Friday, 11 December 2015


1.     PERUBAHAN SOSIAL
Setiap masyarakat manusia pasti akan mengalami perubahan. Perubahan-perubahan masyarakat dapat meliputi : nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan lain sebagainya. Kingsley davis, mengartikan perubahan social sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat, misalnya perubahan pengorganisasian buruh dalam masyarakat kapitalis akan menyebabkan perubahan hubungan antara buruh dan majikan. Menurut Gilin dan Gillin, perubahan social sebagai variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan geografis, kebudayaan materiil, komposisi penduduk, ideology maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat. Selo sumardjan menegaskan bahwa perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, akan memengaruhi system sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
Bentuk-bentuk perubahan social antara lain: Perubahan lambat maupun perubahan cepat, perubahan kecil dan perubahan besar, perubahan yang dikehendaki ataupun perubahan yang tidak dikehendaki.
Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan social, dapat bersumber baik dari dalam masyarakat itu sendiri maupun dari luar. Penyebab perubahan yang bersumber dari dalam masyarakat antara lain: bertambah atau berkurangnya penduduk, penemuan-penemuan baru, pertentangan-pertentangan dalam masyarakat, terjadinya pemberontakan atau revolusi dalam masyarakat. Sebab dari luar antara lain: sebab-sebab yang berasal dari lingkungan fisik yang ada di sekitar manusia, peperangan dengan negara lain, pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
Faktor pendorong proses perubahan antara lain: kontak dengan kebudayaan lain, system pendidikan yang maju, sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan untuk maju, toleransi terhadap perbuatan yang menyimpang, system lapisan masyarakat yang terbuka, penduduk yang heterogen, ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang tertentu, orientasi ke muka, nilai meningkatkan taraf hidup.
Faktor yang menghambat perubahan antara lain: kurangnya hubungan dengan masyarakat lain, perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat, sikap masyarakat yang tradisionalistis, adanya kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat atau vested interest, rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan, prasangka terhadap hal-hal yang baru/asing, hambatan ideologis, kebiasaan, nilai pasrah. ( sumber: Soerjono soekanto, sosiologi suatu pengantar)

2.     PERUBAHAN KONSEP KOMUNITAS
KONSEP “KOMUNITAS” DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI (Dihimpun oleh bagian sosiologi dan pengembangan masyarakat, FEMA IPB):
George Hillery Jr (1955) Komunitas mencakup: A group, A process, A social system, A geographic place, A consciousness of kind, A totality of attitude, A common lifestyle, The possession of common ends, Local self sufficiency.
A community (Christenson & Robinson Jr, 1989): “people the live within a geographically bounded are who are involved in social interaction and have one or more psychological ties with each other an with the place in which they live”
Empat komponen utama “komunitas”: People, Place or territory, Social interaction,Psychological identification.
“Komunitas” :             “warga setempat (community) yang dapat dibedakan dari masyarakat lebih luas (society) melalui kedalaman perhatian bersama yang mempunyai kebutuhan bersama”
Komunitas adalah suatu wilayah kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan sosial tertentu berdasarkan lokalitas, perasaan sewarga, dan solidaritas.

Ciri-ciri komunitas:
The essential characteristics of a community (Park, 1936):
1.      A population territorially organized
2.      More or less completely rooted in the soil it occupies
3.      Its individual units living in a relationship of mutual interdependence

v  Suatu komunitas pasti mempunyai lokalitas atau tempat tinggal (wilayah) tertentu. 
v  Komunitas yang mempunyai tempat tinggal tetap dan permanen, biasanya mempunyai ikatan solidaritas yang kuat sebagai pengaruh kesatuan tempat tinggalnya. 
v  Secara garis besar, komunitas berfungsi sebagai ukuran untuk menggarisbawahi hubungan antara hubungan-hubungan sosial dengan suatu wilayah geografis tertentu.

Community:
v  Local Society:      Struktur dan Kultur
v  Local Ecology:    Pola adaptasi ekologi
v  Collective action: Aksi bersama (kelembagaan)


Perbedaan komunitas dan Masyarakat:
Komunitas: kecil, homogen, cultural, solidaritas mekanik, partisipasi-efektif, relative otonom, sedangkan masyarakat: besar, heterogen, structural, solidaritas organic, produktif-efisien, dependen.

Tantangan Terhadap konsep Lokalitas (John scot, Sosiology: the key concept):

1.      Peluang ekonomi, teknologi baru terutama bidang telekomunikasi dan perjalanan berbiaya murah memungkinkan hubungan pribadi tetap dapat dipertahankan dalam kewilayahan yang terpisah.
2.      Beberapa individu hanya memilki sedikit sumber daya yang berkonsekuensi kepada lokalitas, contohnya: orang yang menganggap daerah hanya tempat untuk tinggal saja, aktivitas seseorang ada di beberapa lokasi, angapan orang bahwa factor geografis menjadi penghabat karena sebagian besar waktunya hanya dalam wilayah tertentu saja.

Perubahan Konsep Komunitas.

 Konsep komunitas meniliki sejarah perdebatan panjang dalam sosiologi. Pada level sehari-hari, konsep komunitas digunakan untuk menyatakan ide mengenai pengalaman umum dan kepentingan bersama. Sekarang ini, pengertian populernya tidak hanya menunjukkan pemikiran tradisional mengenai lokalitas dan lingkungan bersama, tetapi juga ide-ide solidaritas dan hubungan antara orang-orang yang memilki karakteristik social dan identitas yang sama. Contoh: gagasan mengenai “komunitas kulit hitam”, “komunitas gay”yang sekarang menjadi hal yang biasa kita dengar. Saat ini kita mengenal berbagai “komunitas” yang banyak sekali ada di sekitar kita, yang memiliki beragam aktivitas.


Berikut ini akan kita kemukakan beberapa hasil/pendapat yang penting dari penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan oleh ahli-ahli psikologi terhadap proses berpikir manusia.
a. Oswald Kulpe dengan rekan-rekannya, setelah mengadakan eksperimen-eksperimen terhadap mahasiswa-mahasiswanya de-ngan menggunakan metode instrospeksi-eksperimental, mendapat kesimpulan sebagai berikut:
1) Bahwa di dalam diri manusia terdapat adanya gejala-gejala psikis yang tidak dapat diragukan. Di samping kesan-kesan dan tanggapan-tanggapan yang diperoleh dengan alat indra masih ada gejala-gejala yang lebih abstrak dan tidak dapat diragukan. Hal demikian terjadi antara lain waktu orang berpikir.
2) Bahwa pada waktu berpikir, aku atau pribadi orang itu memegang peranan yang penting. Si "aku" bukanlah faktor yang pasif (seperti pendapat psikologi asosiasi), melainkan merupakan faktor yang mengemudikan semua perbuatan sadar.
3) Bahwa berpikir itu mempunyai arah tujuan yang tertentu (determine rende tendens). Arah tujuan berpikir itu di-tentukan/dipengaruhi oleh soal atau masalah yang harus dipecahkannya.
b Frohn dan kawan-kawannya, setelah menyelidiki bagaimana proses dan perkembangan berpikir pada anak-anak yang bisu tuli dan membandingkannya dengan anak-anak yang normal, mengambil kesimpulan sebagai berikut : Berpikir lalah bekerja dengan unsur-unsur yang abstrak dan bergerak ke arah yang ditentukan oleh soal/masalah yang di-hadapi. Tetapi anak-anak kecil, anak-anak yang terbelakang, dan anak-anak yang bisu-tuli, dalam berpikir itu tidak dapat melepaskan diri dari bayang-bayang/tanggapan-tanggapan kongkret. Karena itu mereka tidak dapat membentuk pikir-an-pikiran yang logis dan umum.
Pada anak-anak kecil, berpikirnya dipengaruhi oleh tang-gapan-tanggapan yang kongkret yang pernah diamatinya. Sedangkan anak-anak yang bisu tuli tidak dapat menyusun pengertian karena perkembangan bahasanya terhambat.

Juga dari penyelidikannya itu Frohn dan kawan-kawannya mendapatkan bahwa di dalam kesadaran manusia dapat di-bedakan adanya tiga tingkatan (niveau kesadaran).
1) Tingkat lukisan kongkret, dalam tingkat ini bayangan-bayangan/ tanggapan khusus terjadi karena pengamatan dengan alat indra sifatnya masih kongkret. Kesadaran akan hubungan antara tanggapan-tanggapan itu satu sama lain belum ada.
2) Tingkat skematis, dalam tingkat ini tanggapan-tanggapan tidak lagi sangat kongkret. Orang telah mempunyai lukis-an-lukisan umum. Hubungan atau asosiasi antara tanggapan yang satu dengan yang lain telah ada.
3) Tingkat pengertian abstrak. Dalam tingkat ini pengertian-pengertian telah terbagi dalam golongan-golongan. Sifat-nya abstrak. Dalam pemakaian kata-kata orang dengan cepat tanpa membayangkan benda-bendanya. Alam Pikiran penuh dengan pengertian-pengerian umum, dan kekuatan jiwa ialah menyusun pengertian-pengertian itu menurut arahnya yang ditentukan oleh soal yang dihadapi-nya. Semua niveau memegang peranan berganti-ganti dalam kesadaran kita, juga pada waktu orang berpikir.
c. Otto Selz dan Willwoll Dari penyelidikannya terhadap peranan tanggapan dalam proses berpikir, mereka mengambil kesimpulan sebagai ber-ikut Selz. Bahwa tanggapan-tanggapan kongkret tidak mempunyai pe-ngaruh sama sekali atau hanya sedikit sekali pengaruhnya dalam proses berpikir. Tanggapan kongkret tidak amat me-lancarkan dan tidak pula amat merintangi jalannya pikiran. Bahwa tanggapan-tanggapan kongkret dapat mengganggu dan menghambat jalannya berpikir. Tanggapan-tanggapan kongkret baru berharga sesudah bagian-bagiannya yang tidak perlu telah dihilangkan oleh tenaga jiwa kita, sehingga tinggal sarinya yang asli saja.
Pendapat-pendapat/kesimpulan-kesimpulan lain dari Selz dan kawan-kawannya, yang penting bagi kita ialah: Berpikir adalah soal kecakapan menggunakan metode-metode (cara-cara) menyelesaikan masalah yang dihadapi. Metode-metode ini dapat diajarkan kepada orang lain, asalkan tingkat perkem-bangan jiwa orang itu telah matang untuk menerimanya. Berhubungan dengan kesimpulan Selz tersebut, Prof. Kohnstamm menyatakan bahwa belajar berpikir adalah mem-pelajari (mengenal) cara-cara menggolong-golongkan penga-laman-pengalaman yang ada dalam jiwa, sehingga pengalaman/ tanggapan-tanggapan yang banyak dan tidak teratur menjadi tersusun merupakan kebulatan-kebulatan yang mudah di-kuasai/dimengerti.
d. Hasil-hasil penyelidikan berpikir yang telah' disebutkan di atas, berpengaruh besar sekali terhadap perbaikan cara-cara mendidik dan mengajar di sekolah-sekolah. Dalam mendidik dan mengajar, pendidik tidak cukup hanya mengisikan pe-ngetahuan atau tanggapan-tanggapan yang banyak ke dalam otak anak-anak. Anak harus diajar berpikir dengan baik. Supaya anak dapat berpikir dengan baik, kita perlu mem-berikan :
1) Pengetahuan siap (parate kennis): yakni pengetahuan pasti yang sewaktu-waktu siap untuk dapat dipergunakan seperti hafal tentang abjad, kali-kalian 1 .s/d 10 dan se-bagainya.
2) Pengertian yang berisi, yang mengandung arti (tidak verbalistis) dan benar-benar dimengerti oleh anak-anak.
3) Melatih kecakapan membentuk skema, yang memungkin-kan berpikir secara teratur dan skematis.

4) Soal-soal yang mendorong anak untuk berpikir. Dalam hal ini faktor motivasi memegang peranan yang penting. Tentang motivasi akan diuraikan lebih lanjut pada bab VI, sesudah kita membicarakan intelijensi yang sangat erat hubungannya dengan maialah berpikir.
Di atas telah diutarakan bahwa dalam berpikir orang mengolah, mengorganisasikan bagian-bagian dari pengetahuannya, sehingga pengalaman-pengalaman dan pengetahuan yang tidak teratur menjadi tersusun merupakan kebulatan-kebulatan yang dapat dikuasai atau dipahami. Dalam hal ini orang dapat mendekati masalah itu melalui beberapa cara:
a. Berpikir Induktif Berpikir induktif ialah suatu proses dalam berpikir yang ber-langsung dari khusus menuju kepada yang. umum. Orang mencari ciri-ciri atau sifat-sifat yang tertentu dari berbagai fenomena, kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan bahwa ciri-ciri/sifat-sifat itu terdapat pada semua jenis fenomena tadi. Beberapa contoh sebagai penjelasan:
1) Seorang ahli psikologi mengadakan penyelidikan dengan observasi. Bayi A setelah dilahirkan segera menangis, bayi B. juga begitu, bayi C, D, E, F, dan seterusnya de-mikian pula. Kesimpulan "semua bayi yang normal segera menangis pada waktu dilahirkan". Seorang guru mengadakan eksperimen-eksperimen me-nanam biji-bijian bersama murid-muridnya; jagung di-tanam, tumbuh ke atas; kacang tanah ditanam tumbuh-nya ke atas pula ; kacang merah ditanam dengan mata lembaganya di sebelah bawah, tumbuhnya ke atas pula biji-biji yang lain demikian pula. Kesimpulan: Semua batang tanaman tumbuhnya ke atas mencari sinar mata-hari.
Tepat atau tidaknya kesimpulan (cara berpikir) yang diambil secara induktif ini terutama bergantung kepada representatif atau tidaknya sampel yang diambil yang mewakili fenomena keseluruhan. Makin besar jumlah sampel yang diambil berarti makin re-presentatif, dan makin besar pula taraf dapat dipercaya (validitas) dari kesimpulan itu; dan sebaliknya. Taraf validitas kebenaran kesimpulan itu masih ditentukan pula oleh obyek-tivitas dari si pengamat dan homogenitas dari fenomena-fenomena yang diselidiki.
b. Berpikir Deduktif Sebaliknya dari berpikir induktif, maka berpikir deduktif prosesnya berlangsung dari yang umum menuju kepada yang khusus. Dalam cara berpikir ini, orang bertolak dari suatu teori ataupun prinsip ataupun kesimpulan yang dianggap-nya benar dan sudah bersifat umum. Dari situ is menerapkan-nya kepada fenomena-fenomena yang khusus, dan mengambil kesimpulan khusus yang berlaku bagi fenomena tersebut. Contoh sebagai penjelasan:
1) Manusia semua akan mati (kesimpulan umum) Jamilah adalah manusia (kesimpulan khusus) Jamilah akan mati (kesimpulan deduksi)
2) Semua logam jika dipanaskan memuai (kesimpulan umum) Besi adalah logam (kesimpulan khusus) Besi jika dipanaskan memuai (kesimpulan deduksi) Ada pula semacam kesimpulan deduksi yang tidak dapat kita terima kebenarannya, yang disebut silogisme semu.
Contoh: Semua manusia bernafas dengan paru-paru (premis mayor) Anjing bernafas dengan paru-paru (premis minor) Karena itu anjing adalah manusia (kesimpulan yang salah).
c. Berpikir Analogis Analogi berarti persamaan atau perbandingan. Berpikir analo-gis ialah berpikir dengan jalan menyamakan atau memper-bandingkan fenomena-fenomena yang biasa/pernah dialami. Di dalam cara berpikir ini, orang beranggapan bahwa kebenar-an dari fenomena-fenomena yang pernah dialaminya berlaku pula bagi fenomena yang dihadapi sekarang.
Contoh: Setiap hari kira-kira jam 11.00 udara di atas kota Bogor kelihatan berawan tebal; dan tidak lama se-sudah itu hujan lebat turun sampai sore. Pada suatu hari kira-kira jam 11.00 udara di atas kota Bogor berawan tebal. Kesimpulannya: "sudah tentu sebentar lagi akan turun lagi hujan lebat sampai sore".

Kesimpulan yang diambil dari berpikir analogis ini kebenaran nya lebih kurang dapat dipercaya. Kebenarannya ditentukan oleh faktor "kebetulan" dan bukan berdasarkan perhitungan yang tepat. Dengan kata lain: validitas kebenarannya sangat rendah. 
a. Psikologi Asosiasi mengemukakan, bahwa berpikir itu tidak lain daripada jalannya tanggapan-tanggapan yang dikuasai oleh hokum asosiasi. Aliran psikologi asosiasi berpendapat bahwa dalam alam kejiwaan yang penting ialah terjadinya, tersimpannya dan bekerjanya tanggapan-tanggapan. Unsur yang paling sederhana dan merupakan dasar bagi semua akti-vitas kejiwaan adalah tanggapan-tanggapan. Daya jiwa yang lebih tinggi, seperti perasaan, kemauan, keinginan dan berpikir, semua berasal/terjadi karena bekerjanya tanggapan-tanggapan. Keaktifan pribadi manusia itu sendiri diabaikannya. Pendapat inilah yang kemudian menimbulkan pendidikan dan pengajar-an yang bersifat intelektualistis dan verbalistis. Tokoh yang terkenal dalam aliran ini ialah John Locke (1632-1704) dan lierbart (1770-1841). Dengan adanya eksperimen-eks-perimen yang dilakukan oleh para ahli psikologi kemudian, pendapat aliran ini tidak dapat dipertahankan lagi. 
b. Aliran Behaviorisme : berpendapat bahwa "berpikir" adalah gerakan-gerakan reaksi yang dilakukan oleh urat syaraf dan otot-otot bicara seperti halnya bila kita mengucapkan "buah pikiran". Jadi menurut Behaviorisme "berpikir" tidak lain adalah berbicara. Jika pada psikoiogi asosiasi yang merupa-kan unsur-unsur yang paling sederhana dalam kejiwaan manu-sia adalah tanggapan-tanggapan, maka pada behaviorisme unsur yang paling sederhana itu adalah refleks. Refleks adalah gerakan/reaksi tak sadar yang disebabkan adanya perangsang dari luar. Semua keaktifan jiwa yang lebih tinggi, seperti perasaan, kemauan dan berpikir, dikembalikannya kepada refleks-refleks. Dalam penyelidikannya terhadap tingkah laku manusia, Behaviorisme hanya mau tabu soal tingkah laku luar (badaniah) saja. Gejala-gejala psikis yang mungkiri terjadi adalah akibat dari adanya gejala-gejala/perubahan-perubahan jasmaniah sebagai reaksi terhadap perangsang-perangsang tertentu. Itulah sebabnya maka menurut kaum Behavioris (W. James) "orang tidak menangis karena susah, tetapi orang susah karena menangis". Juga J.B. Watson, se-orang behavirois yang lebih radikal lagi mengatakan bahwa: Bahasa ialah gerak-gerak yang tertentu dari pangkal teng-gorok dan bagian-bagian mulut lainnya, dan bunyi yang di-akibatkannya. Senyum adalah gerak-gerak tertentu dari cuping hidung dan sudut mulut disertai kerlipan mata.
Tentu saja terhadap pendapat Behaviorisme banyak yang tidak dapat menyetujuinya. Manusia bukan sekedar mesin reaksi seperti robot yang hanya bertindak dan berbuat jika ada perangsang dari luar. Demikian pula terhadap pen-dapatnya tentang berpikir, kita tidak dapat menyetujuinya. Memang ada benarnya, bahwa kadang-kadang dalam pekerja-an berpikir dapat dilihat/didengar adanya berbicara. Tetapi pendapat seperti itu dapat dibantah dengan adanya kenyata-an, bahwa orang dapat bersenandung sambil berpikir tentang sesuatu. Kita memandang berpikir sebagai aktivitas rohani yang sebenarnya, yang kadang-kadang memang dapat juga disertai gejala-gejala jasmani. Gejala-gejala jasmani hanya merupakan penampakan turut aktifnya dalam situasi ber-pikir, seperti halnya orang tegang ototnya bila ada pemusatan pikiran. Tetapi gejala-gejala jasmani yang demikian itu tidak termasuk hal yang esensial dalam keaktifan berpikir.
c. Psikologi Gestalt memandang bahwa gestalt yang teratur mempunyai peranan yang besar dalam berpikir. Psikologi Gestalt berpendapat bahwa proses berpikirpun seperti proses gejala-gejala psikis yang lain — merupakan suatu kebulatan. Berlainan dengan Behaviorisme, maka penganut Psikologi Gestalt memandang berpikir itu merupakan keaktifan psikis yang abstrak, yang prosesnya tidak dapat kita amati dengan alat indra kita. Proses berpikir itu dilukiskan sebagai ber-ikut: "Jika dalam diri seseorang timbul suatu masalah yang harus dipecahkan, terjadilah lebih dahulu suatu skema/bagan yang masih agak kabur-kabur.
Bagan itu dipecahkan dan di-banding-bandingkan dengan seksama. Bagian gestalt dalam bagan itu diafnati benar-benar. Orang mencari bagian-bagian yang belum tampak dalam kebulatan yang dihadapinya. Kemudian sekonyong-konyong anggota-anggota/bagian yang dicarinya itu muncul, sehingga tak terasa kekosongan lagi. Apa yang dicarinya telah diketemukan. Masalah yang dihadapi terpecahkan.
d. Sehubungan dengan pendapat para ahli psikologi Gestalt itu, maka ahli-ahli psikologi sekarang sependapat bahwa proses berpikir pada taraf yang tinggi pada umumnya melalui tahap-tahap sebagai berikut:
1) Timbulnya masalah, kesulitan yang hams dipecahkan,
2) Mencari dan mengumpulkan fakta-fakta yang dianggap ada sangkut pautnya dengan pemecahan masalah,
3) Taraf pengolahan atau pencernaan, fakta diolah dan di-cernakan,
4) Taraf penemuan atau pemahaman; menemukan cara me-m ecahkan masalah,
5) Menilai, menyempurnakan dan mencocokkan hasil pe-mecahan.

Perlu dingat, bahwa jalannya berpikir itu ditentukan oleh bermacam-macam faktor. Suatu masalah yang sama, mungkin menimbulkan adanya pemecahan yang berbeda-beda pada tiap orang. Sehingga hasilnya pun kemungkinan berbeda pula. Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jalan-nya berpikir itu antara lain ialah bagaimana seseorang melihat atau memahami masalah itu, situasi yang sedang dialami seseorang dan situasi luar yang dihadapi, pengalaman-peng-alaman orang itu, dan bagaimana kecerdasan orang tersebut. 
1. Bahasa dan Berpikir
Berpikir adalah daya yang paling utama dan merupakan ciri yang khan yang membedakan manusia dari hewan. Manusia dapat ber-pikir karena manusia mempunyai bahasa, hewan tidak. "Bahasa" hewan bukanlah bahasa seperti yang dimiliki manusia. "Bahasa" hewan adalah bahasa instink yang tidak perlu dipelajari dan di-ajaikan. Bahasa manusia adalah hasil kebudayaan yang harus dipelajari dan diajarkan.
Dengan bahasa manusia dapat memberi nama kepada segala sesuatu baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Semua benda, nama sifat, pekerjaan, ,dan hal lain yang abstrak, diberi nama. Dengan demikian, segala sesuatu yang pernah diamati dan dialami dapat disimpannya, menjadi tanggapan-tanggapan dan pengalaman-pengalaman kemudian diolahnya (berpikir) menjadi pengertian-pengertian.
Dengan singkat, karena memiliki dan mampu berbahasa maka manusia berpikir. Bahasa adalah alat yang terpenting bagi berpikir. Tanpa bahasa manusia tidak dapat berpikir. Karena eratnya hubungan antara bahasa dan berpikir itu, Plato pernah mengatakan dalam bukunya Sophistes "berbicara itu berpikir yang keras (terdengar), dan berpikir itu adalah "berbicara batin".

2. Apakah Berpikir Itu?
Dalam arti yang terbatas berpikir itu tidak dapat didefinisikan. Tiap kegiatan jiwa yang menggunakan kata-kata dan pengertian selalu mengandung hal berpikir.
Berpikir adalah satu keaktipan pribadi manusia yang meng-akibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. Kita berpikir untuk menemukan pemahaman/pengertian yang kita kehendaki.

Ciri-ciri yang terutama dari berpikir adalah adanya abstraksi. Abstraksi dalam hal ini berarti: anggapan lepasnya kualitas atau relasi dari benda-benda, kejadian-kejadian dan situasi-situasi yang mula-mula dihadapi sebagai kenyataan. Sebagai contoh, kita lihat sebungkus rokok, rokok itu sebuah benda yang kongkrit. Jika kita pandang hanya warna bungkus rokok itu, maka warna isi kita lepas-kan dari semua yang ada pada sebungkus rokok itu (bentuknya, rasanya, beratnya, baunya, dan sebagainya). Mula-mula warna itu hanya pada benda kongkret yang kita hadapi dan merupakan bagian dari keutuhan yang tidak dapat dilepaskan. Sekarang warna itu sendiri kita pandang, dan kita pisahkan dari keseluruhan bungkus rokok. Dengan demikian dalam arti luas kita dapat mengatakan: Berpikir adalah bergaul dengan abstraksi-abstraksi. Dalam arti yang sempit berpikir adalah meletakkan atau mencari hubungan/pertalian antara abstraksi-abstraksi. Berpikir erat hubungannya dengan daya-daya jiwa yang lain, seperti dengan tanggapan, ingatan, pengertian, dan perasaan. Tanggapan me-megang peranan penting dalam berpikir, meskipun adakalanya dapat mengganggu jalannya berpikir. Ingatan merupakan syarat yang harus ada dalam berpikir, karena memberikan pengalaman-pengalaman dari pengamatan yang telah lampau. Pengertian, meskipun merupakan hasil berpikir dapat memberi bantuan yang besar pula dalam suatu proses berpikir. Perasaan selalu menyertai pula; is merupakan dasar yang mendukung suasana hati, atau sebagai pemberi keterangan dan ketekunan yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah/persoalan. 

Saturday, 5 December 2015

About motivation.....
Some examples: A rickshaw driver was drenched in sweat attract passengers are fat in the hot sun and on an uphill road. A student studying b.ertekun book until the night, ignoring the fatigue and sleepiness. A farmer hoe disawahnya download from morning till evening without stopping, and so on. If we consider that the farmer, the question arises in us: Why did they do or work like that? Or in other words; What drives them to such beibuat? Or: Is their motive? In everyday life we ​​often deliberately paying attention and reflect on the deeds of our friends or others such. Also for our own actions, we often are not so menghirau it up. And if you think about it, a lot of things that me-our admirable and very interesting for us to investigate her.
From the above examples it seems clear that: What is meant by motive is everything to encourage se-an act of doing things. Or as in-say by Sartain in his book Understanding Psychology of Human Behavior: The motive is a statement that is com-plex in an organism that directs the behavior / action to a destination or a stimulant. (Note do-an-act beca artisans, students and farmers above). Anything done for humans, which is important as well, which is less important, dangerous or not containing risk, there is always a motivation. Also in terms of learning, motivation is very important. Motivation is a prerequisite for learning.
At school there are often children who are lazy, unpleasant, like ditching, and se-bagainya. In such case means that the teacher does not succeed mernberikan proper motivation to encourage him to work with all our energy and thoughts. In this connection, keep in mind, that a bad score on a subject-ter of course does not necessarily mean that the child was ignorant towards the subject. Often occurs a lazy child on a subject, but is very active in other subjects. (Example?) Many children do not develop because talent is not obtained its proper motivation. If someone gets the proper motivation, it must let loose tremendous power, so that achieved results previously unexpected. Sartain use the word motivation and drive to the same understanding. He said: generally a motivation or encouragement is a complex expression in an organism that directs behavior toward a goal (goal) or incentive (incentive).
Purpose (goal) is what determines / constrains the behavior of the organism. If we emphasize is the fact / object, which draws orga-nisme it, then we use the term "inducement" (incentive). Many psychologists that restrict the use of the term drive to statements such as: hunger, thirst, sexual gratification and so forth, all of which indicate a statement about the physiological drive to all the statements both physiological or psychological. Because of differences in the use of the word is not so important, then here we use the term motive and drive it to the same understanding.
Needs (need). Understanding the motives can not be separated rather than needs (need). A person or an organism that do / do something ,. there is a need in him or have something to accomplish. In a lesson about motivation "sometimes the word" need "was given a special meaning. Sartain use the term "kebutuh-an" (need) it is only as a term that means a certain deficiency in an organism. Example: An animal wandering around looking for prey, meaning that the animal was hungry: there is a shortage (of food) in the body. For humans, the term "need" it already contains a broader sense, not only physiological but also psychological.
F22. GANGGUAN WAHAM MENETAP

• kelompok ini meliputi serangkaian gangguan dengan waham-waham yang berlangsung lama, sebagai satu-satunya gejala klinis yang khas atau yang paling mencolok dan tidak dapat digolongkan sebagai gangguan mental organik, skizofrenik, atau gangguan afektif.
• pentingnya faktor genetik, ciri-ciri kepribadian dan situasi kehidupan dalam pembentukan gangguan kelompok ini tidak pasti dan mungkin bervariasi.

F22.0 Gangguan Waham
Pedornan Diagnostik
• Waham-waham merupakan satu-satunya ciri khas klinis atau gejala yang paling mencolok. Waham-waham tersebut (bath tunggal maupun sebagai suatu sistem waham) harus sudah ada sedikitnya 3 bulan lamanya, dan harus bersifat khas pribadi (personal) dan bukan budaya setempat.
• Gejala-gejala depresif atau bahkan suatu episode depresif yang lengkap / "full-blown" (F32.-) mungkin terjadi secara intermiten, dengan syarat bahwa waham-waham tersebut menetap pada saat-zaat tidak terdapat gangguan afektif itu.
• Tidak boleh ada bukti-bukti tentang adanya penyakit otak.
• Tidak boleh ada halusinasi auditorik atau hanya kadang-kadang saja ada dan bersifat sementara.
• Tidak ada riwayat gejala-gejala skizofrenia (waham dikendalikan, siar pikiran, penumpulan afek, dsb.)
Termasuk : paranoia; psikosis paranoid; keadaan paranoid; parafrenia.
Diagnosis Banding :
— Gangguan kepribadian paranoid (F60.0)
— Gangguan psikotik akut lainnya dengan predominan waham (F23.3)
 — Skizofrenia paranoid (F20.0)

F22.8 Gangguan Waham Menetap Lainnya
• kategori sisa untuk gangguan-gangguan waham menetap yang tidak memenuhi kriteria untuk Gangguan Waham (F22.0).
• gangguan waham yang berlangsung kurang dari 3 bulan lamanya, tidak memenuhi kriteria skizofrenia, hares dimasukkan dalam kode F23.- (gangguan psikotik akut dan sementara), walaupun untuk sementara.

F22.9 Gangguan Waham Menetap YTT


F21 GANGGUAN SKIZOTIPAL
Pedoman Diagnostik
• Rubrik diagnostik ini tidak dianjurkan untuk digunakan secara umum karena tidak dibatasi secara tegas dengan skizofrenia simpleks atau dengan gangguan kepri-badian skizoid atau paranoid.
• Bila istilah ini digunakan untuk diagnosis, tiga atau empat gejala khas berikut ini hares sudah ada, secara terus menerus atau secara episodik, sedikitnya untuk 2 tahun lamanya
(a) afek yang tidak wajar atau yang menyempit / "constricted" (individu tampak dingin dan acuh tak acuh)
(b) perilaku atau penampilan yang aneh, eksentrik atau ganjil
(c) hubungan sosial yang buruk dengan orang lain dan tendensi menarik diri dari pergaulan social;
(d) kepercayaan yang aneh atau pikiran bersifat magik, yang mempengaruhi perilaku dan tidak serasi dengan norma-norma budaya setempat;
(e) kecurigaan atau ide-ide paranoid;
(f) pikiran obsesif berulang-ulang yang tak terkendali, sering dengan isi yang bersifat "dysmorphophobic" (keyakinan tentang bentuk tubuh yang tidak normal' buruk dan tidak terlihat secara objektif oleh orang lain), seksual atau agresif;
(g) persepsi-persepsi pancaindera yang tidak lazim termasuk mengenai tubuh (somatosensory) atau lain, depersonalisasi atau derealisasi;
(h) pikiran yang bersifat samar-samar (vague), berputar-putar (circumstantial), penuh kiasan (metaphorical),
sangat terinci dan ruwet (overelaborate), atau stereotipik, yang bermanifestasi dalam pembicaraan yang aneh atau cara lain , tanpa inkoheransi yang jelas dan nyata;
(i) sewaktu-waktu ada episode menyerupai keadaan psikotik yang bersifat sementara dengan ilusi, halusinasi auditorik atau lainnya yang bertubi-tubi, dan gagasan yang mirip waham, biasanya terjadi tanpa provokasi dart luar.
• Individu"harus tidak pernah memenuhi kriteria skizofrenia dalam stadium manapun.
• Suatu riwayat skizofrenia pada salah seorang anggota keluarga terdekat memberikan bobot tambahan untuk diagnosis ini, tetapi bukan merupakan suatu prasyarat.

termasuk :
skizofrenia ambang
Skizofrenia laten
Skizofrenia pseudoneurotik
Skizofrenia pseudopsikopatik

gangguan kepribadian skizotipal 
• Adalah suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau "deteriorating") yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya.
Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karateristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) or tumpul (blunted). Kesadaran yang jernih (clear consciousness) dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran. kognitif tertentu dapat berkembang kemudian.
Pedoman Diagnostik
• Harus ada sedikitnya satu gejala berikuti ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajatn atau kurang jelas) :
(a)    — "thought echo" = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda; atau
— "thought insertion or withdrawal" = isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan
— "thought broadcasting" = isi pikirannya tersiar ke-luar sehingga orang lain atau umum mengetahui-nya;
(b)   — "delusion of control" = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau
— "delusion of influence" = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau
— "delusion of passivity" = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang ''dirinya" = secara jelas merujuk ke perge-rakan tubuh/anggota gerak atau ke pikiran, tin-dakan, atau penginderaan khusus);
— "delusional perception" = pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat;
(c)    halusinasi auditorik :
— suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau
— mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau
— jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh
(d) waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendali-kan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dari dunia lain).
• Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas
(e) halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus;
(f) arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme;
(g) perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (ex-citement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor;
(h) gejala-gejala "negatif', seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengalci-batkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;
• Adanya gejala-gejala khas - tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau Iebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik pfodromal);
• Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup talc bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam din sendiri (self-absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.

Perjalanan gangguan skizofrenik dapat diklasifikasi dengan menggunakan kode lima karakter berikut :
F20.x0 Berkelanjutan
F20.xl Episodik dengan kemunduran progresif
F20.x2 Episodik dengan kemunduran stabil
F20.x3 Episodik berulang
F20.x4 Remisi tak sempurna
F20.x5 Remisi sempurna
F20.x8 Lainnya
F20.x9 Periode pengamatan kurang dari satu tahun

F20. SEIZOFRENIA
F20.0 Skizofrenia Paranoid
Pedoman Diagnostik
• Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia.
• Sebagai tambahan :
— halusinasi clan/atau waham harus menonjol;
(a) suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa (laugh-ing);
(b) halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau lain-lain perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol;
(c) waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence), atau "passivity" (delusion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas;
—  gangguan afektif, dorongan kehendak dan pemilicara-an, serta gejala katatonik secara relatif tidak nyata/ tidak menonjol.
Diagnosis Banding :
- Epilepsi dan Psikosis yang diinduksi oleh obat-obatan
- Keadaan paranoid involusional (F22.8)
- Paranoia (F22.0)

F20.1 Skizofrenia Hebefrenik
Pedoman Diagnostik
• Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia.
• Diagnosis hebefrenia untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda (onset biasanya mulai 15-25 tahun).
• Kepribadian premorbid menunjukkan ciri khas: pemalu dan senang menyendiri namun tidak harus de-mikian untuk menentukan diagnosis.
• Untuk diagnosis hebefrenia yang meyakinkan umumnya diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan :
- perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan, serta mannerisme; ada kecendrungan un-tuk selalu menyendiri (solitary), dan perilaku menun-jukkan hampa tujuan dan hampa perasaan;

- afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inap-propriate), sering disertai oleh cekikikan (giggling) atau perasaan puas diri (self-satisfied), senyum sendiri (self-absorbed smiling), •atau oleh sikap. tinggi hati (lofty manner),. tertawa menyeringai (grimaces), mannerisme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan hipokondriakal, dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated phrases);
- proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu (rambling) serta inkoheren.
• Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir umumnya rnenonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol (fleeting and fragmentary delusions and hallucinations). Dorongan kehendak (drive) dan yang bertujuan (determination) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga perilaku penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu perilaku tanpa tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of puspose). Adanya suatu preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat-buat terhadap agama, filsafat dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang memahami jalan pikiran pasien.

F20.2 Skizofrenia Batatonik
Pedoman Diagnostik
• Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.
• Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendomi-nasi garnbaran klinisnya :
(a) stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan dalam gerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara);
(b) gaduh-gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan, yang tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal)
(c) menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh);
(d) negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap semua perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau pergerakan kearah yang berlawanan);
(e) rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan upaya menggerskkan dirinya);
(f) fleksibilitas cerea / "waxy flexibility" (mempertahankan anggota gerak dan tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar); dan
(g) gejala-gejala lain seperti "command automatism" (kepatuhan secara otomatis terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimat-kalimat.
• Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari gangguan katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin hams ditunda sampai diperoleh bukti yang memadai tentang adanya gejala-gejala lain. Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk diagnostik untuk skizofrenia. Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan metabolik, atau alkohol dan obat-obatan, serta dapat juga terjadi pada gangguan afektif.

F20.3 Skizofrenia Tak Terinci (Undifferentiated)
Pedoman Diagnostik
• Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.
• Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau katatonik;
• Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca-skizofrenia.

F20.4 Depresi Pasca-skizofrenia
Pedoman Diagnostik
• Diagnosis harus ditegakkan hanya kalau :
(a) pasien telah menderita skizofrenia (yang memenuhi kriteria umum skizofrenia) selama 12 bulan terakhir ini;
(b) beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi mendominasi gambaran klinisnya); dan
(c) gejala-gejala depresif menonjol ,dan mengganggu, memenuhi paling sedikit kriteria untuk episode depresif (F32.-), dan telah ada dalam kurun waktu paling sedikit 2 minggu. •
• Apabila pasien tidak lagi menunjukkan gejala skizofrenia, diagnosis menjadi Episode Depresif (F32.-). Bila gejala skizofrenia masih jelas dan menonjol, diagnosis harus tetap salah satu dari subtipe skizofrenia yang sesuai (F20.0-F20.3).

F20.5 Skizofrenia Residual
Pedoman Diagnostik
• Untuk suatu diagnosis yang meyakinkan, persyaratan berikut ini harus dipenuhi semua :
(a) gejala "negatif' dari skizofrenia yang menonjol, misalnya perlambatan psikomotorik, aktivitas menu-run, afek yang menumpul, sikap pasif dan ketiadaan inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi non-verbal yang buruk seperti dalam ekspresi muka, kontak mata, modulasi suara, dan posisi tubuh, perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk;
(b) sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas di masa lampau yang memenuhi kriteha untuk diagnosis skizofrenia;
(c) sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan telah timbul sindrom "negatif' dari skizofrenia; (d) tidak terdapat dementia atau penyakit/gangguan otak organik lain, depresi kronis atau institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negatif tersebut.

F20.6 Skizofrenia Simpleks
Pedoman Diagnostik
• Diagnosis skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena tergantung pada pemantapan perkem'oangan yang berjalan perlahan dan progresif dari:
— gejala "negatif' yang khas dari skizofrenia residual What F20.5 diatas) tanpa didahului riwayat halusinasi, waham, atau manifestasi lain dari eposide psikotik, dan
— disertai dengan perubahan-perubahan perilaku pribadi yang bermakna. bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang meneolok, tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup, dan penarikan diri secara sosial.
• Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya dibanding-kan sub tipe skizifrenia lainnya.

F20.8 Skizofrenia Lainnya

F20.9 Skizofrenia YTT 

Thursday, 3 December 2015

Para ahli psikologi berusaha menggolong-golongkan motif-motif yang ada dalam diri manusia atau suatu organisme, ke dalam beberapa golongan menurut pendapatnya masing-masing.
a. Sartain membagi motif-motif itu menjadi dua golongan sebagai berikut :
a. physiological drive dan
b. social motives.
Yang dimaksud dengan physiological drive ialah dorongan-dorongan yang bersifat fisiologis/jasmaniah, seperti lapar, haus, lapar seks, dan sebagainya. Sedangkan social motives ialah dorongan-dorongan yang ada hubungannya dengan manusia yang lain dalam masyarakat; seperti : dorongan estetis, dorong'an ingin selalu berbuat baik (etika), dan sebagainya. Tidak dapat kita ingkari bahwa yang kedua ini adalah timbul dan berkembang karena adanya yang pertama. Jadi kedua golongan motif tersebut berhubung-an satu sama lain. Dapat pula dikatakan, bahwa golongan yang kedua sifat-nya lebih tinggi (hanya terdapat pada manusia) daripada yang pertama.
b. Woodworth mengadakan klasifikasi motif-motif sebagai ber-ikut: Mula-mula ia membedakan/membagi motif-motif itu menjadi dua bagian: unlearned motives(motif-motif pokok yang tidak dipelajari) dan learned motives(motif-motif yang dipelajari).
Motif yang tidak dipelajari merupakan motif yang pokok, yang biasa disebut drive (dorongan). Yang termasuk ke dalam unlearned motives ialah motivf-motif yang timbul disebabkan oleh kekurangan-kekurangan/kebutuhan-kebutuhan dalam tu-buh, seperti: lapar, haus, sakit, dan sebagainya yang semua-nya itu menimbulkan dorongan dalam diri untuk minta supaya dipenuhi, atau menjauhkan diri daripadanya.
Perasaan suka dan tidak suka menurut Woodworth adalah merupakan aspek-aspek yang didasari daripada motif-motif untuk mendekatkan diri dan menjauhkan diri dari sesuatu. Apa yang disukainya mendorong seseorang untuk mendekati/ mencapainya, dan apa yang tidak disukainya menimbulkan dorongan pada seseorang untuk menghindari/menjauhinya.
Selanjutnya Woodworth menyatakan bahwa motif-motif pada seseorang itu berkembang melalui kematangan, latihan, dan melalui belajar. Dengan melalui latihan dan kehidupan sehari-hari, maka unlearned motives pada seseorang makin berkembang dan mengalami perubahan-perubahan seperti berikut:
1) Tujuan-tujuan dan motif-motif menjadi lebih mengkhusus.
2) Motif-motif itu makin berkombinasi menjadi motif-motif yang lebih kompleks.
3) Tujuan-tujuan perantara, dapat menjadi/berubah menjadi tujuan yang sebenarnya.
4) Motif-motif itu dapat timbul karena adanya perangsang-perangsang baru (perangsang buatan): motif-motif wajar dapat berubah menjadi motif bersyarat.
Contoh :
1) Anak yang berumur 6 tahun karena melihat kakak-kakak-nya atau teman-temannya yang sudah bersekolah, ingin masuk sekolah. Adapun yang mendorong dia ingin ber-sekolah pada mulanya ialah karena ingin bergaul dan me-ngetahui pelajaran-pelajaran yang diajarkan di sekolah itu (keinginannya bersifat umum). Setelah ia terus bersekolah, melanjutkan dan seterusnya; mungkin ia kemudian tertarik oleh suatu mata pelajaran tertentu, atau mungkin akhirnya ia menjadi seorang speialis dari suatu keahlian tertentu (mengkhusus).
2) Ini terjadi jika suatu obyek yang sama menjadi tujuan dari pada dua motif/keinginan atau lebih. Umpama: Seseorang buru-buru ingin pulang ke rumahnya, tidak hanya karena ingin makan atau rindu kepada keluarganya, atau men-dapat perlindungan/merasa aman, dan sebagainya tetapi semua keinginan-keinginan tersebut bergabung menjadi satu dalam motif pulang.
3) (a) Saudara dari A akan pergi ke Z. Dari pengalaman saudara tahu bahwa jalan yang terdekat/terbaik untuk pergi ke Z adalah melalui M, dan jika Saudara sudah dapat sampai di M berarti telah setengah perjalanan tercapai. Dalam hal yang demikian ini sering kali M itu sendiri menjadi tujuan sehingga hampir-hampir Z terlupakan setelah saudara dapat mencapai M.
(b) Uang adalah suatu benda yang hanya merupakan alai untuk mencapai tujuan yang lebih jauh. Tetapi keinginan untuk mendapat uang itu sendiri bagi banyak orang seringkali sangat kuat. Mereka merasa puas jika telah dapat menerima/mendapatkan uang itu, seolah-olah tujuannya telah tercapai. Padahal tujuan yang sebenarnya bukanlah uang itu sendiri.
4) Motif takut (menghindarkan difi dari bahaya), tidak hanya timbul pada waktu melihat bahaya itu di depan, harimau, tembakan, dan sebagainya, tetapi mendengar sirine di waktu perang dapat merasa takut juga. Anak kecil yang sering ditakut-takuti, dapat menjadi takut hanya karena mendengar cerita-cerita yang menakutkan. 
Seliubungan dengan uraian tersebut di atas, maka Wood-worth kemudian menggolongkan/membagi motif-motif itu menjadi tiga golongan:
1) Kebutuhan-kebutuhan organis: yakni motif-motif yang berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan bagian dalam dari tubuh (kebutuhan-kebutuhan organis), seperti: lapar, haus, kekurangan zat pembakar, kebutuhan bergerak dan beristirahat/tidur, dan sebagainya.
2) Motif-motif yang timbul sekonyong-konyong (emergency motives) ialah motif-motif yang timbul jika situasi me-nuntut timbulnya tindakan kegiatan yang cepat dan kuat dari kita. lam hal ini motif itu timbul bukan atas kemau-an kita, tetapi karena perangsang dari luar yang menarik kita. Contoh: Di waktu kita sedang asyik belajar, se-konyong-konyong terdengar teriakan "Tolong". Seketika itu juga kita terdorong untuk keluar rumah dan . . . me-lakukan sesuatu. Termasuk juga ke dalam motif ini ialah motif melarikan diri dari bahaya, motif berkelahi, me ngejar dan motif berusaha atau berihtiar (mengatasi suatu rintangan).
3) Motif Obyektif: ialah motif yang diarahkan/ditujukan ke suatu obyek atau tujuan tertentu di sekitar kita. Motif ini timbul karena adanya dorongan dari dalam diri kita (kita menyadarinya). Contoh: motif menyelidiki, meng-gunakan lingkungan. Emergency motives dan objective motives adalah motif-motif yang tergantung pada hubungan-hubungan individu dengan lingkungannya.
c. Motif-motif itu dapat pula dibedakan sebagai berikut:
1) Motif intrinsik, dan
2) Motif ekstrinsik.
Disebut motif intrinsik jika yang mendorong untuk bertindak ialah nilai-nilai yang terkandung di dalam obyeknya itu sendiri. Contoh:
1) Si Amat bertekun mempelajari psikologi karena is benar-benar tertarik dan ingin sekali menguasai pelajaran itu. Motif intrinsik timbul dari dalam diri seseorang tanpa paksaan dari luar.
2) Seorang anak belajar bukan didorong oleh keinginan untuk benar-benar mengetahui apa yang dipelajarinya, melainkan agar supaya lulus ujian, atau supaya orang tuanya senang, atau karena takut dimarahi ayah/gurunya, dan sebagai-nya. (Apakah yang mendorong Saudara, mempelajari mata kuliah yang diberikan di HOP ini?) Perlu diingat, bahwa perbuatan-perbuatan yang kita laku-kan sehari-hari, banyak yang didorong oleh motif-motif ekstrinsik; tetapi jug' banyak pula yang didorong oleh motif-motif intrinsik, atau oleh keduanya sekali gus. Meski demikian, yang paling baik terutama dalam hal .belajar ialah motif intrinsik. Tugas gum ialah mem-bangkitkan motivasi pada murid-muridnya. Usahakan agar motivasi dalam belajar pada anak-anak itu adalah motif intrinsik. Dengan motif/motivasi intrinsik anak/ orang itu aktif sendiri, bekerja sendiri tanpa suruhan atau paksaan orang lain. 
Apakah Motivasi Itu?

Beberapa contoh: Seorang pengendara beca bermandi peluh menarik penumpang yang gemuk-gemuk di panas matahari dan di jalan yang menanjak. Seorang mahasiswa b.ertekun mempelajari buku sampai malam, tidak menghiraukan lelah dan kantuknya. Seorang petani men-cangkul disawahnya dari pagi sampai petang tanpa berhenti, dan sebagainya. Jika kita perhatikan si petani itu, timbul pertanyaan dalam diri kita: Mengapa mereka melakukan atau bekerja seperti itu? Atau dengan kata lain; Apakah yang mendorong mereka untuk beibuat demikian? Atau: Apakah motif mereka itu? Dalam kehidupan sehari-hari jarang kita dengan sengaja memperhatikan dan merenungkan perbuatan-perbuatan teman-teman kita atau orang-orang lain yang demikian. Juga terhadap perbuatan kita sendiri, seringkali kita tidak begitu menghirau-kannya. Padahal jika direnungkan, banyak hal-hal yang me-ngagumkan kita dan sangat menarik bagi kita untuk menyelidiki-nya.
Dari contoh tersebut di atas jelaslah agaknya bahwa: Yang dimaksud dengan motif ialah segala sesuatu yang mendorong se-seorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Atau seperti di-katakan oleh Sartain dalam bukunya Psychology Understanding of Human Behavior: Motif adalah suatu pernyataan yang kom-pleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku/ perbuatan ke suatu tujuan atau perangsang. (Perhatikan perbuat-an-perbuatan tukang beca, mahasiswa dan petani tersebut di atas). Apa saja yang diperbuat manusia, yang penting maupun, yang kurang penting, yang berbahaya maupun yang tidak mengandung risiko, selalu ada motivasinya. Juga dalam soal belajar, motivasi itu sangat penting. Motivasi adalah syarat mutlak untuk belajar.
Di sekolah seringkali terdapat anak yang malas, tidak menyenangkan, suka membolos, dan se-bagainya. Dalam hal demikian berarti bahwa guru tidak berhasil mernberikan motivasi yang tepat untuk mendorong agar ia bekerja  dengan segenap tenaga dan pikirannya. Dalam hubungan ini, perlu diingat, bahwa nilai buruk pada suatu mata pelajaran ter-tentu belum tentu berarti bahwa anak itu bodoh terhadap mata pelajaran itu. Seringkali terjadi seorang anak malas terhadap suatu mata pelajaran, tetapi sangat giat dalam mata pelajaran yang lain. (Contoh?) Banyak bakat anak tidak berkembang karena tidak diperoleh-nya motivasi yang tepat. Jika seseorang mendapat motivasi yang tepat, maka lepaslah tenaga yang luar biasa, sehingga tercapai hasil-hasil yang semula tidak terduga. Sartain menggunakan kata motivasi dan drive untuk pengertian yang sama. Ia mengatakan: pada umumnya suatu motivasi atau dorongan adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan (goal) atau perangsang (incentive).
Tujuan (goal) adalah yang menentukan/membatasi tingkah laku organisme itu. Jika yang kita tekankan ialah faktanya/obyeknya, yang menarik orga-nisme itu, maka kita pergunakan istilah "perangsang" (incentive). Banyak ahli-ahli psikologi yang membatasi penggunaan istilah drive untuk pernyataan-pernyataan seperti: lapar, haus, pemuasan seksual dan sebagainya, yang semua itu menunjukkan pernyataan tentang physiological drive untuk semua pernyataan baik yang bersifat fisiologis ataupun psikis. Karena perbedaan-perbedaan penggunaan kedua kata tersebut tidak begitu penting, maka di sini kita menggunakan istilah motif dan drive itu untuk pengertian yang sama.
Kebutuhan (need). Pengertian motif tidak dapat dipisahkan daripada kebutuhan (need). Seseorang atau suatu organisme yang berbuat/melakukan sesuatu,. ada kebutuhan di dalam dirinya atau ada sesuatu yang hendak dicapainya. Dalam pelajaran tentang motivasi„ kadang-kadang kata "kebutuhan" itu diberi arti yang khusus. Sartain menggunakan istilah "kebutuh-an" (need) itu hanyalah sebagai suatu istilah yang berarti suatu kekurangan tertentu di dalam sesuatu organisme. Contoh: Seekor binatang yang berkeliaran mencari mangsanya, berarti bahwa binatang itu lapar: ada kekurangan (makanan) di dalam tubuhnya. Bagi manusia, istilah "kebutuhan" itu sudah mengandung arti yang lebih luas lagi, tidak hanya bersifat fisiologis tetapi juga psikis.

Powered by Blogger.

Apakah ilmu yang ada di blog ini bermanfaat ?

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget