiwa menunjukkan kepada ilmu jiwa pada umumnya, sedangkan istilah psikologi menunjukkan ilmu jiwa yang ilmiah menurut norma-norma ilmiah modern.
Dengan demikian, jelastah bahwa apa raja yang kami sebut sebagai ilmu jiwa itu betum tentu disebut 'psikologi, tetapi psikologi itu senantiasa merupakan "ilmu jiwa" (Gerungan, 1966: 6).
Dengan contoh sekelumit ini, menurut pandangan Gerungan, ada segi-segi perbedaan antara ilmu jiwa dengan psikologi. Psikologi merupakan ilmu jiwa yang ilmiah atau yang scientific.
Karena itu, mempelajari psikologi harus dilakukan dari sudut ilmu sebagai suatu science atau sebagai suatu ilmu. Hal ini juga dikemukakan oleh Sartain dkk (1967: 3), "Kebanyakan orang saat ini menganggap ilmu psikologi sebagai sebuah sains".
Psikologi sebagai suatu ilmu, psikologi juga mempunyai tugas-tugas atau fungsi-fungsi tertentu seperti ilmu-ilmu pada umumnya. Adapun tugas psikologi adalah:
1. Mengadakan deskripsi; yaitu tugas untuk menggambarkan secara jelas hal-hal yang dipersoalkan atau dibicarakan.
2. Menerangkan; yaitu tugas untuk menerangkan keadaan atau kondisi-kondisi yang mendasari terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut.
3. Menyusun teori; yaitu tugas mencari dan merumuskan hukum-hukum atau ketentuan-ketentuan mengenai hubungan antara peristiwa satu dengan peristiwa lain atau kondisi satu dengan kondisi lain.
4. Prediksi; yaitu tugas untuk membuat ramalan (prediksi) atau estimasi mengenai hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi atau gejala-gejala yang akan muncuL
5. Pengendalian; yaitu tugas untuk mengendalikan atau mengatur peristiwa-peristiwa atau gejala.
Demikianlah tugas-tugas dari ilmu pada umumnya, tidak terkecuali mengenai psikologi. Seperti telah dipaparkan di atas, karena psikologi merupakan suatu ilmu, maka dengan sendirinya psikologi juga mempunyai ciri-ciri atau sifat-sifat seperti ilmu-ilmu yang lain, selain tersebut di atas.
Berkaitan dengan hal tersebut psikologi mempunyai:
1. Objek tertentu.
2. Metode pendekatan atau penelitian tertentu.
3. Sistematika yang teratur sebagai hasil pendekatan terhadap objeknya.
4. Mempunyai riwayat atau sejarah tertentu.
Psikologi sebagai suatu ilmu, tidak lepas dari segi perkembangan dari psikologi itu sendiri serta ilmu-ilmu yang lain. Dari waktu ke waktu psikologi sebagai suatu ilmu akan mengalami perkembangan, sesuai dengan perkembangan keadaan. Oleh karena itu, psikologi sebagai suatu ilmu mempunyai sejarah tersendiri, hingga merupakan psikologi dalam bentuk yang sekarang ini. Dari pemikiran para ahli yang mungkin sating mempunyai pandangan yang berbeda akan memacu perkembangan dari psikologi itu.
Karena yang mengadakan pendekatan dalam penyelidikan itu adalah manusia, yang mempunyai sifat-sifat yang sama dan jugs mempunyai sifat-sifat berbeda, maka para ahli dalam mengadakan peninjauan terhadap objek atau masalah besar kemungkinannya akan terdapat perbedaan pula. Perbedaan dalam segi pandangan itulah yang akan membawa perbedaan dalam segi orientasi terhadap masalah yang dihadapi. lnilah yang menyebabkan adanya perbedaan segi pandangan dari seorang ahli dengan ahli-ahli yang lain.
Perbedaan pandangan bukanlah merupakan hal yang baru dalam lapangan ilmu tebih-lebih dalam lapangan ilmu sosial. Masing-masing ahli mempunyai sudut pandangan sendiri-sendiri mana yang dianggap penting, sehingga akan berbeda dalam meletakkan titik beratnya.

Perbedaan pandangan ini mungkin karena perbedaan bidang studi ataupun metode yang digunakan dalam pendekatan masalah. Ini akan jelas apabila ditihat tentang batasan apakah yang dimaksud dengan psikologi itu.
Karena psikologi itu merupakan ilmu mengenai jiwa, maka persoatan yang pertama-tama timbut adalah apakah yang dimaksud dengan jiwa itu. Untuk memberikan jawaban atas pertanyaan ini bukantah merupakan hal yang mudah seperti diperkirakan banyak orang.
Jiwa sebagai kekuatan hidup atau sebabnya hidup telah dikemukakan oleh Aristotetes, yang memandang itmu jiwa sebagai itmu yang mempetajari gejata-gejala kehidupan. Jiwa merupakan unsur kehidupan, karena itu tiap-tiap makhluk hidup mempunyai jiwa. Jadi, baik manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan, menurut pendapat Aristoteles, adalah berjiwa atau beranima. Karena itu maka terdapatlah 3 macam anima, yaitu:
1) Anima vegetativa, yaitu anima atau jiwa yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan, yang mempunyai kemampuan untuk makan-minum dan berkembang biak.
2) Anima sentitiva, yaitu anima atau jiwa yang terdapat pada katangan hewan yang di samping mempunyai kemampuan-kemampuan seperti pada anima vegetativa juga mempunyai kemampuan-kemampuan untuk berpindah tempat, mempunyai nafsu, dapat mengamati, dan dapat menyimpan pengalaman-pengatamannya.
3) Anima intelektiva, yaitu yang terdapat pada manusia, setain mempunyai kemampuan-kemampuan seperti yang terdapat pada lapangan hewan masih mempunyai kemampuan lain yaitu berpikir dan berkemauan. (Bigot, Kohstamm, Palland, 1950).
Menurut pandangan Aristoteles, anima yang lebih tinggi mencakup sifat-sifat atau kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh anima yang lebih rendah. Anima intelektiva merupakan tingkatan anima yang paling tinggi, sedangkan anima vegetativa merupakan anima yang terendah. Pengertian jiwa atau psyche sebagai unsur kehidupan (the principle of life) juga dikemukan oleh Dreyer (1960). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengertian jiwa itu adalah sebagai unsur kehidupan yang oleh Ki Hadjar Dewantara dibatasi pada unsur kehidupan pada manusia.
Lalu apa yang dimaksud dengan psikologi itu? Untuk memberikan jawaban ini, dikemukakan beberapa pendapat dari para ahli yang menunjukkan adanya pandangan yang berbeda seperti telah dipaparkan di atas. Menurut Wundt, psikologi merupakan ilmu tentang kesadaran manusia (the science of human consciousness). Para ahli psikologi akan mempelajari proses-prOses elementer dari kesadaran manusia itu. Dari batasan ini, dapat dikemukakan bahwa keadaan jiwa direfleksikan dalam kesadaran manusia. Unsur kesadaran merupakan hal yang dipelajari dalam psikologi itu.
Di samping itu, Woodworth dan Marquis (1957) mengajukan pendapat bahwa yang dimaksud dengan psikologi itu merupakan itmu tentang aktivitas-aktivitas individu. Secara lengkap dikemukakan: Psikologi dapat didefinisikan sebagai sains aktivitas individu.. Kata "aktivitas" digunakan di sini dalam pengertian yang luas. lni mencakup tidak hanya aktivitas motor seperti berjalan dan berbicara, namun juga aktivitas kognitif (pemerolehan pengetahuan) seperti melihat, mendengar, mengingat, dan berpikir, dan aktivitas emosional seperti tertawa dan menangis, dan merasakan dan sedih. (Woodworth dan Marquis, 1957: 3).
Dari apa yang dikemukakan oleh Woodworth dan Marquis tersebut jelas memberikan gambaran bahwa psikologi itu mempelajari aktivitas-aktivitas individu, pengertian aktivitas dalam arti yang luas, baik aktivitas motorik, kognitif, maupun emosional. Kalau pada Wundt digunakan pengertian kesadaran, maka pada Woodworth dan Marquis digunakan aktivitas-aktivitas. Namun keduanya baik kesadaran maupun aktivitas-aktivitas, hal tersebut menggambarkan tentang refleksi dari kehidupan kejiwaan.
Menurut Branca [1964) dalam bukunya yang berjudul Psychology: The Science of Behavior, jelaslah bahwa yang dimaksud dengan psikologi itu merupakan ilmu tentang tingkah laku. Dalam paparannya dikemukakan: Ketika kepentingan manusia berubah menjadi tindakan manusia, dan ketika kepentingan berbentuk penyelidikan akurat, deskripsi yang tepat, dan kajian eksperimental tentang manusia, ilmu psikologi muncul. (Branca, 1964:2).
Selanjutnya dalam  bagian lain Branca mengemukakan "Psikologi umum adalah inti dari kajian perilaku manusia". Dari apa yang dikemukakan oleh Branca tersebut dapat ditarik pendapat bahwa psikologi merupakan ilmu tentang tingkah laku, dan dalam hal ini, adalah menyangkut tingkah laku manusia. Namun demikian, ini bukan berarti bahwa tingkah laku hewan tidak dikemukakan. Hal ini tergambar dalam bagian-bagian yang mengemukakan tentang penelitian-penelitian yang ditakukan dalam lapangan hewan.
Senada dengan yang dikemukakan oleh Branca dikemukakan pula oleh Morgan dkk. (1984: 4) yang menyatakan bahwa "Psikologi adalah ilmu tentang perilaku manusia dan hewan", namun penerapan dari ilmu itu lebih pada manusia. Demikian pula yang dikemukakan oleh Sartain dkk. (1967: 19) yang menyatakan bahwa psikologi itu merupakan sains perilaku manusia (the science of human behavior). Tetapi para ahli psikologi juga mempelajari tingkah laku hewan, dan dari hasil penelitian tersebut mungkin dapat berguna untuk mengerti tentang keadaan manusia. Bila ditelaah pendapat dari Woodworth dan Marquis, Branca, Morgan dkk., dan Sartain dkk. kiranya menunjukkan keadaan yang senada. Namun demikian, contoh-contoh tersebut di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa para ahli itu tidak mempunyai kata sepakat yang seratus persen sama satu dengan yang lainnya, seperti telah dikemukakan oleh Dreyer tersebut di atas.

Seperti telah dikemukakan di atas psikologi itu merupakan ilmu yang membicarakan tentang jiwa. Akan tetapi, karena jiwa itu sendiri tidak nampak, maka yang dapat dilihat atau dapat diobservasi adalah tingkah laku atau aktivitas-aktivitas yang merupakan manifestasi atau penjelmaan kehidupan jiwa itu. Hal ini dapat dilihat dalam tingkah laku maupun aktivitas-aktivitas yang lain. Karena itu psikologi merupakan suatu ilmu yang menyelidiki serta mempelajari tentang tingkah laku atau aktivitas-aktivitas, di mana tingkah laku serta aktivitas-aktivitas itu sebagai manifestasi hidup kejiwaan. Tingkah laku atau aktivitas-aktivitas di sini adalah dalam pengertian yang luas, yaitu meliputi tingkah laku yang menampak (overt behavior) dan juga tingkah laku yang tidak menampak (innett behavior), atau kalau yang dikemukakan oleh Wood-worth dan Marquis adalah baik aktivitas motorik, aktivitas kognitif, maupun aktivitas emosional.

Sunday, 13 December 2015

Dengan pertanyaan tersebut penulis ingin mengemukakan bagai-mana korelasi antara intelijensi seseorang dengan kehidupannya. Dalam kenyataan sebenarnya sulit untuk menentukannya. Me-mang kecerdasan/intelijensi seseorang memainkan peranan yang penting dalam kehidupannya. Akan tetapi kehidupan adalah sangat kompleks. Intelijensi bukan satu-satunya faktor yang me-nentukan sukses tidaknya kehidupan seseorang. Banyak lagi faktor yang lain.
Faktor kesehatan dan ada tidaknya kesempatan, tidak dapat kita abaikan. Orang yang sakit-sakitan saja meskipun intelijensinya tinggi dapat gagal dalam usaha mengembangkan dirinya dalam kehidupannya. Demikian pula meskipun cerdas jika tidak ada kesempatan mengembangkan dirinya dapat gagal pula.
Juga watak (pribadi) seseorang sangat berpengaruh dan turut menentukan. Banyak di antara orang-orang yang sebenarnya me-miliki intelijensi yang cukup tinggi, tetapi tidak mendapat kemaju-an dalam kehidupannya. Ini disebabkan/karena misalnya, ke-kurang-mampuan bergaul dengan orang-orang lain dalam masyara-kat, atau kurang memiliki cita-cita yang tinggi, sehingga tidak/ kurang adanya usaha untuk mencapainya.

Sebaliknya, ada pula seorang yang sebenarnya memiliki inteli-jensi yang sedang saja, dapat lebih maju dan mendapat kehidup-an yang lebih layak berkat ketekunan dan keuletannya dan tidak banyak faktor-faktor yang mengganggu atau yang merintanginya. Akan tetapi intelijensi yang rendah menghambat pula usaha se-seorang untuk maju dan berkembang, meskipun orang itu ulet dan bertekun dalam usahanya.
Sebagai kesimpulan dapat kita katakan: 
Kecerdasan atau intelijensi seseorang memberi kemungkinan bergerak dan berkembang dalam bidang tertentu dalam kehidupannya. Sampai di mana kemungkinan tadi dapat direalisasikan, tergantung pula kepada kehendak dan pribadi serta kesempatan yang ada.

Jelaslah sekarang bahwa tidak terdapat korelasi yang tetap. antara tingkatan intelijensi dengan tingkat kehidupan seseorang. Dari hasil-hasil penyelidikan yang dilakukan ahli antropologi dan psikologi, juga masih disangsikan adanya korelasi yang tetap antara bentuk/berat otak dengan intelijensi, antara bentuk tubuh dengan dasar kejahatan dan antara intelijensi dengan kemiskinan.
Tes Intelijensi
Dapatkah intelijensi atau kecerdasan itu diukur? Bagaimana kita dapat menentukan cerdas tidaknya seseorang? Salah satu cara ialah dengan menggunakan tes yang disebut: Tes Intelijensi.
Orang yang berjasa menemukan tes intelijensi pertama kali ialah seorang dokter bangsa Perancis: Alfred Binet dan pembantu-nya Simon. Sehingga tesnya terkenal dengan nama Tes Binet-Simon. Seri tes dari Binet Simon ini, pertama kali diumumkan antara 1908-1911 yang diberi nama: "Chelle matrique de l'inte-ligence" atau Skala Pengukur Kecerdasan. Tes Biner-Simon terdiri dari sekumpulan pertanyaan-pertanyaan yang telah dikelompok-kelompokkan menurut umur (untuk anak-anak umur 3-15 tahun). Pertanyaan-pertanyaan itu sengaja dibuat mengenai segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan pelajaran di sekolah. (Mengapa?) Seperti:
·         Mengulang kalimat-kalimat yang pendek atau panjang,
·         Mengulang deretan angka-angka,
·         Memperbandingkan berat timbangan,
·         Menceriterakan isi gambar-gambar,
·         Menyebutkan nama bermacam-macam warna.
·         Menyebut harga mata uang, - dan sebagainya.
Dengan tes semacam inilah usia kecerdasan seseorang diukur/ ditentukan. Dari basil tes itu ternyata tidak tentu bahwa usia kecerdasan itu sama dengan usia sebenarnya (usia kalender). Se-hingga dengan demikian kita dapat melihat adanya perbedaan-perbedaan I.Q. (Inteligentie Quotient) pada tiap-tiap orang/ anak.
Tes Binet-Simon ini kemudian terkenal ke mana-mana. Di Jerman, di Inggris, dan terutama di Amerika, tes tersebut banyak digunakan dan diperbaharui/dikembangkan sesuai dengan ke-butuhan dan keadaan daerah masing-masing. Orang yang ter-kenal dalam mengembangkan tes intelijensi ini antara lain Bober-tag (Jerman), Weahler (Inggris), dan Terman (Amerika).
Dewasa ini perkembangan tes itu telah demikian majunya sehingga sekarang terdapat beratus-ratus macam tes, baik yang berupa tes verbal maupun non-verbal. Juga di negeri kita sudah mulai banyak dipergunakan tes-tes (pada umumnya masih me-rupakan saduran teS luar negeri) dalam lapangan pendidikan mau-pun dalam memilih jabatan-jabatan tertentu.
Untuk lebih mengetahui dan memperdalam tes itu dibutuh-kan suatu studi yang khusus. Sesuai dengan maksud buku ini, hal itu tidak akan dibicarakan lebih lanjut.
Hasil-hasil Penyelidikan Intelijensi
Dari hasil penyelidikan intelijensi yang dilakukan oleh para ahli psikologi, didapat beberapa kesimpulan yang sangat penting bagi pendidikan dan pengajaran:
a. Mungkin ada benarnya, pendapat yang mengatakan intelijensi itu bergantung kepada dasar dan keturunan (hereditas); tetapi dengan arti bahwa tiap orang karena hereditasnya mem-punyai batas kecerdasan yang tidak dapat dilampaui, bagai-manapun baiknya pendidikan.
b. Tercapai atau tidaknya batas kecerdasan atau batas kemampu-an pikiran seseorang dipengaruhi pula oleh faktor-faktor dari luar. Pertumbuhan jiwa tidak hanya terjadi dengan sendirinya karena kekuatan dari dalam saja, tetapi juga karena kekuatan dari luar, antara lain pendidikan dan pengajaran yang baik.
c. Adanya kekuatan tumbuh dari dalam itu harus kita akui, tiap-tiap anak mengalami perkembangan dalam pertumbuh-an intelijensinya. Artinya: pengertian bertambah dan akhir-nya dapat mtmakai pengertian itu sebagai alat berpikir. Te-tapi pertumbuhan jiwa anak itu berlain-lainan; ada yang cepat, ada yang lambat dan ada yang sedang saja.

d. Mendapatkan sendiri suatu paham yang baru adalah jauh lebih sukar daripada pemahaman pendapat-pendapat orang lain yang sudah ada. Dengan kata lain: Pada umumnya manu-sia lebih banyak dan lebih mudah menggunakan intelijensi eksekutif (kemampuan mengikuti pikiran orang lain) daripada intelijensi kreatif atau intelijensi inventifnya.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi intelijensi, sehingga ter-dapat perbedaan intelijensi seseorang dengan yang lain ialah:
a. Pembawaan: 
Pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri- ciri yang dibawa sejak lahir. "Batas kesanggupan kita", yakni dapat tidaknya memecahkan suatu soal, pertama-tama ditentu-kan oleh pembawaan kita. Orang itu ada yang pintar dan ada yang bodoh. Meskipun menerima latihan dan pelajaran yang sama, perbedaan-perbedaan itu masih tetap ada.
b. Kematangan: 
Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika is telah mencapai ke-sanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. Anak-anak tak dapat memecahkan soal-soal tertentu, karena soal-soal itu masih terlampau sukar baginya. Organ-organ tubuh-nya dan fungsi-fungsi jiwanya masih belum matang untuk me-lakukan mengenai soal itu. Kematangan berhubungan erat dengan umur.

c. Pembentukan 
Pembentukan ialat segala keadaan di luar din seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelijensi. Dapat kita bedakan pembentukan sengaja (seperti yang di-lakukan di sekolah-sekolah) dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar).
d. Minat dan pembawaan yang khas 
Minat mengarahkan per-buatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorong-an (motif-motif) yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar. Motif menggunakan dan menyelidiki dunia luar (manipulate and exploring motives). Dari manipulasi dan eksplorasi yang dilakukan terhadap dunia luar itu, lama kelamaan timbullah minat terhadap sesuatu. Apa yang me-narik minat seseorang mendorongnya untuk berbuat lebih giat dan lebih

e. Kebebasan 
Kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat me-milih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah. Manusia mempunyai kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih rnasalah sesuai dengan kebutuhannya. Dengan adanya kebebasan ini berarti bahwa minat itu tidak selamanya menjadi syarat dalam perbuatan intelijensi. Semua faktor tersebut di atas bersangkut paut satu sama lain. Untuk menentukan intelijen atau tidaknya seorang anak, kita tidak dapat hanya berpedoman kepada- salah satu faktor tersebut di atas. Intelijensi adalah faktor total. Ke seluruhan pribadi turut serta menentukan dalam perbuatan intelijensi seseorang. 
Suatu perbuatan dapat dianggap intelijen bila memenuhi beberapa syarat antara lain:
a. Masalah yang dihadapi 
Banyak sedikitnya merupalum masalah yang baru bagi yang bersangkutan. Umpama ada soal: "Menga-pa api jika ditutup dengan sehelai karung bisa padam? Ditanya-kan kepada anak yang baru bersekolah dapat menjawab de ngan betul maka jawaban itu intelijen. Tetapi jika pertanyaan itu dijawab oleh anak yang baru saja mendapat pelajaran Ilmu Alam tentang api, hal itu tidak dapat dikatakan intelijen.

b. Perbuatan intelijen sifatnya serasi tujuan dan ekonomis. 
Untuk mencapai tujuan yang hendak diselesaikannya, dicarinya jalan yang dapat menghemat waktu maupun tenaga. Saudara ke-hilangan pulpen di suatu lapangan. Bagaimana mencarinya? Bagaimana menebang pohon-pohon ,di rimba raya, agar dalam waktu singkat dapat merobohkan banyak pohon? Cara meng-ambil buah kelapa di Lampung dengan memakai galah yang panjang, sedangkan di daerah Jawa pada umumnya dengan memanjat batangnya satu-satu. Mengapa?
c. Masalah yang dihadapi, harus mengandung suatu tingkat kesulitan bagi yang bersangkutan. 
Ada suatu masalah yang bagi orang dewasa mudah mernecahkan/menjawabnya, hampir tiada berpikir, sedang bagi anak-anak harus dijawabnya dengan otak, tetapi dapat. Jawaban anak itu intelijen.
d. Keterangan pemecahannya harus dapat diterima oleh masyarakat. 
Apa yang harus anda perbuat jika anda lapar? Kalau ja-wabnya: saya harus mencuri makanan. Tentu saja jawaban itu tidak intelijen.
e. Dalam berbuat intelijen seringkali menggunakan daya mengabstraksi. 
Pada waktu berpikir, tanggapan-tanggapan dan ingatan-ingatan yang tidak perlu harus disingkirkan. Apa-kah persamaan antara jendela dan daun? Jawaban yang benar memerlukan daya mengabstraksi.
f. Perbuatan intelijen bercirikan kecepatan. Proses pemecahan-nya relatif cepat, sesuai dengan masalah yang dihadapi.

g. Membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang mengganggu jalannya pemecahan masalah yang sedang dihadapi.
Apa yang akan saudara perbuat jika se-konyong-konyong saudara melihat orang yang tertubruk mobil dan pertolongan saudara sangat diperlukan? 
Dalam penyelidikannya tentang intelijensi, Kohler mengadakan eksperimen-eksperimen dengan, hewan. Seekor simpanse (semacam beruk yang besar) dikurung di dalam kandang. Di luar kandang itu ditaruh sebuah pisang yang tidak terjangkau oleh binatang itu. Di dalam kandang itu terdapat sebatang tongkat. Terlihat oleh Kohler bahwa simpanse itu berbuat demikian: Ia menjangkau pisang itu tetapi tangannya tidak sampai; lama ia menengok-nengok sekelilingny- a, seolah-solah seperti gelisah ; tampak oleh-nya sebatang tongkat. Diraihnya pisang itu dengan tongkat, di-makannya pisang itu, tongkat itu dilemparkannya.
Setelah percobaan itu dipersukar (dengan menggunakan dua buah tongkat yang bisa disambungnya), ternyata hanya seekor simpanse saja yaitu: si "Sultan" yang terpintar. Ia dapat mencapai pisang itu dengan menghubungkan kedua tongkat itu. Percobaan itu dilanjutkan:
Sekarang pisang itu digantungkan di atas kandang (di langit-langit). Di dalam kandang itu diletakkan sebuah peti kosong. Bagaimana dilakukan simpanse itu? Ia melompat-lompat berusaha mencapai pisang itu, tetapi tidak terjangkau karena tingginya. Setelah berkali-kali ia berbuat demikian dan ternyata sia-sia saja, ia duduk, seolah-olah termenung. Ia melihat ke kiri dan ke kanan. Sekonyong-konyong melornpatlah ia ke arah peti di sudut kandang itu. Ditariknya peti itu ke bawah pisang yang tergantung di langit-langit (cara menemukan "alat" dengan sekonyong-konyong oleh simpanse itu, oleh Kohler disebut "Aha eriebnis" yang berarti "penghayatan Aha"). Dengan melompat ke atas peti itu dapatlah simpanse itu mencapai pisang itu.
Percobaan-percobaan demikian diteruskan oleh Kohler dengan beberapa ekor simpanse dan menggunakan beberapa alat. Dalam percobaan-percobaan tersebut ternyata ada seekor simpanse yang diberi naijia Sultan tadi, yang dapat menyusun dua buah peti dalam usahanya mencapai pisang itu.
Dari percobaan-percobaan yang dilakukan Kohler dengan simpanse itu kita dapat menarik beberapa kesimpulan, sebagai berikut:
·         Pada kera (simpanse), terutama si Sultan telah terdapat per-mulaan "alat" (tongkat dan ,peti). Hanya bedanya dengan manusia, alat itu tidak disempurnakan, tidak disimpan dan tidak pula kera itu mencari-cari alat itu.

·         Manusia dapat "menemukan" alat. Bagi manusia tiap-tiap benda diubah-ubah fungsinya sesuai dengan kebutuhan atau maksudnya. Peti bisa untuk tempat barang-barang; atau tem-pat duduk, atau untuk tangga dan sebagainya. Hal ini disebab-kan karena manusia itu mempunyai bahasa. Dengan bahasa manusia dapat menanggapi, mengingat, berpikir. Tanggapan, ingatan, fantasi, dan sebagainya adalah faktor yang penting dalam perbuatan intelijensi.
·         Dapatkah beberapa hewan menanggapi sesuatu? Beberapa eksperimen antara lain dengan simpanse membuktikan bahwa memang beberapa jenis hewan dapat menangkap sesuatu. Tetapi makin rendah harkat hewan itu, makin sedikit yang dapat ditanggapinya, makin kabur tanggapan-tanggapan itu makin sebentar berlangsungnya. Demikian pula ingatannya.

·         Antara intelijensi manusia dan binatang terdapat perbedaan yang besar. Sebagai perbedaan yang pertama dan terpenting ialah karena manusia memperoleh bantuan yang besar yang berupa bahasa. 
Orang berpikir menggunakan pikiran (intelek)-nya. Cepat tidak-nya dan terpecahkan atau tidaknya suatu masalah tergantung kepada kemampuan intelijensinya. Dilihat dari intelijensinya, kita dapat mengatakan seseorang itu pandai atau bodoh, pandai sekali/cerdas (genius) atau pandir/dungu (idiot).
Intelijensi ialah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara yang tertentu.
William Stern mengemukakan batasan sebagai Inte-lijensi ialah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada ke-butuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan tujuannya.
William Stern berpendapat bahwa intelijensi sebagian besar tergantung dengan dasar dan turunan. Pendidikan atau lingkungan tidak begitu berpengaruh kepada intelijensi seseorang. Juga Prof. Waterink seorang Mahaguru di Amsterdam, menyatakan bahwa menurut penyelidikannya belum dapat dibuktikan bahwa intelijen-si dapat diperbaiki atau dilatih. Belajar berpikir hanya diartikan-nya, bahwa banyaknya pengetahuan bertambah akan tetapi tidak berarti bahwa kekuatan berpikir bertambah baik.
Dalam pada itu pendapat-pendapat baru membuktikan bahwa intelijensi pada anak-anak yang lemah pikiran dapat juga dididik dengan cara yang lebih tepat (lihat hasil penyelidikan Frohn di muka). Juga kenyataan membuktikan bahwa daya pikir anak-anak yang telah mendapat didikan dari sekolah, menunjukkan sifat-sifat yang lebih baik daripada anak yang tidak bersekolah.
Dari batasan yang dikemukakan di atas, dapat kita ketahui bahwa:
a. Intelijensi itu ialah faktor total. Berbagai macam daya jiwa erat bersangkutan di dalamnya (ingatan, fantasi, perasaan, perhatian, minat, dan sebagainya turut mempengaruhi inteli-jensi seseorang).
b. Kita hanya dapat mengetahui intelijensi, dari tingkah laku atau perbuatannya yang tampak. Intelijensi hanya dapat kita ketahui dengan cara tidak langsung, melalui "kelakuan inteli-jensinya".
c. Bagi suatu perbuatan intelijensi bukan hanya kemampuan yang dibawa sejak lahir saja yang penting. Faktor-faktor lingkungan dan pendidikan pun memegang peranan.

d. Bahwa manusia itu dalam kehidupannya senantia:,a dapat menentukan tujuan-tujuan yang baru, dapat memikirkan dan menggunakan cara-cara untuk mewujudkan dan men-capai tujuan itu. 

Friday, 11 December 2015

Masalah sosial menyangkut nilai-nilai sosial dan moral. Masalah tersebut merupakan persoalan karena menyangkut tata kelakuan yang immoral, berlawanan dengan hukum dan bersifat merusak. Oleh karena itu masalah social tidak akan mungkin ditelaah tanpa mempertimbangkan ukuran-ukuran masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Sosiologi juga mempelajari masalah-masalah sosial dengan tujuan untuk menemukan sebab-sebab terjadinya  masalah sosial, dengan mengetahui kenyataan yang ada dalam masyarakat dan latar belakangnya, diharapkan sosiologi dapat membantu Pokok masalah sosial adalah adanya perbedaan yang mencolok antara nilai-nilai dengan kondisi-kondisi nyata kehidupan. Artinya adanya kepincangan-kepincangan antara anggapan-anggapan masyarakat tentang apa yang seharusnya terjadi dengan apa yang terjadi dalam kenyataan pergaulan hidup. Berikut ini adalah beberapa masalah sosial yang penting dan menjadi persoalan yang dihadapi masyarakat yaitu:
1. Kemiskinan.
Kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan di mana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental, maupun fisiknya dalam kelompok tersebut. Menurut sejarah, keadaan kaya dan miskin secara berdampingan bukan merupakan masalah sosial sampai dengan saatnya perdagangan berkembang dengan pesat dan ditetapkannya taraf kehidupan tertentu sebagai suatu kebiasaan masyarakat. Pada masyarakat bersahaja, beranggapan bahwa kemiskinan adalah takdir sehingga tidak ada usaha-usaha untuk mengatasinya, kecuali mereka yang betul-betul menderita karenanya. Pada masyarakat modern, seseorang merasa miskin bukan karena kurang makan, pakaian atau perumahan, tetapi karena harta miliknya dianggap tidak cukup untuk memenuhi taraf kehidupan yang ada. Hal ini disebabkan kepemilikan benda tertentu yang dianggap sebagai ukuran bagi keadaan ekonomi seseorang. Pada kasus urbanisasi, pokok persoalan kemiskinan terjadi karena gagal memperoleh pekerjaan yang layak, sehingga mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan primer. Faktor yang perlu diperhatikan dalam masalah kemiskinan: keadaan gagal memperoleh lebih dari yang dimiliki, perasaan adanya ketidakadilan, pembagian kekayaan yang tidak merata.
2. Kejahatan.
Kejahatan disebabkan karena kondisi-kondisi dan proses-proses social yang sama dengan perilaku sosial lainnya. Salah satu teori tentag perilaku jahat disampaikan E.H. Sutherland yang menyatakan bahwa seseorang berperilaku jahat dengan cara yang sama dengan perilaku yang tidak jahat. Artinya perilaku jahat dipelajari dalam interaksi dengan orang-orang lain yang berperilaku cenderung melawan norma-norma hukum, yang disebut Sutherland sebagai proses asosiasi yang diferensial (differential association). Biasanya bagian pokok dari pola-pola perilaku jahat tadi dipelajari  dalam kelompok kecil yang bersifat intim dan  didukung alat komunikasi, buku, surat kabar, film, televise, radio untuk mempengaruhi dan memberikan sugesti tertentu. Untuk mengatasi masalah kejahatan dilakukan dengan tindakan preventif dan represif (melakukan rehabilitasi baik menghukum maupun menjadikan orang jahat menjadi orang biasa). Masalah kejahatan yang banyak mendapatkan perhatian adalah white-collar crime. Kejahatan ini dilakukan oleh pengusaha dan pejabat yang “terlihat baik”, dari keluarga yang tidak mengalami gangguan, berpendidikan tinggi, kedudukan dan peran yang baik di masyarakat
3. Disorganisasi Keluarga.
Yaitu perpecahan keluarga sebagai suatu unit karena anggota-anggotanya gagal memenuhi kewajiban-kewajibannya yang sesuai dengan peranan sosialnya. Bentuk-bentuknya antara lain: unit keluarga yang tidak lengkap karena hubungan di luar nikah, putusnya perkawinan akibat perceraian atau pisah ranjang, kekurangan komunikasi dalam keluarga, krisis keluarga karena yang menjad kepala keluarga meninggalkan rumah tangga, krisis keluarga disebabkan factor intern
misalnya terganggunya keseimbangan jiwa salah satu anggota keluarga.  Perubahan masyarakat dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri sering menimbulkan disorganisasi keluarga.
4. Masalah generasi muda dalam masyarakat modern
Masal generasi muda pada umumnya ditandai oleh dua ciri yang berlawanan yaitu keinginan untuk melawan atau sikap yang apatis. Generasi muda biasanya mengalami masalah sosial dan biologis, dimana mereka menganggap secara biologis sudah dewasa tetapi secara sosial masih diperlukan proses belajar memahami norma dan nilai dalam masyarakat.  Selain itu proses pendewasaan perlu bimbingan terutama  dari orang tua karena mereka dalam proses pembentukan kepribadian dan belum ada pegangan. Organisasi formal merupakan salah satu tempat untuk menampung generasi muda dalam mewujudkan diri, mewujudkan cita-cita dan pola kehidupan baru, kebebasan, spontanitas, aspirasi terhadap kepribadian dan sebagainya.
5. Peperangan.
Peperangan merupakan masalah sosial yang paling sulit dipecahkan sepanjang sejarah kehidupan manusia. Karena berkaitan dengan berbagai masyarakat, maka diperlukan kerjasama internasional untuk mengatasinya. Biasanya hasil peperangan adalah akomodasi. Peperangan menyebabkan disorganisasi dalam berbagai aspek kemasyarakatan, baik yang menang maupun yang kalah.
6. Pelanggaran terhadap norma masyarakat.
Pelacuran merupakan suatu pekerjaan yang bersifat menyerahkan diri pada umum untuk melakukan perbuatan seksual dengan mendapatkan upah. Sebab-sebab antara lain factor endogen( nafsu kelamin yang besar, sifat malas, keinginan yang besar untuk hidup mewah), maupun factoreksogen (factor ekonomis, urbanisasi, perumahan tidak layak). Dilenkuensi anak adalah perbuatan anak-anak muda yang tergabung dalam ikatan/organisasi formal atau semi formal yang mempunyai tingkah laku kurang/tidak disukai masyarakat pada umumnya. Perbuatan tersebut meliputi: pencurian, perampokan, pencopetan, penganiayaan, pelanggaran susila, penggunaan obat perangsang, mengendarai kendaraan bermotor tanpa mengindahkan aturan lalu lintas. Alkoholisme dan pemabuk biasanya terkait dengan persoalan pokok: siapa yang boleh menggunakannya, dimana, kapan dan dalam kondisi bagaimana. Masalah ini terkait juga dengan masyarakat, keluarga dan hukum. Homoseksualitas. Homoseksual adalah seseorang yang cenderung mengutamakan orang yang sejenis kelaminnya sebagai mitra seksual. Secara sosiologis, homoseksualitas bertitik tolak pada asumsi bahwa tidak ada pembawaan lain pada dorongan seksual selain kebutuhan untuk menyalurkan ketegangan. Dorongan ini diarahkan oleh faktor sosial, artinya dipelajari dari pengalaman-pengalaman sosial, adat istiadat, lingkungan sosial dan pengaruh orang-orang disekitarnya. Permasalah ini terkait juga dengan pandangan
dan sikap masyarakat serta masalah hukum.
7. Masalah kependudukan.
Penduduk suatu negara merupakan sumber pembangunan yang sangat penting karena berfungsi sebagai obyek sekaligus subyek pembangunan.
Tanggung jawab utama negara adalah meningkatkan kesejahteraan penduduk dan
mengambil langkah-langkah pencegahan terhadap gangguan kesejahteraan. Tujuan utama proses pembangunan adalah untuk secara bertahap meningkatkan produktifitas dan kemakmuran penduduk secara menyeluruh. Hal ini dapat dilakukan dengan program keluarga berencana dan transmigrasi.
8. Masalah lingkungan hidup.
Lingkungan hidup yang ada disekitar manusia dapat dibedakan menjadi lingkungan fisik, lingkungan biologis dan lingkungan social.  Manusia hidup dalam ekosistem baik yang alami maupun ekosistem buatan. Suatu ekosistem mungkin mengalami perubahan-perubahan karena bekerjanya faktor-faktor fisik alamiah, dan berpengaruh besar terhadap manusia antara lain karena; pengaruh sinar matahari, pengaruh iklim, pengaruh panas dan dingin, pencemaran
9. Birokrasi.

Pengertian birokrasi menunjuk pada suatu organisasi yang dimaksudkan untuk mengerahkan tenaga dengan teratur dan terus menerus untuk mencapai tujuan tertentu, atau dengan kata lain, birokrasi merupakan organisasi yang bersifat hierarkis yang ditetapkan secara rasional untuk mengoordinasikan pekerjaan orang-orang untuk kepentingan pelaksanaan tugas-tugas administratif.  Tujuan baik tersebut perlu mendapat perhatian dan kekhawatiran dengan berkembangnya birokrasi yang pesat, ada kekhawatiran karena setiap petugas mendapatkan tempat tertentu yang tetap dan mengandalkan ketertiban, maka apa bila ketertiban tidak ada maka dia akan kehilangan pegangan. Maka tugas utama adalah membebaskan manusia dari ikatan yang terlalu ketat.
Powered by Blogger.

Apakah ilmu yang ada di blog ini bermanfaat ?

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget