
Para kritikus tidak mempersoalkan
validitas dari prinsip-prinsip pengondisian, tetapi mereka mempersoalkan apakah
prinsi,p-prinsip tersebut dapat menjelas-kan tingkah laku-tingkah laku yang
sangat kompleks dari individu-individu yang kalut. Dengan kata lain, para
kritikus mengemukakan bahwa meskipun prinsip-prinsip teori belajar itu benar,
tetapi mungkin tidak cukup untuk menje-laskan tingkah laku-tingkah laku yang
lebih kompleks seperti halusinasi-halu-sinasi dan delusi-delusi. Para kritikus
juga berpendapat bahwa model-model belajar tidak dapat menjelaskan
keanekaragaman tingkah laku dan pengalaman manusia tidak da-pat direduksikan
menjadi respons-respons yang dapat diamati. Banyak ahli teori belajar juga —
terutama para ahli teori belajar-sosial — tidak puas dengan pandangan
behavioristik tradisional yang mengemukakan bahwa kondisi-kondisi lingkungan
secara mekanik memaksakan respons-respons pada organis-me, termasuk manusia.
Manusia dalam teori belajar-sosial mengalami pikiran-pikiran dan impian-impian,
merumuskan tujuan-tujuan dan aspirasi-aspirasi, sedangkan pandangan
behavioristik klasik kelihatannya tidak berbicara banyak mengenai apa artinya
menjadi manusia.
Behaviorisme klasik juga kelihatannya tidak menjelaskan berapa
banyak orang berjuang — betapa pun sulit — untuk mewujudkan impian-impian
batinnya. Bila orang hanya mengulang tingkah laku-tingkah laku yang diperkuat,
bagaimana is berjuang tanpa pemerkuat-pemerkuat ekstemal untuk menemukan
ide-ide dan karya yang barn? Berbeda dengan behaviorisme tradisional, para ahli
teori belajar-sosial melihat manusia sebagai orang yang aktif mencari informasi
bukan sebagai orang yang bereaksi secara pasif terhadap stimulus-stimulus
lingkungan. Teori belajar-sosial telah
berkembang begitu jauh dari nenek moyangnya behavior-isme sehingga kesamaannya
dengan teori-teori dan model-model kognitif benar-benar mencolok. Teori
belajar-sosial juga tidak bebas dari kritik. Para kritikus mengemu-kakan bahwa
teori belajar-sosial tidak mengembangkan pernyataan-pernyataan yang memuaskan
mengenai pembentukan kepribadian atau menjelaskan kesa-daran diri. Di samping
itu teori belajar-sosial, seperti leluhurnya behaviorisme tradisional, tidak
memberikan perhatian pada faktor-faktor genetik dalam men-jelaskan
perbedaan-perbedaan individual dalam tingkah laku atau dalam men-jelaskan
pola-pola tingkah laku abnormal.
0 comments:
Post a Comment