Monday 26 October 2015

Pengondisian Klasik
Pengondisian klasik secara kebetulan ditemukan oleh Ivan Pavlov, psikolog Rusia, yang membuat penelitian dengan menyelidiki air liur dari anjing-anjing. Untuk mengumpulkan air liur untuk keperluan analisis, pembantu Pavlov membunyikan bel untuk mendapat perhatian dari anjing itu. Pavlov segera meniupkan bubuk daging ke mulut anjing itu yang menyebabkan anjing tersebut mengeluarkan air liur, dan air liur itu ditampung pada tabung yang dipasang pada mulut anjing tersebut. Pada suatu hari, pembantu Pavlov secara kebetulan membunyikan bel sebelum Pavlov siap meniup tepung daging ke mulut anjing itu. Pavlov sangat kaget karena anjing itu mengeluarkan air liur. Karena bel dan tepung daging sering berpasangan dalam percobaan sebelum-nya, maka bel sendirian mampu mendatangkan respons yang sebelumnya hanya dapat didatangkan oleh tepung daging.

Pada umumnya, pengondisian klasik terjadi bila suatu stimulus yang mendatangkan respons tertentu selalu berpasangan dengan suatu stimulus netral yang tidak mendatangkan respons. Misalnya, makanan yang mendatangkan air liur berpasangan dengan bunyi bel. Setelah kedua stimulus yang berpasangan itu diberi berulang-ulang, maka stimulus itu sendiri yang sebe-lumnya netral mendatangkan respons. Misalnya, bunyi bel mengakibatkan keluarnya air liur anjing. Stimulus yang pada mu-lanya mendatangkan respons (makanan) disebut "stimulus tak terkondisi" (unconditioned sti-mulus) dan stimulus netral yang memuat kemampuan untuk men-datangkan respons (bunyi bel) disebut "stimulus terkondisi" (conditioned stimulus). Mungkin contoh yang ter-kenal dari pengondisian klasik pada manusia adalah kasus "Al-bert cilik," yang dikondisikan oleh Watson dalam usaha untuk memperlihatkan bahwa ketakut-an itu adalah hasil belajar dan bukan bawaan. Pertama-tama Watson memberikan seekor tikus putih kepada Albert cilik, yang tidak memperlihatkan rasa takut terhadap tikus itu dan senang bermain-main dengannya. Ketika Watson kemudian memberikan tikus itu kepada Albert, maka ia membunyikan gong dengan suara yang sangat keras yang menakutkan anak itu. Prosedur yang sama tikus berpasangan dengan gong diulang berkali-kali, sampai kemudian hanya tikus saja yang diberikan. Tetapi Albert segera menjadi takut. Dengan cara ini, Watson telah mengondisikan Albert untuk menjadi takut terhadap stimulus yang sebelumnya tidak menim-bulkan rasa takut.

Pengondisian klasik cocok untuk memahami tingkah laku abnormal karena pengondisian klasik memberikan dasar bagi banyak respons emosional dan fisiologis, seperti ketakutan Albert dalam percobaan tersebut di atas. Ketakutan Albert terhadap tikus jelas dilihat sebagai hal yang abnormal. Albert menderita fobia (suatu ketakutan yang tidak rasional).

Generalisasi Respons-Respons
Melalui prosedur yang disebut generalisasi respons yang terkondisi secara klasik mungkin pada akhimya dimunculkan tidak hanya oleh respons terkondisi, tetapi juga oleh stimulus-stimulus baru yang mirip dengan stimulus terkon-disi. Misalnya, Albert menjadi takut bila kepadanya diperlihatkan seekor ke-linci, seekor anjing, atau malahan bola kapas dan mantel yang berbulu. Sejauh mana generalisasi itu terjadi tergantung pada kemiripan antara stimulus ter-kondisi dan suatu stimulus yang barn. Semakin besar kemiripan antara stimulus terkondisi (seekor tikus putih) dan stimulus yang barn (sebuah bola kapas), maka semakin besar juga kemungkinan stimulus yang barn itu akan menda-tangkan respons terkondisi. Stimulus-stimulus yang sama sekali tidak mirip tidak akan mendatangkan respons terkondisi. Misalnya, Albert tidak memper-lihatkan ketakutan yang hebat terhadap seperangkat balok kayu.
Generalisasi benar-benar meningkatkan jumlah stimulus yang dapat men-datangkan respons tertentu yang terkondisi dan juga dapat menyulitkan kita untuk memahami respons-respons seseorang. Ketakutan Albert terhadap wa-nita-wanita yang mengenakan mantel yang berbulu memperluas masalah asli-nya dengan tikus-tikus, dan apabila kita tidak mengetahui sejarahnya tentang pengondisian dan proses generalisasi, maka responsnya terhadap wanita-wanita yang memakai mantel berbulu benar-benar sangat membingungkan.

Penghapusan dan Daya Tahan Respons-Respons
Respons-respons yang terkondisi secara klasik dapat dihilangkan dengan suatu proses yang disebut penghapusan (extinction), di mana stimulus terkondisi berulang-ulang diberikan tanpa berpasangan dengan stimulus tak terkondisi. Misalnya, bila anjing dari Pavlov terus-menerus mendengar bunyi bel dan tidak mendapat bubuk daging, maka anjing-anjing tersebut tidak mengeluarkan air liur dalam memberikan respons terhadap bunyi bel itu.
Tetapi perlu diperhatikan bahwa begitu suatu respons terkondisi terbentuk, maka is akan bertahan lama sampai prosedur-prosedur penghapusan dilakukan. Respons-respons terkondisi yang tetap bertahan digambarkan dengan jelas dalam suatu percobaan dengan domba. Dalam percobaan tersebut, cahaya yang berwarna merah diberi berpasangan dengan kejutan (shock) pada kaki domba sehingga domba itu terkondisikan secara klasik untuk mengangkat kaki depan-nya bila melihat cahaya merah. Setelah pengondisian itu berakhir, domba itu dikembalikan ke padang rumput. Sembilan tahun kemudian domba tersebut di bawa kembali ke laboratorium dan diberikan cahaya merah dan segera domba itu mengangkat kaki depannya. Daya tahan dari respons yang terkondisi secara klasik adalah penting untuk memahami gangguan mental karena respons-respons yang tidak tepat dapat ditelusuri sampai kepada hal-hal yang terjadi jauh sebelumnya (hal-hal yang terjadi lebih awal) karena pengondisian klasik. 


Sifat Tak Sengaja dari Respons-Respons
Hal yang penting adalah respons-respons yang terkondisi secara klasik itu tidak bisa dikendalikan. Begitu pengondisian tercapai, maka respons terjadi kapan saja stimulus diberikan dan subjek tidak dapat menghentikan respons tersebut. Anjing dalam percobaan Pavlov tidak mempunyai pilihan lain selain hanya mengeluarkan air liur bila bel berbunyi dan Albert tidak bisa tidak takut bila ia melihat tikus. Respons-respons terkondisi secara klasik yang tidak bisa dikendalikan itu bisa menghasilkan perasaan abnormal dalam kehidupan se-lanjutnya. Misalnya, apabila dalam kehidupan kemudian Albert berpacaran dengan seorang wanita yang mengenakan mantel berbulu dan bila itu dilihat Albert, maka ia menjadi sangat takut meskipun ia menyadari bahwa ia tidak rasional dan ia berusaha keras supaya tidak takut. Jelas, pengondisian klasik dapat menimbulkan tingkah laku abnormal yang berat, bertahan lama, membingungkan, dan tidak bisa dikendalikan dalam bermacam-macam cara.

Pengondisian yang Bertaraf Lebih Tinggi (Higher-Order Conditioning)

Pengondisian yang bertaraf lebih tinggi (higher-order conditioning) terjadi bila suatu stimulus terkondisi yang mendatangkan suatu repons terkondisi se-cara klasik berpasangan dengan suatu stimulus netral sehingga dalam masa yang akan datang stimulus yang sebelumnya netral juga mendatangkan respons. Dalam kasus Albert, bila tikus putih berpasangan dengan boneka yang menge-nakan kain tambalan, maka boneka itu juga mendatangkan ketakutan. Dengan pengondisian yang bertaraf lebih tinggi, respons-respons (ketakutan-ketakutan) terkondisi secara klasik dapat diteruskan kepada stimulus-stimulus barn dan ini berarti cara-cara bagaimana kita mengembangkan respons-respons abnormal.

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Apakah ilmu yang ada di blog ini bermanfaat ?

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget